Cah Sedes ’80: Srawung Maneh, Ngraketake Paseduluran.
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Cah Sedes ’80: Srawung Maneh, Ngraketake Paseduluran.
Ada sesuatu yang istimewa ketika orang-orang yang pernah melewati masa remaja bersama dipertemukan kembali setelah puluhan tahun.
Bukan sekadar reuni. Rasanya seperti membuka kembali sebuah album lama. Tiba-tiba suara tawa, panggilan akrab, cerita masa sekolah, bahkan kebiasaan kecil yang sudah puluhan tahun berlalu terasa hidup kembali.
SS adalah singkatan dari SMA Sedes Sapientiae Semarang, sekolah putri tempat kami bertumbuh pada masa itu.
Kini kami kembali berkumpul dalam Reuni SS’80, dengan tema yang manis sekali:
Cah Sedes
DELAPAN PULUH
SRAWUNG MANEH, NGRAKETAKE
PASEDULURAN
Srawung maneh berarti kembali berkumpul, kembali bergaul. Ngraketake paseduluran berarti semakin merekatkan persaudaraan.
Dan rasanya memang tepat sekali.
Sebagian besar teman berkumpul di Semarang. Ada yang datang dari Jakarta, Bandung dan berbagai kota lainnya. Bahkan Mami Lian terbang jauh dari Los Angeles dan Conny datang dari Sydney.
Yang membuat reuni ini semakin istimewa, ternyata ada beberapa teman yang tidak pernah berjumpa lagi sejak lulus SMA.
Artinya…
46 tahun!
Wuih…
Tidak heran ketika akhirnya bertemu kembali, ada yang spontan bertanya,
“Masih kenal aku nggak?”
Hahaha…
Kami pun saling memperhatikan wajah masing-masing. Ada yang berubah menjadi ibu-ibu anggun dan cantik. Ada pula yang wajahnya masih terasa seperti ketika SMA, hanya sekarang sedikit lebih “berisi”.
Yang pasti, semua tetap membawa cerita.
Salah satunya Wati, yang dulu jago memimpin senam saat SMA. Wati juga bercerita bahwa salah satu tugasnya di kelas adalah mencubit saya kalau saya mulai mengantuk!
Wkwkwk…
Begitulah. Teman yang dulu mencubit kita karena mengantuk ternyata tetap menjadi bagian dari cerita yang membuat kita tertawa puluhan tahun kemudian.
Dan tentu saja ada cerita tentang Mami Lian.
Sejak awal masuk SMA, ia sudah dikenal sangat keibuan. Walaupun anak bungsu, naluri keibuannya luar biasa. Kalau ada teman yang sakit, permintaannya sering kali,
“Temani aku ke dokter, Mami.”
Jadilah saya memanggilnya Mami. Panggilan itu kemudian menular ke seluruh teman.
Dan sekarang Mami Lian benar-benar menjadi Mami jagoan!
Bayangkan tinggal di Amerika Serikat tetapi bisa memasak gudeg, rendang, empek-empek, bahkan membuat tape!
Mantap abis!
P. Indra dan saya bergabung dengan rombongan dari Solo. Tujuan pertama kami adalah Rasa Madu Heritage.
Kami sibuk berfoto, berpindah dari satu sudut ke sudut lain sambil berceloteh mengenang masa lalu. Satu foto memunculkan satu cerita, satu cerita mengingatkan cerita lainnya.
Begitulah kalau teman lama berkumpul.
Malamnya, setelah dinner di Kampung Kecil dan merayakan Ultah Siska & Inge, kami berkumpul di Mezzanine Cafe, Hotel Paragon dengan dress code yang unik:
DASTER!
Wuih!
Maka dimulailah pesta foto ibu-ibu.
Begitu ada yang berfoto, yang lain langsung ingin ikut.
“Ini khusus anak asrama!”
Yang bukan anak asrama menyingkir.
“Ini khusus anak A3!”
Yang bukan anak A3 mencari kelompok lain.
“Ini khusus anak kost!”
Yang tidak masuk kategori lagi-lagi minggir.
Gubraaak!
Hahaha…
Lucunya, tidak ada yang tersinggung. Kami malah menertawakan diri sendiri sambil sibuk mencari kelompok yang sesuai.
Giliran foto rame-rame, ada yang menunjukkan 1 jari, 2 jari atau 3 jari artinya ini yang anak A1, A2 atau A3…..
Gayanya Sedesian banget!
Ada 12 suami yang ikut reuni. Tugas mereka?
Menjadi fotografer!
Maklum, para ibu ini sepertinya tidak pernah kehabisan gaya. Depan hotel, taman, lorong, bahkan depan bus yang sedang parkir pun bisa menjadi background foto.
Alamaaak!
Keesokan harinya kami menuju kawasan Kemuning,menikmati jembatan kaca di tengah hamparan kebun teh yang hijau dengan udara pegunungan yang sejuk.
Pemandangannya cantik sekali.
Di sepanjang jalan, tawa canda tak henti-hentinya. Apalagi mendengarkan celotehan Lucy dengan istilah-istilahnya yang kuno ala jaman oma-oma kita.
Ada sepur (kereta api), dayoh(tamu), ulem-ulem (undangan)….dst.
Tawa pun pecah ramai sekali.
Tetapi jembatan kaca ini juga menjadi ujian keberanian. Ada yang benar-benar takut dan bersikeras tidak mau berjalan di atas kaca. Ada yang awalnya takut, tetapi melihat temannya berani, akhirnya ikut melangkah.
Satu langkah.
Lalu satu langkah lagi.
Akhirnya berhasil!
Bukankah sering kali hidup juga begitu? Kadang kita bukan tidak mampu. Kita hanya perlu melihat seseorang melangkah lebih dahulu untuk membuat kita berani mencoba.
Lunch di Ayam Tim Mbok Iyem, lalu dilanjutkan dengan kegiatan yang memang tidak boleh dilewatkan dalam reuni ibu-ibu:
shopping!
Batik menjadi sasaran. Kalau sudah melihat batik, energi mendadak bertambah.
Malamnya tibalah Gala Dinner dengan dress code kebaya.
Suasana langsung berubah menjadi anggun. Teman-teman tampil cantik dengan kebaya masing-masing. Tetapi setelah beberapa lagu, suasana anggun itu berubah menjadi pesta.
Ada persembahan lagu merdu dari Yaya dan Ridar. Kemudian Polonaise, rock & roll, cha-cha-cha, games lucu, bahkan permainan sambil berjoget.
Lalu tampil line dance yang dipimpin Tjoe Sin bersama Lucy Londo, Kinta, Liez, Sandra, Theresia Biekun, dr. Roestina, dan Sianny.
Wuih cakep!
Gerakan mereka luwes, kompak dan begitu menarik. Melihatnya saja sudah membuat kaki ingin ikut bergerak.
Bapak-bapak pun akhirnya tidak bisa bersembunyi.
Mereka dibagi menjadi dua kelompok dan harus berlomba mengoper karet menggunakan sedotan kepada teman berikutnya, dilanjutkan dengan permainan mengoper bola melewati kepala.
Kelihatannya sederhana.
Tetapi ketika dilakukan oleh para bapak-bapak…
Kami tertawa terbahak-bahak!
Hadiah-hadiah pun berlimpah dibagikan, membuat suasana semakin seru dan meriah.
Malam ini, Mak Tien juga ultah.
Kemudian P. Hery Santoso dan P. She Fung tampil menyanyi sekaligus berjoget. Akhirnya nyaris semua peserta ikut turun berjoget.
Malam itu benar-benar pecah!
Hari ketiga sekaligus hari terakhir, kami menuju Pasar Gede Solo.
Menikmati dawet khas Solo, mencicipi babi pincuk, membeli kerupuk rambak dan berbagai oleh-oleh khas Solo.
Antrean menikmati dawet legendaris Solo bahkan sampai membuat orang-orang kesulitan lewat karena kami beramai-ramai menunggu dilayani.
Hahaha…
Sebagian teman masih sempat berfoto dengan kebaya khas Solo.
Namanya juga ibu-ibu…
Shopping tetap harus masuk agenda!
Lunch terakhir kami nikmati di Adem Ayem, sebelum akhirnya kami kembali ke kota masing-masing.
Tiga hari berlalu begitu cepat.
Namun yang kami bawa pulang bukan hanya foto, batik, oleh-oleh atau kenangan lucu.
Kami membawa kembali sesuatu yang jauh lebih berharga:
persaudaraan.
Ada teman yang baru bertemu lagi setelah 46 tahun. Ada yang datang dari Los Angeles, Sydney, Jakarta, Bandung, Solo, Semarang dan berbagai kota lainnya.
Jarak ternyata tidak mampu menghapus sesuatu yang pernah ditanam bersama.
Cah Sedes tetap Cah Sedes.
Wajah berubah. Usia bertambah. Rambut memutih. Tetapi ketika kami berkumpul, tertawa dan saling menggoda, rasanya seperti kembali menjadi anak-anak SMA.
Mungkin itulah arti srawung maneh, ngraketake paseduluran.
Bukan sekadar bertemu kembali, tetapi menemukan kembali kehangatan yang pernah ada.
Dan semakin panjang perjalanan hidup, semakin kita menyadari bahwa salah satu kekayaan terbesar bukanlah apa yang kita kumpulkan, melainkan siapa yang masih dapat kita peluk, kita ajak tertawa, dan kita syukuri keberadaannya.
Terima kasih untuk Panitia Reuni SS’80 yang telah membuat semua ini terjadi.
Terutama Christina Martini selaku ketua panitia, Yani Astuti sebagai bendahara, serta Tjoe Sin, Eka Lestari, Henny, Hartati, Sandra, Linda, Kinta, Inge Araki, Indrawati, Lily Is, Ratna Susiani, dr. Roestina dan dr. Vivianti.
Terima kasih sudah menyediakan waktu, tenaga, pikiran dan hati untuk mempertemukan kembali kami semua.
Karena pada akhirnya, reuni yang paling indah bukanlah tentang betapa megah acaranya.
Tetapi tentang betapa hangat hati kita ketika pulang.
Cah Sedes, sampai bertemu lagi.
Srawung maneh…
Ngraketake paseduluran.
“In everyone’s life, at some time, our inner fire goes out. It is then burst into flame by an encounter with another human being.” – Albert Schweitzer.
“Dalam kehidupan setiap orang, pada suatu saat api di dalam dirinya dapat meredup. Kemudian api itu kembali menyala oleh perjumpaan dengan orang lain.” – Albert Schweitzer.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur
