Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Ketika Merasa Tidak Berguna, Tuhan Justru Sedang Bekerja…

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Merasa Tidak Berguna, Tuhan Justru Sedang Bekerja…

Ada satu kisah yang selalu menyentuh hati saya setiap kali membacanya. Kisah ini mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah salah memilih alat-Nya. Bahkan ketika kita merasa paling tidak layak, paling lemah, dan paling tidak berguna.

Namanya Charlotte Elliott.

Ia lahir dari keluarga terpandang di Inggris. Cerdas, berbakat, dan penuh potensi. Namun di usia muda, hidupnya berubah drastis. Ia jatuh sakit dan tidak pernah benar-benar pulih. Selama hampir lima puluh tahun, Charlotte hidup sebagai seorang invalid. Terbaring. Terbatas. Bergantung pada orang lain.

Yang paling menyakitkan bukan hanya tubuhnya yang lemah, tetapi perasaannya. Ia melihat orang-orang di sekelilingnya melayani Tuhan dengan aktif. Kakaknya menjadi pendeta. Orang-orang lain sibuk melayani, mengajar, membantu. Sementara ia hanya bisa berbaring.

Dalam hatinya muncul pertanyaan yang sangat manusiawi:
“Apa gunanya hidupku bagi Tuhan?”

Suatu hari, seorang penginjil bernama César Malan berkunjung ke rumahnya. Charlotte mengungkapkan kegelisahannya. Ia merasa tidak layak datang kepada Tuhan karena tidak punya apa-apa untuk dipersembahkan.

Jawaban Malan sederhana, tapi mengubah hidupnya:
“Datanglah kepada Tuhan, apa adanya.”

Kalimat itu tertanam dalam-dalam di hatinya.

Bertahun-tahun kemudian, pada tahun 1835, saat keluarganya sibuk mempersiapkan sebuah acara amal, Charlotte kembali diliputi perasaan tidak berguna. Ia tidak bisa membantu apa-apa. Malam itu, dari tempat tidurnya, ia menulis sebuah lagu sederhana. Bukan lagu megah. Bukan syair teologis yang rumit.

Hanya satu kalimat yang diulang-ulang:

“Just as I am… I come.”
Apa adanya aku datang kepada-Mu.

Ia menulis enam bait. Semua tentang kelemahan, keraguan, ketidaklayakan, namun juga tentang anugerah Tuhan yang menerima manusia apa adanya.

Charlotte tidak pernah tahu bahwa lagu itu akan mengubah dunia.

Puluhan tahun kemudian, seorang penginjil muda bernama Billy Graham menggunakan lagu itu setiap kali ia mengundang orang maju menerima Kristus. Lagu itu mengiringi jutaan orang yang datang ke altar. Di stadion. Di lapangan terbuka. Di berbagai belahan dunia.

Jutaan jiwa datang kepada Tuhan lewat lagu yang ditulis oleh seorang perempuan sakit yang merasa tidak berguna.

Charlotte Elliott meninggal tanpa pernah tahu betapa besar dampak hidupnya.

Kisah ini mengingatkan saya pada satu kebenaran penting:
Tuhan tidak membutuhkan kekuatan kita.
Tuhan tidak menunggu kita sempurna.
Tuhan hanya menunggu hati yang mau datang apa adanya.

Hal yang sama terjadi pada William Branham. Dalam kondisi hampir mati di rumah sakit, saat tubuhnya melemah dan hidupnya seolah berakhir, ia mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Di titik terlemahnya, Tuhan justru memanggilnya. Bukan saat ia kuat, tetapi saat ia tidak berdaya.

Dari pengalaman itu lahirlah pelayanan besar yang menjangkau banyak jiwa.

Benang merahnya sama.

Tuhan paling sering bekerja bukan lewat mereka yang merasa siap, tetapi lewat mereka yang berserah.

