Brunei… Kejutan Indah yang Tidak Pernah Kami Rencanakan
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Brunei… Kejutan Indah yang Tidak Pernah Kami Rencanakan
Sesungguhnya tidak ada rencana sedikit pun untuk pergi ke Brunei Darussalam.
Tujuan kami sebenarnya hanya Kuching, Malaysia.
Namun seperti biasa, saat P. Indra mempelajari peta perjalanan, tiba-tiba ia berkata,
“Brunei sudah dekat.”
Akhirnya, jadilah kami terbang sekitar 1 jam 15 menit dari Kuching menuju Bandar Seri Begawan.
Begitulah kadang perjalanan hidup.
Kita membuat rencana.
Lalu sebuah kesempatan kecil muncul dan mengubah semuanya.
Dan ternyata, perjalanan yang tidak direncanakan itu justru meninggalkan kenangan yang begitu manis.
Begitu pertama kali menginjakkan kaki di Bandar Seri Begawan, saya langsung merasa seperti kembali ke Indonesia beberapa puluh tahun yang lalu.
Kota ini tenang.
Tidak banyak gedung tinggi.
Jalan-jalannya tidak padat.
Suasananya jauh dari hiruk-pikuk kota besar.
Kami tinggal di kawasan Gadong, salah satu kawasan yang cukup ramai di Bandar Seri Begawan. Malam hari kami menikmati Gadong Night Market, melihat berbagai makanan lokal yang dijajakan dengan suasana sederhana dan akrab.
Brunei memang negara kecil, tetapi sejarahnya panjang.
Kesultanan Brunei telah ada selama berabad-abad dan pernah menjadi kerajaan yang berpengaruh di kawasan Kalimantan dan Asia Tenggara. Memasuki abad ke-20, penemuan minyak dan gas mengubah perekonomian negeri ini secara besar-besaran.
Namun menariknya, kekayaan itu tidak membuat Bandar Seri Begawan berubah menjadi kota yang penuh gedung pencakar langit.
Brunei tetap terasa tenang.
Dan mungkin justru itulah daya tariknya.
Salah satu pengalaman yang paling menarik adalah mengunjungi Kampong Ayer Cultural & Tourism Gallery.
Kampong Ayer dikenal sebagai salah satu permukiman air terbesar dan tertua di dunia. Rumah-rumah berdiri di atas tiang di atas Sungai Brunei, dihubungkan oleh jembatan-jembatan.
Yang membuat saya kagum, ini bukan sekadar tempat wisata.
Masyarakat benar-benar hidup di sana.
Ada rumah, sekolah, masjid, klinik, toko, bahkan fasilitas pemadam kebakaran.
Kehidupan modern berjalan berdampingan dengan tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun.
Kami kemudian mengunjungi Royal Regalia Museum.
Di sini tersimpan berbagai benda yang berkaitan dengan Kesultanan Brunei, termasuk kereta kerajaan, perlengkapan upacara, hadiah kenegaraan, dan berbagai koleksi yang menggambarkan perjalanan panjang kerajaan ini.
Namun suasana Brunei semakin berbeda ketika malam tiba.
Kami mengunjungi Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien.
Kalau siang hari sudah indah, malam hari terasa magis.
Kubah emasnya diterangi cahaya lampu. Bangunan putihnya berdiri anggun di tepi kolam yang tenang, dan pantulannya di permukaan air membuat pemandangan semakin memesona.
Saya berdiri cukup lama hanya untuk menikmati keindahannya.
Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Jame’ Asr Hassanil Bolkiah, masjid terbesar di Brunei.
Ke-29 kubah emasnya berkilauan diterpa cahaya malam, melambangkan Sultan Brunei yang ke-29, Sultan Hassanal Bolkiah.
Dua masjid.
Dua karakter.
Yang satu terasa klasik dan romantis.
Yang satu megah dan monumental.
Tetapi keduanya sama-sama membuat kami terpukau.
Saya selalu menyukai tempat yang tidak hanya indah untuk difoto, tetapi juga meninggalkan rasa damai setelah kita meninggalkannya.
Dan Brunei memiliki rasa itu.
Namun perjalanan kami belum selesai.
Sebelum meninggalkan Brunei, kami masih memiliki satu tujuan terakhir.
The Empire Brunei.
Begitu bus memasuki kawasan resort ini, saya langsung mengerti mengapa tempat ini begitu terkenal.
Luas kawasan The Empire mencapai sekitar 180 hektare.
Saking luasnya, ke mana-mana kami diantar menggunakan buggy listrik.
Rasanya seperti berada di sebuah kota kecil yang seluruhnya dibuat untuk menikmati liburan.
Bangunan utamanya megah, dengan marmer, pilar-pilar tinggi, dan detail arsitektur yang elegan.
Berbagai restoran tersedia dengan konsep berbeda, dari restoran fine dining, restoran Asia, kafe hingga lounge. Banyak ruang dirancang dengan jendela kaca besar sehingga pemandangan laut dan taman terasa seperti bagian dari interior.
Di luar bangunan utama terbentang lapangan golf 18 hole yang hijau dan luas hingga mengarah ke Laut Cina Selatan.
Ada kolam renang, spa, pusat kebugaran, lapangan tenis, bowling, bioskop, marina, pantai privat, dan berbagai fasilitas rekreasi lainnya.
Tetapi bagi saya, kemewahan terbesar The Empire bukan semua fasilitas itu.
Melainkan ketenangannya.
Sore itu kami berdiri di balkon yang menghadap laut.
Angin bertiup lembut.
Matahari perlahan turun.
Langit berubah dari biru menjadi jingga keemasan, lalu perlahan dihiasi semburat merah muda dan ungu.
Kami sibuk memotret.
Berkali-kali.
Sulit berhenti.
Sunset dari balkon The Empire benar-benar luar biasa cantiknya.
Cahaya matahari yang memantul di permukaan laut membuat seluruh pemandangan terasa hangat dan damai.
Saat itu saya tidak banyak berbicara.
Saya hanya menikmati.
Dan mengucap syukur.
Bukankah sering kali kita mengira kemewahan adalah sesuatu yang mahal?
Padahal mungkin kemewahan yang sesungguhnya adalah memiliki waktu untuk berhenti sejenak.
Menghirup udara segar.
Memandang matahari terbenam.
Menikmati laut yang bersih.
Lalu menyadari bahwa semua keindahan itu adalah sesuatu yang tidak dapat kita ciptakan sendiri.
Begitulah Brunei menutup perjalanan kami.
Kami datang tanpa rencana.
Hanya karena sebuah titik di peta terlihat “sudah dekat”.
Tetapi kami pulang membawa begitu banyak cerita.
Tentang Kampong Ayer.
Tentang sejarah Kesultanan Brunei.
Tentang masjid-masjid yang berkilauan di malam hari.
Tentang kehidupan yang tenang.
Dan tentang sebuah resort megah di tepi laut yang menutup perjalanan kami dengan sunset yang begitu indah.
Bukan hanya karena tempat-tempatnya.
Tetapi karena Brunei mengajarkan saya satu hal sederhana:
Tidak semua perjalanan indah harus direncanakan jauh-jauh hari. Kadang-kadang, kejutan terbaik justru menunggu di jalan yang tidak pernah kita rencanakan.
Dan mungkin…
itulah cara Tuhan memperkaya perjalanan kita.
Kita membuat rencana.
Dia melihat peta yang jauh lebih luas.
“Not all those who wander are lost.” – J.R.R. Tolkien
“Tidak semua orang yang mengembara itu tersesat.” – J.R.R. Tolkien
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur