Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Regent Seven Seas Explorer: Natal Itu Hadir, Bahkan di Tengah Samudra…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Regent Seven Seas Explorer: Natal Itu Hadir, Bahkan di Tengah Samudra…

Christmas yang Hangat dan Berkelas di Regent Seven Seas Explorer
Natal di Regent Seven Seas Explorer tidak datang tiba-tiba.

Suasananya sudah terasa sejak tanggal 24 Desember. Sejak pagi, kapal ini seolah berganti wajah. Musik Natal mengalun lembut di setiap sudut, dekorasi merah dan emas tertata anggun, dan para kru menyapa dengan senyum yang terasa lebih hangat dari biasanya.

Pagi itu, saat sarapan, kami sudah disambut Eggnog. Minuman khas liburan di negara Barat ini langsung menghadirkan nuansa Natal yang otentik. Terbuat dari campuran susu, krim, telur, gula, dan rempah—terutama pala—rasanya manis, gurih, dan kental seperti custard cair. Biasanya disajikan dingin, kadang dengan sentuhan rum atau brandy. Eggnog bukan sekadar minuman, tapi simbol kemewahan dan perayaan musim Natal.

Sejak melangkah keluar kabin, suasana Natal benar-benar terasa. Lampu-lampu temaram, ornamen khas, dan sentuhan warna merah emas membuat seluruh kapal tampak hidup, namun tetap elegan. Tidak berlebihan. Tidak bising. Justru hangat dan menenangkan.
.
B. Silvy & saya sedang santai di deck 5, ketika terdengar suara riuh. Kami pun melihat ke deck 4 dari ujung tangga. Ternyata Santa Claus muncul bersama timnya di dekat pohon natal. Para penumpang langsung berkumpul, tersenyum, dan mengabadikan momen. Paduan suara dari artis Regent mengiringi suasana dengan lagu-lagu Natal yang ceria. Tua, muda, semua larut dalam kegembiraan. Kami pun ikut berfoto bersama Santa.

Sejak 24 Desember, Kris dan saya mengenakan bando rusa sementara teman yang lain memakai topi Natal. Tak sedikit penumpang dan crew yang menggoda sambil berseru, “Ho… ho… ho!” menirukan ucapan khas Santa, disusul ucapan “Merry Christmas!” yang terdengar di mana-mana.

Malam itu, kami makan malam di chartreuse, restoran Prancis yang elegan. Setelah itu, kami menonton pertunjukan Christmas spesial. Inilah salah satu bagian paling memukau malam itu.

Pertunjukan dibuka dengan tarian bergaya Broadway, lalu mengalir ke balet yang lembut namun glamour. Dekorasi panggung yang terus berganti sesuai kisah yang ditampilkan, ditambah LCD background dan lighting yang memukau. Namun yang paling mencuri perhatian adalah saat Flamenco Spanyol tampil di panggung. Dentuman kaki yang kuat, gerakan penuh ekspresi, dan irama gitar yang menghentak membuat suasana berubah seketika. Lighting yang dramatis, kostum serasi nampak mewah dan ekspresi para penari menyatu sempurna. Bukan sekadar tarian, tapi energi. Sebuah perayaan kehidupan yang intens dan berani. Semua tersaji dengan berkelas, rapi, dan sangat berkesan.

Tanggal 25 Desember pagi kami sempat mengunjungi Brisbane.
Dan …..suasana Natal kembali menyapa sore harinya. Tepat pukul tiga sore, Christmas Carol dimulai. Lagu-lagu Natal mengalun syahdu. Kami ikut bernyanyi, memuji Tuhan bersama-sama. Bukan Natal yang ramai dan riuh, tapi Natal yang membawa hati kembali pada maknanya.

Santa kembali muncul dari lift atas, kali ini membawa kotak besar berisi hadiah untuk anak-anak. Tawa pecah, kamera kembali sibuk, dan suasana terasa hangat seperti keluarga besar.

Lalu tibalah pertunjukan yang paling ditunggu: penampilan Sarah Moir, violinist asal Australia. Sarah bukan sekadar pemain biola. Ia adalah “pengukir suara”. Dengan iringan band dan efek digital, ia merangkai bunyi biola menjadi lapisan musik yang kaya—memadukan klasik, jazz, folk, hingga sentuhan elektronik, semuanya dimainkan langsung di atas panggung.
Ia bisa membuat biolanya berbunyi seperti okulele dan menirukan alat musik lainnya atau suara-suara binatang atau benda lain, lalu memainkannya.

Yang paling unik, ia memainkan biola seolah berdialog dengan seekor kuda yang ditampilkan melalui visual di layar. Gerakan musik dan gambar berpadu indah.
Sarah bahkan menjelaskan bahwa kuda memiliki kepekaan luar biasa terhadap musik, mampu merespons emosi dan ritme. Dan malam itu, kami benar-benar bisa merasakannya.

Malam ditutup dengan Christmas Gala Dinner. Menu utamanya Roasted Turkey dengan Chestnut Stuffing, Giblet Gravy, dan Sweet Potatoes Rosette. Rasanya luar biasa. Empuk, kaya rasa, dan seimbang. Saya langsung teringat Mr. Bean dengan roast turkey-nya—bedanya, yang ini sukses tanpa drama.
Hahaha….. untunglah!

Kristina sempat bercerita bahwa restoran-restoran di Regent memang setara Michelin. Dan itu terasa, bukan hanya dari rasa, tapi dari detail penyajian.

Kris sendiri sudah menantikan Christmas Pudding khas Inggris. Katanya, di UK, pudding ini dibuat sangat serius bahkan bisa disimpan bertahun-tahun. Tradisi yang unik dan penuh cerita. Sayangnya, di Regent tidak menyajikan versi klasik itu. Sebagai gantinya, ada Christmas Panettone Pudding dengan Roasted Berry Ragout dan Nougat Sauce. Rasanya enak, manisnya pas, meski menurut Kris, tetap belum bisa mengalahkan versi Inggris yang otentik dan legendaris.

Natal di Regent bukan sekadar perayaan. Pengalaman baru bagi saya pribadi. Hangat, indah, penuh detail, dan menyentuh hati. Sebuah Natal yang tidak hanya dirayakan, tetapi benar-benar dirasakan.

Praise The Lord! Terimakasih Tuhan untuk kesempatan ini dan anugerah-Mu yang tak ternilai….
I love you full, meniru Gombloh, sang penyanyi lawas.

“The very purpose of Christmas is that God loved enough to send His Son.” – Billy Graham

“Makna sejati Natal adalah ini: Tuhan begitu mengasihi kita sehingga la mengutus Anak-Nya.” – Billy Graham.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Di Antara Terumbu Karang dan Angin Laut: Catatan Syukur dari Cairns ke Airlie Beach.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Di Antara Terumbu Karang dan Angin Laut: Catatan Syukur dari Cairns ke Airlie Beach.

Cairns menyambut kami dengan ketenangan yang tidak dibuat-buat. Kota tropis ini seperti tahu persis caranya membuat orang melambat. Pagi itu kami berjalan santai di sekitar area Gonsavale. Tidak ada agenda besar. Hanya langkah kaki, udara hangat, dan suasana yang ramah. Cairns bukan kota yang berisik. Ia tidak berusaha mengesankan. Justru karena itulah ia terasa jujur.

Berjalan di sini mengingatkan kita bahwa hidup tidak selalu harus penuh target. Ada masa di mana kita cukup hadir, cukup mengamati, cukup menikmati. Melihat orang-orang berlalu dengan ritme mereka sendiri. Mendengar suara alam yang bersahut-sahutan. Ada damai yang turun pelan-pelan, tanpa pengumuman.

Cairns juga punya satu mahakarya yang membuatnya dikenal dunia, Great Barrier Reef. Inilah taman bawah laut terbesar di dunia. Luasnya membentang ribuan kilometer, terdiri dari ribuan terumbu karang dan ratusan pulau kecil. Dari udara, ia tampak megah. Dari bawah laut, ia hidup, berwarna, dan penuh detail yang membuat kita terdiam.
Great Barrier Reef bukan sekadar destinasi wisata. Ia seperti galeri ciptaan Tuhan yang diletakkan di bawah permukaan laut. Karang-karang dengan bentuk dan warna yang tidak pernah kita bayangkan. Ikan-ikan kecil berkilau, penyu laut, dan kehidupan yang bergerak harmonis tanpa suara. Melihat atau bahkan sekadar membayangkan keindahannya membuat kita sadar betapa kecilnya manusia, dan betapa luar biasanya Sang Pencipta.

Dari Cairns, keesokan harinya, perjalanan kami berlanjut ke Airlie Beach. Dan suasananya berubah, tapi tetap memikat. Laut di sini berwarna hijau tosca, jernih dan tenang. Sepanjang jalan, mata dimanjakan oleh bunga flamboyan berwarna oranye menyala dan bougenville warna-warni yang tumbuh subur. Alam seakan sedang tidak pelit menunjukkan keindahannya.

Kami singgah di Coral Sea Resort. Pemandangannya langsung menghadap laut. Kapal dan boat cantik berjejer di perairan yang tenang, memberi kesan hidup namun tetap rapi. Ada rasa menyenangkan melihat laut yang tidak kosong, tetapi juga tidak sesak. Semua berada di tempatnya.
Bangunan-bangunan baru di sepanjang pantai menambah sentuhan modern tanpa merusak karakter alamnya. Airlie Beach terasa segar, tertata, dan bersahabat. Tempat yang membuat orang betah duduk lama, menatap laut, tanpa merasa harus melakukan apa pun.

Kenyamanan perjalanan ini semakin terasa karena perhatian pada hal-hal kecil. Snack, kopi, teh, semuanya tersedia dan sudah termasuk dalam fasilitas Regent Seven Seas Explorer. Tidak repot, tidak ribet. Semua mengalir. Ada rasa dimanjakan, tapi dengan cara yang tenang, tidak berisik.

Kami juga mengunjungi Proserpine Museum di Airlie Beach. Museum kecil, sederhana, namun penuh cerita. Tentang sejarah wilayah ini, tentang laut yang menjadi nadi kehidupan, dan tentang orang-orang yang membangun komunitasnya dari waktu ke waktu. Tempat seperti ini selalu mengingatkan bahwa keindahan hari ini tidak muncul begitu saja.

Cairns dengan Great Barrier Reef-nya, dan Airlie Beach dengan laut hijau toscanya, memberi pelajaran yang sama. Dunia ini indah bukan karena kita mengejarnya, tetapi karena kita mau berhenti sejenak untuk melihat. Dan di setiap keindahan itu, ada undangan lembut untuk bersyukur. Tanpa perlu kata-kata besar. Cukup hati yang terbuka dan kopi yang dinikmati perlahan.

“Look deep into nature, and then you will understand everything better.” – Albert Einstein.

“Tataplah alam dengan sungguh-sungguh, maka kita akan memahami banyak hal dengan lebih jernih.” – Albert Einstein.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Bukan Sekadar Pelabuhan: Rangkaian Kisah dari Benoa hingga Darwin dengan Regent Cruise.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Bukan Sekadar Pelabuhan: Rangkaian Kisah dari Benoa hingga Darwin dengan Regent Cruise.

Lalu bagaimana dengan tujuan wisatanya? Pertanyaan lanjutan dari teman-teman.

Setelah banyak cerita tentang kapal dan makanannya, pertanyaan berikutnya yang sering muncul adalah: ke mana saja sebenarnya perjalanan ini membawa kami?
Rute dari Benoa hingga Darwin bukan sekadar deretan pelabuhan, tetapi rangkaian pengalaman yang kontras, dari desa-desa sederhana hingga kota dengan sejarah yang kuat.

Perjalanan dimulai dari Benoa, Bali, dengan kunjungan ke Baha Village dan Rice Village. Ini bukan Bali versi kartu pos, melainkan Bali yang tenang dan apa adanya. Desa dengan sawah hijau, ritme hidup yang pelan, dan senyum penduduk lokal yang tidak dibuat-buat. Di sini kita diingatkan bahwa keindahan tidak selalu harus megah. Kadang justru hadir dalam kesederhanaan yang terjaga.

Dari Bali, kapal berlayar menuju Lombok, dengan kunjungan ke Sekotong Village dan Vovotinus Beach. Lombok terasa lebih sunyi, lebih bersahaja. Pantainya bersih, airnya jernih, dan suasananya tidak ramai. Sekotong memberi gambaran kehidupan pesisir yang sederhana, sementara pantainya menghadirkan keheningan yang sulit ditemukan di tempat wisata populer.

Berikutnya adalah Komodo.
Tidak perlu banyak kata untuk tempat ini. Melihat Komodo Dragons di habitat aslinya adalah pengalaman yang membuat kita terdiam. Hewan purba ini berjalan pelan namun penuh wibawa. Alam di sini terasa mentah dan jujur. Tidak dipoles. Tidak disesuaikan untuk manusia. Kita hanya tamu yang diizinkan melihat sejenak kebesaran ciptaan Tuhan.

Dan kemudian kami tiba di Darwin, Australia.
Di sinilah perjalanan terasa berubah nuansanya. Dari alam dan desa, kita masuk ke kota dengan sejarah yang kuat. Kami menghabiskan dua hari penuh di Darwin, dan jujur saja, kota ini meninggalkan kesan yang dalam.

Darwin bukan kota besar yang sibuk. Ia terasa terbuka, luas, dan tenang. Langitnya besar. Udara tropisnya hangat. Kota ini dibentuk oleh sejarah yang tidak ringan, dan itu terasa di setiap sudutnya.

Hari pertama kami menelusuri Darwin Historical Past. Darwin adalah kota yang pernah hampir hancur total akibat Cyclone Tracy tahun 1974. Bencana ini membentuk karakter warganya: tangguh, praktis, dan tidak berlebihan. Kota ini dibangun ulang dengan kesadaran bahwa alam tidak bisa diremehkan.

Kami mengunjungi situs-situs sejarah yang menceritakan masa awal pemukiman, hubungan dengan penduduk Aborigin, dan bagaimana Darwin berkembang sebagai kota perbatasan yang penting. Sejarah di sini tidak disajikan secara glamor, tetapi jujur. Ada rasa hormat terhadap masa lalu, tanpa mencoba menutupinya.

Hari kedua membawa kami ke sisi lain Darwin: Darwin Military Past.
Darwin memiliki peran strategis penting selama Perang Dunia II. Kota ini pernah dibom oleh Jepang pada tahun 1942, menjadikannya wilayah Australia yang paling parah terdampak serangan langsung. Melihat situs-situs militer, museum, dan peninggalan perang memberi perspektif baru. Kota yang hari ini terasa santai, pernah berada di garis depan sejarah global.

Yang menarik, meski memiliki latar belakang sejarah berat, Darwin tidak terasa muram. Justru ada ketenangan yang matang. Seolah kota ini berdamai dengan masa lalunya. Tidak menyangkal, tidak membesar-besarkan.

Dua hari di Darwin terasa pas. Tidak terburu-buru. Cukup untuk berjalan, melihat, dan merenung. Setelah berhari-hari di laut, Darwin menjadi penutup yang membumi. Mengingatkan bahwa perjalanan bukan hanya tentang melihat tempat baru, tetapi tentang memahami cerita di baliknya.

Dan di titik ini, saya kembali menyadari satu hal sederhana: setiap tempat menyimpan kisah, dan setiap kisah mengundang kita untuk belajar, merendah, dan bersyukur.

Karena perjalanan yang baik bukan yang membuat kita kagum sesaat, tetapi yang meninggalkan pemahaman lebih dalam tentang hidup.

“Travel changes you. As you move through this life and this world you change things slightly, you leave marks behind.” – Anthony Bourdain.

“Perjalanan mengubah kita. Saat kita melintasi hidup dan dunia ini, kita meninggalkan jejak, meski kecil.” – Anthony Bourdain.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Di Meja Regent: Saat Makan Menjadi Pengalaman, Bukan Sekadar Menu.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Di Meja Regent: Saat Makan Menjadi Pengalaman, Bukan Sekadar Menu.

Setelah tulisan pertama tentang Regent Seven Seas Explorer beredar, bagian yang paling sering memancing pertanyaan ternyata bukan rute pelayaran atau kemewahannya, melainkan satu hal yang sangat manusiawi: makanan.
“Benarkah boleh pesan apa saja?”
“Benarkah lobsternya setiap hari?”
“Benarkah tidak ada restoran berbayar?”
“Benarkah boleh pilih main course, appetizer dan premium dessert sepuasnya?”

Jawabannya: iya. Dan justru di situlah letak filosofi Regent yang membedakannya dari cruise lain.

Di Regent, makan tidak diatur dengan rasa takut kekurangan. Kita tidak diminta memilih dengan hati-hati seolah sedang menghemat. Tidak ada tekanan untuk “memilih yang paling mahal” karena takut rugi. Semuanya sudah disiapkan sebagai standar. Kebebasan memilih ini menciptakan suasana makan yang santai, penuh rasa aman, dan tanpa beban.
Kami bisa saling berbagi, mencicipi makanan bersama teman-teman.

Yang menarik, meskipun bebas, suasana tidak pernah berubah menjadi rakus atau berlebihan. Justru karena tidak dibatasi, kita makan dengan lebih sadar. Mencicipi. Menikmati. Menghargai.

Soal bahan, Regent jelas tidak bermain aman. Mereka bermain serius.
Daging sapi pilihan dengan grade USDA Prime adalah standar, bukan menu khusus. Steak disajikan dengan potongan yang tepat, dimasak presisi, dan tetap menonjolkan rasa asli daging. Ini jenis daging yang tidak perlu diselamatkan saus.

Untuk pecinta seafood, pengalaman di Regent terasa hampir tidak masuk akal. Lobster hadir hampir setiap saat, bukan sebagai menu gala satu malam. Tiger prawn besar dan manis, disajikan dengan teknik sederhana agar rasa alaminya tidak tertutup. Ikan segar terasa segar. Tidak amis. Tidak lelah.

Saya juga menikmati bagaimana dapur Regent memperlakukan hidangan klasik Eropa. Escargot, foie gras, saus berbasis mentega dan wine, semuanya disajikan dengan elegan, tanpa rasa berat. Ini bukan masakan yang ingin pamer teknik, tetapi ingin menyenangkan tamu.

Btw, Escargot ini menu favorit b. Silvy dan saya…
Hahaha…. kami benar-benar Duo, satu paket, ujar teman-teman, – baik dalam pelayanan jadi PIC BBL, mau pun selera makan.

Kristina pun berkomentar,”Wow luar biasa tulisan Yenny yang nyata tidak ditambah -tambahi, hanya ada sedikit kurang untuk piring Versace yg disajikan di semua meja setiap kita ke Compas Rose he he harga nya 445 USD per satu piring?.”

Wuih…..

O ya, kami dapat Free Wifi. 1 orang 1 nomor. Ini menyenangkan sekali…

Satu hal kecil tapi penting: tidak ada rasa “produksi massal”.
Setiap piring terasa dibuat dengan niat serius. Pelayanannya personal. Sommelier menawarkan wine pairing tanpa menggurui. Chef terbuka pada permintaan khusus, selama bahan tersedia. Bahkan menu di luar daftar pun bisa dibuat.

Dan karena ini Regent, semua itu terjadi tanpa embel-embel biaya tambahan. Tidak ada restoran premium yang disisihkan untuk “yang mau bayar lebih”. Tidak ada perasaan kelas sosial di ruang makan. Semua tamu diperlakukan setara.

Makan di Regent bukan soal kemewahan yang berisik. Ini tentang kelimpahan yang tenang. Tentang rasa cukup. Tentang menikmati tanpa rasa bersalah.

Mungkin itu sebabnya banyak tamu mengatakan bahwa di Regent, mereka bukan hanya pulang dengan foto-foto indah, tetapi juga dengan ingatan tentang rasa. Rasa makanan, rasa damai, dan rasa syukur.

Dan di tengah segala kelimpahan itu, kita diingatkan bahwa segala sesuatu yang baik, termasuk kemampuan menikmati, adalah karunia Tuhan.

Regent mengajak kita mengalami paradoks surgawi: bahwa kelimpahan terasa paling nikmat justru ketika tidak kita kejar. Dengan menghapuskan mekanisme “bayar lebih” dan “pilihan terbatas”, kapal ini menciptakan ruang di mana jiwa bisa beristirahat dari mentalitas kelangkaan. Di sini, kita dilatih untuk percaya bahwa cukup itu ada, dan berkat itu mengalir bagi semua. Ini adalah gambaran kecil dari kerajaan sorga-di mana perjamuan tersedia untuk setiap tamu yang datang, tanpa syarat, tanpa hierarki, hanya dengan tangan terbuka dan senyum penerimaan.

Hhhmmmm…. betapa indahnya!

“Do all the good you can, by all the means you can, in all the ways you can, in all the places you can, to all the people you can, as long as ever you can.” – John Wesley.

“Lakukan semua kebaikan yang kau bisa, dengan segala cara yang kau bisa, di segala tempat yang kau bisa, kepada semua orang yang kau bisa, selama kau masih bisa.” – John Wesley.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Bintang Tujuh di Tengah Samudra: Pengalaman Berlayar Bersama Regent Seven Seas Explorer….


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Bintang Tujuh di Tengah Samudra: Pengalaman Berlayar Bersama Regent Seven Seas Explorer….

Liburan senantiasa menyenangkan, terlebih lagi menikmati Regent Cruise – Seven Seas Explorer dari Benoa, Bali mulai tanggal 12 Desember 2025, menuju Sydney, Australia.
Direncanakan kami akan tiba tanggal 28 Desember 2025.

Diprakarsai oleh Kristina Roberts, kami semua berdelapan liburan bersama-sama.
Kristina, P. Indra, saya – YennyIndra, Silvy, dr. Daniel & Tjuarty, Sur & Ayun.

Saya sudah puluhan kali menikmati cruise, dari Asia Tenggara, Alaska, Eropa, Amerika, hingga Oasis of the Seas yang pernah menyandang predikat kapal pesiar terbesar di dunia pada masanya. Artinya, saya bukan baru pertama kali naik kapal pesiar. Standar sudah terbentuk. Tidak mudah terkesan.

Namun Regent Seven Seas Explorer memberi rasa yang berbeda sejak hari pertama.

P. Anton Thedy dari TX Travel berkomentar sambil tertawa, “Ini bintang tujuh.”
Saya menimpali, “Kayak obat sakit kepala saja ya… hahaha.”
Tapi semakin hari di kapal ini, saya paham maksudnya. Ini bukan sekadar mewah. Ini pengalaman yang matang, tenang, dan penuh perhatian pada detail.

Hal pertama yang langsung terasa adalah ruang dan ketenangan. Regent tidak mengejar jumlah penumpang. Semua kabin adalah suite dengan balkon pribadi.
Kamar di Regent luas dan terasa seperti apartemen pribadi.
Ada wardrobe terpisah, ruang tamu yang nyaman, dan balkon pribadi untuk menikmati laut.
Semua tertata rapi dan fungsional.
Bukan sekadar kamar, tapi ruang untuk benar-benar tinggal dan beristirahat.

Tidak ada kamar “hemat” tanpa jendela. Semua lapang. Semua nyaman. Kita tidak merasa berada di kapal besar yang ramai, melainkan seperti tinggal di hotel butik yang kebetulan sedang berlayar.

Konsep truly all-inclusive juga menjadi pembeda besar. Hampir semua sudah termasuk: fine dining, minuman premium, wine berkualitas, minibar, room service 24 jam, hingga shore excursion di setiap pelabuhan. Tidak ada kejutan tagihan. Tidak ada perasaan “ini bayar lagi ya?”. Pikiran benar-benar istirahat.

Soal makanan, Regent bermain di level serius.
Terdapat 7 restoran utama, masing-masing dengan karakter kuat.

Compass Rose, restoran signature Regent, memungkinkan kita merancang menu sendiri. Pilih protein, saus, hingga tingkat kematangan.
Prime 7, steakhouse klasik dengan daging berkualitas tinggi.
Chartreuse, restoran Prancis modern dengan plating cantik.
Plating cantik artinya makanan ditata indah, niat, dan berkelas. Bukan hanya enak dimakan, tapi memanjakan mata.
Pacific Rim, Asian fusion yang elegan dan refined.
La Veranda,buffet yang tidak terasa seperti buffet.
Malam hari berubah menjadi Sette Mari, restoran Italia yang hangat.
Dan Pool Grill, santai tapi tetap premium.

Semua ini tanpa biaya tambahan. Di Regent, specialty dining bukan ekstra. Itu standar.

Satu fasilitas yang sangat saya apresiasi dan jarang disadari orang adalah laundry dan pressing gratis setiap hari, hingga dua hari sebelum kapal bersandar di Sydney. Baju dicuci, disetrika, rapi, dan kembali ke lemari tanpa biaya. Hanya jika kita meminta dry clean, barulah ada charge. Untuk perjalanan panjang, ini bukan detail kecil. Ini kenyamanan nyata.

Fasilitas lain yang membuat pengalaman semakin lengkap:
Serene Spa & Wellness, tenang dan tidak ramai.
Observation Lounge dengan pemandangan laut luas, tempat favorit untuk duduk diam sambil minum kopi.
Perpustakaan, sunyi dan elegan.
Bahkan tersedia self-service laundry, bagi yang suka mandiri.

Yang juga unik di Regent adalah rasio kru dan tamu yang tinggi. Pelayanan terasa personal. Mereka mengingat nama, kebiasaan, bahkan preferensi minum kita. Bukan basa-basi, tapi perhatian yang tulus.

Bagi saya, Regent Seven Seas Explorer bukan soal kemewahan berlebihan. Ini soal pace.
Pace artinya ritme hidup atau perjalanan, cepat atau pelan.
Di sini, pace-nya pelan dan sadar. Tidak dikejar jadwal. Tidak berisik. Tidak melelahkan. Kita menikmati hari apa adanya.

Perjalanan 16 hari dari Benoa ke Sydney ini bukan hanya tentang destinasi, tapi tentang proses menikmati setiap hari. Membuka balkon pagi hari. Menatap laut. Minum kopi tanpa tergesa. Membaca. Berjalan. Makan enak. Turun di pelabuhan dengan tenang.

Jika ditanya, apa yang benar-benar membedakan Regent dari cruise lain?
Jawabannya sederhana: rasa cukup.
Tidak ada yang terasa kurang. Tidak ada yang perlu ditambah. Semua sudah dipikirkan.

Dan mungkin, itulah definisi kemewahan yang sesungguhnya.
Bukan yang berisik.
Bukan yang pamer.
Tapi yang membuat kita bisa bernapas lega, dan menikmati hidup dengan utuh.

Pada akhirnya, perjalanan ini bukan sekadar tentang kapal, makanan, atau destinasi. Di tengah laut yang luas dan ritme hidup yang diperlambat, ada ruang untuk diam, merenung, dan kembali menyadari bahwa hidup ini adalah anugerah.

Ketika kita berhenti sejenak dan tidak tergesa, hati menjadi lebih peka melihat kebaikan Tuhan dalam hal-hal sederhana. Setiap pagi, setiap pelayanan, setiap momen tenang menjadi pengingat bahwa Tuhan menyertai langkah kita, ke mana pun kita pergi.

Dan tentu saja….. menjadi kesempatan bersyukur dan menikmati karunia-Nya.

Luxury is not about having more. It’s about needing less.” – Coco Chanel.

“Kemewahan bukan soal memiliki lebih banyak, tetapi membutuhkan lebih sedikit.” – Coco Chanel.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 4 5 6 7 8 398