KARAT DARI DALAM.
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
KARAT DARI DALAM.
“None can destroy iron, but its own rust can! Likewise, none can destroy a person, but his own mindset can.”
“Tidak ada yang dapat menghancurkan besi, kecuali karatnya sendiri. Demikian juga, tidak ada yang dapat menghancurkan seseorang seperti pola pikirnya sendiri.”
Saya suka sekali ilustrasi ini.
Besi itu kuat. Dipakai untuk membangun gedung, jembatan, mesin, bahkan berbagai konstruksi raksasa. Anehnya, sesuatu yang begitu kuat dapat perlahan-lahan keropos bukan karena hantaman besar dari luar, tetapi karena karat yang bekerja diam-diam dari dalam.
Demikian pula kehidupan.
Kita sering mengira musuh terbesar adalah keadaan. Ekonomi. Kompetitor. Orang yang tidak menyukai kita. Masa lalu. Kesempatan yang hilang. Pengkhianatan. Atau keputusan salah yang pernah kita buat.
Padahal tidak jarang yang paling merusak justru percakapan yang terus berlangsung di dalam kepala kita sendiri.
“Saya memang tidak bisa.”
“Sudah terlambat.”
“Orang lain lebih beruntung.”
“Saya selalu gagal.”
“Dia tidak menghargai saya.”
“Saya tidak akan memaafkannya.”
Kelihatannya sepele. Tidak terdengar oleh siapa pun. Tetapi ketika dipelihara terus-menerus, perlahan-lahan menjadi karat.
Karat kepahitan. Karat iri hati. Karat minder. Karat mengasihani diri sendiri. Bahkan karat merasa diri paling benar.
Yang paling berbahaya, lama-kelamaan kita tidak lagi menyadari bahwa itu karat. Kita menganggapnya kebenaran.
Ada sebuah nasihat sederhana yang sangat dalam:
“Two things to remember in life: Take care of your thoughts when you are alone, and take care of your words when you are with people.”
“Dua hal yang perlu diingat dalam hidup: jagalah pikiran ketika sedang sendirian, dan jagalah perkataan ketika sedang bersama orang lain.”
Mengapa keduanya berhubungan?
Karena apa yang kita pelihara ketika sendirian, suatu hari akan keluar ketika kita bersama orang lain.
Kalau ketika sendirian kita terus memutar ulang sakit hati, jangan heran suatu hari perkataan kita menjadi tajam. Kalau terus membandingkan diri, iri hati akan mencari jalan keluar. Kalau terus merasa tidak dihargai, sedikit saja orang melakukan sesuatu yang tidak sesuai harapan, kita mudah tersinggung.
Sebaliknya, ketika pikiran dipenuhi Firman, kasih, rasa syukur dan kebenaran, semuanya itu pun perlahan-lahan terlihat melalui perkataan dan respons kita.
Mulut tidak menciptakan isi hati. Mulut akhirnya membocorkan apa yang selama ini kita simpan di dalam.
Itulah sebabnya pengendalian diri tidak dimulai ketika kita hampir mengucapkan sesuatu yang salah. Pengendalian diri dimulai jauh sebelumnya, ketika tidak ada seorang pun melihat apa yang sedang kita pikirkan.
Firman Tuhan mengajarkan, “Berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Menarik sekali. Perubahan kehidupan ternyata sangat berkaitan dengan perubahan cara berpikir.
Kita kerap berdoa, “Tuhan, ubah pasangan saya. Ubah anak saya. Ubah bisnis saya. Ubah orang-orang di sekitar saya.”
Tetapi bagaimana kalau yang pertama-tama perlu berubah justru cara kita memandang semuanya itu?
Dua orang dapat menghadapi masalah yang sama, tetapi menghasilkan kehidupan yang sama sekali berbeda. Yang satu berkata, “Habis sudah.” Yang lain berkata, “Baik, apa yang bisa saya pelajari? Apa langkah berikutnya?”
Yang satu membangun rumah di dalam kekecewaan. Yang lain mengakui bahwa memang sakit, tetapi menolak tinggal di sana.
Iman bukan menyangkal kenyataan. Iman tidak mengajarkan kita berpura-pura bahwa masalah tidak ada. Tetapi kita belajar tidak memberikan kepada masalah hak untuk menentukan siapa diri kita dan ke mana hidup kita akan pergi.
Karat pun tidak menghancurkan besi dalam semalam.
Sedikit demi sedikit.
Begitu pula pikiran yang salah.
Satu kekecewaan dipelihara. Satu penghinaan diputar ulang ratusan kali. Satu kegagalan dijadikan identitas. Satu kesalahan orang lain disimpan bertahun-tahun.
Tanpa sadar, energi yang seharusnya dipakai untuk membangun masa depan habis untuk memelihara masa lalu.
Nach, kalau karat bisa dibersihkan, pikiran pun bisa diperbarui.
Isi pikiran dengan kebenaran. Belajar melihat diri sebagaimana Tuhan melihat kita. Belajar mengampuni. Berhenti membandingkan. Berhenti memutar ulang percakapan yang tidak dapat diubah. Belajar memiliki hati seluas samudra sehingga tidak setiap batu kecil yang dilemparkan orang mampu menciptakan badai di dalam jiwa kita.
Kita mungkin tidak dapat mengendalikan apa yang dilakukan orang kepada kita. Tetapi kita dapat memilih apa yang kita izinkan tinggal di dalam kita.
Jaga pikiran ketika sendirian.
Jaga perkataan ketika bersama orang lain.
Karena perkataan hari ini sering kali hanyalah buah dari pikiran yang kemarin kita izinkan berakar.
Jangan sibuk hanya menjaga kehidupan dari serangan luar. Periksa juga karat yang mungkin sedang tumbuh di dalam.
Karena sering kali, musuh terbesar masa depan kita bukanlah orang yang pernah menyakiti kita.
Melainkan pola pikir yang kita pelihara setelah mereka melakukannya.
“The first and best victory is to conquer self.”— Plato.
“Kemenangan yang pertama dan terbaik adalah menaklukkan diri sendiri.” — Plato.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur
“Semakin luas hati, semakin sedikit hal yang perlu kita menangkan.”
“The larger the heart, the fewer battles we need to win.”
— Yenny Indra