Jangan Tinggal di Museum Masa Lalu
Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra
Jangan Tinggal di Museum Masa Lalu
Ada dua jenis orang yang sama-sama berhenti bertumbuh.
Yang pertama, hidupnya terpenjara oleh luka masa lalu.
Yang kedua, hidupnya terjebak dalam kejayaan masa lalu.
Kelihatannya berbeda. Tetapi ujungnya sama.
Mandek.
Tidak ada pertumbuhan.
Tidak ada pencapaian baru.
Dr. Caroline Leaf menjelaskan bahwa ketika seseorang terus memutar ulang pengalaman yang menyakitkan, otaknya akan bereaksi seolah-olah peristiwa itu sedang terjadi sekarang. Tubuh kembali tegang, emosi kembali naik, dan sistem saraf terus hidup dalam mode siaga.
Menurut saya, prinsip yang sama juga bisa terjadi pada kesuksesan.
Bukan tubuh yang terluka.
Tetapi semangat untuk terus bertumbuh yang perlahan mati.
Saya pernah bertemu orang yang hampir setiap kali berbicara selalu memulai dengan kalimat,
“Dulu waktu saya…”
“Dulu perusahaan saya…”
“Dulu pelayanan saya…”
“Dulu saya dipercaya…”
Awalnya menarik.
Tetapi lama-kelamaan saya menyadari sesuatu.
Ceritanya tidak pernah berubah.
Yang berubah hanya usianya.
Tanpa sadar, ia sedang tinggal di museum masa lalu.
Museum memang tempat yang indah untuk dikunjungi.
Tetapi tidak untuk ditinggali.
Masa lalu juga demikian.
Datanglah sesekali untuk belajar.
Jangan membangun rumah di sana.
Andrew Wommack sering mengajarkan bahwa iman selalu bekerja pada saat ini. Bukan kemarin. Bukan besok. Tuhan juga bekerja pada hari ini.
Karena itu saya percaya, Tuhan tidak memanggil kita menjadi kolektor kenangan, tetapi pencipta sejarah baru bersama-Nya.
The Passion Translation dalam Mazmur 139:5 berkata,
“You’ve gone into my future to prepare the way.”
Bayangkan.
Tuhan sudah berada di masa depan kita, sedang mempersiapkan jalan.
Tetapi kita justru sibuk memandangi album foto kehidupan.
Bagaimana mungkin kita melihat pintu baru kalau mata kita terus tertuju pada pintu lama?
Yesaya 43:18-19 berkata,
“Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu… Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru.”
Perhatikan.
Tuhan tidak menyuruh kita melupakan pelajaran masa lalu.
Tetapi Tuhan juga tidak mengizinkan masa lalu membatasi masa depan.
Bagi saya, masa lalu adalah sekolah, bukan alamat rumah.
Belajarlah di sana.
Lalu luluslah.
Jangan tinggal kelas seumur hidup.
Albert Einstein pernah berkata,
“Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.”
Hidup memang seperti mengendarai sepeda.
Selama kita terus bergerak, kita seimbang.
Begitu berhenti terlalu lama, kita mulai kehilangan keseimbangan.
Hal yang sama berlaku dalam kehidupan rohani, pelayanan, bisnis, bahkan karakter.
Orang yang berhenti belajar akan segera tertinggal.
Orang yang berhenti bertumbuh akan segera puas dengan dirinya sendiri.
Padahal Tuhan tidak pernah berhenti bekerja.
Saya juga teringat perkataan John C. Maxwell,
“Change is inevitable. Growth is optional.”
Perubahan pasti terjadi.
Tetapi pertumbuhan adalah pilihan.
Dan saya memilih terus bertumbuh.
Saya ingin ketika bertemu orang sepuluh tahun lagi, saya masih punya cerita baru tentang apa yang Tuhan kerjakan hari ini, bukan hanya kisah indah puluhan tahun yang lalu.
Sebab saya percaya, karya terbaik Tuhan belum selesai.
Selama kita masih diberi napas, selalu ada pelajaran baru.
Selalu ada karakter yang sedang dibentuk.
Selalu ada orang yang bisa diberkati.
Selalu ada visi yang bisa diwujudkan.
Jangan hidup dari kejayaan kemarin.
Hiduplah dari penyertaan Tuhan hari ini.
Karena masa depan tidak dibangun dengan mengulang cerita lama, tetapi dengan melangkah bersama Tuhan setiap hari.
“The more you lose yourself in something bigger than yourself, the more energy you will have.” – Norman Vincent Peale.
“Semakin kita mengabdikan diri kepada sesuatu yang lebih besar daripada diri kita sendiri, semakin besar pula energi yang kita miliki.” – Norman Vincent Peale.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan