Articles

Saya Belajar Agar Lebih Sukses. Bagaimana Dengan Anda?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Saya Belajar Agar Lebih Sukses. Bagaimana Dengan Anda?

Ketika Christian, putra saya, membawakan sebuah buku “What Got You Here Won’t Get You There” – Marshall Goldsmith & Mark Reiter, dengan keterangan di bawah judulnya tertulis:
How Successful People Become Even More Successful, saya langsung tertarik membacanya…

Apa yang membedakan orang yang sukses dengan orang yang super-sukses, sangat menggelitik hati saya.
Ternyata yang menghalangi orang yang sukses menjadi semakin sukses, hanyalah hal-hal sederhana berkaitan dengan sikap dan responnya dalam menanggapi sesuatu. Penghalang orang yang sukses menjadi semakin sukses bukanlah masalah ketrampilan, kecerdasan dan lain-lainnya namun lebih ke masalah sikap dan kebiasaan yang buruk.

Peter Drucker berkata, ”Kita menghabiskan banyak waktu untuk mengajar para pemimpin tentang apa yang harus mereka kerjakan. Namun tidak meluangkan cukup waktu untuk mengajar para pemimpin kapan harus berhenti. Separuh dari para pemimpin yang saya temui, tidak perlu belajar apa yang harus mereka kerjakan. Mereka harus belajar kapan harus berhenti.”
Wow…. Menarik sekali bukan?

“Para pemimpin yang sukses harus belajar menghentikan kebiasaan-kebiasaan buruk. Salah satunya, belajar kapan harus berhenti berkomentar jika ingin menjadi lebih sukses,” lanjutnya.

Saya memilih berhenti berkomentar saat sedang emosi. The Power of Delay, istilah saya.

Bagaimana kalau sesungguhnya kejadiannya tidak seperti yang dituduhkan?
Biarkan dulu hingga suasana tenang, saat kondisi kondusif, baru dijelaskan dengan hati tenang, tanpa emosi.
Banyak perceraian terjadi karena masalah ini. Yang bikin bercerai bukan masalah sesungguhnya, tetapi ketersinggungan karena kata-kata salah yang meluncur ketika sedang emosi.

Ingat, penghinaan dan kata-kata yang menyakitkan itu bisa dimaafkan tetapi sampai mati pun tetap tidak terlupakan.
Parut luka tetap terlihat, meski tidak sakit lagi. Padahal kerap yang terucap tidak dimaksudkan demikian.

Saat ada masalah, saya mengusahakan menyelesaikan langsung dengan orang yang dengannya kita bermasalah.
Supaya jelas permasalahannya, kita bisa menjelaskan apa yang kita tidak suka, apa yang kita harapkan darinya dan memberinya kesempatan untuk menjelaskan dari sisinya. Kesalahpahaman bisa terurai, dan what next? bisa ditetapkan.

Setiap orang ada kelebihan dan kekurangannya. Bedakan kebaikan dan kesalahannya. Jangan karena satu kesalahan, kebaikannya luntur semua. Sejujurnya tidak semudah teorinya, klo sudah sakit hati, cenderung semua nampak buruk, termasuk saya.

Catatan pentingnya, ketika kita sudah menyelesaikannya dan sepakat  masalah sudah selesai, Stop Membenarkan Diri, mencari-cari dan menceritakannya lagi pada pihak ke tiga!

Saat membenarkan diri itulah meluncur kata, sikap dan apa pun yang menimbulkan permasalahan serta ketersinggungan baru.

Kesalahpahaman pernah saya alami dengan seorang teman. Saya ingin membantunya menyelesaikan masalah yang sedang menimpanya, karena kebetulan saya cukup paham  dan punya kenalan di bidang tersebut, untuk membantu teman ini. Tetapi niat baik ini disalahmengerti. Ya sudah… Kami membicarakan secara langsung dan selesai.

Ternyata orang ini masih terus membenarkan diri kepada pihak ke tiga. Ini yang menimbulkan masalah baru.
Saya sadar, tidak dapat berteman lagi dengannya. Ini bukan tipe teman yang bisa ‘berjalan’ bersama.
Lebih baik menghindari ribuan pertempuran yang tidak perlu.
Memang ada orang-orang tertentu yang lebih baik dikasihi dari kejauhan, kata Joel Osteen.


Salah satu hal yang kelihatannya mudah namun sulit dilakukan adalah menjadi pendengar yang baik. Saat ada orang yang memberikan ide, sementara kita tahu bahwa ide itu kurang bagus, -apalagi jika kita punya banyak ide yang lebih smart-, maka kecenderungan kita langsung memotong pembicaraannya kemudian menjelaskan ide brilian kita.
Ini cara yang salah!

Saran buku itu, dengarkan dengan sikap menghargai hingga dia selesai mengungkapkan seluruh idenya lalu kita ucapkan, “Terimakasih” tanpa memberikan komentar apapun.
Butuh kerendahan hati untuk mempraktekkannya.


Menerima feedback atau umpan balik tidaklah mudah. Apalagi ketika keputusan sudah dikeluarkan, kemudian ada seseorang yang menantang keputusan kita sambil menjelaskan alasannya, reaksi umumnya, kita tersinggung atau marah.
Mengajaknya berdebat, mempertahankan diri bahwa keputusan kita paling benar.

“Mari saya jelaskan mengapa hal itu tidak akan berhasil…..”, lalu dengan berapi-api kita memberikan sanggahan.

Namun jika kita ingin menjadi lebih sukses, saran yang diberikan adalah mempertimbangkan alasan orang itu dan  tidak perlu memberikan komentar apa pun.


Tidak ada seorang pun yang suka disalahkan meski pun sesungguhnya salah.
Perhatikan jika terlambat datang ke sebuah meeting, dengan cepat kita akan menjelaskan alasan mengapa kita terlambat. Bahkan tanpa harus ditanya…. Langsung pengumuman!
Macet pun jadi kambing hitam

Apalagi jika kesalahannya menyangkut hal-hal penting ber-resiko besar, maka kita berusaha sedemikian rupa membuat alasan yang masuk akal dan tak terbantahkan supaya bisa mengurangi kadar kesalahan kita.

Salah satu kunci menjadi lebih sukses adalah menerima kesalahan kita dengan tulus, lalu memperbaikinya, saran dalam buku itu.

Jangan menyalahkan orang lain, baik sepenuhnya mau pun sebagian.
Berani bertanggungjawab sepenuhnya.

Ketika salah, akui dengan jujur lalu ucapkan “Terima Kasih” untuk setiap teguran yang kita terima tanpa memberikan alasan apa pun juga.

Berdiam diri menghindarkan kita dari hal-hal yang bisa memperkeruh masalah dan merusak hubungan, akibatnya kerap melampaui apa yang bisa kita bayangkan.

Alasan yang  disodorkan saat membenarkan diri itulah yang sering bikin orang jengkel, gemas dan masalah jadi melebar ke mana-mana, akhirnya tidak bisa diselesaikan.

Dengan sikap diam, pihak lawan akan reda emosinya, akhirnya melemah. Perdamaian dan kesepakatan mudah dicapai.


Ketika ada orang yang memberikan nasehat atau saran-saran, padahal kita sudah tahu tentang hal itu, respon kita biasanya memberitahu dia bahwa kita sudah tahu tentang hal itu.
Atau justru diam seribu bahasa,  mendengarkan dengan sikap jemu. Didalam hati kita meremehkan saran yang diberikan, karena kita kan sudah tahu hal itu.
“Hhmm ‘sok tahu’ aja”, gumam kita dalam hati.

Yang tidak kita sadari,  apa yang kita pikirkan dalam hati, terpancar melalui bahasa tubuh. Meski pun mulut kita terkunci namun si pembicara akan merasakan apakah kita menerima atau menolak sarannya. Menghargai atau menyepelekannya.

Sikap cerdas untuk menjadi kian sukses, menurut buku itu adalah diam, dengarkan dengan respek lalu ucapkan, “Terima Kasih.” ?


Senjata yang ampuh untuk memperoleh simpati orang lain adalah tahu cara menghargai orang lain serta dengan murah hati mengucapkan “Terima Kasih”, walau pun kita hanya menerima bantuan kecil saja.
Agar dapat mengucapkan “Terima Kasih” berarti kita harus memperhatikan hal positif yang dilakukan orang lain kepada kita.

Jika sebuah tim menghasilkan pencapaian besar, pada umumnya yang dilihat orang adalah ketuanya.
Namun ketua yang bijak akan mengungkapkan secara terbuka kepada publik, penghargaannya kepada para anggotanya yang telah berpartisipasi dan mendukungnya, hingga pencapaian besar itu bisa terealisasi.
Penyebutan Nama dan ucapan “Terima Kasih” sang ketua akan membuatnya lebih sukses lagi di masa yang akan datang.

Berkat belajar dari buku ini, saya membiasakan diri menulis besar-besar, nama orang-orang yang telah berjasa, menolong dan menginspirasi saya.
Intinya, sesuatu yang baik akan saya tulis nama orangnya dengan jelas, namun saat menceritakan pelajaran yang saya peroleh dari hal buruk, saya samarkan namanya. Atau untuk kejadian yang mungkin membuat seseorang merasa malu, saya tulis dengan nama samaran.

Belajar agar lebih sukses yuk…
Mau?

Peter Drucker, who said, “Our mission in life should be to make a positive difference, not to prove how smart or right we are. -Marshall Goldsmith.

Peter Drucker berkata, “Misi kita dalam hidup seharusnya membuat perbedaan positif, bukan untuk membuktikan seberapa pintar atau seberapa benarnya diri kita.” -Marshall Goldsmith.

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK-
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Napoleon Bonaparte Kalah Perang Karena Gunung Tambora, Di Sumba, Indonesia????? Lhah .. Bagaimana Mungkin? (Mengenang Joseph & Martha Pratana)
“Siapa atau Apa yang Memimpin Anda?”
Bagaimana kita tahu bahwa kita telah mendengar dari Tuhan?