Articles

DI BALIK TUBUH YANG DIAM, TERNYATA IA MENDENGAR

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

DI BALIK TUBUH YANG DIAM, TERNYATA IA MENDENGAR

Bayangkan selama bertahun-tahun kita dapat mendengar percakapan orang-orang di sekitar kita. Kita mengerti semuanya. Kita ingin menjawab, ingin mengatakan bahwa kita mendengar, bahkan ingin sekadar tersenyum. Tetapi tubuh tidak mampu memberikan tanda bahwa kita ada di sana.

Itulah yang dialami Martin Pistorius.

Martin tumbuh sebagai anak sehat di Afrika Selatan. Namun ketika berusia 12 tahun, kesehatannya tiba-tiba merosot. Perlahan ia kehilangan kemampuan bergerak dan berbicara. Kondisinya begitu berat sehingga dokter memperkirakan kemampuan mentalnya telah mengalami kerusakan serius dan kemungkinan hidupnya hanya tinggal beberapa tahun.

Tetapi Martin tidak meninggal.

Beberapa tahun kemudian, sesuatu yang tidak diketahui orang-orang di sekelilingnya terjadi. Kesadarannya perlahan kembali. Tubuhnya tetap hampir tidak mampu merespons, tetapi pikirannya hidup.

Ia melihat. Ia mendengar. Ia berpikir. Ia merasakan.

Masalahnya, tidak seorang pun mengetahuinya.

Selama bertahun-tahun Martin seperti menjadi tahanan di dalam tubuhnya sendiri. Ia menyaksikan ayahnya merawatnya dengan luar biasa. Memandikan, memberi makan, mendandani, bahkan bangun malam untuk mengubah posisi tubuhnya.

Martin memahami semuanya. Ia ingin mengatakan, “Terima kasih, Dad.”

Tetapi tidak bisa.

Lebih menyakitkan lagi, karena dianggap tidak mengerti apa-apa, orang terkadang memperlakukannya sembarangan. Ia mengalami pengabaian bahkan perlakuan kasar tanpa mampu mengatakan, “Stop! Saya merasakan semuanya.”

Salah satu pengalaman paling menyakitkan justru terjadi di rumah. Suatu hari ibunya yang sudah begitu lelah dan tertekan berkata di hadapannya,

“Aku berharap kamu mati saja.”

Ibunya tidak tahu bahwa Martin mendengar dan memahami perkataan itu.

Mak jleb!

Kita sering menganggap perkataan yang keluar ketika sedang marah, frustrasi atau kelelahan akan berlalu begitu saja. Padahal Amsal mengingatkan bahwa hidup dan mati dikuasai lidah. Perkataan mempunyai bobot.

Tetapi yang sangat menyentuh saya adalah respons Martin. Ia melihat penderitaan ibunya. Ia memahami bahwa perkataan itu keluar dari seorang ibu yang sudah kehabisan kekuatan, bukan karena tidak mencintainya.

Dalam kesunyian, Martin memilih memaafkannya.

Mengampuni seseorang yang bahkan tidak tahu bahwa perkataannya telah melukai kita.

Wow!

Bertahun-tahun kemudian, seorang terapis bernama Virna van der Walt memperhatikan sesuatu yang dilewatkan orang lain. Ia memperlakukan Martin sebagai manusia yang utuh. Ia berbicara kepadanya secara normal dan memperhatikan respons-respons kecil yang selama ini diabaikan.

Virna mulai bertanya, “Bagaimana kalau sebenarnya Martin mengerti?”

Pertanyaan sederhana itu akhirnya mengubah kehidupan Martin.

Keluarganya membawa Martin untuk menjalani evaluasi lebih lanjut. Ternyata benar.

Martin ada di sana.

Pikirannya hidup. Ia memahami dunia di sekelilingnya. Selama bertahun-tahun, dunia hanya tidak mampu mendengarnya.

Dengan bantuan teknologi komunikasi, perlahan Martin mendapatkan kembali “suaranya”. Kehidupannya berkembang jauh melampaui apa yang dahulu dibayangkan orang. Ia belajar, bekerja di bidang komputer, menulis memoar Ghost Boy, menikah dan kemudian menjadi seorang ayah.

Ketika membaca kisahnya, saya teringat bagaimana Tuhan melihat manusia.

Manusia melihat apa yang di depan mata. Tuhan melihat hati.

Betapa mudahnya kita memberi label kepada seseorang berdasarkan apa yang terlihat.

“Dia tidak mengerti.”

“Anak ini tidak punya masa depan.”

“Orang itu tidak akan pernah berubah.”

“Sudahlah. Tidak ada harapan.”

Hati-hati.

Jangan memberikan kesimpulan kepada cerita yang belum selesai.

Dan ada pelajaran lain yang tidak kalah penting: perlakukan setiap manusia dengan dignity, dengan martabat dan penghargaan.

Kita tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang sedang berlangsung di balik kehidupan seseorang. Orang yang tidak mampu menjawab bukan berarti tidak mendengar. Orang yang berbeda bukan berarti lebih rendah. Orang yang sedang berada pada titik terburuk kehidupannya bukan berarti tidak mempunyai masa depan.

Yesus begitu luar biasa dalam hal ini. Dia melihat orang-orang yang dilewati orang lain. Bartimeus berteriak ketika orang banyak menyuruhnya diam. Orang kusta dijauhi masyarakat. Perempuan yang dipermalukan dan dihakimi tetap dilihat-Nya sebagai pribadi yang berharga.

Yesus melihat manusia, bukan sekadar kondisinya.

Kisah Martin juga mengingatkan saya agar tidak terlalu cepat menaruh titik.

Dokter memberikan prognosis berdasarkan ilmu dan fakta yang mereka miliki, dan kita menghormatinya. Tetapi prognosis bukanlah identitas seseorang. Keadaan hari ini pun belum tentu menjadi gambaran kehidupannya selamanya.

Dan mungkin “Virna” dalam kehidupan seseorang justru adalah kita.

Seseorang yang mau berhenti sebentar, melihat lebih dekat, mendengarkan lebih sungguh-sungguh, dan memperlakukan orang lain dengan hormat ketika dunia sudah kehilangan harapan terhadapnya.

Kadang kita berpikir bahwa untuk mengubah kehidupan seseorang diperlukan sesuatu yang spektakuler.

Ternyata bisa dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.

Melihat seseorang sebagai pribadi yang berharga ketika orang lain hanya melihat keterbatasannya.

Jangan terlalu cepat menilai. Jangan sembarangan berbicara. Jangan kehilangan harapan. Dan jangan pernah meremehkan seseorang hanya karena hari ini ia belum mampu menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.

Manusia melihat keadaan sekarang. Tuhan melihat jauh melampauinya.

“You never really understand a person until you consider things from his point of view.” – Harper Lee, To Kill a Mockingbird.

“Kita tidak akan pernah benar-benar memahami seseorang sampai kita mencoba melihat kehidupan dari sudut pandangnya.”
— Harper Lee, To Kill a Mockingbird.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Jangan biarkan keterbatasan yang terlihat membuat kita gagal melihat nilai yang tidak terlihat.”

“Never let visible limitations keep us from seeing invisible worth.” – Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
EFFORTLESS CHANGE -PERUBAHAN TANPA USAHA.
Kesaksian mana yang akan Anda setujui?
Nasib? NO!