Articles

Di Negeri Matahari Tengah Malam: Ketika Sebuah Mimpi Menjadi Kenyataan…


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Di Negeri Matahari Tengah Malam: Ketika Sebuah Mimpi Menjadi Kenyataan…

Sepanjang malam di Narvik tidak pernah benar-benar gelap.
Jam menunjukkan tengah malam, tetapi langit masih terang seperti sore hari di Indonesia.

Tubuh berkata malam.
Mata berkata siang.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya mengalami sendiri Midnight Sun, matahari yang seolah enggan meninggalkan langit.

Aneh.
Tetapi indah.

Pagi itu kami berjalan ke pusat kota Narvik dan berhenti di sebuah papan penunjuk arah yang menjadi ikon kota.

Di sana tertulis:

2407 KM FRA NORDPOLEN

2.407 kilometer menuju Kutub Utara.

Saya tersenyum sendiri.
Tempat yang selama ini hanya saya lihat di atlas sekolah tiba-tiba terasa begitu dekat.
Saya dan suami berfoto di sana sambil menunjuk ke arah utara.
Kadang Tuhan membawa kita ke tempat-tempat yang bahkan tidak pernah terlintas dalam pikiran ketika masih muda.

Sepanjang perjalanan menuju Lofoten, saya terus dibuat kagum.

Norwegia hanya dihuni sekitar 5,5 juta penduduk.
Negara yang luas, tetapi terasa lapang dan tenang.

Udara begitu bersih.
Langit terasa lebih dekat.
Gunung-gunung menjulang tinggi di kiri dan kanan jalan.
Puncaknya masih diselimuti salju putih meskipun ini musim panas.

Di bawahnya terbentang hutan-hutan hijau yang segar.
Sesekali air terjun mengalir dari tebing-tebing batu raksasa.
Airnya jatuh dari ketinggian seperti pita putih yang digantung dari langit.

Kami bahkan berhenti di salah satu air terjun yang sangat cantik.
Berdiri di sana membuat saya merasa kecil.
Betapa besar dan megahnya ciptaan Tuhan.

Lalu tibalah kami di sebuah tunnel yang menjadi gerbang menuju Lofoten.
Panjangnya sekitar enam kilometer.

Yang membuat saya terkejut, tunnel itu tidak sekadar menembus gunung.
Ia melewati dasar laut hingga sekitar 130 meter di bawah permukaan.

Saya membayangkannya sambil tersenyum.

Di atas kami terbentang laut yang luas.
Sementara kami melaju jauh di bawahnya.
Begitu keluar dari tunnel, saya langsung mengerti mengapa banyak orang jatuh cinta kepada Lofoten.

Pemandangan yang menyambut kami benar-benar luar biasa.

Sebuah jembatan panjang membentang di atas fjord.
Di bawahnya laut tenang seperti kaca.
Di kejauhan berdiri gunung-gunung dengan sisa salju di puncaknya.
Cahaya matahari menembus awan dan memantul di permukaan air.
Sulit menggambarkan keindahannya.

Saya hanya bisa berkata,

“Wooow…”

Lofoten terdiri dari gugusan pulau-pulau yang saling terhubung oleh jembatan dan jalan raya.

Jalur yang kami lewati ini merupakan satu-satunya akses utama yang menghubungkan daratan utama Norwegia dengan kepulauan Lofoten.

Sepanjang perjalanan terlihat daratan-daratan kecil yang menjorok ke laut.
Sebagian ditumbuhi cemara.
Sebagian dipenuhi rerumputan hijau dan bunga liar.
Dari kejauhan tampak seperti pulau-pulau mini yang sengaja diletakkan Tuhan untuk mempercantik pemandangan.

Semakin jauh masuk ke Lofoten, semakin indah pula pemandangannya.

Rumah-rumah nelayan berwarna merah dan kuning mulai bermunculan.

Rumah-rumah sederhana itu berdiri di tepi laut dengan latar belakang gunung-gunung megah.

Merah yang terbanyak.
Kuning.
Putih.
Semua warna berpadu sempurna.
Tidak heran rumah-rumah nelayan itu menjadi salah satu ikon paling terkenal di Lofoten.

Sore hari kami berhenti di sebuah tempat yang agak tinggi.
Dari sana terlihat hamparan laut yang tenang dengan rumah-rumah nelayan merah yang tersebar di tepian pantai.

Saya berdiri cukup lama memandangnya.

Pemandangan itu begitu damai.

Tiba-tiba saya teringat sebuah patung bayi yang kami lihat sebelumnya di Narvik.
Di bawahnya tertulis:

“Damai adalah janji bagi masa depan.”

Kalimat itu terus terngiang dalam hati saya.

Namun sebagai orang percaya, saya tahu damai sejati bukan berasal dari keadaan yang tenang.
Damai sejati berasal dari Tuhan.
Karena keadaan bisa berubah.
Cuaca bisa berubah.
Dunia bisa berubah.
Tetapi damai yang Tuhan berikan tetap tinggal di dalam hati.

Mungkin itulah sebabnya perjalanan ini terasa begitu berharga bagi saya.
Bukan hanya karena pemandangannya.
Bukan hanya karena keindahannya.

Tetapi karena saya melihat kembali kesetiaan Tuhan.

Bertahun-tahun lalu Lofoten hanya ada dalam angan-angan.
Lalu menjadi rencana.
Lalu menjadi doa.

Dan hari ini menjadi kenyataan.

Semakin bertambah usia, saya semakin menyadari bahwa kebahagiaan bukan sekadar mencapai tujuan.

Kebahagiaan adalah berjalan bersama Tuhan sampai tujuan itu tiba.

Kadang Dia membawa kita melewati jalan yang tidak pernah kita bayangkan.
Kadang Dia menggenapi mimpi yang sudah lama tersimpan.
Dan ketika kita menoleh ke belakang, kita hanya bisa tersenyum dan berkata:

“Ternyata Tuhan sudah menyiapkannya sejak lama.”

Thank you Lord!

“Some dreams take years to come true. But when they finally do, we realize God has been preparing them all along.” — Yenny Indra.

“Sebagian mimpi membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menjadi nyata. Tetapi ketika waktunya tiba, kita sadar Tuhan sudah menyiapkannya sejak lama.” – Yenny Indra.

YennyIndra
?www.yennyindra.com
?TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
?MPOIN PLUS & PIPAKU
?SVRG
?SWEET O’ TREAT
?AESTICA ID
?PRODUK TERBAIK
?PEDULI KESEHATAN

?#seruputkopiCantik
?#yennyindra
?#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
?#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Saran Siapa Yang Kita Dengarkan?
Coach ‘Kaki’ & MB-Gen
Serba-Serbi Doa Kesembuhan, Part1 – Tentang Gigi