Apa Kehendak Tuhan Bagi Hidupku? Ini Jawabannya! (Part 1)
Setiap kita sadar, jika kita bisa menggenapi rencana Tuhan dalam hidup kita, di situlah letaknya kepuasan dan sukacita hidup yang sempurna. Idaman setiap insan manusia.
Masalahnya, bagaimana bisa menemukannya? Kita sudah berdoa, bertanya kepada Tuhan bahkan melakukan yang terbaik yang kita bisa dan yang menurut pemikiran kita itu ‘kehendak Tuhan’, tetapi ujungnya justru mengalami jalan buntu. Kuldesak, kata Orang Perancis! Oh…..
“Jika kalian menanyakan pertanyaan yang salah, kalian akan mendapat jawaban yang salah,” ujar Gaines S. Dobbins.
“Apa kehendak Allah bagi hidupku?”, bukan pertanyaan yang bagus. Pusatnya adalah aku.
Pertanyaan yang tepat, seharusnya, “Apa kehendak Allah?” Allah yang menjadi pusatnya, kita mengikutinya.
Begitu saya tahu kehendak Allah, maka saya dapat mengikutinya, menyesuaikan hidup saya kepada jalan-jalan-Nya dan tujuan Tuhan dalam skala besar.
Bergabung dalam Big Picture Tuhan, proyek besarnya Allah, melakukan bagian yang saya bisa, sesuai dengan tuntunan Allah,. Mungkin bagian yang kelihatannya kecil, tetapi ketika disertai Allah, yang kecil pun menjadi penting. Nach dengan cara demikian, Dia akan menuntun saya menggenapi peran hidup saya di dunia ini.
Yang terpenting adalah hubungan kita secara pribadi dengan Allah. Ini bagian vitalnya. Kita mengikuti arahan-Nya setiap hari, setiap saat terkoneksi dengan-Nya supaya kita bisa mengikuti arahan GPS Allah, melangkah sesuai kehendak-Nya.
Siap Praktik? Yuk..
“For My thoughts are not your thoughts, Nor are your ways My ways,” says the Lord. “For as the heavens are higher than the earth, So are My ways higher than your ways, And My thoughts than your thoughts.”
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Sebagaimana langit lebih tinggi daripada bumi, demikianlah jalan-jalan-Ku lebih tinggi daripada jalan-jalanmu, begitu juga rancangan-rancangan-Ku daripada rancangan-rancanganmu.”
Tunggu kelanjutannya…. Apa kesalahan yang banyak dilakukan orang? Bagaimana cara kerja Tuhan? dsb.
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK- PEDULI KESEHATAN
*Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. 1 Korintus 3:1 TB
Sementara beberapa tampaknya membuat langkah besar dalam iman mereka dan tumbuh dari bayi menjadi orang Kristen yang kuat dan dewasa, banyak yang tidak. Mereka hidup pada tingkat kehidupan yang sangat dangkal dan tampak terperosok dalam emosi, dan perasaan putus asa. Beberapa menginvestasikan banyak waktu dan upaya untuk mengeluh, tetapi sedikit waktu untuk mengenal Tuhan.
Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya. Amsal 10:4 TB
Ayat ini dapat memiliki banyak aplikasi. Mari kita lihat pada tingkat pertumbuhan dan kemenangan rohani. Orang yang malas akan hal-hal tentang Tuhan akan miskin secara rohani, sedangkan orang yang rajin mencari dan terus mendekat mengenal Tuhan akan kaya secara rohani.
Apa yang tampaknya tidak disadari oleh beberapa orang, lahir baru tidak berarti bahwa Tuhan akan turun dan membuat semua masalah mereka hilang. Kelahiran baru memperlengkapi kita dengan kasih karunia Allah untuk “berkuasa dalam hidup” (Roma 5:17). Mereka yang tidak memahami hal ini atau gagal mengakses kasih karunia-Nya tidak akan melihat banyak perubahan dalam hidup mereka. Menjadi malas secara rohani bukanlah jalan menuju iman dan kemenangan.
Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa. Amsal 12:24 TB
Memerintah hidup kita sendiri akan berlaku dalam ayat ini. Kita akan rajin dalam apa yang kita hargai. Apa yang kita hargai akan menghasilkan “buah” dalam kehidupan kita. Jika kita menghargai keluhan dan mengejar yang tidak berguna, kita akan segera menemukan diri kita dalam “kerja paksa” untuk nilai-nilai itu.
Ketika kita menghargai mengenal Tuhan dan menemukan warisan kita yang luar biasa di dalam Dia, kita akan mengejar pengetahuan itu dan akan mulai “memerintah” hidup dan keadaan kita.
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Matius 6:33 TB
Praktik Yuk…..
“Life is a matter of choices, and every choice you make makes you.” —John C. Maxwell
“Hidup adalah masalah pilihan, dan setiap pilihan yang Anda ambil, membentuk Anda.” —John C. Maxwell
Sumber: Barry Bennett.
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Nach ini tantangan yang gak mudah. Kebanyakan orang menjadi pemimpin karena diberi jabatan. Namun sesungguhnya, pemimpin itu pengaruh bukan sekedar jabatan. Orang yang bisa mempengaruhi orang lain, dia seorang pemimpin. Seorang ibu rumah tangga itu pemimpin untuk anak-anaknya.
Siapakah teladan kita, pribadi yang selalu sukses untuk memimpin dan menjadi pemimpin? Yusuf!
Yusuf bermimpi menjadi pemimpin. Mimpinya dari Tuhan tetapi dia dengan polos, lugu dan naif menceritakannya kepada keluarganya. Kakak-kakaknya marah. Menganggap adik bungsunya sombong.
Dijuallah Yusuf menjadi budak dan dibeli oleh Potifar, seorang pejabat di Mesir. Hebatnya, meski saat dijual sebagai budak itu Yusuf ditelanjangi bak sapi yang dijual di pasar, sedang dipilih oleh calon pembeli. Namun Yusuf di sana, di posisi yang terendah secara manusia, dengan keyakinan bahwa dia seorang pemimpin. Yusuf tetap berpegang pada mimpinya, visi dari Tuhan.
Di rumah Potifar, Yusuf bekerja sebagai budak. Tetapi karena Yusuf senantiasa berpegang pada visinya, dia seorang pemimpin maka tidak makan waktu lama, dia pun menjadi pimpinan tidak resmi para budak di sana. Dia dipercaya mengatur semuanya, hingga bossnya tidak perlu mengatur apa pun, kecuali makannya sendiri.
Difitnah oleh istri Potifar. Karena menjaga kekudusan dirinya dan tidak mau membiarkan kesenangan sesaat, merusak masa depannya. Sungguh gambaran yang patit diteladani. Yusuf menghargai dan menghormati Allah di atas segalanya. Iman tidak pernah sia-sia…. Menyentuh hati Allah.
Dijebloskanlah Yusuf menjadi narapidana. Di penjara, tidak lama kemudian, Yusuf dipercaya mengatur seluruh penjara. Bahkan sedemikian baiknya Yusuf mengelola penjara, hingga dia terheran-heran ketika juru…. bersedih. Padahal menurut kita wajar kan jika orang sedih wong dipenjara lho… Gak bebas.
Dari sepotong kisah ini, kita menyadari, Yusuf tidak sekedar memegang visi Tuhan menjadi pemimpin, namun dalam setiap musim dalam hidupnya, dia memanfaatkan setiap kesempatan agar bisa mempersiapkan diri dan membentuk karakter pemimpin. Visi + Persiapan Prima + Relationship with God, itu yang dilakukan Yusuf.
Tiba-tiba tanpa terduga sebelumnya, raja bermimpi. Tidak ada yang bisa menerjemahkan arti mimpinya. Juru minuman teringat pada Yusuf. Dipanggillah Yusuf menghadap raja.
Yusuf sudah siap. Dia mandi, bercukur mempersiapkan diri menghadap raja. Di hadapan raja dan para pembesar, Yusuf menjelaskan arti mimpi raja. Mereka semua merasakan wibawa seorang pemimpin besar. Tidak tercium bau, sikap, body-language seorang budak atau narapidana. Wibawa Allah terpancar melalui dia. Orang yang baik akan mengeluar hal-hal baik dari perbendaharaan hatinya yang baik. Firman dan kedekatan-Nya dengan Allah yang tersimpan dalam perbendaharaan hatinya, memancar keluar hingga semua orang terpukau.
Dengan segera raja menobatkan Yusuf menjadi orang nomor 2 paling berkuasa di Mesir. Semua pejabat di sana sepakat, setuju. Yusuf datang dengan status sebagai narapidana, dan pulang dengan status pejabat tinggi di Mesir. Apa yang mustahil bagi orang yang mempercayai Tuhan?
Kita terpukau dengan kisah Yusuf dan ingin seperti dia. Namun sebelum mencapai semua kesuksesan ini, yang perlu kita teladani adalah apa yang dibangun oleh Yusuf selama bertahun-tahun, ketika tidak ada orang yang melihatnya. Yusuf senantiasa mengerjakan apa yang di tangannya dengan excellent, dengan cara yang terbaik. Menjadi pemimpin di berbagai level, belajar mengelolanya dengan cara yang paling efisien. Sehingga dia dipercaya.
Bahkan selama 13 tahun kehidupannya, sejak dijual menjadi budak, tidak ada satu pun tanda-tanda positif yang menjadi ‘clue’ atau tanda bahwa oneday masa depannya bisa gemilang…. Justru yang kasat mata, sudah jadi orang kepercayaan Potifar, sudah lumayan enak… Lha koq difitnah, akibatnya lebih parah lagi: masuk penjara.
Di penjara, sudah bekerja dengan sangat baiknya… jadi kepercayaan kepala penjara. Lumayanlah… Mengartikan mimpi si juru minuman, hhm.. ada harapanlah. Dititipi menyampaikan kasusnya kepada sang raja, koq ya lupa… 13 tahun tanpa ada tanda positif sekecil apa pun, namun Yusuf tetap berdiri teguh memegang janji Tuhan…. Ini sikap yang luar biasa!
Jika prosesnya dikerjakan, hasil pasti mengikutinya secara natural. Tugas kita memastikan kita menanam benih yang unggul dengan cara yang terbaik, buahnya pasti mengikuti. Dan terus berdiri teguh memegang janji-Nya…demikian teorinya: Jadilah pemimpin di setiap musim kehidupan kita!
Belajar Yuk….Tetap ada cara menjadi lebih baik. Itu yang membuat hidup menjadi Pengaruh & membangun warisan yang abadi.
“Leadership is about making others better as a result of your presence, and making sure that impact lasts in your absence.” —Sheryl Sandberg, COO of Facebook
“Kepemimpinan adalah tentang membuat orang lain menjadi lebih baik sebagai dampak kehadiran Anda, dan memastikan pengaruh itu bertahan tanpa kehadiran Anda” —Sheryl Sandberg, COO Facebook
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK- PEDULI KESEHATAN
Ketika Yesus berada di bumi, Dia berkata bahwa Dia hanya melakukan apa yang Dia lihat dilakukan oleh Bapa (Yohanes 5:19). Anak Allah meneladani hidup Bapa-Nya, menjaga fokus-Nya pada Bapa.
Apakah kita lelah dengan stres? Pandanglah Dia untuk beristirahat dalam kedamaian kita (Yohanes 14:27). Apakah kita terjebak jalan buntu dalam pekerjaan dan tidak tahu arah selanjutnya? Pandanglah Dia sebagai Sang Pembuat Jalan dan Kebebasan kita (Ul. 31:8). Ingin mengajak keluarga berlibur tapi tidak bisa menyesuaikan budget? Pandanglah Allah sebagai penyedia kita (Flp. 4:19). Pada akhirnya, kita dapat menemukan-Nya di dalam setiap keadaan, saat kita berpaling kepada-Nya, ternyata Dia menjaga pandangan-Nya dengan setia, senantiasa tertuju kepada kita.. dengan penuh Kasih.
Mengatasi Hambatan
Mempelai wanita dalam Kidung Agung (simbol dari mempelai Kristus, gereja) berbicara kepada kekasihnya, “Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga! Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia yang menggembalakan domba di tengah-tengah bunga bakung. (Kidung Agung 2:15?-?16 TB)
Dalam Perjanjian Baru, Yesus menggemakan masalah dengan “rubah” yang sama ini ketika Dia mengajarkan tentang bagaimana “kekhawatiran dunia ini, dan tipu daya kekayaan, dan nafsu [keinginan] hal-hal lain yang masuk, mencekik firman” (Markus 4:19). Mintalah Tuhan untuk mengungkapkan area mana saja dalam hidup yang menghabiskan energi serta mengalihkan pandangan kita, bukannya mengembangkan hubungan kita dengan-Nya.
