Bertahun-tahun yang lalu ketika tinggal di Guatemala, kami baru saja pulang dari perjalanan harian kami ke pasar. Saat memasuki pintu depan rumah, saya melihat sepotong popcorn di lantai. Saya suka popcorn dan ternyata ada sepotong yang jatuh saat makan sebelumnya.
Ketika melihatnya, saya perhatikan bahwa popcorn itu berputar dalam lingkaran. Saya belum pernah melihat popcorn berputar sebelumnya, jadi saya membungkuk untuk melihat lebih dekat. Potongan popcorn itu diangkat oleh lima semut kecil yang berusaha membawanya ke rumah mereka. Namun, setiap semut telah memposisikan dirinya sedemikian rupa untuk mengikuti semut yang ada di depannya. Hasilnya, semut-semut itu berjalan berputar-putar. Lebih lucu lagi adalah fakta, ada semut lain di atas popcorn. Saya berasumsi dia harus menjadi pemimpin yang mendorong semut lain untuk terus bekerja dengan baik.
Semut-semut itu benar-benar tidak tahu bahwa upaya besar, ketertiban, dan kerja sama mereka sia-sia. Selama mereka saling membuntuti satu dengan yang lain, mereka tidak akan kemana-mana. Banyak usaha yang dikeluarkan tetapi tidak ada kemajuan yang dicapai.
Ketika memikirkan hal ini, saya menyadari bahwa banyak pula dari kita yang menjalani hidup dengan cara yang sama. Kita mengikuti caranya semut juga, di mana di mata orang-orang di sekitar kita nampak sibuk, tetapi sesungguhnya tidak ke mana-mana. Kita tidak dipimpin oleh Roh Tuhan.Malahan menjadi serupa dengan dunia. Apakah kita berani melepaskan ‘popcorn’ nya?
“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Efesus 2:10 (TB).
Apakah kita berjalan di dalam hal-hal yang telah Tuhan siapkan bagi kita, ataukah hanya berpegangan pada ‘popcorn’ dan menjalani hidup berputar-putar semata?
Mendengarkan Tuhan adalah kunci untuk memiliki iman yang membawa kita bergerak ke dalam tujuan dan karunia ilahi kita. Kita diciptakan untuk mendengarkan Dia! Jangan abaikan hak istimewa itu.
“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.” Yohanes 10:27 (TB).
[Repost ; “Consider the Ant (a parable)”, – Barry Bennett, Penerjemah Yenny Indra].
YennyIndra TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC *MPOIN PLUS & PIPAKU* PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Mengapa Rajin Beribadah Dan Baca Firman, Tetapi Hidup Tetap Tidak Berubah?
Saya baru belajar sebuah rahasia yang sangat powerful.
“Bu Yenny, saya rajin beribadah, melayani dan membaca firman, tetapi mengapa hidup saya tidak seperti orang lain? Janji-janji Tuhan seolah berlaku untuk orang lain tapi tidak untuk saya. Kalau baca tulisan Bu Yenny, saya iri…Enak sekali Bu Yenny terima jawaban doa. Koq rasanya Tuhan pilih kasih.”
Dieeeeenk….. Benarkah???? Tentu tidak! Tuhan itu Allah yang adil dan tidak memandang muka. Di mana letak kesalahannya?
Andrew Wommack dengan tegas berkata, “Berkat dan kesembuhan itu seperti Hukum Gravitasi. Siapa saja yang memenuhi persyaratannya, otomatis akan menerimanya.”
Dan sekarang saya tahu jawabannya. Banyak orang tidak menyadari bahwa Firman itu adalah Tuhan sendiri. Firman itu berbicara, merasa dan bertindak pula. Kebanyakan orang memperlakukan Firman sebagai sekedar informasi seperti berita di koran atau majalah. Seolah ada jarak antara dirinya dengan Sang Firman. Setelah dibaca, lalu dilupakan.
Firman adalah Pribadi Allah. Ketika kita memperlakukan firman sebagai Pribadi yang sedang berbicara kepada kita, dan kita menerimanya, itu menjadi hidup. Kita bisa berdiskusi dengan-Nya, mempraktikkannya, lalu menghidupinya. Akhirnya Firman itu menjadi hidup di dalam kita. Firman mengubah cara pandang dan saat kita merenungkannya siang dan malam, disertai berdoa dalam roh maka Tuhan sendiri menyampaikan pewahyuan-Nya, yang aktual untuk situasi yang kita hadapi setiap hari.
Tidak Mungkin ada orang betul-betul mencari Tuhan melalui firman dan menghidupinya, tetapi tidak menerima manifestasinya. Firman Tuhan itu Ya dan Amin. Kalau sampai terjadi, kita tidak menerima jawaban doa, kesalahan pasti di pihak kita. Check & recheck.
Ada lagi teman-teman yang membaca firman dan menerimanya tetapi dengan sikap mau berkat, kesembuhan dan pertolongan-Nya. Istilah umum mengatakan, hanya mencari tangan Tuhan, tetapi bukan Pribadi Tuhan sendiri.
Tidak sedikit pula, yang hanya mencari Tuhan ketika bermasalah saja. Bahkan awalnya, mencari solusi ke seluruh dunia, ketika tidak ada jalan keluar, barulah datang kepada Tuhan sebagai pilihan terakhir. Setelah ditolong pun, lalu Tuhan ditinggalkan. Dianggap ban serep, hanya dicari saat mobil mogok.
Ini cara pandang yang membuat seseorang tidak bisa mengalami janji Tuhan: Hidup Di Bumi Seperti Di Surga.
Tahukah kita, saat kita betul- betul menghargai Firman dan menghidupinya seperti yang dikehendaki Tuhan, maka berkat, kesehatan Ilahi, kelimpahan, kemakmuran dan damai sejahtera yang sempurna, secara otomatis akan mengejar kita?
“Koq bisa Bu Yenny?”
“Karena berkat, kesehatan Ilahi, kelimpahan, kemakmuran dan damai sejahtera yang sempurna, itu adalah Pribadi Allah sendiri. Ketika Sang Pencipta yang ada di dalam roh kita, diijinkan beroperasi tanpa halangan, semua termanifestasi dalam hidup kita tanpa halangan. Makes sense?”
Kehendak Tuhan itu menjadikan hidup kita di bumi seperti di surga. Hidup kita menjadi demonstrasi kebaikan-kebaikan-Nya. Sehingga setiap orang yang melihat kita, melihat betapa dahsyatnya Allah kita. Orang lain pun ingin memiliki hidup seperti kita.
Caranya? Hidup yang bukan mengandalkan sistim dunia yang saling jegal, tetapi hidup berdasarkan God’s Way, cara Tuhan. Setiap saat bergandengan tangan dengan-Nya, menjalani kehidupan ini. Karena Sumber Berkat kita adalah Tuhan. Tuhan yang membuat apa pun yang kita kerjakan menjadi berhasil. Jika Tuhan menyertai kita, siapa dapat melawan kami?
Meminjam istilah Nabi Musa, Nama Tuhan disebut atas kita sehingga bangsa-bangsa di sekeliling takut kepada kita. Tuhan membukakan tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat sampai berkelimpahan. Kita memberikan pinjaman kepada banyak bangsa tetapi kita sendiri tidak meminta pinjaman. Kita menjadi kepala dan bukan ekor, tetap naik dan bukan turun. Diberkati saat masuk dan diberkati saat keluar. Bersatu jalan musuh-musuh menyerang kita, tetapi bertujuh jalan mereka lari dari hadapan kita.
Wow…. Dahsyatnya! Yes kita bermegah di dalam kekuatan Allah! Kita menang, dahsyat dan sejahtera bukan karena hebatnya kita, tetapi karena Allah kita yang perkasa! Kemuliaan hanya bagi Dia!
“Bu Yenny, mana mungkin saya bisa seperti itu, saya tidak punya uang….”
Banyak orang yang membatasi Tuhan dengan pemikirannya, lalu membentengi diri, sehingga saat Tuhan menawarkan alternatif yang tidak sejalur dengan pemikirannya, langsung ditolaknya.
“Is anyone thirsty? Come and drink— even if you have no money! Come, take your choice of wine or milk— it’s all free! Why spend your money on food that does not give you strength? Why pay for food that does you no good? Listen to me, and you will eat what is good. You will enjoy the finest food. Come to me with your ears wide open. Listen, and you will find life. I will make an everlasting covenant with you.”
“Apakah ada yang haus? Datang dan minum— bahkan jika Anda tidak punya uang! Ayo, ambil anggur atau susu pilihanmu— semuanya gratis! Mengapa menghabiskan uang Anda untuk makanan yang tidak memberi Anda kekuatan? Mengapa membayar makanan yang tidak bermanfaat bagi Anda? Dengarkan aku, dan kamu akan makan apa yang baik. Anda akan menikmati makanan terbaik. Datanglah pada-Ku dengan telinga terbuka lebar. Dengarkan, dan Anda akan menemukan kehidupan. Aku akan membuat perjanjian abadi denganmu.”
Siapa yang bilang semua harus diperoleh dengan uang? Masih ingat kisah Hanna?
Tuhan bisa membukakan jalan dengan cara yang tak terduga, syaratnya Dengarkan Tuhan… Tentunya kita bisa mendengarkan suara Tuhan, jika kita membangun hubungan yang intim dengan-Nya. Menjadikan-Nya prioritas utama dalam kehidupan kita.
Datanglah pada-Ku dengan telinga terbuka lebar. Dengarkan, dan Anda akan menemukan kehidupan. Aku akan membuat perjanjian abadi denganmu. Kalau yang berjanji adalah Sang Pencipta alam semesta, apalagi yang mesti kita khawatirkan?
Hhhhmmm…. Semua masuk akal dan bisa dipraktikkan bukan? Yuk…..
Living God’s way means putting away your self-centeredness and committing yourself to follow God’s Word in spite of any feelings to the contrary. — John C. Broger
Menjalani hidup dengan cara Tuhan berarti menyingkirkan keegoisan dan berkomitmen mentaati Firman Tuhan meski bertentangan dengan perasaan. — John C. Broger.
YennyIndra TANGKI AIR & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Setelah terjadinya beberapa jenis tragedi atau bencana alam, kita sering mendengar orang Kristen berkata bahwa Tuhan mengizinkan bencana ini terjadi demi tujuan yang lebih besar. Konsep seperti itu menunjukkan bahwa Tuhanlah yang sebenarnya bertanggung jawab atas tragedi itu. Jika Dia mengizinkannya, Dia pasti menyetujuinya. Benarkah?
Ketika orang tua memiliki seorang anak remaja, lalu si remaja tersebut memutuskan untuk mengambil mobil milik keluarganya, merampok bank, melindas pejalan kaki serta terlibat dalam kejar-kejaran yang berbahaya dengan polisi, apakah berarti si orang tua yang membiarkan hal ini terjadi? Apakah itu kehendak orang tuanya, dengan mempercayai, ada kebaikan yang lebih besar yang akan dicapai melalui kematian orang lain?
Mungkin ini akan membantu kita memahami sedikit lebih baik, sifat dan hati Tuhan sesungguhnya. Dia menciptakan manusia menurut gambar-Nya dan memberikan bumi kepada manusia (Mzm 115:16). Namun, Dia secara tegas melarang manusia untuk makan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Dia TIDAK mengizinkannya. Dia melarangnya.
Keputusan manusia untuk tidak taat, tentu tidak seharusnya menimpakan tanggung jawabnya kepada Tuhan, mau pun segala konsekuensi yang harus ditanggung karena ketidaktaatan itu.
Malaikat (–iblis) juga memberontak melawan Tuhan dan diusir dari surga. Tuhan memberikan ‘free will’, kemampuan memilih, bagi malaikat-Nya dan manusia yang Dia ciptakan menurut gambar-Nya sendiri. Pilihan itu memberikan kesempatan kepada manusia untuk menunjukkan kesetiaan dan kasih mereka kepada Tuhan, atau justru menunjukkan kemandirian mereka, memilih hidup terpisah dari Tuhan. Tanpa pilihan, tidak akan ada hubungan persekutuan yang sejati dengan Tuhan.
Jadi, apakah Tuhan mengizinkan pemberontakan, dosa, korupsi, kegelapan dan bencana? TIDAK. Kodrat manusia mencakup kemampuan untuk memilih (free will) . Kemandirian (hidup terpisah dari Allah) dan penderitaan bukanlah kehendak Tuhan saat itu, dan itu juga bukan kehendak Tuhan sekarang. Dia tidak membiarkan penderitaan dan tragedi terjadi di bumi. Dia membiarkan manusia menjadi manusia. Kesalahan dilakukan oleh Adam, bukan Tuhan.
Cuaca yang merusak, korupsi, penyakit, kematian, perang, kebencian, perselisihan, imoralitas, kejahatan dan pelanggaran hukum merupakan akibat dari apa yang diizinkan oleh manusia. Tuhan tidak mengizinkannya. Tetapi Dia harus menghormati keputusan manusia.
Guna menebus dosa umat manusia dan memberikan kesempatan untuk menjalani hidup yang baru, Tuhan pun menjadi manusia. Hanya seorang manusia yang secara hukum dapat menebus apa yang telah diperbuat oleh dosa manusia. —— Yesus-lah Manusia itu. Hanya mereka yang memilih percaya bahwa manusia dapat dipulihkan kembali dengan keinginan Tuhan untuk membawa kehidupan serta terang bagi umat manusia. Tuhan bukanlah pencipta penderitaan, tetapi Dialah Sang Pencipta penebusan, kehidupan baru, penyembuhan, pembebasan, kedamaian, sukacita dan kelimpahan.
Kapasitas untuk memilih masih ada di dalam diri kita. Dia mengizinkan kita kembali kepada-Nya dengan damai.
[Repost ; “What does God allow?”, – Barry Bennett, Penerjemah Yenny Indra].
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Sejak kecil saya punya persepsi bahwa setiap manusia lahir dengan ‘takdir’ memiliki kecerdasan tingkat tertentu. Dan itu mutlak. Tidak dapat diubah lagi.
Dr. Caroline Leaf dalam bukunya, “Switch On Your Brain”, mengupas fakta yang berbeda. Kita bisa mengubah otak, gen bahkan kecerdasan kita dengan mengubah pola pikir kita… Yeaaayyyy….
Dibahas mitos gen, seperti “ia memiliki garis keturunan yang bagus” dan “dia terlahir begitu” adalah hal yang umum diterima masyarakat.
Kita adalah makhluk berpikir. Di siang hari adalah proses membangun dan malam hari proses penyortiran. Ternyata apa yang kita pikirkan itu menimbulkan stimulus, yang membuka lapisan pembungkus DNA. Salah satu yang ajaib, ditemukan Eric Kandel, pemenang Penghargaan Nobel, bahwa kita memiliki pertukaran gen yang disebut “Gen Creb”.
Saat informasi yang dalam bentuk elektromagnetik dan kimiawi bergerak maju ke depan otak, stimulus itu merangsang pelepasan protein tertentu dalam sel sehingga menghidupkan gen creb. Nah gen creb seperti saklar lampu, yang kita nyalakan dan matikan melalui pikiran. Gen kita mengatur perubahan dalam dalam hitungan menit, tergantung apa yang kita pikirkan dan pilih.
