Articles

The Best Is Yet To Come.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

The Best Is Yet To Come.

“Son, remember The Best Is Yet To Come- Anakku, ingatlah Yang Terbaik Belum Datang,” John Maxwell menceritakan ucapan ayahnya saat berusia 95 tahun.
Dienk….. Dahsyat!

Beliau masih bekerja full time di usia 95 tahun, meninggal di usia 98 tahun.
Luar biaaasaaa….
Tidak heran, putranya John Maxwell berprestasi di tingkat dunia.
Penulis ratusan buku, terutama kepemimpinan dan motivator TOP!

Kacang ora ninggal lanjaran, kata Orang Jawa.
Like father like son, kata orang bule.

Sementara banyak orang sudah merasa tua di usia 50 tahun, papa John Maxwell justru masih menantikan hal yang terbaik di usia 95 tahun.
Hhhmmm … Nyata benar bedanya!

John bercerita, suatu ketika dia menghadiri reuni SMU-nya…Yang sebelah sana topiknya tentang obat, yang di sebelah ini tentang penyakit dan dokter.

“Selesai acara reuni, saya tidak tahu, harus pulang ke hotel atau justru ke Emergency Room (IGD),” ujar John terbahak….

Banyak orang tidak sadar, bahwa:

  • For as he thinks in his heart, so is he. Seperti orang berpikir dalam dirinya, demikianlah ia.*

Kitalah pelukis ‘takdir’ kita sendiri!
Dan ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, di Amerika juga.

Saya paling gak suka jika teman-teman sibuk mengaku sudah tua. Belajar tuh dari papanya John Maxwell.

“Tua itu bukan soal angka atau umur. Orang yang berhenti belajar dan bertumbuh, entah dia berusia 20 atau 95 tahun, sesungguhnya orang itu sudah mati. Hanya saja belum officially diumumkan ” John Maxwell menjelaskan … Hahaha… Mak Jleb!

Saya kerap bercanda bahwa saya akan launching buku baru saat berusia 90 tahun. 🙂

Ada kisah lain yang tertanam di benak saya, lupa diambil dari buku mana.
Ketika Peter Druker, Sang Bapak Management Modern, meninggal dunia maka Harvard University mengutus Jim Collins, penulis buku terkenal “Good To Great”, menulis tentang beliau sebagai penghormatan.
Jim Collins segera mengunjungi rumah Peter Drucker dan dipersilakan oleh sang penjaga rumah, untuk masuk ke ruang perpustakaan pribadinya.
Sungguh luar biasa, buku-buku karangan beliau tertata rapi di almarinya, sesuai dengan tahun penulisannya.
Yang lebih mengagumkan lagi, buku-buku yang ditulis oleh Peter Drucker setelah berusia 65 tahun (pensiun) hingga saat beliau meninggal di usia 95 tahun, 2x lipat banyaknya dibandingkan buku yang ditulis sejak masa muda hingga pensiun.

Artinya, di usia yang bagi orang lain ‘masa pensiun’ atau bahkan masa di mana orang lain sibuk membicarakan obat, penyakit dan dokter, Peter Drucker sibuk menulis buku, mengajar dan mempengaruhi dunia, sehingga beliau diberi julukan: Father of Modern Management Theory- Bapak Teori Manajemen Modern. Perlu dicatat, Peter Drucker masih mengajar di usia 92 tahun.

Tidak hanya itu saja, Peter Drucker mempengaruhi pengusaha sukses Bob Buford, sehingga Bob menuangkan ide kreatifnya, dalam buku berjudul “Finishing Well.”
Idenya, bahwa tidak ada kata pensiun dalam kehidupan manusia. Selama manusia masih bernafas, artinya masih ada tugas dari Tuhan yang perlu digenapi.

Hidup manusia punya 2 fase.
Fase pertama, ketika manusia bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Fase ke dua, manusia seyogyanya mengembalikan apa yang dimilikinya, untuk dimanfaatkan menjadi berkat bagi sesama. Tujuannya membangun legacy, warisan abadi bagi generasi yang mendatang. Membuat hidup orang lain menjadi lebih baik karena mengenal kita. Jadi ‘Terang & Garam’ dunia, istilah kerennya.

“Duh, saya gak mampu B. Yenny… “
Saya juga, tapi bisa kan kalau sekedar mempengaruhi dunia di sekeliling kita?
1 orang saja… Gapapa. Masih lebih baik, daripada tidak melakukan apa-apa.
Dan bukan dengan kekuatan kita sendiri namun dengan cara bergantung pada kemampuan Tuhan.

The miracle does not depend on your gift. The miracle depends on your ability to submit (to Him).

Mujizat tidak tergantung pada talenta kemampuan kita.  Mujizat tergantung pada kemampuan kita tunduk kepada-Nya.

Mudah bukan?
It’s all about God not me, ini semua tentang Tuhan bukan saya.

Menjadi tua itu pasti dan otomatis, tetapi menjadi bijak dan memiliki hidup yang bermakna itu pilihan.

Menjadi bijak dan hidup yang bermakna itu perlu usaha konsisten untuk menciptakannya. Bukan kebetulan!

“Anakku, selalu beri dorongan (encourage) dan nilai tambah dalam kehidupan orang lain, maka orang-orang akan selalu berkerumun mengelilingimu,” pesan papa John Maxwell.

Hhhmmm… Terbukti ya … Mendengarkan 2 jam apa yang disampaikan orang bijak, membuat hidup makin hidup….
The Best Is Yet To Come. Yeaaayyy…..

Bagaimana dengan Anda, belajar sesuatukah?

Old age with wisdom will crown you with dignity and honor, for it takes a lifetime of righteousness to acquire it.

Usia tua disertai kebijaksanaan akan memahkotai Anda dengan martabat dan kehormatan, karena dibutuhkan kebenaran seumur hidup untuk mendapatkannya.

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK-
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
“Jangan Menyerah!”
Keyakinan (Iman) Sepenuh Hati.
“Apakah Tuhan Ingkar Janji? Ini Rahasianya!”