Hargai Yesus, Tuhanku…
The American Heritage Dictionary, mendefinisikan nilai sebagai “menganggap tinggi; menghargai.” Ketika kita mengutamakan Tuhan di semua aspek kehidupan, itu mengingatkan hati kita tentang siapa sebenarnya sumber kita dalam segala hal. Alkitab secara khusus berbicara tentang menghargai Tuhan dalam beberapa bidang. Memberi adalah salah satu bidang ini. “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Mat. 6:21). Persepuluhan dan memberi persembahan adalah tindakan ibadah, yang menunjukkan bahwa kita menghargai Tuhan sebagai pemberi nafkah kita. Bidang lain untuk menghargai Tuhan adalah melalui ketaatan kita. Yohanes 14:15 berkata, ”Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Biasakan dalam hidup, untuk segera menaati Firman Tuhan. Satu Samuel 15:22 mengatakan bahwa ketaatan lebih baik daripada pengorbanan. Jadi, biarkan Firman Tuhan menjadi perlindungan kita. Mentaati Firman membuat hati kita lembut terhadap-Nya dan peka mendengar-Nya.
Rangkullah Kehadiran-Nya
Yang lebih penting daripada perilaku lahiriah adalah sikap hati kita. Langkah pertama untuk merangkul kehadiran-Nya adalah menghabiskan waktu bersama-Nya.
Matius 6:33 berkata, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Saat mengejar Tuhan dengan waktu kita, itu bukan hanya tentang membaca Alkitab; melainkan memahami -Nya dengan cara menghabiskan waktu bersama-Nya dan membuka hati kita, membiarkan Dia berbicara kepada kita. Pilih satu ayat yang benar-benar berbicara kepada kita dan berjalan-jalanlah. Saat kita berjalan, renungkan ayat itu dan kebaikan-Nya. Kita akan takjub dengan hal-hal yang akan Dia ungkapkan, saat kita menghabiskan waktu bersama-Nya dan mengembangkan hubungan Anda dengan-Nya.
Ingat Cinta Pertama, Kasih Mula-Mula kita saat ini. Ketika kita terluka, ditusuk, dikhianati, seolah ditinggalkan sendiri…. Sesungguhnya Yesus yang menanggungnya di Kayu Salib bagi kita 2000 tahun lalu… Yesus mengerti, Yesus peduli, Dan Yesus bersama kita di sana….
Hati Tuhan selalu untuk kita, meski kita sudah menjauh dari kedekatan hubungan itu. Dingin. Saat kita kembali mengasihi-Nya, kita akan menemukan, ternyata selama ini Dia tidak pernah pergi. Memandang kita lekat-lekat dengan penuh kerinduan… Dia paham betapa hati kita mengasihi-Nya! Dan menunggu kita mendekat…
“I Love You Lord, I Love You, Jesus…. You Are My Everything….”
“Aku Mencintaimu Tuhan, Aku Mencintaimu, Yesus…. Engkaulah Segalanya Bagiku….”
Sumber: Awm.net
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
“Itu kan pendapat mama sendiri…. yang belum terbukti kebenaran teorinya. Pengalaman seseorang tidak bisa dijadikan dalil. Harus ada hasil riset yang memang sudah diakui, barulah bisa kita percayai”, demikian komentar anak-anak saya saat bertumbuh dewasa. Mereka dididik dengan pikiran ala Barat.
DIENNNNKKKK….
Belajar dari kasus itu, klo mau memberi nasehat, mesti disertai data yang valid. Itu sudah menjadi gaya hidup keluarga kami.
“Pelajaran mama saat ini, Team Building, ternyata diambil dari buku Patrick Lencioni. Bagus lho ada point 4 tugas kita sebagai pemimpin yang tidak bisa didelegasikan ….”
Apakah pendapat saya langsung dipercaya? Tidak! Langsung anak saya membaca review buku “The FOUR OBSESSIONS of an EXTRAORDINARY EXECUTIVE” – Patrick Lencioni.
“Ga ada tuh point 4 tugas yang tidak bisa didelegasikan….?”
“Bukan buku itu. Yang “The FIVE DYSFUNCTIONS of a TEAM” – Patrick Lencioni. Sudah mama orderkan bukunya.”
Kami terbiasa mendiskusikan sesuatu berdasarkan data yang akurat, harus ada hasil riset yang jelas. Bahkan sebelum diskusi sesuatu, biasa dikirim dulu LINKnya, nonton dulu, baru membicarakannya.
