Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Curhat Menjelang Kremasi Ko Hoen Siang Ini.*

Link Live Streaming Acara Kremasi ?? Hari Ini:
https://youtu.be/spCMUqLMPFM

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Curhat Menjelang Kremasi Ko Hoen Siang Ini.

“Bu, sebelum kena covid apakah Pa Hoentoro ada penyakit lain?,” tanya P. Robby setelah saya mengirimkan artikel
Tribute To: Raden Hoentoro Hadiwidjojo Kolopaking (Ko Hoen).
pada P. Robby, pendonor plasma darah untuk Ko Hoen.

[Bagi yang belum membaca post kemarin, ini link-nya:
https://yennyindra.com/2021/07/tribute-to-raden-hoentoro-hadiwidjojo-kolopaking-ko-hoen/ ]

“Mata yg bermasalah. Secara umum oke sich. Beliau rutin check ke Singapore.”

“Seandainya Pa Hoentoro waktu itu dapat plasma lebih awal apakah bisa tertolong yah Bu..? Saya jadi kepikiran.”

“Pak, Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Saya juga tidak tahu. Tetapi apa yang dilakukan P. Robby sudah sangat luar biasa. P. Robby bertindak menolong di tengah kesulitan yang kami alami.
Bahkan Eko menjelaskan, punya P. Robbylah plasma yang pertama kali jadi. Yang penting kita sudah ‘do our best,’ Pak”

Pernyataan P. Robby bagaikan air sejuk di tengah duka yang kami rasakan.
Masih ada ‘Malaikat’ di tengah hingar-bingar dunia saat ini.

Teringat saat kami membutuhkan plasma darah, banyak link dikirimkan oleh teman-teman. Sesungguhnya, pada dasarnya manusia itu baik. Ingin menolong sesamanya. Mereka pun ingin berbagi apa yang mereka ketahui.

Ada link dengan sederet nama pendonor.
Saya coba telpon langsung, tidak ada yang angkat. Ah, siapa tau sedang sibuk. Jadilah mesti di save satu persatu agar bisa kirim chat WA.
Dan ini butuh waktu! Padahal kami dikejar waktu….
Sedihnya, tidak ada satu pun yang menjawab.
Mubazir.

Demikian pula dengan link-link lainnya.
Idem pula saat butuh rumah sakit.
Oh…. Di mana operatornya? Kami perlu bantuan urgent!

Beberapa teman menelpon, benarkah saya membutuhkan bantuan.
“Ya, benar…”

Ternyata saking banyaknya Hoax berseliweran, hingga mereka kesulitan membedakan yang benar-benar butuh bantuan dengan yang sekedar di share, di share lagi dan lagi…
Saat sudah dapat yang dicari, kerap tidak memberi kabar.

Eko mengingatkan saya, blast lagi info kalau sudah dapat yang kami butuhkan.
Siap, komandan…!!!

Teman-teman menjelaskan sebagian besar info melalui link itu memang tidak bisa dikontak.
Bahkan ada info Hoax….
Gubrraaaaaakkkk….

Oh…. Teganya melakukan seperti ini di tengah penderitaan orang lain. Ini masalah nyawa seseorang.
Apakah mereka lupa bahwa apa yang ditabur, suatu saat mesti dituai hasilnya?
Saya tidak habis pikir.

Berapa banyak waktu yang sudah hilang sia-sia sejak tadi?

Alasan inilah membuat saya berhati-hati sekali untuk blast sesuatu. Jangan sampai terbiasa blast yang ga jelas, saat benar-benar butuh, orang tidak percaya lagi.

“Trust Must Be Earned- Kepercayaan Itu Diperoleh karena layak”, kata Greg Mohr.

*“Trust starts with truth and ends with truth.”– Santosh Kalwar

Kepercayaan dimulai dengan kebenaran dan diakhiri dengan kebenaran.” – Santosh Kalwar

Betapa mahalnya kepercayaan itu! Tidak mudah memperolehnya.

Bersyukur beberapa teman japri memberi kontak temannya, yang betul-betul bisa dihubungi. Dan ini membantu sekali.
Ada beberapa teman yang membantu menghubungi orang yang dikenalnya atau saudaranya untuk membantu kami.
Berhasil or tidak, tidak penting, tetapi kami sangat menghargai usahanya. Kami butuh bantuan nyata…. Dan ini memang nyata.
Thanks teman-teman semua. Luv u all.

P. Robby kontak japri menawarkan bantuan darah untuk plasma yang dibutuhkan.
Nyess… Senangnya…
Dan Puji Tuhan, pas masih bisa. Saya baru tahu bahwa yang bisa didonorkan terbatas 3 bulan setelah sembuh dari Covid.
Lewat itu, tidak bisa.

P. Robby sudah membantu, masih kepikiran pula, seandainya saja bisa lebih awal donor, mungkin Ko Hoen tertolong….
Pikiran dan perasaan yang sama terlintas dalam pikiran kami P. Robby…
Kehilangan orang-orang yang kita kasihi selalu menyisakan: seandainya saja…..

Tanpa sadar mata ini berkaca-kaca saat membaca pesan P. Robby,
“Seandainya ada yg butuh plasma lagi, bisa info ke saya, Bu…
Saya bisa donor plasma lg setelah 2 minggu. Jadi nanti tgl 15 July ke atas sy sudah bisa donor lagi…”

Sungguh terharu…

Orang bilang dunia sudah sangat egois, tetapi kami menemukan hal yang berbeda: ‘Malaikat’ yang Tuhan kirimkan.
Terimakasih Tuhan, telah mempertemukan kami dengan orang-orang yang baik…

Ko Hoen sepanjang hidupnya menabur kebaikan dan pertolongan di mana-mana. Saat semua bilang rumah sakit full, donor sulit, obat langka, tetapi kami melihat bukti janji Tuhan: apa pun yang Ko Hoen butuhkan, Tuhan menyediakan!

Ko Hoen sepanjang hidupnya menabur kebaikan dan pertolongan di mana-mana.
Saat semua bilang rumah sakit full, donor sulit, obat langka, tetapi kami melihat bukti janji Tuhan: apa pun yang Ko Hoen butuhkan, Tuhan menyediakan!

Hari kamis 1 july masuk rumah sakit langsung dapat IGD. Pk.24.00 dapat kamar isolasi.

Jumat 2 july butuh ICU, malam pun tersedia.

Sabtu 3 july butuh plasma, dapat juga. Butuh redemsivir pk.24.00 akhirnya dapat juga.

Minggu 4 july pukul 11.21 beliau pulang ke rumah Bapa, dengan hidup yang memuaskan dan sangat bermanfaat bagi orang lain.

Janji Tuhan Ya dan Amin.
Apa yang ditabur, itu yang dituai…

Saya membayangkan Tuhan berkata kepada Ko Hoen:
Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”

Wong urip iku mung mampir ngombe – orang hidup itu hanya sejenak berhenti minum, ungkapan pepatah Jawa.

Rumah kita sesungguhnya memang bukan di dunia ini. Setiap kita pada akhirnya akan kembali pada Sang Pencipta.
Jangan sampai hati kita justru melekat pada yang duniawi.

Dan kita lahir di dunia ini dengan mengemban tugas dari Tuhan.
Johan Wolfgang von Goethe mengingatkan, peran kita di dunia ini, tak tergantikan. Hanya kita yang bisa memenuhi tugas tersebut.
Ko Hoen sudah memenuhi tugasnya dan menjalankan perannya dengan sangat baik.

Pertanyaannya:
Bagaimana dengan kita?

A life of purpose can only be fulfilled when we put God first and make Him the center of our lives.

Kehidupan yang memiliki tujuan hanya dapat dipenuhi, ketika kita mengutamakan Tuhan dan menjadikan Dia pusat kehidupan kita.

Note:
Saat memilih foto Ko Hoen untuk artikel ini, ketemulah foto saat Ko Hoen menjenguk penjaga malam di rumah papanya, yang sedang sakit.
Hhhmmm ini juga patut ditiru… Siapa saja yang sakit, Ko Hoen menyempatkan diri untuk menengok. Tidak pilih-pilih. Boss besar yang sangat rendah hati.

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK-
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Tribute To: Raden Hoentoro Hadiwidjojo Kolopaking (Ko Hoen).

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tribute To: Raden Hoentoro Hadiwidjojo Kolopaking (Ko Hoen).

Bagaikan petir menggelegar saat saya mendapat kabar, P. Hoentoro Hadiwidjojo Kolopaking atau yang  biasa saya panggil Ko Hoen, meninggal dunia siang ini, 4 juli 2021.
Rasanya sejenak dunia berhenti berputar.
Tidak percaya! Benarkah?

Beberapa hari terakhir cukup menegangkan. Eko, sang keponakan, pontang-panting kian kemari. Perlu rumah sakit, donor plasma hingga obat langka: Remdesivir. Konon hanya rumah sakit yang bisa pesan. Begitu saya blast di berbagai grup WA, banyak teman-teman yang membantu dengan berbagai info.
Terimakasih sebesar-besarnya, untuk kasih,  perhatian, bantuan dan dukungan doa dari teman-teman, yang sungguh tak ternilai harganya. Terlebih lagi bagi P. Robby yang mendonorkan darahnya untuk plasma. Tuhan yang membalasnya.

Perasaan bercampur-baur…
Ko Hoen gemar naik motor gede. Koleksi Mogenya berderet berpuluh-puluh…
Gayanya trendy dengan rambut panjang dikuncir ke belakang, berkaos dan sepatu boots. Pokoknya gaya anak muda banget…
Berbeda dengan penampilan pria berusia kepala tujuh lainnya.
Masih rutin berkantor di 2 perusahaannya. Kreatif, penuh inisiatif, cerdas dan rendah hati.
Sekali waktu masih mengendarai mobil sendiri dan tidak wajib mobil super-mewah.

Ingatan pun melayang pada masa kecil.
Papa saya mengangkat saudara dengan 4 orang sahabatnya, salah satunya papanya Ko Hoen. Panca Saudara, namanya.
Jadilah kami bersaudara.
Saat kecil saya kerap melihat Ko Hoen berbincang-bincang masalah bisnis dan lainnya dengan papa. Usia kami terpaut puluhan tahun, lebih sering Ko Hoen menyapa saya sebagai adik kecil.

Yang istimewa, papa selalu menggambarkan apa itu UHAO (berbakti) dengan sosok Ko Hoen.
Orang Kebumen, -kampung halaman kami-, yang sukses besar di Jakarta, ya… Ko Hoen.
Jadi sejak kecil sudah tertanam dalam pikiran saya, gambaran:
Berbakti + Sukses = Ko Hoen.
Maka saya pun menjadi fans Ko Hoen.

Mengapa?
Orang sukses dan kaya di Jakarta, itu banyak…
Tetapi yang seperti Ko Hoen, membantu banyak sekali orang di mana-mana, tidak banyak. Dia bijak, dermawan, penuh belas kasih dan rendah hati.
Bahkan di Kebumen, nyaris ada satu daerah, yang hampir semua keluarga dibantu olehnya. Ada yang dibelikan rumah, ditolong saat terjerat hutang bank dsb.
Ko Hoen ‘malaikat’ yang selalu siap menolong.
Belum lagi yang disekolahkan, bahkan hingga S2 di luar negeri.
Tidak heran saat mendengar Ko Hoen meninggal, ada seorang ibu yang langsung pingsan.

Kerabat kami bercerita, suatu ketika bisnisnya mengalami kesulitan keuangan. Dia datang meminjam sejumlah uang pada Ko Hoen.
Ketika usahanya membaik, dia hendak mengembalikan, tentu tidak lupa dia menanyakan harus menambah berapa % bunganya.
% dalam Bahasa Hokian biasa disebut Hoen.

“Bunganya yo… Hian Hoen… ,” ujar Ko Hoen bercanda karena Hian Hoen itu nama Ko Hoen.
Akhirnya uang dikembalikan tanpa bunga, karena Ko Hoen tidak mau menerima bunganya. Dia hanya ingin membantunya maju.

Beliau tidak hanya berbakti pada orangtua dan keluarganya tetapi sangat berbakti  dan menunjukkan rasa hormat yang luar biasa kepada teman-teman papanya mau pun orangtua mana pun. Baik dengan siapa saja.
Setiap ke Kebumen, menyempatkan diri menjenguk teman-teman papanya.

Ketika papa saya meninggal, saya berpikir tentu sikap Ko Hoen berubah.
Ternyata tidak!
Secara rutin, setiap beberapa waktu, Ko Hoen tetap menelpon menanyakan kabar mama.
Yang unik lagi, setelah mama meninggal, Ko hoen masih menelpon adik ipar saya, Ayda, menanyakan kesehatannya. Mengingat Ayda yang selama ini merawat mama dan dia single parent.
Wow….
Sungguh sikap yang langka.

Ko Hoen yang jauh lebih sepuh, justru menelpon yang muda-muda.
Kadang Ko Hoen juga menelpon saya, sekedar memastikan semuanya baik-baik saja.

Tidak pernah menyombongkan diri, penampilannya bersahaja padahal beliau termasuk bilangan orang kaya lama di Jakarta yang asetnya berjibun.
Betul-betul seperti padi, semakin berisi justru semakin merunduk.

Bahkan ketika makan bersama di resto, sambil mengobrol saat menanti makanan disajikan, beliau menyempatkan diri membersihkan sendok dengan tissue dan diberikan kepada kami yang jauh lebih muda.
Saya terpukau dengan perhatiannya dalam hal-hal kecil.
Beliau boss besar lho…
Dan memperlakukan semua orang dengan hormat. Tidak membedakan kaya atau miskin.

Makanan favoritnya tetap Nasi Penggel, makanan khas Kebumen, yang disajikan dengan alas daun pisang. Dijual di teras rumah penduduk. Ko Hoen tidak keberatan menikmatinya sambil duduk di kursi panjang dari bambu, bersama penduduk setempat.

Oh ya… Setiap ada teman-teman papanya, atau teman dekat yang meninggal, bela-belain dari Jakarta ke Kebumen, ke kota-kota lainnya bahkan hingga ke luar pulau sebagai penghormatan terakhir.

Dalam sebuah kesempatan, saya bercerita pada Ko Hoen bagaimana papa Ko Hoen selalu menasehati saya, agar kelak menjadi anak yang berbakti seperti Ko Hoen.

Ko Hoen pun bercerita…
Saat mulai berbisnis dan sukses, Ko Hoen menceritakan pencapaiannya kepada papanya.
Tetapi bagaimana respon papanya?

“Kamu belum sukses kalau kamu hanya bisa mengumpulkan untuk dirimu sendiri atau sekedar mengentaskan keluarga besarmu saja. Orang yang sukses adalah orang yang bisa menolong orang lain. Ukuran kesuksesanmu adalah seberapa banyak orang yang bisa kamu bantu,Papa Ko Hoen memberikan wejangannya.
Nlai-nilai inilah yang mendorong Ko Hoen begitu dermawan, berbagi kepada banyak orang.
Berbagai acara yang digagas termasuk Acara Paguyuban Bumenan, Ko Hoen sponsornya….
Reuni Panca Saudara, Ko Hoen juga yang aktif supaya persaudaraan tetap terjalin.
Ko Hoen-lah pemersatu di mana-mana.

Nilai-nilai yang ditanamkan oleh orangtua, menentukan apa yang dikerjakan oleh generasi berikutnya.

Dan yang dilakukan Ko Hoen bergema dengan sangat lantang, terbukti dari banyaknya yang post foto Ko Hoen lengkap dengan wejangannya.

Hormati orangtua, kasihi dan layani orangtua selama masih hidup. Kalau kamu berbakti pada orangtua, maka rejekimu berlimpah,” nasehat Ko Hoen terus terngiang di telinga.

Keteladanan berbicara lebih keras daripada sejuta kotbah, ujar orang bijak.

Belajar dari Ko Hoen, mari kita mengisi hidup ini dengan kebaikan.
Pastikan apa yang kita lakukan adalah hal-hal yang memberi manfaat dan membawa kebaikan bagi banyak orang.

Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya- Raja Salomo

Ketika seseorang meninggal dunia, tidak ada yang menanyakan berapa banyak asetnya.
Yang dikenang orang, seberapa banyak hidup orang lain menjadi lebih baik karena mereka mengenal kita. Keteladanan dan nilai-nilai apa yang kita tabur dalam kehidupan orang lain? Itu yang bermakna!

Kisah Ko Hoen pun saya tulis menjadi salah satu artikel di buku “Seruput Kopi Cantik YennyIndra for a better relationship,” yang menginspirasi banyak orang.

Ko Hoen, Selamat menikmati kebahagiaan bersama Bapa di surga.

There are no goodbyes for us…
Wherever you are….
You will always be in our heart…

“It’s not how long you live, but how you live that’s important. Therefore, don’t make your life just livable, make it memorable.”— Tony Robbins

Bukan berapa lama Anda hidup, tetapi bagaimana Anda menghidupinya, itulah yang penting.  Oleh karena itu, jangan membuat hidup Anda hanya sekedar hidup, ciptakanlah hidup yang pantas dikenang” — Tony Robbins

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK-
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

The Best Is Yet To Come.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

The Best Is Yet To Come.

“Son, remember The Best Is Yet To Come- Anakku, ingatlah Yang Terbaik Belum Datang,” John Maxwell menceritakan ucapan ayahnya saat berusia 95 tahun.
Dienk….. Dahsyat!

Beliau masih bekerja full time di usia 95 tahun, meninggal di usia 98 tahun.
Luar biaaasaaa….
Tidak heran, putranya John Maxwell berprestasi di tingkat dunia.
Penulis ratusan buku, terutama kepemimpinan dan motivator TOP!

Kacang ora ninggal lanjaran, kata Orang Jawa.
Like father like son, kata orang bule.

Sementara banyak orang sudah merasa tua di usia 50 tahun, papa John Maxwell justru masih menantikan hal yang terbaik di usia 95 tahun.
Hhhmmm … Nyata benar bedanya!

John bercerita, suatu ketika dia menghadiri reuni SMU-nya…Yang sebelah sana topiknya tentang obat, yang di sebelah ini tentang penyakit dan dokter.

“Selesai acara reuni, saya tidak tahu, harus pulang ke hotel atau justru ke Emergency Room (IGD),” ujar John terbahak….

Banyak orang tidak sadar, bahwa:

  • For as he thinks in his heart, so is he. Seperti orang berpikir dalam dirinya, demikianlah ia.*

Kitalah pelukis ‘takdir’ kita sendiri!
Dan ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, di Amerika juga.

Saya paling gak suka jika teman-teman sibuk mengaku sudah tua. Belajar tuh dari papanya John Maxwell.

“Tua itu bukan soal angka atau umur. Orang yang berhenti belajar dan bertumbuh, entah dia berusia 20 atau 95 tahun, sesungguhnya orang itu sudah mati. Hanya saja belum officially diumumkan ” John Maxwell menjelaskan … Hahaha… Mak Jleb!

Saya kerap bercanda bahwa saya akan launching buku baru saat berusia 90 tahun. 🙂

Ada kisah lain yang tertanam di benak saya, lupa diambil dari buku mana.
Ketika Peter Druker, Sang Bapak Management Modern, meninggal dunia maka Harvard University mengutus Jim Collins, penulis buku terkenal “Good To Great”, menulis tentang beliau sebagai penghormatan.
Jim Collins segera mengunjungi rumah Peter Drucker dan dipersilakan oleh sang penjaga rumah, untuk masuk ke ruang perpustakaan pribadinya.
Sungguh luar biasa, buku-buku karangan beliau tertata rapi di almarinya, sesuai dengan tahun penulisannya.
Yang lebih mengagumkan lagi, buku-buku yang ditulis oleh Peter Drucker setelah berusia 65 tahun (pensiun) hingga saat beliau meninggal di usia 95 tahun, 2x lipat banyaknya dibandingkan buku yang ditulis sejak masa muda hingga pensiun.

Artinya, di usia yang bagi orang lain ‘masa pensiun’ atau bahkan masa di mana orang lain sibuk membicarakan obat, penyakit dan dokter, Peter Drucker sibuk menulis buku, mengajar dan mempengaruhi dunia, sehingga beliau diberi julukan: Father of Modern Management Theory- Bapak Teori Manajemen Modern. Perlu dicatat, Peter Drucker masih mengajar di usia 92 tahun.

Tidak hanya itu saja, Peter Drucker mempengaruhi pengusaha sukses Bob Buford, sehingga Bob menuangkan ide kreatifnya, dalam buku berjudul “Finishing Well.”
Idenya, bahwa tidak ada kata pensiun dalam kehidupan manusia. Selama manusia masih bernafas, artinya masih ada tugas dari Tuhan yang perlu digenapi.

Hidup manusia punya 2 fase.
Fase pertama, ketika manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Fase ke dua, manusia seyogyanya mengembalikan apa yang dimilikinya, untuk dimanfaatkan menjadi berkat bagi sesama. Tujuannya membangun legacy, warisan abadi bagi generasi yang mendatang. Membuat hidup orang lain menjadi lebih baik karena mengenal kita. Jadi ‘Terang & Garam’ dunia, istilah kerennya.

“Duh, saya gak mampu B. Yenny… “
Saya juga, tapi bisa kan kalau sekedar mempengaruhi dunia di sekeliling kita?
1 orang saja… Gapapa. Masih lebih baik, daripada tidak melakukan apa-apa.
Dan bukan dengan kekuatan kita sendiri namun dengan cara bergantung pada kemampuan Tuhan.

The miracle does not depend on your gift. The miracle depends on your ability to submit (to Him).

Mujizat tidak tergantung pada talenta kemampuan kita.  Mujizat tergantung pada kemampuan kita tunduk kepada-Nya.

Mudah bukan?
It’s all about God not me, ini semua tentang Tuhan bukan saya.

Menjadi tua itu pasti dan otomatis, tetapi menjadi bijak dan memiliki hidup yang bermakna itu pilihan.

Menjadi bijak dan hidup yang bermakna itu perlu usaha konsisten untuk menciptakannya. Bukan kebetulan!

“Anakku, selalu beri dorongan (encourage) dan nilai tambah dalam kehidupan orang lain, maka orang-orang akan selalu berkerumun mengelilingimu,” pesan papa John Maxwell.

Hhhmmm… Terbukti ya … Mendengarkan 2 jam apa yang disampaikan orang bijak, membuat hidup makin hidup….
The Best Is Yet To Come. Yeaaayyy…..

Bagaimana dengan Anda, belajar sesuatukah?

Old age with wisdom will crown you with dignity and honor, for it takes a lifetime of righteousness to acquire it.

Usia tua disertai kebijaksanaan akan memahkotai Anda dengan martabat dan kehormatan, karena dibutuhkan kebenaran seumur hidup untuk mendapatkannya.

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK-
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Saya Belajar Agar Lebih Sukses. Bagaimana Dengan Anda?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Saya Belajar Agar Lebih Sukses. Bagaimana Dengan Anda?

Ketika Christian, putra saya, membawakan sebuah buku “What Got You Here Won’t Get You There” – Marshall Goldsmith & Mark Reiter, dengan keterangan di bawah judulnya tertulis:
How Successful People Become Even More Successful, saya langsung tertarik membacanya…

Apa yang membedakan orang yang sukses dengan orang yang super-sukses, sangat menggelitik hati saya.
Ternyata yang menghalangi orang yang sukses menjadi semakin sukses, hanyalah hal-hal sederhana berkaitan dengan sikap dan responnya dalam menanggapi sesuatu. Penghalang orang yang sukses menjadi semakin sukses bukanlah masalah ketrampilan, kecerdasan dan lain-lainnya namun lebih ke masalah sikap dan kebiasaan yang buruk.

Peter Drucker berkata, ”Kita menghabiskan banyak waktu untuk mengajar para pemimpin tentang apa yang harus mereka kerjakan. Namun tidak meluangkan cukup waktu untuk mengajar para pemimpin kapan harus berhenti. Separuh dari para pemimpin yang saya temui, tidak perlu belajar apa yang harus mereka kerjakan. Mereka harus belajar kapan harus berhenti.”
Wow…. Menarik sekali bukan?

“Para pemimpin yang sukses harus belajar menghentikan kebiasaan-kebiasaan buruk. Salah satunya, belajar kapan harus berhenti berkomentar jika ingin menjadi lebih sukses,” lanjutnya.

Saya memilih berhenti berkomentar saat sedang emosi. The Power of Delay, istilah saya.

Bagaimana kalau sesungguhnya kejadiannya tidak seperti yang dituduhkan?
Biarkan dulu hingga suasana tenang, saat kondisi kondusif, baru dijelaskan dengan hati tenang, tanpa emosi.
Banyak perceraian terjadi karena masalah ini. Yang bikin bercerai bukan masalah sesungguhnya, tetapi ketersinggungan karena kata-kata salah yang meluncur ketika sedang emosi.

Ingat, penghinaan dan kata-kata yang menyakitkan itu bisa dimaafkan tetapi sampai mati pun tetap tidak terlupakan.
Parut luka tetap terlihat, meski tidak sakit lagi. Padahal kerap yang terucap tidak dimaksudkan demikian.

Saat ada masalah, saya mengusahakan menyelesaikan langsung dengan orang yang dengannya kita bermasalah.
Supaya jelas permasalahannya, kita bisa menjelaskan apa yang kita tidak suka, apa yang kita harapkan darinya dan memberinya kesempatan untuk menjelaskan dari sisinya. Kesalahpahaman bisa terurai, dan what next? bisa ditetapkan.

Setiap orang ada kelebihan dan kekurangannya. Bedakan kebaikan dan kesalahannya. Jangan karena satu kesalahan, kebaikannya luntur semua. Sejujurnya tidak semudah teorinya, klo sudah sakit hati, cenderung semua nampak buruk, termasuk saya.

Catatan pentingnya, ketika kita sudah menyelesaikannya dan sepakat  masalah sudah selesai, Stop Membenarkan Diri, mencari-cari dan menceritakannya lagi pada pihak ke tiga!

Saat membenarkan diri itulah meluncur kata, sikap dan apa pun yang menimbulkan permasalahan serta ketersinggungan baru.