Ketika kita memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, kita mengubah gen kita sesuai resep Allah dalam menciptakan kita.
Yang lebih hebat lagi, pilihan-pilihan kita tidak saja mempengaruhi kerohanian, jiwa dan tubuh kita, tetapi mempengaruhi juga orang-orang yang dengannya kita berelasi, bahkan mempengaruhi generasi-generasi selanjutnya.
Penelitian epigenetik menyadarkan bahwa dosa orangtua menciptakan suatu kebiasaan BUKAN takdir. Faktor epigenetik yang mengaktifkan atau menonaktifkan gen. Kita cenderung makan dan meniru kebiasaan orangtua dan orang-orang terdekat kita. Artinya, kita bisa meneruskan atau justru menolak kebiasaan yang merusak dan mengambil pilihan yang lebih baik. Dengan pilihan yang baik, kita dapat mengubah DNA dan masa depan anak cucu kita.
Kita diciptakan dengan kehendak bebas, bukan korban kehidupan melainkan kitalah yang mengendalikan kehidupan kita sendiri. Caranya? Dengan memilih pikiran yang selaras dengan kehendak Allah.
Persepsi kita terhadap lingkungan dan cara kita mengaturnya, mengendalikan tubuh dan hidup kita. Jika kita mengubah persepsi kita, maka hidup kita pun berubah. Alih-alih menjadi korban, kita justru menjadi tuan atas hidup kita.
Sayangnya, kebenaran ini, dimanfaatkan oleh beberapa orang yang atas nama pengembangan diri, membuat program kehidupan sukses tetapi tanpa menyertakan Sang Perancang Agung, Tuhan. Mengajarkan visualisasi dan afirmasi positif untuk mencapai tujuan tertentu. Berhasil karena bergantung pada kekuatan sendiri.
Para ilmuwan berpendapat, Neuroplastisitas (kemampuan otak untuk berubah sebagai respons terhadap pikiran) dapat melayani kita atau sebaliknya menentang kita, karena apa pun yang kita fokus memikirkannya akan berkembang.
Dan tidak ada kebahagiaan atau kepuasaan sejati di luar Tuhan. Kemampuan manusia terbatas. Kehidupan yang memuaskan tercipta saat kita memposisikan menjadi wadah yang menyalurkan kehendak dan menggenapi rancangan Allah dalam hidup kita.
“Aku koq ga bisa transfer pakai M-banking ya? Melebihi limit.” “Coba cek di inbox, transfer siapa?” “Ga transfer siapa-siapa koq…” “Cek mutasi rekeningnya…”
Setelah saya cek, koq ada transaksi debit 75 juta? Oh… Segera kontak KLIK BCA… ketahuanlah hari ini ada transaksi sebesar 75 juta melalui QR.
Kami pameran di ICE – BSD. Saat makan siang, makan di foodcourt seperti biasa. P. Indra makan siomay dan bayar dengan QR.
“Siomay tadi harga berapa?” “75.000” “Nach… Pas ngetik kelebihan nol pasti.”
Bergegas kami berangkat ke ICE lagi dan tidak lupa telpon Ivana, menantu kami yang masih di ICE, untuk menemui penjual siomay. Kami pun berkumpul di Siomay Yupi. Sang pemilik, Yehezkiel Alpiawan, sangat baik. Dia pun kaget karena tidak menyangka ada salah transfer. Yang dilihatnya hanyalah transaksi QR Berhasil, ya sudah.
Begitu menyadari kejadian ini, Yehezkiel menawarkan agar KTP-nya saya bawa dulu untuk jaminan. Rekening atas nama orangtuanya. Setelah di cek ternyata betul, ada salah transfer. Yehezkiel menjelaskan, setelah pulang dari ICE akan ditransfer sebagian, sisanya besok pagi karena terkendala limit transfer kartunya. Saya memilih hanya foto KTP Sekitar 1 jam kemudian, masuk transfer dari Yehezkiel sebesar 50 juta dan keesokan harinya, 25 juta. Thanks Yehezkiel! Kamu sungguh-sungguh baik. I am very proud of you.