Sering kali kita berpikir kita harus kuat dulu. Harus beres dulu. Harus layak dulu. Padahal Tuhan berkata sebaliknya:

“Datanglah. Sekarang. Apa adanya.”
Kadang justru di titik kita merasa tidak berarti, Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar dari yang bisa kita bayangkan.

Charlotte merasa hidupnya tidak berguna.
Tuhan menjadikannya alat keselamatan bagi jutaan orang.

Mungkin hari ini kita juga merasa kecil, lelah, atau tidak berarti.
Tapi jangan salah.

Di tangan Tuhan, bahkan hidup yang terasa paling sederhana pun bisa menjadi alat kemuliaan-Nya.

Karena Tuhan tidak mencari kesempurnaan.
Dia mencari hati yang mau datang…
apa adanya.

Praise The Lord!

“God does not call the qualified, He qualifies the called.” – Unknown

“Tuhan tidak memanggil yang mampu, tetapi memampukan yang dipanggil”.- Unknown

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

KELAPARAN ROHANI Belajar dari “Roti Sapi”

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

KELAPARAN ROHANI
Belajar dari “Roti Sapi”

Ada satu kisah sederhana, tapi menohok hati, tentang seorang pria bernama John G. Lake, yang berjalan puluhan mil di tengah salju tebal di Sault Sainte Marie, Michigan. Salju saat itu bisa setinggi empat sampai lima kaki. Ia berjalan dengan sepatu salju, tubuh lelah, tenaga terkuras, dan perut kosong.
Saat akhirnya tiba di rumah, tak ada siapa pun. Istrinya pergi. Rumah saudaranya juga kosong.

Ia benar-benar kelaparan.

Di dapur, ia menemukan sebuah kue besar, hangat, baunya harum, mirip roti jagung. Tanpa pikir panjang, ia memakannya sampai habis. Rasanya aneh, ada gumpalan-gumpalan yang tidak biasa, tapi karena lapar, semuanya terasa bisa diterima.

Tak lama kemudian, saudaranya pulang dan berkata,
“John… kamu tidak makan itu, kan?”

“Itu apa?” tanyanya.

“Itu roti untuk sapi. Kami menggiling tongkol jagungnya. Itu makanan ternak.”

Terlambat. Sudah habis.

Cerita ini lucu, tapi juga sangat dalam. Karena di situlah kita belajar satu kebenaran besar: lapar mengubah cara seseorang menilai makanan.
Saat seseorang benar-benar lapar, yang biasanya tidak layak dimakan pun bisa terasa enak.

Dan di situlah pelajaran rohaninya dimulai.

Yesus berkata,
*“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.”*
(Matius 5:6)

Perhatikan, Yesus tidak berkata “berbahagialah orang yang tahu banyak,” atau “yang rajin ibadah,” atau “yang punya pelayanan.”
Ia berkata: *yang lapar dan haus*.

Karena lapar itu bukan soal pengetahuan.
Lapar adalah dorongan dari dalam.
Lapar adalah kesadaran bahwa aku butuh Tuhan, bukan sekadar tahu tentang Tuhan.

Masalahnya hari ini, banyak orang tidak lapar.
Bukan karena Tuhan tidak tersedia, tapi karena hati sudah terlalu kenyang oleh hal-hal lain.

Kenyang oleh aktivitas.
Kenyang oleh rutinitas rohani.
Kenyang oleh pengetahuan.
Kenyang oleh kesibukan.

Padahal, rasa lapar rohani adalah anugerah.

John G. Lake pernah berkata bahwa kelaparan adalah salah satu kekuatan terbesar yang ia kenal. Bangsa-bangsa bisa dikendalikan ketika lapar. Tetapi saat kelaparan mencapai puncaknya, akan muncul dorongan yang tak bisa dihentikan.

Begitu juga secara rohani.