Kesalahpahaman pernah saya alami dengan seorang teman. Saya ingin membantunya menyelesaikan masalah yang sedang menimpanya, karena kebetulan saya cukup paham  dan punya kenalan di bidang tersebut, untuk membantu teman ini. Tetapi niat baik ini disalahmengerti. Ya sudah… Kami membicarakan secara langsung dan selesai.

Ternyata orang ini masih terus membenarkan diri kepada pihak ke tiga. Ini yang menimbulkan masalah baru.
Saya sadar, tidak dapat berteman lagi dengannya. Ini bukan tipe teman yang bisa ‘berjalan’ bersama.
Lebih baik menghindari ribuan pertempuran yang tidak perlu.
Memang ada orang-orang tertentu yang lebih baik dikasihi dari kejauhan, kata Joel Osteen.


Salah satu hal yang kelihatannya mudah namun sulit dilakukan adalah menjadi pendengar yang baik. Saat ada orang yang memberikan ide, sementara kita tahu bahwa ide itu kurang bagus, -apalagi jika kita punya banyak ide yang lebih smart-, maka kecenderungan kita langsung memotong pembicaraannya kemudian menjelaskan ide brilian kita.
Ini cara yang salah!

Saran buku itu, dengarkan dengan sikap menghargai hingga dia selesai mengungkapkan seluruh idenya lalu kita ucapkan, “Terimakasih” tanpa memberikan komentar apapun.
Butuh kerendahan hati untuk mempraktekkannya.


Menerima feedback atau umpan balik tidaklah mudah. Apalagi ketika keputusan sudah dikeluarkan, kemudian ada seseorang yang menantang keputusan kita sambil menjelaskan alasannya, reaksi umumnya, kita tersinggung atau marah.
Mengajaknya berdebat, mempertahankan diri bahwa keputusan kita paling benar.

“Mari saya jelaskan mengapa hal itu tidak akan berhasil…..”, lalu dengan berapi-api kita memberikan sanggahan.

Namun jika kita ingin menjadi lebih sukses, saran yang diberikan adalah mempertimbangkan alasan orang itu dan  tidak perlu memberikan komentar apa pun.


Tidak ada seorang pun yang suka disalahkan meski pun sesungguhnya salah.
Perhatikan jika terlambat datang ke sebuah meeting, dengan cepat kita akan menjelaskan alasan mengapa kita terlambat. Bahkan tanpa harus ditanya…. Langsung pengumuman!
Macet pun jadi kambing hitam

Apalagi jika kesalahannya menyangkut hal-hal penting ber-resiko besar, maka kita berusaha sedemikian rupa membuat alasan yang masuk akal dan tak terbantahkan supaya bisa mengurangi kadar kesalahan kita.

Salah satu kunci menjadi lebih sukses adalah menerima kesalahan kita dengan tulus, lalu memperbaikinya, saran dalam buku itu.

Jangan menyalahkan orang lain, baik sepenuhnya mau pun sebagian.
Berani bertanggungjawab sepenuhnya.

Ketika salah, akui dengan jujur lalu ucapkan “Terima Kasih” untuk setiap teguran yang kita terima tanpa memberikan alasan apa pun juga.

Berdiam diri menghindarkan kita dari hal-hal yang bisa memperkeruh masalah dan merusak hubungan, akibatnya kerap melampaui apa yang bisa kita bayangkan.

Alasan yang  disodorkan saat membenarkan diri itulah yang sering bikin orang jengkel, gemas dan masalah jadi melebar ke mana-mana, akhirnya tidak bisa diselesaikan.

Dengan sikap diam, pihak lawan akan reda emosinya, akhirnya melemah. Perdamaian dan kesepakatan mudah dicapai.


Ketika ada orang yang memberikan nasehat atau saran-saran, padahal kita sudah tahu tentang hal itu, respon kita biasanya memberitahu dia bahwa kita sudah tahu tentang hal itu.
Atau justru diam seribu bahasa,  mendengarkan dengan sikap jemu. Didalam hati kita meremehkan saran yang diberikan, karena kita kan sudah tahu hal itu.
“Hhmm ‘sok tahu’ aja”, gumam kita dalam hati.

Yang tidak kita sadari,  apa yang kita pikirkan dalam hati, terpancar melalui bahasa tubuh. Meski pun mulut kita terkunci namun si pembicara akan merasakan apakah kita menerima atau menolak sarannya. Menghargai atau menyepelekannya.

Sikap cerdas untuk menjadi kian sukses, menurut buku itu adalah diam, dengarkan dengan respek lalu ucapkan, “Terima Kasih.” ?


Senjata yang ampuh untuk memperoleh simpati orang lain adalah tahu cara menghargai orang lain serta dengan murah hati mengucapkan “Terima Kasih”, walau pun kita hanya menerima bantuan kecil saja.
Agar dapat mengucapkan “Terima Kasih” berarti kita harus memperhatikan hal positif yang dilakukan orang lain kepada kita.

Jika sebuah tim menghasilkan pencapaian besar, pada umumnya yang dilihat orang adalah ketuanya.
Namun ketua yang bijak akan mengungkapkan secara terbuka kepada publik, penghargaannya kepada para anggotanya yang telah berpartisipasi dan mendukungnya, hingga pencapaian besar itu bisa terealisasi.
Penyebutan Nama dan ucapan “Terima Kasih” sang ketua akan membuatnya lebih sukses lagi di masa yang akan datang.

Berkat belajar dari buku ini, saya membiasakan diri menulis besar-besar, nama orang-orang yang telah berjasa, menolong dan menginspirasi saya.
Intinya, sesuatu yang baik akan saya tulis nama orangnya dengan jelas, namun saat menceritakan pelajaran yang saya peroleh dari hal buruk, saya samarkan namanya. Atau untuk kejadian yang mungkin membuat seseorang merasa malu, saya tulis dengan nama samaran.

Belajar agar lebih sukses yuk…
Mau?

Peter Drucker, who said, “Our mission in life should be to make a positive difference, not to prove how smart or right we are. -Marshall Goldsmith.

Peter Drucker berkata, “Misi kita dalam hidup seharusnya membuat perbedaan positif, bukan untuk membuktikan seberapa pintar atau seberapa benarnya diri kita.” -Marshall Goldsmith.

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK-
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Yang Baru, Diri Anda Yang Baru.”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Yang Baru, Diri Anda Yang Baru.”

Pengalaman kelahiran baru tidak hanya memberi kehidupan pada roh manusia yang sebelumnya terputus dari Tuhan, -sekarang terhubung kembali -, tetapi juga membuat roh kita menjadi BARU.
Kata baru berarti: “baru saja dibuat, segar, belum pernah ada, belum pernah digunakan, belum pernah dipakai; jenis baru, belum pernah terjadi sebelumnya, baru, tidak biasa, belum pernah terdengar sebelumnya.”

Pekerjaan Roh Kudus yang luar biasa dan mengubah ini terjadi ketika hati seseorang percaya kepada kebenaran.
Sebuah ciptaan rohani baru muncul. Kebanyakan orang percaya memahami konsep ini, tetapi apa yang mungkin tidak kita pahami, bahwa “manusia baru” yang kita miliki tidak pernah menjadi tua. Manusia baru kita diperbarui setiap hari!

“Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari.”
2 Korintus 4:16 (TB).

Kata “diperbaharui” artinya “menerima kekuatan dan semangat baru; diubah menjadi jenis kehidupan baru yang berbeda bahkan berlawanan, dengan bentuk sebelumnya.”
Saya tidak diperbaharui 48 tahun yang lalu.
(Barry Bennett menerima Tuhan 48 tahun yang lalu)
Saya diperbarui setiap hari!
Pada kenyataannya, kita bisa berpikir bahwa manusia roh kita menerima kekuatan dan semangat baru dari hari ke hari.

Tidak ada yang berkaitan dengan Tuhan, yang pernah menjadi tua, oleh karena itu Roh-Nya di dalam kita menjadikan segala sesuatu selalu baru.
Karunia-Nya tidak pernah kadaluarsa mau pun berkurang. Tujuan-Nya tidak pernah gagal.
Karunia-karunia-Nya di dalam kita senantiasa tersedia.
Rahmat-Nya selalu baru setiap pagi.
Setiap hari benar-benar HARI BARU dengan kehidupan BARU di dalamnya!
Pikiran kita sedang diubah untuk memahami kebenaran ini, dan kita bertumbuh dalam pengetahuan dan kebijaksanaan, tetapi manusia roh kita tidak pernah menjadi tua.

Hari ini adalah awal hidup yang baru.
Jika kita membutuhkan awal yang baru, ambillah.
Roh kita menerima kekuatan dan semangat baru sekarang, dan sekarang, dan sekarang, dan sekarang.

[Repost ; “The New, New You”, – Barry Bennett, diterjemahkan oleh Yenny Indra]

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Klik:
https://mpoin.com/

gospeltruth’scakes

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

Read More
1 230 231 232 233 234 404