Articles

Mengapa Yohanes Masih Menulis Injil Lagi?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Mengapa Yohanes Masih Menulis Injil Lagi?

Sebelum Yohanes mengambil penanya, tiga Injil lainnya, yaitu Matius, Markus, dan Lukas, sudah lebih dahulu beredar luas di kalangan jemaat.

Kisah kelahiran Yesus, pelayanan-Nya, mujizat-mujizat-Nya, pengajaran-Nya, hingga kematian dan kebangkitan-Nya telah dicatat dengan baik.

Lalu muncul sebuah pertanyaan yang menarik.

Mengapa Yohanes masih menulis Injil yang keempat?

Bukankah semua peristiwa penting tentang Yesus sudah tersedia? Mengapa perlu ada satu Injil lagi?

Pertanyaan itu ternyata dijawab sendiri oleh Yohanes.

“Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini. Tetapi semuanya ini telah dicatat supaya kamu percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh iman memperoleh hidup dalam nama-Nya.” (Yohanes 20:30-31)

Kalimat ini menjadi kunci untuk memahami seluruh Injil Yohanes.

Ia tidak menulis karena kekurangan bahan bacaan tentang Yesus. Ia menulis karena memiliki tujuan yang berbeda.

Di sinilah letak keunikan Injil Yohanes. Ia tidak berusaha menuliskan semua yang Yesus lakukan. Ia justru memilih beberapa peristiwa tertentu agar pembacanya mengenal siapa Yesus sebenarnya. Tujuan akhirnya bukan sekadar menambah catatan sejarah, tetapi membawa setiap orang kepada iman yang hidup di dalam Kristus.

Banyak ahli Perjanjian Baru seperti D.A. Carson, Andreas Köstenberger, Leon Morris, Merrill Tenney, dan Craig Keener melihat bahwa Injil Yohanes memiliki tujuan teologis yang sangat jelas. Yohanes bukan sekadar menyusun kronologi kehidupan Yesus. Ia sedang mengarahkan mata pembacanya kepada Pribadi Yesus.

Karena itu Yohanes hampir selalu menyebut mujizat sebagai “tanda” (semeion).
Mengapa bukan sekadar mujizat? Karena sebuah tanda tidak berhenti pada dirinya sendiri. Tanda selalu menunjuk kepada sesuatu yang lebih besar.

Air berubah menjadi anggur bukan hanya menunjukkan kuasa Yesus mengubah air menjadi anggur. Peristiwa itu menunjuk kepada Yesus sebagai pembawa perjanjian yang baru. Ketika Yesus memberi makan lima ribu orang, Yohanes tidak ingin kita berhenti kagum pada roti yang berlipat ganda. Ia segera membawa kita kepada perkataan Yesus, “Akulah Roti Hidup.”

Ketika Yesus menyembuhkan orang yang buta sejak lahir, Yohanes mengarahkan perhatian kita kepada perkataan Yesus, “Akulah Terang Dunia.” Demikian pula ketika Lazarus dibangkitkan, fokusnya bukan sekadar seorang mati hidup kembali, melainkan kepada pernyataan Yesus, “Akulah Kebangkitan dan Hidup.”

Semakin membaca Injil Yohanes, semakin kita menyadari bahwa mujizat bukanlah tujuan. Mujizat adalah tanda yang menunjuk kepada Pribadi Yesus. Yohanes ingin setiap pembacanya bertanya, bukan hanya, “Apa yang Yesus lakukan?”, tetapi “Siapakah Yesus sebenarnya?”

Ada satu fakta menarik lagi. Dalam bahasa Yunani, kata benda “iman” (pistis) tidak muncul satu kali pun di Injil Yohanes. Sebaliknya, kata kerja “percaya” (pisteuo) muncul sekitar 98 kali. Fakta ini telah lama diperhatikan oleh para ahli Perjanjian Baru.

Pesannya sangat indah. Yohanes tidak ingin iman hanya menjadi sebuah konsep yang kita pahami. Ia ingin kita percaya kepada Yesus. Percaya kepada firman-Nya. Percaya kepada kasih-Nya. Percaya kepada karakter-Nya. Percaya kepada janji-Nya. Iman bukan sekadar sesuatu yang kita miliki di kepala, tetapi hubungan yang terus hidup dengan Kristus.

Saya juga belajar sesuatu ketika membaca Injil Yohanes. Selama ini saya sering membaca Alkitab hanya untuk mengetahui apa yang terjadi. Yohanes mengajak kita melangkah lebih dalam. Setiap selesai membaca satu perikop, cobalah bertanya, “Apa yang Tuhan sedang nyatakan tentang Yesus melalui bagian ini?”

Pertanyaan sederhana itu mengubah cara kita membaca Alkitab. Kita tidak lagi sekadar mengumpulkan pengetahuan, tetapi sedang mengenal Pribadi yang mengubah hidup kita.

Mungkin itulah sebabnya Injil Yohanes menjadi kitab yang paling sering diberikan kepada orang yang baru percaya. Karena tujuan akhirnya bukan membuat kita berkata, “Wah, mujizat Yesus luar biasa.” Melainkan membawa kita kepada pengakuan Tomas,

“Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28).

Semakin kita mengenal Yesus, semakin kita mempercayai-Nya. Dan semakin kita mempercayai-Nya, semakin kita mengalami hidup yang sejati di dalam Dia.

“The more clearly we see Christ, the more naturally faith arises.”

“Semakin jelas kita melihat Kristus, semakin alami iman bertumbuh.”

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Mujizat menarik perhatian kita, tetapi tanda membawa kita mengenal Kristus. Semakin kita mengenal Dia, semakin mudah kita mempercayai-Nya.”

“Miracles capture our attention, but signs lead us to Christ. The more we know Him, the easier it becomes to trust Him.” – Yenny Indra
P. Aku bersyukur telah menemukan Bapa yang tidak pernah meninggalkanku.”

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Lakukan Bagian Kita, Tuhan Akan Melakukan Bagian-Nya!
“Musuh Terbesarmu Bukan Setan, Tapi Pikiran Lama yang Belum Diperbarui”
Kekuatan Injil