Orang yang benar-benar lapar akan Tuhan tidak akan pilih-pilih.
Firman sederhana pun bisa mengubahkan hidupnya.
Doa singkat pun bisa menggetarkan hatinya.
Ibadah yang biasa pun bisa menjadi perjumpaan ilahi.

Sebaliknya, orang yang tidak lapar bisa duduk dalam ibadah yang penuh urapan, namun tetap kosong.

Yesus tidak menjanjikan kepuasan bagi orang yang sekadar hadir.
Ia menjanjikannya bagi mereka yang lapar dan haus.

Dan kelaparan rohani itu mencakup segalanya.
Lapar akan kebenaran-Nya.
Lapar akan hadirat-Nya.
Lapar akan kehendak-Nya.
Lapar akan hidup yang benar, bukan sekadar terlihat benar.

Kebenaran Allah bukan hanya untuk roh kita.
Ia ingin memenuhi pikiran kita.
Mengatur emosi kita.
Menuntun keputusan kita.
Menguduskan relasi kita.
Mengalir dalam pekerjaan dan bisnis kita.

Di situlah hidup menjadi utuh.

Kadang kita berpikir, “Mengapa aku tidak mengalami kepuasan rohani?”
Jawabannya sederhana: mungkin karena kita belum cukup lapar.

Tuhan tidak pelit.
Ia tidak menahan diri-Nya.
Yang sering terjadi, kita terlalu kenyang oleh hal lain.

Dan menariknya, Tuhan tidak pernah memaksa kita lapar.
Ia hanya berjanji satu hal:

Jika kamu lapar dan haus akan kebenaran, kamu pasti dipuaskan.
Bukan mungkin.
Bukan semoga.
Tapi pasti.

Jadi pertanyaannya bukan lagi,
“Apakah Tuhan mau mengenyangkan aku?”

Tetapi,
“Seberapa lapar aku akan Dia?”

Mari kita merenungkan dan menjawabnya.


“God will pass over a thousand people just to touch one who is hungry.” – Smith Wigglesworth.

Tuhan bisa melewati seribu orang hanya untuk menjamah satu orang yang lapar akan Dia.- Smith Wigglesworth.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Terlalu Cepat Memutuskan, Terlambat Mendengar Tuhan

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Terlalu Cepat Memutuskan, Terlambat Mendengar Tuhan

Saya merasa ditegur Tuhan ketika belajar dari pengalaman Ps. Lester Sumrall yang tidak meluangkan waktu untuk sungguh-sungguh berdoa mencari kehendak Tuhan.

Tanpa disadari, saya pun sering melakukan hal yang sama. Mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan logika, pengalaman masa lalu, bahkan perasaan yang tampaknya masuk akal. Padahal, kalau jujur, itu adalah keputusan yang didominasi oleh jiwa. Oleh pikiran, emosi, dan kehendak pribadi.
Sementara kebenaran sejati, suara Tuhan yang murni, tidak datang dari jiwa. Ia datang dari roh. Dari roh itulah kemudian mempengaruhi pikiran kita. Bukan sebaliknya.

Di sinilah saya merasa diingatkan kembali lewat kisah Ps. Lester Sumrall.

Ia menceritakan bagaimana suatu kali sebuah gereja di South Bend memintanya menjadi gembala. Tanpa banyak pertimbangan rohani, ia langsung menolak. Alasannya masuk akal. Ia merasa sudah punya arah pelayanan sendiri, dan kota itu pun tidak menarik baginya. Secara logika, keputusannya benar.

Namun Tuhan tidak berhenti di situ.
Gereja itu kembali menghubunginya. Mereka berdoa dan berpuasa. Tetap ia menolak. Sampai akhirnya mereka berkata, “Kami yakin Anda belum sungguh-sungguh berdoa.” Kalimat itu menusuk. Dan benar. Setelah ia benar-benar berdoa, Tuhan mengubah hatinya. Ia menerima panggilan itu.

Bertahun-tahun kemudian, situasi hampir sama terulang. Kali ini ia lebih dewasa. Ia tidak gegabah. Ia tidak mengandalkan pengalaman lama. Ia berlutut. Ia berdoa. Ia menunggu sampai roh memberi kesaksian. Dan keputusan yang diambil itulah yang kemudian menjadi titik penting dalam pelayanannya.

Saya belajar satu hal penting di sini:
Banyak keputusan salah bukan karena kita jahat, tapi karena kita terburu-buru.
Bukan karena tidak rohani, tapi karena terlalu percaya diri dengan logika sendiri.
Sering kali kita berkata, “Ini masuk akal kok.”
“Aturannya begini.”
“Pengalaman saya dulu seperti ini.”
Padahal Tuhan tidak berbicara lewat pengalaman masa lalu. Ia berbicara lewat roh kita, di saat kita tenang, diam, dan mau mendengar.
Di sinilah perbedaan antara orang yang hidup dipimpin Roh dan orang yang hidup dipimpin jiwa.

Jiwa ingin cepat.
Roh mengajak menunggu.
Jiwa ingin kepastian instan.
Roh mengajak percaya, bahkan ketika belum melihat.
Jiwa berkata, “Aku tahu yang terbaik.”
Roh berkata, “Tanya dulu Tuhan.”
Sering kali kita tidak salah memilih, hanya saja kita memilih terlalu cepat. Kita belum memberi ruang bagi Tuhan untuk menyelaraskan hati kita dengan kehendak-Nya.

Saya pribadi belajar, setiap keputusan besar seharusnya melewati satu proses penting: dibawa ke hadapan Tuhan sampai ada damai sejahtera yang menjaga hati. Bukan sekadar tenang karena sudah memutuskan, tapi damai yang lahir karena roh kita berkata, “Ini benar.”

Dan menariknya, seperti yang dialami Ps. Lester Sumrall, doa bukan hanya mengubah keputusan. Doa juga mengubah sikap hati. Ada kalanya setelah berdoa, kita justru semakin yakin untuk melangkah. Bukan karena tekanan, tapi karena ada keyakinan rohani yang dalam.

Itulah indahnya hidup dipimpin Tuhan.
Doa bukan alat untuk memaksa Tuhan setuju dengan rencana kita.
Doa adalah sarana agar kita selaras dengan rencana-Nya.
Dan sering kali, keputusan terbaik dalam hidup tidak lahir dari kepintaran, relasi, atau pengalaman panjang…
melainkan dari satu hal sederhana:
kerendahan hati untuk berhenti sejenak, berlutut, dan berkata,
“Tuhan, apa kehendak-Mu?”

*”When we work, we work. But when we pray, God works.” – Hudson Taylor*

*”Ketika kita bekerja, kita yang bekerja. Tetapi ketika kita berdoa, Tuhan yang bekerja.” – Hudson Taylor*

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Wendell Parr, Teladan Hidup dari Charis

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Wendell Parr, Teladan Hidup dari Charis

Wendell Parr, salah seorang guru saya di Charis, baru saja mengumumkan bahwa beliau memasuki musim baru agar bisa lebih dekat dengan keluarga. Kami para murid memanggilnya dengan penuh hormat dan sayang: Opa Wendell. Sosok yang lembut, tegas, penuh hikmat, dan selalu menyampaikan firman dengan ketenangan yang menular.

Saya pertama kali bertemu beliau ketika beliau datang ke Indonesia, sekitar tahun 2019 saat kami murid-murid anakatan pertama lulus level 1. Promotion, istilahnya.

Saya menghadiri acaranya di Jakarta dan Bali. Dari cara beliau berbicara, tersenyum, sampai mendoakan orang, terasa sekali kehidupan Tuhan terpancar dari dalam dirinya. Ada hadirat yang hangat. Ada ketulusan yang tidak dibuat-buat. Kasih Bapa yang mengalir.

Perjalanan Opa Wendell dengan Andrew Wommack dimulai tahun 1989, ketika mereka bertemu dalam sebuah konferensi rohani. Pertemuan itu sederhana, tetapi menjadi titik balik yang mengubah arah hidup keduanya. Pada waktu itu Opa Wendell melayani sebagai gembala di sebuah gereja yang berkembang pesat. Gerejanya sukses luar biasa. Banyak jemaat, pelayanan hidup, dan Tuhan memakai beliau dengan dahsyat.

Dan ada satu kisah yang terus membekas. Ketika sedang makan, tiba-tiba Tuhan memberi gambaran jelas tentang desain gereja yang harus dibangun. Bukan lewat mimpi panjang. Bukan lewat rapat berhari-hari. Tapi di tengah santap siang biasa. Opa Wendell mengambil tisu, menggambar apa yang Tuhan tunjukkan, dan hasilnya? Gereja itu berdiri persis seperti yang Tuhan inginkan.

Yang lebih luar biasa lagi, di puncak keberhasilan itulah Tuhan memanggilnya memasuki musim yang berbeda. Kebanyakan orang memilih bertahan, menikmati zona nyaman, menjaga posisi.
Tapi Opa Wendell?
Beliau taat. Beliau menyerahkan gereja sukses itu kepada penerusnya dan bergabung dengan Andrew Wommack untuk memulai Charis Bible College.

Yang lucu, Opa Wendell pernah bercerita, beliau mengira Andrew sudah punya gambaran jelas tentang sekolah seperti apa yang hendak didirikan. Ternyata… sama sekali belum!

Guubraaakkk…..

Bayangkan, sudah meninggalkan gereja yang mapan, masuk musim baru, eh ternyata blueprint-nya belum ada.

Berapa banyak orang yang berani meninggalkan kemapanan seperti itu demi ketaatan pada Tuhan?
Salut!
Jadilah dua orang yang mendapat visi Tuhan ini merintis bersama-sama.

Guru-guru Charis punya berbagai pengalaman, bagaimana mereka menaati Tuhan dengan kerendahan hati dan iman yang luar biasa.
Next time saya tulis tentang guru-guru lainnya.
Semuanya keren dan mengagumkan.
Ini lho kehidupan orang-orang yang benar-benar memuliakan Tuhan.

Tidak berhenti di situ. Opa Wendell dan istrinya, Linda, kemudian merintis Charis di United Kingdom. Mereka tinggal di sana cukup lama. Mulai dari nol. Menyentuh hidup banyak orang. Dan dari murid-muridnya, beberapa sekarang memegang posisi penting di Charis global.

Salah satu yang paling dikenal adalah Carrie Pickett, bersama suaminya Mike Pickett. Hari ini mereka meneruskan tongkat estafet Andrew Wommack sebagai pemimpin Charis Bible College dan AWM International.

Dan di sinilah letak keteladanan emas seorang Opa Wendell. Orang-orang yang dulu duduk sebagai muridnya, kini menjadi pemimpinnya. Dan beliau? Taat. Menghormati otoritas baru itu.
Disuru absen, ya absen…. diberi tugas lain, ya nurut.
Tidak merasa lebih hebat hanya karena lebih senior. Tidak bersandar pada sejarah masa lalu.

Sungguh langka. Sungguh indah. Tidak banyak ditemukan di tempat lain.

Charis Bible College bukan sekadar sekolah Alkitab, tetapi sekolah pemuridan. Kami belajar FULL dari Alkitab, tidak ada buku lainnya.
That’s why, kami tidak hanya belajar hikmat, pengetahuan, dan pengertian dari Alkitab, tetapi tujuan akhirnya adalah perubahan hidup dan karakter yang menyerupai Kristus.

Dan perubahan itu menjadi mungkin karena kami memiliki teladan hidup. Guru-guru yang bukan hanya mengajar, tetapi menghidupi firman itu. Opa Wendell adalah salah satu contohnya yang kuat.

Ketaatannya. Kerendahan hatinya. Sikap hormatnya pada generasi baru. Keberaniannya memasuki musim yang tak jelas. Kesetiaannya berjalan bersama Tuhan sampai usia senja.

Inilah yang membuat Charis berbeda.

Murid datang bukan hanya untuk belajar firman, tetapi untuk melihat bagaimana firman bekerja dalam kehidupan orang yang benar-benar menjalaninya. Dan ketika seseorang melihat firman yang menjadi hidup — bukan hanya teori — roh mereka bangkit, iman mereka tumbuh, dan karakter mereka berubah.

Jika Anda rindu perjalanan iman yang lebih dalam, perubahan hidup yang nyata, dan pembentukan karakter melalui teladan yang hidup, Charis adalah tempat yang tepat.

Kami belajar firman… tapi Tuhan membentuk kami melalui keteladanan kehidupan para guru-Nya. Dan salah satu batu penjuru teladan itu adalah seorang pria lembut yang kami panggil Opa Wendell.

Btw Charis akan mengadakan Charis Experience, kesempatan bagi teman-teman yang tertarik untuk sekolah, mencicipi pengalaman sekolah di Charis. Pelajarannya, suasananya dan komunitasnya.

*Free of charge lho!*

Yuk teman-teman yang berminat, bisa daftar di
https://charisindonesia.org/experience2026/

See u….

Discipleship is not just learning information, but allowing the truth to transform how you live.” – Andrew Wommack

“Pemuridan bukan hanya mempelajari informasi, tetapi memungkinkan kebenaran mengubah cara hidup Anda”- Andrew Wommack

YennyIndra
www.yennyindra.com
https://www.instagram.com/seruput.kopi.firman.tuhan?igsh=cWN6NHF2b2RhdGQ3

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Jejak Kenangan di Brisbane & Sydney dengan Regent Seven Seas Cruise.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jejak Kenangan di Brisbane & Sydney dengan Regent Seven Seas Cruise.

Brisbane… Brisbane… Brisbane… kota yang penuh kenangan.
Dengan penuh antusias kami mengikuti tour Leisure Brisbane.

Bagi P. Indra dan saya, ini bukan sekadar jalan-jalan. Ini seperti napak tilas perjalanan puluhan tahun lalu, saat kami mengantar Christian yang baru lulus SD untuk sekolah SMP sekaligus sekolah golf di Brisbane.
Waktu itu ia masih sangat kecil. Dan jujur saja, kami pun masih sangat minim pengalaman. Banyak keputusan diambil dengan iman yang polos, nyaris nekat. Tapi justru di sanalah kami melihat satu hal yang tak pernah berubah: Tuhan setia. Ia peduli. Ia menyertai. Ia mengubah keterbatasan kami menjadi kebaikan.

Saat hari ini ‘look back’ – kami menoleh ke belakang, jelas terlihat tangan Tuhan yang menuntun setiap langkah. Hati ini terharu. Terpukau. Dipenuhi rasa syukur.
God is good all the time. All the time, God is good.

Perjalanan mengitari kota Brisbane sungguh menyenangkan. Kota ini berubah banyak dalam 15 tahun terakhir. Terakhir kami ke sini saat Christian wisuda.
Kini gedung-gedung menjulang lebih modern, sungai tampak lebih hidup, dan kota terasa lebih rapi serta tertata.

P. Indra terlihat paling menikmati momen ini. Di tengah city, sambil video call dengan Christian, beliau menunjuk satu per satu lokasi yang dulu sering kami lewati. Elizabeth Street, tempat gereja Christian dulu beribadah, kini sudah berubah fungsi. King Street, Ann Street, dan Brisbane River terlihat makin cantik, lebih tertata, dan terasa hidup.

Hari itu 25 Desember. Natal. Banyak toko dan restoran tutup. Kota terasa lebih tenang, seolah memberi ruang bagi keluarga untuk berkumpul dan bersyukur. Suasana yang sederhana, tetapi hangat.

Foto-foto ini diambil di Kangaroo Point Cliffs Park, sebuah bukit batu alami yang menghadap langsung ke Brisbane River dan skyline kota. Dari sinilah kita bisa melihat gedung-gedung tinggi Brisbane, Story Bridge, dan aliran sungai yang membelah kota. Tempat ini memang terkenal sebagai spot favorit untuk menikmati panorama kota, terutama di siang hari yang cerah seperti ini. Angin sepoi, langit biru, dan pemandangan yang menenangkan hati.

Keesokan harinya kapal tidak docking. Kami berlayar menuju Sydney.
Dan di sanalah pengalaman lain menanti.

Cuaca cerah dan yang lebih menyenangkan lagi, meski summer temperatur sekitar 19? – 22? C, pas untuk jalan-jalan. Sejuk tetapi ada matahari diiringi semilir angin dingin. Langitnya biru berhiaskan awan-awan cantik, membuat foto-foto makin cantik.

Di Sydney, kami mengikuti Sydney Harbour Cruise sekitar tiga jam.
Rasanya… wow. Santai, elegan, dan menyenangkan. Sambil duduk menikmati pemandangan, kue dan minuman datang silih berganti. Semua disajikan dengan rapi, dan tentu saja… free of charge, khas *Regent Seven Seas Explorer.*

Kami mengitari ikon-ikon Sydney: – Sydney Opera House yang selalu memukau dari sudut mana pun
Sydney Harbour Bridge, megah dan kokoh
The Rocks, kawasan tua penuh sejarah
Circular Quay yang sibuk namun hidup
Fort Denison, pulau kecil dengan kisah militernya
Royal Botanic Garden dan Mrs Macquarie’s Chair, hijau dan menenangkan
Setiap sudut terasa seperti kartu pos hidup.

Yang lucu, hampir hanya kami rombongan orang Indonesia yang sibuk foto sana-sini. Jepret… jepret… ganti pose… ganti angle.
Sementara para bule lebih memilih duduk tenang, menikmati pemandangan tanpa banyak gaya. Mereka Ada juga dua orang Asia lain yang sesekali ikut memotret, tapi selebihnya… kami juaranya.
Hahaha….

Konon orang Asia itu punya ciri khas tersendiri.. Tour guide kami dari Singapura, jika keluarganya datang, yang pertama ditanyakan di Sydney adalah Fish Market alias pasar ikan. Rupanya Sydney Fish Market merupakan fish market kedua terbesar di dunia setelah Tokyo. Unik ya? Yang dicari pertama justru pasar ikan. Tuhan memang kreatif, mencipta manusia dengan berbagai ragamnya.

Dan justru di situ letak keindahannya.
Perjalanan ini bukan soal tempat mewah atau foto indah semata. Tapi tentang mengenang penyertaan Tuhan, melihat kembali jejak langkah-Nya, dan menyadari bahwa hidup ini sungguh penuh anugerah.

Seusai cruise, jalan-jalan santai sambil mencari souvenir cantik dan oleh-oleh untuk keluarga.
MU SEA UM, alias museum laut yang sengaja ditulis unik nan menggelitik.

Dari Brisbane ke Sydney, dari masa lalu ke hari ini, satu hal yang pasti:
Tuhan tidak pernah salah membawa kita berjalan menyusuri setiap musim kehidupan.
Dan setiap musim, selalu ada cerita indah yang Ia ukir.
Mengagumkan bukan?

Praise The Lord!

Sometimes you will never know the value of a moment until it becomes a memory.” – Dr. Seuss

“Sering kali kita baru menyadari nilai sebuah momen ketika ia telah menjadi kenangan.- – Dr. Seuss

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 3 4 5 6 7 398