Tag Archives: #gospeltruth’s truth #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #mengenalTuhan #FirmanTuhan

Articles

Ralat dan Penjelasan tentang Pengurapan

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Ralat dan Penjelasan tentang Pengurapan

Dalam tulisan saya sebelumnya, saya mengutip pengajaran Kenneth E. Hagin yang menyatakan bahwa pengurapan datang dan pergi, tergantung waktu, kondisi, dan panggilan pelayanan tertentu. Pengajaran itu tentu berdasar, terutama jika dilihat dalam konteks Perjanjian Lama, di mana Roh Kudus belum tinggal secara permanen dalam diri manusia. Tidak dapat disangkal, banyak orang diberkati dan diperlengkapi melalui pelayanan beliau, dan saya tetap menghormati beliau sebagai salah satu bapak iman besar yang membuka jalan bagi banyak generasi.

Namun, seiring waktu, Tuhan terus menambahkan terang dan pewahyuan yang makin dalam kepada tubuh Kristus. Kebenaran tidak berubah, tapi pengertian kita bertumbuh. Salah satu hal penting yang kini semakin dipahami secara utuh adalah soal pengurapan.

Dalam Perjanjian Lama, memang benar bahwa pengurapan seringkali datang dan pergi. Contohnya, Roh Tuhan turun ke atas Simson saat ia perlu kekuatan untuk bertempur, atau meninggalkan Raja Saul setelah ia tidak taat. Ini terjadi karena Roh Kudus belum tinggal di dalam manusia secara permanen.

Namun, sejak Yesus bangkit dan Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta, kita yang percaya telah menjadi bait Roh Kudus (1 Korintus 6:19). Artinya, pengurapan itu tidak lagi datang dan pergi, melainkan menetap di dalam roh kita — siap diaktifkan kapan saja oleh iman.

Roh Kudus adalah Pribadi ketiga Allah Tritunggal. Ketika kita memahami bahwa pengurapan adalah hadirat Roh Kudus sendiri yang tinggal di dalam kita, maka kita tidak lagi mengukur kuasa berdasarkan perasaan, melainkan pada kebenaran Firman.

Ini juga ditegaskan oleh Nancy Dufresne, sekalipun beliau sering menyebut Kenneth Hagin sebagai ayah rohaninya. Dalam salah satu pengajarannya, Nancy menceritakan bagaimana saat dia melayani di satu ibadah, dia merasa “kering” secara emosional. Tidak ada perasaan khusus, tidak ada atmosfer istimewa. Tapi saat dia berdiri dan mulai mengajar, kuasa Tuhan mengalir deras. Ia berkata:

“Pengurapan itu tidak datang dan pergi – tetapi kepekaanmu terhadapnya bisa meningkat atau menurun. Pengurapan itu selalu ada. Kamu tidak perlu merasakannya untuk tahu bahwa pengurapan sedang bekerja” – Nancy Dufresne

Dia menekankan, yang sering berubah bukan pengurapannya, tetapi kesadaran kita. Kalau kita tidak menghargai atau meresponsnya dengan benar, kita bisa merasa seperti tidak diurapi — padahal sebenarnya pengurapan itu tetap tinggal di dalam kita.

Pengurapan tidak hilang, tapi alirannya bisa terhambat jika kita tidak menjaga kepekaan dan ketaatan terhadap suara Roh Kudus. Itu sebabnya penting untuk hidup dalam hubungan yang intim dan taat kepada Firman.

Andrew Wommack juga menyampaikan hal yang serupa. Dalam Roh, Jiwa & Tubuh, ia berkata, banyak orang mencari sensasi dan menunggu “urapan turun” seperti di Perjanjian Lama.

“Dalam roh kita yang telah lahir baru, ada kuasa yang sama yang membangkitkan Yesus dari kematian. Kuasa itu sudah ada di dalam kita – kita tidak perlu menunggu kuasa itu datang. Yang perlu kita lakukan hanyalah memperbaharui pikiran kita dan melepaskannya.” – Andrew Wommack.

“Imanlah yang mengaktifkan Pengurapan. BUKAN Perasaan.
Pengurapan tidak membesar atau mengecil, itu hanya perasaan kita saja”, demikian komentar P. Dolfi.

Yang membedakan adalah keterampilan kita dalam melayankannya. Itu perlu jam terbang.

Seperti listrik di rumah kita, kuasa Tuhan sudah tersedia. Tapi saklarnya adalah iman. Tanpa iman, kuasa itu tetap ada, tapi tidak bekerja maksimal. Pengurapan tidak menunggu kita merasa siap, melainkan menunggu kita percaya.

Andrew bahkan menceritakan kisah pribadinya saat suatu ketika ia merasa benar-benar kering secara emosional, bahkan merasa tidak layak memberitakan Injil. Tapi ketika ia tetap berdiri, mengajar, dan percaya bahwa pengurapan Tuhan tetap ada, justru saat itulah banyak orang disembuhkan dan menerima terobosan.

“Kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus… dan pengurapan itu tinggal di dalam kamu.” – 1 Yohanes 2:20, 27

Fungsi Pengurapan bukan hanya untuk memperkuat diri kita, tetapi terutama untuk melayani dan membangun orang lain. Semakin kita melayani, semakin kuat pula aliran kuasa itu dinyatakan

Jadi, pengurapan yang datang dan pergi memang benar adanya dalam Perjanjian Lama, tetapi di Perjanjian Baru, urapan tinggal menetap dalam roh kita. Yang perlu kita lakukan adalah menyadari, menghormati, dan merespons pengurapan itu dengan iman dan ketaatan.

Saya menuliskan klarifikasi ini bukan untuk mengkritik, melainkan sebagai bagian dari pertumbuhan rohani kita bersama. Tuhan itu setia menuntun kita dari kebenaran kepada kebenaran yang lebih dalam lagi. Pewahyuan bukan untuk diperdebatkan, tetapi untuk dialami dan dibagikan demi membangun tubuh Kristus.

You don’t need a new anointing. You need to become skillful with the one you have.” – Nancy Dufrene.*l

“Kamu tidak perlu pengurapan yang baru. Kamu perlu menjadi terampil menggunakan pengurapan yang sudah kamu miliki” – Nancy Dufrene.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Mengapa Penyembuh Ilahi Gagal Menyembuhkan Diri?”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Mengapa Penyembuh Ilahi Gagal Menyembuhkan Diri?”

Ini pertanyaan yang sejak dulu bikin saya heran dan jujur, bingung juga…
Mengapa ada hamba Tuhan yang begitu diurapi, mendoakan orang lain sembuh dari berbagai penyakit—bahkan yang mustahil secara medis—tapi saat dia sendiri sakit, justru tidak sembuh? Malah beberapa meninggal dalam kondisi yang sangat menyedihkan.

Bukankah kalau dia dipakai Tuhan menyembuhkan orang lain, apalagi dengan tanda-tanda ajaib, mestinya lebih mudah baginya mengalami kesembuhan pribadi?

Saya menemukan jawabannya saat membaca buku Kenneth E. Hagin, Understanding the Anointing.

Menurut Kenneth Hagin, banyak penginjil kesembuhan besar di masa Kebangunan Penyembuhan (Healing Revival) tahun 1947–1958 di Amerika, melayani dalam pengurapan yang sangat kuat—kuasa Tuhan nyata, mujizat terjadi—tetapi mereka tidak tahu apa-apa soal iman. Mereka hanya mengandalkan pengurapan saat melayani orang lain, tapi tidak membangun iman pribadi berdasarkan Firman.

Hagin menulis, “Beberapa di antaranya bahkan tidak mengerti Alkitab. Pernyataan mereka soal Firman Tuhan, kadang-kadang sangat ngawur sampai membuat saya nyaris jatuh dari kursi!”

Ia menambahkan, “Tuhan memberi karunia kerasulan, penginjilan, atau pelayanan lainnya, bukan untuk menyembuhkan si pelayan itu sendiri, tapi untuk melayani tubuh Kristus. Kalau hamba Tuhan itu sakit, dia harus menerima kesembuhan dengan cara yang sama seperti orang percaya lainnya—dengan iman.”

Wah, ini membuka mata saya…

Pengurapan adalah kuasa Allah yang dicurahkan untuk melayani orang lain. Tapi untuk kehidupan pribadi, kita tidak bisa bergantung pada pengurapan. Kita harus hidup dengan iman.

Itulah yang Hagin lakukan. Ia tidak hanya melayani dengan pengurapan, tapi juga membangun hidupnya dengan iman, sehingga pelayanannya tetap berlanjut hingga usia lanjut, saat rekan-rekannya yang lain sudah gugur satu per satu.

Hagin bahkan pernah menegur seorang hamba Tuhan sakit yang berkata, “Pengurapan ini bekerja untuk orang lain, tapi tidak bisa buat saya.”

Hagin menjawab tegas, “Karena kamu tidak tahu tentang iman. Harusnya kamu mendengarkan saat kami mengajarkannya!”

Ada juga kisah tentang seorang penginjil yang luar biasa—dalam satu kebaktian, lima orang tuli-bisu disembuhkan seketika, seorang buta melihat, bahkan pasien yang sudah divonis mati sembuh total. Tapi setelah itu, ia pun jatuh sakit.
Why?
Karena dia hanya tahu melayani di bawah pengurapan, tanpa dasar iman yang kuat.

Pengurapan itu datang dan pergi. Kalau datang, kuasa Tuhan luar biasa bekerja, tapi tidak bisa menetap selamanya dalam manifestasi yang kuat. Tubuh manusia tidak akan tahan.

Hagin sendiri pernah sampai bergetar hebat, bola matanya bergerak, bahkan tidak bisa melihat jemaat karena masuk ke dalam dimensi roh. Tapi ia berkata, “Saya tidak bisa lama-lama di sana. Tubuh saya masih fana.”

Bahkan ada kalanya ia berseru, “Tuhan, hentikan! Saya tidak sanggup lagi!”

Jadi pelajaran pentingnya, bukan hanya pengurapan yang perlu kita kejar, tapi iman pribadi yang bertumbuh melalui Firman Tuhan. Karena pada akhirnya, saat kita membutuhkan kesembuhan, pertolongan, atau mujizat, bukan pengurapan di atas mimbar yang akan menyelamatkan, tapi iman pribadi yang memegang janji Tuhan.

Kiranya kita menjadi pelayan yang tidak hanya penuh kuasa, tapi juga berakar dalam Firman, hidup oleh iman, dan terus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan.

Seruput kopi cantik kita, sambil merenungkan:
Apakah kita hanya mengandalkan pengalaman rohani sesaat, atau sungguh-sungguh membangun kehidupan iman yang sejati?

(Sumber: Kenneth E. Hagin, Understanding the Anointing)

The secret of Christianity is not in doing, but in being. It is in being a possessor of the nature of Jesus Christ. – John G Lake.

Rahasia kehidupan Kristen bukan terletak pada apa yang kita lakukan, tetapi pada kita menjadi siapa. Yaitu menjadi pribadi yang memiliki sifat dan natur ilahi seperti Kristus.
– John G. Lake.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Hidup yang Berdampak: Warisan yang Abadi.

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Hidup yang Berdampak: Warisan yang Abadi.

Ketika saya mengenang pelajaran Steven Covey dalam buku “ The 7 Habits of Highly Effective People” ,
HABIT 2: BEGIN WITH THE END IN MIND – kebiasaan ke dua: Mulailah dengan tujuan akhir dalam pikiran.

Nah saat ikut seminar P. Prasetya M. Brata, kami diberi tugas menulis naskah pidato untuk seseorang yang akan dibacakan saat pemakaman masing-masing. Saya termenung… Jika saya meninggal, saya ingin dikenang sebagai pribadi seperti apa?

Pertanyaan sederhana, namun menggetarkan jiwa. Karena jawabannya tidak akan datang tiba-tiba pada hari kematian kita. Jawaban itu dibentuk oleh keputusan-keputusan yang kita ambil hari ini.

Tuhan memberi saya jawaban lewat kisah Onesiforus.

Dalam 2 Timotius 1:16 KJV tertulis:
“Tuhan memberikan kasih karunia kepada rumah Onesiforus; karena ia sering menyegarkan aku, dan tidak malu akan rantai-ku.”

Wah… satu ayat, tapi dampaknya sampai 2.000 tahun kemudian! Nama Onesiforus hanya disebut dua kali di Alkitab, tetapi efek hidupnya menggetarkan sejarah kekristenan!

Apa yang ia lakukan? Ia menyegarkan Paulus. Mungkin lewat makanan, pakaian, atau bahkan sekadar mendengarkan dan hadir. Yang jelas: ia tidak malu terhadap Paulus, bahkan saat Paulus ada dalam penjara. Ia tekun mencari Paulus di Roma—kota besar, berbahaya, dan penuh risiko. Tapi Onesiforus tidak mundur. Ia tetap setia. Ia hidup sesuai namanya: pembawa manfaat.

Bandingkan dengan Phygellus dan Hermogenes dalam 2 Timotius 1:15—disebut hanya untuk dikenang sebagai pengecut.
Duh… saya tidak mau dikenang seperti itu!

Tindakan kecil Onesiforus, mungkin terlihat remeh saat itu. Tapi karena ia melakukannya dengan kasih dan iman, Tuhan mencatatnya. Bukan hanya dalam kitab, tapi dalam sejarah kekal!

“Tuhan tidak melupakan pekerjaan kasihmu…” (Ibrani 6:10)

Itu sebabnya saya suka menulis kisah-kisah seperti Seruput Kopi Cantik. Bukan sekadar cerita, tapi kesaksian yang mengangkat prinsip-prinsip Tuhan yang bisa diteladani. Pernah seorang teman berkata, “Tulisan ibu seperti pelita. Menuntun saya di tengah gelapnya keputusan.”
Wow… saya terharu.

Ternyata, saat kita menulis kebaikan Tuhan atau melakukan hal kecil dengan kasih—itu bisa menjadi warisan yang memberkati orang lain bahkan setelah kita tidak ada.

“Tulislah sesuatu yang layak dibaca, atau lakukan sesuatu yang layak untuk ditulis.” – Benjamin Franklin

Dan ini alasan saya terus menulis. Saya ingin meninggalkan jejak yang memberkati, bukan sekadar nama di batu nisan.

Onesiforus adalah contoh nyata bahwa tidak harus menjadi pengkotbah besar atau mengukir prestasi yang spektakuler, untuk meninggalkan warisan abadi. Cukup setia. Cukup mengasihi. Cukup hadir. Bahkan di saat sulit.

Matius 10:42 (TB) Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”

Jadi, jangan pernah meremehkan tindakan kasih yang sederhana. Tuhan menghargainya.

Ketika kita hidup dengan tujuan kekal, keputusan kita menjadi berbeda. Kita tidak lagi dikuasai rasa takut atau ego. Karena kita tahu, yang kita bangun bukan hanya reputasi—tetapi warisan rohani.

“Anda tidak kebetulan ada di dunia ini. Tuhan telah menciptakan Anda untuk sebuah tujuan yang luar biasa. Hidup yang paling memuaskan adalah saat Anda menemukan dan mengikuti panggilan yang telah Tuhan rencanakan bagi Anda.” – Rick Warren

Teman-teman, mari kita renungkan:
Apakah hidup kita hari ini akan dikenang dengan sukacita atau disesali orang?
Apakah kita hidup untuk memberi dampak atau sekadar menjalani hari?

Saya percaya…
Hidup bukan tentang berapa banyak yang kita miliki, tapi berapa banyak hidup yang kita sentuh.

Dan ingatlah,Albert Schweitzer (filsuf & dokter peraih Nobel Perdamaian) berkata,

“Example is not the main thing in influencing others. It is the only thing.”

Keteladanan bukan hal utama dalam memengaruhi orang lain. Itu satu-satunya cara.

Maukah kita menjadi seperti Onesiforus?
Membawa manfaat. Menyegarkan sesama. Menjadi berkat.

Hidup seperti itu, akan terus bersuara… bahkan setelah kita diam.
Sesungguhnya, selama orang masih menyebut nama kita, diri kita belum meninggal, kata orang bijak.

Menarik bukan?

“Do all the good you can, by all the means you can, in all the ways you can, to all the people you can, as long as ever you can – John Wesley

“Lakukan segala kebaikan yang Anda bisa, dengan segala cara yang Anda bisa, di semua tempat yang Anda bisa, kepada semua orang yang Anda bisa, selama Anda bisa.” – John Wesley.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Gereja Lokal: Tempat Berkatmu Mengalir dan Perlindunganmu Dinyatakan!

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Gereja Lokal: Tempat Berkatmu Mengalir dan Perlindunganmu Dinyatakan!

“Saya bisa jadi orang Kristen tanpa ke gereja.” Kedengarannya keren dan independen, ya? Tapi sayangnya, itu bukan kebenaran Firman Tuhan.

Yesus sendiri, seperti tertulis dalam Lukas 4:16, memiliki kebiasaan untuk datang ke rumah ibadat. “Seperti kebiasaan-Nya”—Yesus, Sang Mesias, secara rutin hadir di rumah Tuhan. Kalau Yesus saja melakukannya, bagaimana mungkin kita merasa bisa hidup sebagai murid Kristus tanpa gereja lokal?

Tiap domba butuh gembala.

Tuhan tidak merancang kita untuk berjalan sendiri. Dia menempatkan kita dalam tubuh Kristus, dan setiap bagian tubuh memiliki tempatnya. Karena itu, Tuhan menetapkan gembala—bukan sekadar untuk berkhotbah, tapi untuk membawa perlindungan, arah, dan otoritas rohani dalam hidup kita.

Saya pribadi sangat bersyukur untuk gembala-gembala yang pernah Tuhan tempatkan dalam hidup saya. Firman yang mereka taburkan bertahun-tahun lalu menjadi jangkar iman ketika badai datang. Jangan anggap remeh kehadiran gembalamu—itu kunjungan Tuhan bagimu.

Gembala bukan hanya pengkhotbah. Mereka adalah saluran anugerah. Saat kita mendengarkan firman dari gembala yang Tuhan tetapkan, kita tidak sekadar menerima informasi. Kita sedang menerima impartasi rohani—ada urapan, perlindungan, bahkan mujizat yang mengalir lewat pelayanan mereka. Bukan karena mereka sempurna, tapi karena Tuhan mengurapi mereka.

Iblis tahu ini. Karena itu, dia selalu mencoba memisahkan kita dari tempat Tuhan menanam kita. Ketika kita keluar karena kecewa atau bosan, kita keluar dari perlindungan. Jangan pindah ladang hanya karena rumputnya tampak lebih hijau.

Gereja lokal bukan cuma tempat kita diberkati, tapi tempat kita dibentuk. Di sanalah kita belajar mengasihi, mengampuni, dan membangun tubuh Kristus bersama-sama. Yesus berkata, “Semua orang akan tahu kamu murid-Ku jika kamu saling mengasihi.” (Yohanes 13:35)

Kasih sejati diuji dalam keseharian. Maukah kita tetap mengasihi meski kecewa? Maukah kita mengampuni saat disakiti? Maukah kita tetap setia saat gembala kita sedang lemah?

Persekutuan sejati tidak bisa digantikan dengan Zoom, YouTube, atau tayangan online lainnya.

Di Listra ada seorang yang duduk saja, karena lemah kakinya dan lumpuh sejak ia dilahirkan dan belum pernah dapat berjalan.
Ia duduk mendengarkan, ketika Paulus berbicara. Dan Paulus menatap dia dan melihat, bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan.
Lalu kata Paulus dengan suara nyaring: “Berdirilah tegak di atas kakimu!” Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari. [Kisah Para Rasul 14:8-10 (TB) ]

Mengapa disembuhkan?
Ada urapan dan impartasi yang hanya bisa kita terima saat kita hadir secara fisik dalam komunitas yang Tuhan tempatkan.

Karena pemuda lumpuh itu HADIR, Paulus MELIHAT dia memiliki iman. Ketika diperintahkan dan taat maka mujizat terjadi. Itu kuncinya!

Namun, hasil yang kita peroleh sangat tergantung pada sikap hati kita.

Yesus berkata, “Perhatikan cara kamu mendengar!” (Lukas 8:18)

Dua orang bisa duduk di kursi yang sama, mendengar khotbah yang sama, tapi hasilnya berbeda. Yang satu datang lapar dan haus akan kebenaran, yang lain datang sekadar memenuhi kewajiban.

Saya mengenal seorang wanita yang setia di gerejanya selama bertahun-tahun. Tapi sayangnya, gereja itu tidak mengajarkan firman Tuhan secara utuh—tidak tentang otoritas iman, kuasa perkataan, atau kesembuhan ilahi. Saat terkena penyakit serius, ia hanya berkata, “Kalau Tuhan mau sembuhkan, pasti sembuh.” Ia tidak tahu bahwa kesembuhan itu sudah disediakan dan harus diambil dengan iman. Ia meninggal dalam usia muda. Bukan karena Tuhan tidak peduli, tapi karena ia tidak pernah diajarkan kebenaran yang memerdekakan.

Hosea 4:6 berkata, “Umat-Ku binasa karena tidak berpengetahuan.”

Kita harus tahu siapa gembala kita dan di mana Tuhan menanam kita. Jangan tertipu oleh gemerlap program atau gaya modern. Pilih tempat yang menantang dan menumbuhkan kerohanianmu, bukan yang sekadar menyenangkan perasaanmu.

Gereja lokal adalah tempat Tuhan membangkitkan panggilan kita. Bangkitlah. Ambil posisi kita di sana. Jadilah pelaku, bukan sekadar penonton.

Ini musim kemuliaan. Dan semuanya dimulai dari tempat Tuhan menanam kita: di gereja lokal yang Tuhan tetapkan.

Siap? Yuk….

“We are created for community, fashioned for fellowship, and formed for a family, and none of us can fulfill God’s purposes by ourselves.” – Rick Warren.

“Kita diciptakan untuk hidup dalam komunitas, dibentuk untuk persekutuan, dan dirancang untuk menjadi bagian dari keluarga. Tidak seorang pun dapat memenuhi tujuan Tuhan seorang diri.” – Rick Warren.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Pikiran Kita Menentukan Batasan Hidup Kita”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Pikiran Kita Menentukan Batasan Hidup Kita”

Seringkali kita datang ke hadapan Tuhan dengan harapan besar, tetapi pulang dengan kecewa. Bukan karena Tuhan tak sanggup, melainkan karena kita tidak percaya.

Saya pernah mendengar seseorang berkata, “Firman itu seperti makanan rohani. Kadang kita dengar kotbah, belum sepenuhnya paham, tapi hati kita ‘kenyang’.”
Itu benar.

Tapi hari-hari ini, saya belajar sesuatu yang lebih dalam: Firman Tuhan bukan hanya untuk mengenyangkan, tapi mengubahkan.

Firman yang hidup, bila diterima dengan hati terbuka, akan dipakai Roh Kudus untuk memperbaharui cara berpikir kita. Dan itu kuncinya. Karena pikiran kitalah yang menentukan batasan hidup kita.

Bisa saja kita mendengar ratusan kotbah, hafal banyak ayat, tapi kalau pola pikir kita belum berubah, berkat tidak bisa mengalir.

Saya suka sekali quotes ini:
“Kita dibatasi oleh pikiran kita. Ketika pikiran kita tidak bisa membayangkan, maka kita tidak bisa mempercayainya. Karena sistem kepercayaan kita dibangun atas dasar cara berpikir kita.”

Banyak di antara kita yang berdoa minta mujizat, solusi, terobosan mau pun jalan keluar, namun di dalam pikiran kita sudah menyerah, sudah pesimis. Kita tidak bisa membayangkan bahwa hidup kita bisa berubah.

Kebanyakan dari kita percaya Allah itu besar, tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Yang kerap membuat tidak percaya, apakah Dia mau melakukannya untuk kita?
Apakah kita layak?
Tapi kemudian saya belajar: semua itu bukan soal kelayakan, tetapi soal iman.

Yesus saat menyembuhkan atau menjawab doa, tidak pernah minta persyaratan apa pun selain percaya.

Firman Tuhan berkata,
“Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya.”
Bukan bagi yang sempurna. Bukan bagi yang sudah kudus luar biasa. Tapi bagi yang percaya.

Dan kepercayaan itu dibangun dari cara berpikir yang benar—yang selaras dengan Firman.

Itulah sebabnya pengajaran Firman sangat penting.
Bukan sekadar pengetahuan intelektual.
Tapi pengajaran yang menuntun kita mengenal Allah secara pribadi.

Karena ketika kita mengenal Dia, percaya itu jadi mudah.
Dan saat kita percaya, Roh Kudus bekerja.

Ia mengubahkan hati. Membuka mata rohani kita. Menyesuaikan pemikiran kita dengan kebenaran Firman Tuhan.
Dan di situlah, mujizat dan jawaban doa mulai terjadi.

“Alkitab penuh dengan mujizat luar biasa, untuk menunjukkan bahwa segala sesuatu mungkin bagi Allah! Jika Tuhan telah melakukannya bagi para nabi, Dia juga mau melakukannya lahi bagi kita!”

Tapi yang menarik adalah kelanjutannya:

*“Tetapi Dia tidak bisa melakukannya, kalau kita tidak percaya.”*

Gubraaaaaakkkk……

Tuhan Maha Kuasa, tetapi Dia membatasi diri-Nya pada iman kita.

Mari kita membangkitkan selera rohani kita dengan merenungkan firman-Nya. Supaya kita mulai percaya bahwa hidup kita bisa berubah.
Bahwa apa yang nabi-nabi alami, kita pun bisa alami. Bahkan lebih!

Yesus berkata, “Apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yoh. 14:13-14)

Luar biasa!
Tapi semuanya kembali ke satu hal:
Apakah kita percaya?

Kalau ya, mulailah dengan mengubah cara berpikir kita.

Firman adalah kuncinya.
Roh Kudus adalah pelakunya.
Dan iman adalah jalannya.

Mari, jangan puas hanya menjadi pendengar Firman.
Izinkan Firman itu mengubahkan kita.
Pikiran kita diubah.
Hati kita dijamah.
Iman kita bangkit.

Dan kita akan melihat,
Tuhan bekerja dalam hidup kita—dengan cara-cara yang ajaib!
Setuju?

Andrew Wommack

“You will never see what you can’t imagine. Your imagination is your spiritual womb.” – Andrew Wommack.

“Kita tidak akan pernah melihat apa yang tidak bisa kita bayangkan. Imajinasi kita adalah rahim rohani kita” – Andrew Wommack.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 4 6