Bahkan ketika berbeda pendapat tentang bikin suatu produk, kalau ga ada risetnya, anak saya bikin contoh dulu baru didiskusikan. Jadi jelas apa yang mau dibicarakan, dan selalu bisa dilihat apa yang ingin didiskusikan, yang mau diubah bagian mana, sudutnya mau jadi berapa derajad dsb.
Hidup Jadi sederhana! Dilarang sekedar berpikir tanpa bukti. Yang satu persepsinya A, sementara yang satu lagi persepsinya B. Beda frekuensi. Kacau. Buang energi.
Kemarin saya bertemu dengan beberapa teman, membahas tentang topik yang bagi saya sangat jelas karena faktanya A, klo ada yang menganggap B berarti yang B itu Hoax.
2+2 = 4 itu mutlak. Begitu ada pilihan jawaban A. 3 B. 4 C. 5 D. Betul semuanya.
Langsung tahu, jawabannya: B. Sesederhana itu. Tetapi teman saya, si Ani, bisa mengaitkannya dengan hal yang menurut saya sama sekali gak ada hubungannya. Lha koq bisa nyambung ke sana? Tepok jidat! Menurut dia ada kemungkinan lho bisa jadi 3 atau 5.. Lalu dibahas berjam-jam dengan debat kusir.
Saya koq gak pernah punya kesulitan ya…. bergaul dengan berbagai grup, berteman dengan berbagai keyakinan yang berbeda, bahkan sebagian guru, mentor, panutan saya ada yang Muslim, Budha dll. Mereka tahu persis saya Kristiani.
Kami saling belajar, saling menghormati, saling mendukung, saling sayang dan tahu koridor masing-masing. Secara alamiah, kami get along well….
Sampai tepok jidat. Mengapa dengan Ani ini, yang nyaris hampir semuanya serupa dengan saya koq justru gak bisa nyambung? Gagal paham!
Ketika bingung, tanya Tuhan! Tuhan pun memberikan jawabannya melalui cara yang natural.
Ternyata prinsipnya begini: Roy E. Disney of Walt Disney Co., said, “When your values are clear to you, making decisions becomes easier.” If you don’t use your values to make decisions and guide your actions, then why have them?
Roy E. Disney dari Walt Disney Co., berkata, “Ketika nilai-nilai Anda jelas bagi Anda, membuat keputusan menjadi lebih mudah.” Jika Anda tidak menggunakan nilai-nilai Anda untuk membuat keputusan dan memandu tindakan Anda, lalu mengapa memilikinya?
Saya paham sekarang. Saya terbiasa hidup berdasarkan data dan fakta yang jelas, demikian juga nilai-nilai hidup saya pun makin jelas. Ketika valuenya jelas, mengambil keputusan menjadi mudah.
Sementara Ani, keseharian hidupnya di lingkungan teman-teman yang hidup berdasarkan persepsi. “Saya pikir…..” “Saya rasa…..” “Mungkin….” “Siapa tahu….” “Bisa jadi alasannya begini or begitu…” Debat kusir …. dst. Pokoknya semua yang serba kemungkinan, relatif, lalu diterima kalangan itu dianggap sebagai “fakta”. Itulah sebabnya Ani sulit mengambil keputusan.
Sementara di dunia saya, yang bukan benar-benar fakta itu adalah gosip, hoax. Standardnya gamblang!
“Kan tidak semua orang punya pendapat yang sama B. Yenny?,” protes Ani.
Saya paham koq…. ada 2 pandangan tentang investasi. Ada yang berprinsip tentang jangan taruh telur di satu keranjang, supaya risikonya terbagi-bagi. Tetapi ada yang berprinsip, taruh semua telur di satu keranjang dan awasi baik-baik. Daripada dibagi-bagi gak bisa fokus mengawasinya.
Ini pendapat yang seperti telur dan ayam, mana yang duluan? Tidak ada jawaban pastinya. Klo begitu ya ga usah diperdebatkan. Serahkan pilihan masing-masing dan hormati.
Ada 2 cara menyelesaikan masalah: Untuk Hal yang jelas-jelas ada standar pastinya, 2+2=4 tentukan benar & salah, berdasarkan fakta, dalil yang diterima di seluruh dunia. Untuk kasus seperti Telur & Ayam mana yang duluan, serahkan pada pilihan masing-masing & hormati.
Jangan dibolak-balik, kacau nanti.
Seperti di berbagai grup, kami sama-sama tahu, keyakinan kami berbeda, cara pikir kami berbeda tapi kami bisa tetap belajar, mendapat manfaat & tumbuh bersama dan menjadi lebih berkualitas.
P. Prasetya M. Brata dan B. Uti Brata, guru & pasangan muslim idola sepanjang masa. Cara Pikir kita ditarik, dijungkirbalikkan, memikirkan hal-hal yang tidak terpikirkan, out of the box dengan Neuro Semantic. Pokoknya menarik!
Di grup yang sama ada guru saya yang lain, muslim juga, yang mengajar kami “Berpikir Tanpa Mikir”. Bukunya sudah diterjemahkan ke dalam berbagai Bahasa lain. warga negara lain pun ingin tahu koq bisa, berpikir tapi ga pakai mikir? Hidup simple koq
Nach di grup lain ada tokoh Budhist yang kerap saya juluki filsuf kita, P. Sjahsjam Susilo. Menyajikan kisah-kisah tentang kehidupan yang dalam dan menggigit…. memicu pemikiran baru tentang hidup.
Ada pula P. Galatia Chandra, dengan bukunya, “Hacking Your Mind” judulnya saja hacking your mind, tentu saja menyajikan fakta-fakta menarik dunia bisnis dan kehidupan, yang memberi ide baru di bisnis kita.
Tommy Wong & P. Anton Thedy TX Travel, pasangan yang terus memberikan ide bisnis dan peluang-peluang baru, yang tidak pernah berhenti, terutama bagi para pebisnis pemula & yang mau ekspansi.
P. Jahja B Soenarjo. Anggotanya pejabat, duta besar dan para pengusaha top, yang didiskusikan sudah soal bisnis global mendunia, antar bangsa, antar negara dengan berbagai peluangnya. Dan masih banyak lagi, gak bisa ditulis semua. Saya punya ratusan grup.
Selama kita berpikir dengan koridor cara pikir yang sama, gak ada tuh masalah yang aneh-aneh. Apalagi debat kusir. Kami ingin sama-sama maju, mencari peluang baru dan bagaimana caranya berkolaborasi, maju bersama dan menjadi lebih baik.
“Yang berbeda, gak usah disama-samakan. Sedangkan yang sama, tidak usah dibeda-bedakan,” ujar Gus Dur.
Teringat buku “Good To Great” karya Jim Collins, intinya menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat: dari good langsung naik jadi great!
Ada berbagai teman di berbagai kehidupan kita. Ada teman yang cocok untuk berdiskusi tentang kehidupan, topik yang prinsip, topik yang berat. Tetapi teman semacam ini biasa kurang asyik diajak liburan. Kurang gila foto…. wkwkwk…. Ada teman yang cocok sekali diajak liburan. Gak usah mikir gaya apa, bisa saja teman ini, saat kita gak sadar, sudah diambil foto di sana sini. Bagus pula!
Ada lagi teman yang cocoknya diajak makan. Sudah jangan ngomongin yang lain-lain, fokus ngomong makanan saja….Persiapkan diri untuk menikmati! Di pelosok mana pun bersama dia, ketemu saja makanan enak yang pernah terlintas di kepala saja enggak? Koq bisa tau dia y…. Insting bawaannya jalan. Jalan pagi pun satu rombongan dapat pecel gratis berkat jasa Imam…
Menempatkan orang yang tepat, di tempat yang tepat, pada saat yang tepat adalah Hikmat Kehidupan. Bisa menghindarkan kita dari ribuan pertempuran yang tidak perlu, dan menyingkirkan sakit kepala…. hemat biaya! Setuju?
Greatness is not a function of circumstance. Greatness, it turns out, is largely a matter of conscious choice, and discipline. Great vision without great people is irrelevant.” ? Jim Collins, Good to Great: Why Some Companies Make the Leap… and Others Don’t
Kehebatan BUKAN diciptakan oleh keadaan. Ternyata, KEHEBATAN sebagian besar adalah masalah PILIHAN SADAR, dan DISIPLIN. Visi hebat tanpa orang-orang hebat tidak relevan.” ? Jim Collins, Good to Great: Mengapa Beberapa Perusahaan Membuat Lompatan…, sedangkan Lainnya Tidak
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK- PEDULI KESEHATAN