Sebetulnya saya ingin minta foto Yehezkiel, ternyata Yehezkiel buka stand juga di pameran JCC, jadi belum juga ke ICE.
“Bersyukur sekali kamu bertemu dengan orang baik, Yenny…” komentar beberapa teman. Yess…. Setuju!
Teringat akan kata-kata Elisa, putri saya, kalau kita melihat dunia ini dipenuhi orang-orang baik, maka demikianlah hidup kita. Terbukti apa yang kita pikirkan dan percayai, mempengaruhi orang-orang dengan siapa kita berelasi, sesuai teori Dr. Caroline Leaf.
Tidak sedikit teman-teman yang mengalami pengalaman serupa akan ‘mengutuki’ dirinya, sebagai ‘dasar tuwir’, ‘pikun’, ‘sudah tua’, ‘ceroboh’ dsb. Apa akibatnya? Setiap perkataan kita mengubah susunan otak dan secara alami, tercipta sesuai yang kita katakan dan terjadilah menurut imanmu.
Padahal sesungguhnya, keteledoran seperti itu bisa terjadi pada siapa saja. Saya pernah mengalaminya.
Saat kami membicarakannya, ternyata Elisa dan Christian, putri putra kami, meski masih muda, pernah juga melakukan kesalahan yang sama. Setiap orang bisa mengalami saat-saat kurang teliti.
Keturunan teledor? Kita sudah belajar dari Dr. Caroline Leaf, itu kebiasaan saja, bukan masalah keturunan atau genetika. Kita bisa mengubahnya, dengan cara mengubah cara berpikir kita.
Dan Tuhan baik! Kami selalu bertemu orang-orang yang baik. Itu bukti Anugerah Perlindungan Tuhan.
Hidup adalah pilihan. Apa yang akan kita katakan dan pikirkan? Itulah kehidupan yang sedang kita lukis. Selamat memilih!
“The world as we have created it is a process of our thinking. It cannot be changed without changing our thinking.”? Albert Einstein.
“Dunia itu seperti yang telah kita ciptakan dalam proses berpikir kita. Dan dunia itu tidak dapat diubah tanpa mengubah pemikiran kita.”- Albert Einstein.
YennyIndra TANGKI AIR & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
“Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang.” Ibrani 13:14 (TB).
Ada pertentangan ilahi antara yang surgawi dan duniawi. Kita dipanggil menjadi garam dan terang di dunia ini, sementara pada saat yang bersamaan kita di sadarkan bahwa dunia ini bukanlah rumah kita. Kita sedang mencari rumah masa depan.
“Jawab Yesus: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.” Yohanes 18:36 (TB).
Jika Yesus tidak mendorong murid-murid-Nya untuk menggulingkan Roma di zaman mereka, apakah kita dipanggil untuk menggulingkan “Roma” di zaman kita? Apakah ada perbedaannya antara pergi ke seluruh dunia untuk memuridkan, dengan pergi ke seluruh dunia dan berkuasa?
“Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.” 1 Korintus 7:31 (TB).
Apa perspektif Yesus dalam doa terakhir-Nya sebelum Dia ditangkap?
“Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia….Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia.” Yohanes 17: 14,16 (TB).
Yesus bukan dari dunia ini, begitu pula kita. Saya percaya bahwa orang Kristen seharusnya berusaha mempengaruhi budaya kita dan membela kebenaran di tengah kegelapan. Tetapi kita juga harus menyadari bahwa sistem dunia ini hanya akan ditundukkan oleh Sang Raja pada saat kedatangan-Nya.
“Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” Matius 24:14 (TB).
[Repost ; “We are not of this world”, – Barry Bennett, Penerjemah Yenny Indra].
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN