Jangan Turun Level Hanya Karena Ada yang Menyepak Kita…
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Jangan Turun Level Hanya Karena Ada yang Menyepak Kita…
“Never respond to insults. The main purpose of an insulter is to make you act without thinking. Frustrate them with silence.”
“Jangan buru-buru membalas penghinaan. Tujuan orang yang menghina sering kali adalah membuat kita bereaksi tanpa berpikir. Gagalkan dengan ketenangan.”
Menjengkelkan bukan?
Kita sedang baik-baik saja, tiba-tiba seseorang menyindir, meremehkan, bahkan sengaja mengatakan sesuatu yang menusuk.
Lebih menjengkelkan lagi kalau datangnya dari orang dekat.
Mereka tahu persis tombol mana yang harus ditekan supaya kita meledak.
Respons natural kita?
Membalas!
You think I don’t have an answer?
Oh… kita punya.
Bahkan mungkin lengkap dengan data, bukti, saksi dan arsip sejak zaman Majapahit.
Ha… ha….
Tetapi semakin dewasa saya belajar:
Tidak semua perkataan layak mendapatkan respons kita. Tidak semua pertempuran layak mendapatkan energi kita.
Kadang insult memang sebuah umpan.
Tujuannya membuat kita marah, kehilangan penguasaan diri, mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan, lalu akhirnya kita sendiri yang menyesal.
Di sinilah musuh bisa menggunakan orang lain, bahkan orang-orang dekat, untuk membuat kita tersandung.
Bukan berarti orang tersebut adalah iblis.
Tetapi musuh senang menggunakan offense, ego, kemarahan dan sakit hati untuk menarik kita keluar dari damai Tuhan.
Jangan ambil umpannya.
Satu kalimat orang lain mungkin hanya berlangsung sepuluh detik.
Tetapi respons emosional kita bisa menciptakan konsekuensi sepuluh tahun.
Karena itu diam bukan selalu berarti kalah.
Kadang diam berarti,
“Saya tahu siapa diri saya. Saya tidak membutuhkan pengakuanmu untuk menentukan nilai saya.”
Dale Carnegie pernah menggunakan ungkapan yang menarik:
“Nobody kicks a dead dog.”
Tidak ada orang yang repot-repot menyepak anjing mati.
Why?
Tidak ada nilainya.
Orang biasanya tidak menghabiskan energi menyerang sesuatu yang dianggap tidak berarti. Ketika seseorang mulai menghasilkan sesuatu, berprestasi, mempunyai pengaruh, berbeda dan terlihat, kritik pun biasanya ikut datang.
Tetapi hati-hati.
Jangan kemudian setiap kali dikritik kita berkata,
“Oh, dia pasti iri karena saya hebat.”
Ha… ha….
Itu bukan confidence.
Itu kesombongan.
Orang bijaksana tetap memeriksa kritik.
Kalau benar, ambil.
Kalau kita salah, akui.
Belajar.
Berubah.
Karena kerendahan hati membuat kita cukup aman untuk menerima koreksi tanpa kehilangan identitas.
Tetapi setelah diperiksa ternyata isinya hanya penghinaan, provokasi, jealousy atau usaha menjatuhkan?
Don’t take the bait.
Tidak perlu menjelaskan diri kepada semua orang.
Tidak perlu memenangkan setiap argumentasi.
Tidak perlu mengejar orang yang sudah memutuskan untuk salah memahami kita.
Bahkan tidak semua orang perlu diyakinkan tentang value kita.
Saya suka sebuah quote yang sering dikaitkan dengan Jackie Chan:
“Don’t worry. They will perceive your value when they cannot find anyone like you.”
“Jangan khawatir. Mereka akan menyadari nilaimu ketika mereka tidak dapat menemukan orang lain seperti dirimu.”
Mak jleb!
Kadang kita terlalu sibuk membuat orang menghargai kita.
Kita menjelaskan kontribusi kita.
Mengingatkan apa yang sudah kita lakukan.
Mencoba membuat mereka mengerti betapa berharganya kehadiran kita.
Capek!
Value tidak perlu berteriak supaya dianggap bernilai.
Emas tidak berubah menjadi tembaga hanya karena seseorang tidak mengenali nilainya.
Dan kita pun tidak kehilangan value hanya karena berada di hadapan orang yang tidak mampu melihatnya.
Tuhan tahu siapa kita.
Karena itu identitas kita tidak naik ketika dipuji dan tidak turun ketika dihina.
Semakin mengenal Tuhan, seharusnya semakin sedikit remote control emosi kita berada di tangan orang lain.
Mereka boleh berbicara.
Tetapi kita yang menentukan respons.
Ada waktunya berbicara tegas.
Ada waktunya menetapkan boundaries.
Ada waktunya meluruskan kesalahpahaman.
Dan ada waktunya…
Diam.
Smile.
Terus berjalan.
Biarkan waktu mengungkapkan karakter.
Biarkan konsistensi membangun reputasi.
Biarkan buah kehidupan berbicara.
Dan kalau suatu hari orang yang dahulu meremehkan akhirnya menyadari value kita, bagus.
Kalau tidak?
Tetap bagus.
Karena tujuan hidup kita bukan membuat semua orang akhirnya mengakui betapa berharganya kita.
Tujuan kita adalah hidup sesuai dengan siapa Tuhan menciptakan kita, terus bertumbuh, menghasilkan buah, dan tidak membiarkan penghinaan siapa pun menurunkan kita menjadi pribadi yang bukan diri kita.
So, don’t worry.
Tidak semua hinaan perlu dijawab.
Tidak semua kesalahpahaman perlu diluruskan.
Tidak semua orang harus melihat value kita.
Jangan turun level hanya karena seseorang mengundang kita bertarung di sana.
Tetap tenang.
Tetap berkelas.
Terus menghasilkan buah.
Karena pada akhirnya, jawaban paling keras terhadap orang yang meremehkan kita sering kali justru kehidupan yang tidak pernah berhenti bertumbuh.
“You will never reach your destination if you stop and throw stones at every dog that barks.” – Winston Churchill”
“Kita tidak akan pernah sampai ke tujuan jika terus berhenti untuk melempari setiap anjing yang menggonggong.” – Winston Churchill”
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur
“Jangan serahkan remote control emosimu kepada orang yang bahkan tidak layak menentukan nilaimu.”
“Don’t hand the remote control of your emotions to someone who isn’t even qualified to define your value.”
– Yenny Indra
