Articles

Jangan Biarkan Batu Kecil Menciptakan Badai…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Biarkan Batu Kecil Menciptakan Badai…

Ada sebuah nasihat sederhana yang sangat dalam:

“Two things to remember in life: Take care of your thoughts when you are alone, and take care of your words when you are with people.”

Dua hal yang perlu diingat dalam hidup: jaga pikiran ketika sedang sendirian, dan jaga perkataan ketika sedang bersama orang lain.

Mak jleb!

Ketika sendirian, tidak ada yang tahu apa yang sedang kita pikirkan. Kita bebas memutar ulang perlakuan orang yang menyakitkan, membayangkan balasan yang ingin kita berikan, mengasihani diri sendiri, iri terhadap keberhasilan orang lain, atau sibuk membandingkan hidup kita dengan mereka.

Tidak ada yang mendengar.

Tetapi justru di ruang tersembunyi itulah kehidupan sedang dibentuk.

Pikiran yang terus diberi makan hari ini, suatu saat akan keluar melalui perkataan, keputusan dan respons kita.

Itulah sebabnya pengendalian diri tidak dimulai dari mulut.

Ia dimulai dari pikiran.

Saya semakin belajar bahwa kedewasaan rohani bukan sekadar seberapa banyak Firman yang kita tahu, seberapa fasih kita berdoa, atau seberapa aktif kita melayani.

Ujiannya justru muncul ketika ego kita tersenggol.

Ketika diremehkan.

Ketika pendapat kita tidak dipakai.

Ketika orang lain mendapatkan penghargaan yang menurut kita seharusnya menjadi milik kita.

Ketika seseorang mengatakan sesuatu yang tidak fair tentang kita.

Saat itulah terlihat siapa yang sebenarnya memegang kendali: roh atau ego kita.

Menariknya, orang yang kuat bukanlah orang yang selalu berhasil memenangkan argumentasi.

Kadang justru dibutuhkan kekuatan yang jauh lebih besar untuk mampu menjawab, tetapi memilih diam.

Mampu membalas, tetapi tidak membalas.

Mampu membuka kesalahan seseorang, tetapi memilih menutupinya karena tidak ada gunanya mempermalukannya.

Bukan karena lemah.

Karena kita tidak perlu memenangkan setiap peperangan.

Amsal mengatakan bahwa orang yang lambat marah lebih baik daripada seorang pahlawan, dan orang yang menguasai dirinya lebih baik daripada orang yang merebut sebuah kota.

Wow…

Dunia mengagumi orang yang mampu menaklukkan kota.

Tuhan menghargai orang yang mampu menaklukkan dirinya sendiri.

Saya ingin belajar memiliki hati seluas samudra.

Samudra tidak menjadi keruh hanya karena seseorang melemparkan segenggam lumpur ke dalamnya.

Demikian juga ketika hati kita semakin luas, perkara-perkara kecil tidak mudah mengguncangkan kita.

Tidak semua komentar harus ditanggapi.

Tidak semua kesalahpahaman harus diluruskan.

Tidak semua kritik harus dibalas.

Tidak semua orang harus mengerti kita.

Dan kita tidak harus selalu mendapatkan kata terakhir.

Ego selalu ingin membuktikan, “Saya benar.”

Kedewasaan bertanya, “Apakah ini perlu?”

Semakin mengenal Tuhan, seharusnya ego kita semakin terkikis. Bukan berarti kehilangan ketegasan atau membiarkan orang memperlakukan kita semena-mena. Ada waktunya berbicara tegas. Ada waktunya menetapkan batas.

Tetapi kita belajar melakukannya tanpa kebencian, tanpa kebutuhan untuk mempermalukan, dan tanpa dorongan untuk membalas.

Itulah kelas.

Bukan tas yang kita bawa.

Bukan mobil yang kita kendarai.

Bukan jabatan, gelar, jumlah follower, atau seberapa banyak orang mengenal nama kita.

Kelas seseorang terlihat dari bagaimana ia mengelola dirinya ketika sebenarnya ia punya kesempatan untuk melukai orang lain.

Dan semuanya kembali kepada dua tempat yang sering tidak diperhatikan:

Pikiran ketika sendirian.
Perkataan ketika bersama orang lain.

Jaga pikiran, karena di sanalah benih ditanam.

Jaga perkataan, karena melalui mulutlah isi hati akhirnya terlihat.

Pada akhirnya, salah satu kemenangan terbesar dalam hidup bukan ketika kita berhasil mengendalikan keadaan atau orang lain.

Kemenangan terbesar adalah ketika orang lain tidak lagi mempunyai remote control atas emosi kita.

Mereka boleh salah memahami.

Boleh tidak menghargai.

Boleh mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Tetapi kita tetap dapat memilih respons kita sendiri.

Itulah pengendalian diri.

Itulah kedewasaan.

Dan bagi saya, itulah perjalanan seumur hidup: belajar dari Tuhan, memperluas hati, mengikis ego, sampai tidak setiap batu kecil yang dilemparkan orang mampu menciptakan badai di dalam jiwa kita.

Keep growing in grace.

“The first and best victory is to conquer self.” – Plato.

“Kemenangan yang pertama dan terbaik adalah menaklukkan diri sendiri.” – Plato.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Semakin luas hati, semakin sedikit hal yang perlu kita menangkan.”

“The larger the heart, the fewer battles we need to win.” – Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Apakah Kita Benar-Benar Menjadikan Tuhan Itu Allah Kita?
Apakah Tabur Tuai Otomatis Terjadi?
Mengeraskan Hati & Solusinya!