Category : Articles

Articles

Prinsip Tikkun Olam: Kaya untuk Membuat Dunia Lebih Kudus

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Prinsip Tikkun Olam: Kaya untuk Membuat Dunia Lebih Kudus

“A lot of people become unattractive when you find out how they think.” — Damian Marley

Banyak orang menjadi tidak menarik bukan karena penampilan, tetapi karena cara berpikirnya.
Sebaliknya, kita justru tertarik pada orang-orang yang pola pikirnya membawa kita naik, bertumbuh, dan melihat hidup dengan sudut pandang yang lebih besar.

Billy Epperhart pernah berkata bahwa ketika kita lahir ke dunia, Tuhan sebenarnya sudah menyiapkan “peti harta karun” bagi setiap orang.
Apa isinya?
Bukan emas atau uang semata, melainkan orang-orang yang Tuhan kirimkan untuk menolong kita naik ke level hidup yang lebih tinggi, supaya potensi kita bisa dipakai maksimal untuk menggenapi rencana-Nya.

Masalahnya sering bukan pada ketersediaan kesempatan, tetapi pada kesiapan hati.
Apakah kita mendoakan orang-orang itu?
Apakah kita peka saat mereka hadir?
Dan yang terpenting, apakah kita mau bertumbuh untuk menyambut kesempatan itu?

Karena tidak ada keberhasilan yang jatuh dari langit.
Semuanya menuntut kerja sama dengan Tuhan.

Di Charis Bible College, selain belajar tentang kepemimpinan, kami juga belajar prinsip keuangan dari Charis Business School. Salah satu pelajaran pentingnya adalah Money Mastery — bagaimana menguasai uang, bukan dikuasai uang.

Dari situ saya belajar satu hal penting:
menjadi rohani bukan berarti anti uang.
Justru, cara kita memperlakukan uang menunjukkan kedewasaan rohani kita.

Inilah yang disebut sebagai Prinsip Tikkun Olam — memperbaiki dunia.
Kekayaan bukan tujuan, tetapi sarana untuk bermitra dengan Tuhan, membawa kebaikan, meningkatkan kualitas hidup orang lain, dan menghadirkan nilai Kerajaan Allah di bumi.

Menjadi kaya, jika tujuannya benar, bukanlah dosa.
Justru bisa menjadi kebajikan.

Menariknya, kata work (bekerja) dan worship (menyembah) dalam makna aslinya sangat dekat. Artinya, bekerja dengan benar dan bertanggung jawab juga merupakan bentuk penyembahan kepada Tuhan.

Kerohanian sejati bukan menjauh dari dunia, melainkan menghadirkan terang di dalamnya.

Karena itu, kita diajar untuk hidup bijak secara finansial.
Billy Epperhart mengajarkan agar kita hidup dari 70–80% penghasilan, bukan 100%. Sisanya dipakai untuk menabung, berinvestasi, dan memberi.

Ada tiga tahap kehidupan finansial:
1. Kita bekerja untuk uang.
2. Uang bekerja untuk kita.
3. Uang bekerja tanpa kita harus terus bekerja.

Banyak orang terjebak di tahap pertama karena gaya hidup konsumtif.
Minum kopi mahal setiap hari, cicilan kartu kredit, gaya hidup yang tidak perlu.
Padahal, hutang konsumtif perlahan membunuh masa depan.

Billy pernah memberi contoh:
dua orang dengan penghasilan sama, $54.000 per tahun.
Yang satu disiplin melunasi hutang dan berinvestasi.
Yang lain hanya membayar cicilan minimum.

Dua puluh lima tahun kemudian, yang pertama bebas hutang dan memiliki jutaan dolar aset.
Yang kedua masih memiliki cicilan dan nyaris tanpa tabungan.

Perbedaannya bukan gaji.
Tapi cara berpikir.

Konsumtif berarti memusnahkan — bukan hanya uang, tetapi juga kesempatan untuk menjadi berkat.

Karena itu, belajar menjadi bijak adalah bagian dari ketaatan.
Firman Tuhan berkata, umat-Ku binasa karena kurang pengetahuan.

Belajar itu rohani.
Bertumbuh itu ibadah.
Mengelola dengan bijak adalah bentuk tanggung jawab.

Mari belajar rendah hati, terbuka, dan mau diajar.
Seperti kata Greg Mohr: Bersikaplah seperti kucing tua, ambil dagingnya, buang tulangnya.

Dan pada akhirnya, kita akan mengerti:
menjadi kaya bukan soal menumpuk harta,
tetapi tentang memperluas dampak.

Kiranya kita pun hidup dengan cara yang sama.
Bijak. Bertumbuh. Berdampak.

“I spent the first half of my life making money, and the second half giving it away to do the most good and the least harm.” – Andrew Carnegie.

“Saya menghabiskan separuh hidup saya untuk menghasilkan uang, dan separuhnya lagi untuk menggunakannya demi kebaikan sebesar-besarnya. – Andrew Carnegie.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Menemukan Tempat yang Tuhan Tetapkan

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Menemukan Tempat yang Tuhan Tetapkan

Ada satu kisah yang belakangan ini sangat menggetarkan hati saya.
Kisah tentang seorang perempuan luar biasa, atlet dunia, sekaligus seorang ibu bernama Allyson Felix.

Ia bukan atlet biasa.
Allyson adalah peraih 11 medali Olimpiade, melampaui rekor Carl Lewis, dan menjadi atlet atletik Amerika tersukses sepanjang sejarah. Dunia mengenalnya sebagai pelari cepat, disiplin, dan penuh prestasi.

Namun justru di puncak kariernya, hidup membawanya pada ujian yang tidak pernah ia bayangkan.

Saat Allyson hamil, sponsor besarnya, Nike, menyampaikan keputusan yang mengejutkan. Kontraknya akan dipotong hampir 70 persen. Alasannya sederhana namun menyakitkan: ia dianggap tidak lagi produktif sebagai atlet.

Pesannya seperti berkata,
“Kamu tahu tempatmu. Diam. Terus berlari.”

Padahal di usia kehamilan tujuh bulan, Allyson mengalami komplikasi serius dan harus menjalani operasi caesar darurat. Bayinya lahir prematur dan harus dirawat di ruang NICU selama lebih dari sebulan.

Di saat ia berjuang sebagai seorang ibu, ia juga harus menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak selalu ramah pada perempuan yang memilih keluarga dan kehidupan.

Namun di titik terendah itu, sesuatu berubah.

Alih-alih tenggelam dalam kekecewaan, Allyson memilih berdiri. Ia meninggalkan Nike dan membangun mereknya sendiri, Saysh. Sebuah brand sepatu yang lahir bukan hanya dari visi bisnis, tetapi dari keberanian dan harga diri.

Dua tahun kemudian, dunia kembali menyaksikan langkahnya.
Di Olimpiade Tokyo, Allyson berlari dengan sepatu buatannya sendiri. Putrinya menyaksikan dari tribun. Dan di kakinya tertulis kalimat sederhana namun penuh makna:

“I know exactly where my place is.”

Ia tahu tempatnya.
Bukan ditentukan sponsor.
Bukan oleh industri.
Bukan oleh standar dunia.

Tetapi oleh siapa dirinya di hadapan Tuhan.

Dan hasilnya?
Ia kembali meraih medali.
Mencetak sejarah.
Menjadi atlet wanita Amerika dengan medali terbanyak sepanjang masa.

Namun lebih dari itu, ia meninggalkan pesan yang jauh lebih besar bagi perempuan di seluruh dunia:
bahwa kita tidak perlu mengorbankan martabat demi diterima.

Yang jarang disorot, Allyson adalah seorang wanita beriman. Dalam beberapa wawancara, ia terbuka tentang bagaimana imannya kepada Tuhan menopangnya melewati masa-masa paling gelap. Ia percaya hidupnya memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar podium dan penghargaan.

Di sinilah saya belajar satu hal penting.

Si musuh sering membawa kita masuk ke musim di mana kita merasa dipersempit, disalahpahami, bahkan diremehkan. Tetapi Tuhan mengubahnya menjadi alat, bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk membentuk.

Agar kita tidak lagi menggantungkan identitas pada pencapaian.
Agar kita tidak mencari nilai diri dari pengakuan manusia.
Agar kita tahu siapa kita sebenarnya di hadapan-Nya.

Sering kali kita baru menemukan “tempat” kita yang sejati ketika dunia tidak lagi menyediakan tempat.
Sering kali kita baru menemukan suara kita ketika kita berhenti berusaha menyenangkan semua orang.

Seperti Allyson, kita belajar bahwa keberanian sejati bukan tentang melawan dunia, melainkan berdiri teguh dalam nilai yang Tuhan tanamkan.

Dan pada akhirnya, yang tersisa bukanlah medali, kontrak, atau tepuk tangan.
Yang tersisa adalah keberanian untuk berkata dengan tenang:

“Aku tahu siapa aku. Dan aku tahu di mana tempatku.”

Wow….
Mari kita teladani.

“The greatest discovery of my generation is that a human being can alter his life by altering his attitude.”
– William James*

*Penemuan terbesar generasi ini adalah bahwa manusia bisa mengubah hidupnya dengan mengubah sikap hatinya.- William James

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Ketika Puncak Tidak Lagi Membuat Bahagia…


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Puncak Tidak Lagi Membuat Bahagia…

Ada seorang anak muda, sebut saja namanya Tommy.
Menurut ukuran dunia, hidupnya sudah sangat berhasil. Usianya masih muda, bisnisnya berkembang pesat, asetnya tidak sedikit. Banyak orang memandangnya dengan kagum. Banyak pula yang ingin berada di posisinya.

Namun di satu titik, di puncak semua itu, ia justru merasa kosong.
Ia dikelilingi banyak orang, tetapi nyaris tidak memiliki teman sejati. Teleponnya ramai, pertemuannya padat, tapi hatinya sepi. Semakin tinggi ia melangkah, semakin sunyi rasanya. Seperti berdiri di puncak piramida yang megah, indah dari kejauhan, namun dingin dan sepi saat benar-benar berada di atasnya.
Tommy kecewa.

Ia merasa telah mengejar semua yang ia pikir akan membuatnya bahagia. Uang. Pengakuan. Pencapaian. Kebanggaan. Tapi mengapa hatinya justru kosong?
Di titik itulah ia mulai bertanya,
“Kalau semua ini bukan jawabannya, lalu apa?”

Peter Drucker, bapak management modern, pernah berkata bahwa “salah satu kesalahan terbesar manusia adalah “berhasil menaiki tangga kesuksesan, hanya untuk menyadari bahwa tangga itu bersandar pada dinding yang salah.”

Kalimat itu sangat menggambarkan kondisi banyak orang hari ini. Kita berjuang mati-matian, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan relasi, untuk mencapai sesuatu. Tapi ketika sampai di atas, kita baru sadar… yang kita kejar bukanlah yang benar-benar kita butuhkan.

Seiring bertambahnya usia, pandangan tentang kebahagiaan memang berubah.
Hal-hal yang dulu terasa penting perlahan kehilangan daya tariknya. Pujian tidak lagi memuaskan. Kemenangan tidak lagi menggetarkan. Bahkan keberhasilan pun terasa hampa jika tidak bisa dibagikan dengan orang-orang yang tulus.

Di titik ini, hidup mulai mengajarkan pelajaran yang berbeda.
Bahwa kebahagiaan bukan soal seberapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa dalam kita bisa merasakan makna.
Bahwa damai tidak selalu datang dari keberhasilan besar, melainkan dari hati yang tidak lagi haus pengakuan.

Pelan-pelan seseorang mulai menyadari, kebaikan ternyata memberi rasa yang jauh lebih utuh daripada kemenangan.
Berbuat baik tanpa pamrih.
Mendengar tanpa ingin menghakimi.
Menolong tanpa perlu diketahui.

Hal-hal sederhana itu justru menghadirkan kelegaan yang tidak bisa dibeli.
Di sinilah seseorang mulai memahami bahwa kebaikan bukan sekadar kewajiban moral, melainkan kebutuhan batin. Ia seperti napas bagi jiwa. Tanpanya, hati terasa sesak meski hidup terlihat sempurna.

Semakin dewasa, semakin jelas satu hal:
*kebahagiaan tidak selalu datang dari apa yang kita miliki, tetapi dari siapa kita menjadi.*

Kebaikan membuat hidup terasa lebih ringan.
Tidak ada beban membuktikan diri.
Tidak ada lelah mengejar pengakuan.
Tidak ada iri yang menggerogoti hati.

Pada akhirnya, usia mengajarkan satu kebenaran sederhana namun dalam:
bahagia bukan tentang memiliki segalanya, melainkan tentang merasa cukup.
Dan kebaikan adalah bentuk paling jujur dari rasa cukup itu sendiri.

Mungkin itulah mengapa, di puncak kesuksesan, sebagian orang justru mulai mencari hal-hal yang dulu mereka abaikan. Bukan lagi prestasi, bukan lagi tepuk tangan, tetapi ketenangan hati.
Karena pada akhirnya, yang benar-benar membuat hidup terasa berarti bukan seberapa tinggi kita melangkah…
melainkan seberapa tulus kita hidup.

Hidup menggenapi rancangan Tuhan dalam menciptakan kita itulah, yang paling memuaskan. Karena untuk itulah kita ada di dunia ini.

“At the end of life, what truly matters is not what we have achieved, but how much we have loved.” – Mother Teresa

“Di akhir hidup, yang benar-benar berarti bukan apa yang kita capai, tetapi seberapa besar kita mengasihi”.- Mother Teresa

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Bertumbuh atau Dibentuk? Dua Hal yang Sering Disalahpahami….

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Bertumbuh atau Dibentuk? Dua Hal yang Sering Disalahpahami….

Saya tersentuh ketika membaca satu kalimat ini:
“Natural growth is not the same as divine shaping.”

“Pertumbuhan alami tidak sama dengan pembentukan ilahi.”

Sering kali kita merasa sudah bertumbuh hanya karena waktu berlalu. Kita merasa lebih dewasa karena sudah melewati banyak hal. Lebih kuat karena sudah terbiasa menghadapi tekanan. Lebih bijak karena pengalaman hidup semakin panjang. Tapi Tuhan menegur dengan lembut: bertumbuh secara alami tidak sama dengan dibentuk secara ilahi.

Pertumbuhan bisa terjadi dengan sendirinya. Waktu berjalan, usia bertambah, pengalaman menumpuk. Tapi pembentukan Tuhan berbeda. Ia disengaja. Ia detail. Dan sering kali tidak nyaman.

Saya belajar bahwa banyak dari kita sedang berada di musim ini. Bukan lagi sekadar bertumbuh, tapi sedang dibentuk.

Tuhan memperlihatkan gambaran yang sangat sederhana namun dalam: dua tanaman. Yang satu tumbuh liar, dibiarkan begitu saja, tumbuh tinggi tapi tidak terarah. Yang satunya lagi dirawat oleh seorang tukang kebun, dipangkas, diikat, diarahkan. Keduanya sama-sama tumbuh. Tapi hanya satu yang dipersiapkan untuk berbuah.

Di sinilah sering terjadi kebingungan. Kita mengira karena hidup berjalan, berarti kita siap.
Padahal Tuhan berkata, “Jangan samakan waktu yang berlalu dengan persiapan rohani.”

Ada musim di mana kita merasa hidup berjalan lambat. Doa terasa lebih sunyi. Proses terasa panjang.
Kita bertanya, “Tuhan, kenapa seperti tertahan?”
Jawabannya sering kali sederhana: karena Tuhan tidak sedang menunda, Ia sedang detil membentuk kita.

Apa yang sedang Ia kerjakan tidak terlihat dari luar, tapi sangat menentukan di dalam.
Tuhan tidak sedang memperbesar kita, Ia sedang memurnikan kita.
Dan pemurnian hampir selalu terasa seperti tekanan.

Seperti tanah liat di tangan penjunan. Dari luar tampak seperti ditekan, diputar, dibentuk tanpa henti. Jika tanah liat bisa bicara, mungkin ia akan berkata, “Kenapa harus sekeras ini?”
Tapi sang penjunan melihat bentuk akhir yang tidak bisa dilihat oleh tanah liat itu sendiri.

Begitu juga kita.
Ada hal-hal yang Tuhan singkirkan bukan karena itu jahat, tapi karena tidak lagi cocok dengan tujuan ke depan. Ada relasi yang berubah, kebiasaan yang ditinggalkan, bahkan rencana yang harus dilepaskan. Bukan karena salah, tetapi karena tidak lagi sejalan.

Di sinilah kita belajar satu kebenaran penting:
Tuhan lebih peduli membentuk karakter daripada mempercepat hasil.
Ia tidak sedang menghukum, Ia sedang menyelaraskan.
Ia tidak sedang mengurangi, Ia sedang menyiapkan kapasitas.

Ada air mata yang kita pikir berasal dari kehilangan, padahal itu tanda perubahan. Ada kesunyian yang kita kira penolakan, padahal itu ruang untuk pendewasaan.

Tuhan seolah berkata,
“Aku tidak membawamu sejauh ini untuk membiarkanmu rusak.”
“Aku membentukmu karena Aku mempercayakan sesuatu yang besar kepadamu.”

Musim sempit sering mendahului ruang yang luas.
Musim sunyi sering mendahului panggilan yang lantang.
Dan proses yang terasa berat sering menjadi fondasi untuk kemuliaan yang lebih besar.

Hari ini, jika kita merasa hidup tidak secepat orang lain…
Jika kita merasa sedang ditekan, diperlambat, bahkan dibentuk ulang…
Tenanglah.
Bukan berarti kita tertinggal.
Bukan berarti kita dilupakan.
Justru mungkin kita sedang berada tepat di tangan Tuhan.
Dan tangan-Nya tidak pernah salah membentuk apa yang Ia kasihi.

Siap? Yuuuuk….

“Before God can use a person greatly, He must first allow them to be shaped deeply.” – Andrew Murray

“Sebelum Tuhan memakai seseorang dengan besar, la akan lebih dulu membentuknya dengan dalam.- Andrew Murray

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Bertumbuh atau Dibentuk? Dua Hal yang Sering Disalahpahami….

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Bertumbuh atau Dibentuk? Dua Hal yang Sering Disalahpahami….

Saya tersentuh ketika membaca satu kalimat ini:
“Natural growth is not the same as divine shaping.” – Pertumbuhan natural, tidak sama dengan pembentukan Ilahi.

Sering kali kita merasa sudah bertumbuh hanya karena waktu berlalu. Kita merasa lebih dewasa karena sudah melewati banyak hal. Lebih kuat karena sudah terbiasa menghadapi tekanan. Lebih bijak karena pengalaman hidup semakin panjang. Tapi Tuhan menegur dengan lembut: bertumbuh secara alami tidak sama dengan dibentuk secara ilahi.

Pertumbuhan bisa terjadi dengan sendirinya. Waktu berjalan, usia bertambah, pengalaman menumpuk. Tapi pembentukan Tuhan berbeda. Ia disengaja. Ia detail. Dan sering kali tidak nyaman.

Saya belajar bahwa banyak dari kita sedang berada di musim ini. Bukan lagi sekadar bertumbuh, tapi sedang dibentuk.

Tuhan memperlihatkan gambaran yang sangat sederhana namun dalam: dua tanaman. Yang satu tumbuh liar, dibiarkan begitu saja, tumbuh tinggi tapi tidak terarah. Yang satunya lagi dirawat oleh seorang tukang kebun, dipangkas, diikat, diarahkan. Keduanya sama-sama tumbuh. Tapi hanya satu yang dipersiapkan untuk berbuah.

Di sinilah sering terjadi kebingungan. Kita mengira karena hidup berjalan, berarti kita siap.
Padahal Tuhan berkata, “Jangan samakan waktu yang berlalu dengan persiapan rohani.”

Ada musim di mana kita merasa hidup berjalan lambat. Doa terasa lebih sunyi. Proses terasa panjang.
Kita bertanya, “Tuhan, kenapa seperti tertahan?”
Jawabannya sering kali sederhana: karena Tuhan tidak sedang menunda, Ia sedang detil membentuk kita.

Apa yang sedang Ia kerjakan tidak terlihat dari luar, tapi sangat menentukan di dalam.
Tuhan tidak sedang memperbesar kita, Ia sedang memurnikan kita.
Dan pemurnian hampir selalu terasa seperti tekanan.

Seperti tanah liat di tangan penjunan. Dari luar tampak seperti ditekan, diputar, dibentuk tanpa henti. Jika tanah liat bisa bicara, mungkin ia akan berkata, “Kenapa harus sekeras ini?”
Tapi sang penjunan melihat bentuk akhir yang tidak bisa dilihat oleh tanah liat itu sendiri.

Begitu juga kita.
Ada hal-hal yang Tuhan singkirkan bukan karena itu jahat, tapi karena tidak lagi cocok dengan tujuan ke depan. Ada relasi yang berubah, kebiasaan yang ditinggalkan, bahkan rencana yang harus dilepaskan. Bukan karena salah, tetapi karena tidak lagi sejalan.

Di sinilah kita belajar satu kebenaran penting:
Tuhan lebih peduli membentuk karakter daripada mempercepat hasil.
Ia tidak sedang menghukum, Ia sedang menyelaraskan.
Ia tidak sedang mengurangi, Ia sedang menyiapkan kapasitas.

Ada air mata yang kita pikir berasal dari kehilangan, padahal itu tanda perubahan. Ada kesunyian yang kita kira penolakan, padahal itu ruang untuk pendewasaan.

Tuhan seolah berkata,
“Aku tidak membawamu sejauh ini untuk membiarkanmu rusak.”
“Aku membentukmu karena Aku mempercayakan sesuatu yang besar kepadamu.”

Musim sempit sering mendahului ruang yang luas.
Musim sunyi sering mendahului panggilan yang lantang.
Dan proses yang terasa berat sering menjadi fondasi untuk kemuliaan yang lebih besar.

Hari ini, jika kita merasa hidup tidak secepat orang lain…
Jika kita merasa sedang ditekan, diperlambat, bahkan dibentuk ulang…
Tenanglah.
Bukan berarti kita tertinggal.
Bukan berarti kita dilupakan.
Justru mungkin kita sedang berada tepat di tangan Tuhan.
Dan tangan-Nya tidak pernah salah membentuk apa yang Ia kasihi.

Siap? Yuuuuk….

“Before God can use a person greatly, He must first allow them to be shaped deeply.” – Andrew Murray

“Sebelum Tuhan memakai seseorang dengan besar, la akan lebih dulu membentuknya dengan dalam.- Andrew Murray

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 2 3 4 5 6 307