Articles

Ketika Logika Berkata “Jangan”, Tetapi Damai Tetap Tinggal…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Logika Berkata “Jangan”, Tetapi Damai Tetap Tinggal…

Setahun yang lalu, saya melihat sebuah video TikTok tentang Sommarøy, sebuah pulau kecil di Norwegia yang unik.

Saat musim panas, matahari hampir tidak pernah terbenam.

Midnight Sun.

Selama 24 jam langit tetap terang.

Konon, karena tidak ada malam yang sesungguhnya, penduduk setempat pernah mengusulkan agar arloji tidak lagi diperlukan. Orang bisa bermain bola, bekerja, memancing, atau berjalan-jalan kapan saja.

Saya langsung jatuh cinta.

“Wuih… unik sekali.”

Saya suka menulis. Topik yang unik akan dibaca banyak orang.

Tak lama kemudian, bersama beberapa teman, kami sepakat pergi ke sana pada Juni 2026.

Semua berjalan lancar.

DP sudah dibayar.

Acara sudah disusun.

Bahkan beberapa kegiatan tambahan sudah dilunasi.

Rasanya tinggal menghitung hari.

Lalu akhir Februari, dunia berubah.

Perang pecah antara Iran dan Amerika Serikat.

Berita demi berita mulai bermunculan.

Salah seorang sahabat memutuskan membatalkan keberangkatannya karena merasa tidak memiliki damai sejahtera. Menariknya, ketika ia membatalkan perjalanan itu, anak-anaknya justru merasa lega.

Saya mulai berpikir.

“Waduh… apakah perjalanan ini berbahaya?”

“Keputusan apa yang harus saya ambil?”

Apalagi beberapa teman yang sebelumnya bepergian ke Arctic mengalami berbagai gangguan penerbangan akibat situasi geopolitik yang memanas. Ada yang mengalami keterlambatan panjang. Bahkan ada yang harus membeli tiket pulang baru karena perubahan rute penerbangan.

Perang memang tidak bisa diprediksi.

Hari ini aman.

Besok bisa berubah.

Saat itu saya juga berpikir secara realistis.

Kalau membatalkan sekarang, dana yang kembali masih cukup besar.

Kalau menunggu terlalu dekat dengan hari keberangkatan, refund semakin kecil.

Menjelang keberangkatan, situasi belum juga mereda.

Bahkan empat peserta memilih menambah biaya dan mengganti maskapai agar tidak melewati wilayah Timur Tengah.

Sahabat lainnya memutuskan mundur karena trauma terhadap masalah tiket dan kekhawatiran soal keamanan.

Sementara saya, bersama beberapa teman lain, tetap pada rencana semula.

Saya bahkan sempat berpikir lucu.

“Kalau P. Anton Thedy owner TX Travel dan B. Rita, istrinya, tetap berangkat, ya saya ikut saja. Mereka pengusaha besar. Mereka juga tidak mau mati.”

Kami tertawa.

Tetapi di balik candaan itu ada pertanyaan yang serius.

Apa ini iman?

Atau nekat?

Karena hidup memang tidak pernah menawarkan jaminan seratus persen.

Selalu ada unsur ketidakpastian.

Tetapi ketidakpastian bukan berarti kita harus hidup dalam ketakutan.

Saya teringat bahwa sebenarnya sejak tahun 2023 saya dan suami pernah bermimpi mengunjungi Lofoten.

Namun perjalanan mandiri terasa sulit. Jaraknya jauh. Saya tidak bisa menyetir. Kalau suami harus mengemudi sendiri, pasti sangat melelahkan.

Tempat ini sudah lama ada dalam angan-angan saya.

Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Di tengah semua pertimbangan itu, saya belajar sesuatu yang sangat berharga.

Saya belajar mendengarkan suara Tuhan.

Selama ini saya sering mendengar bahwa Tuhan berbicara melalui hati yang dipenuhi damai, bukan melalui pikiran yang dipenuhi berbagai kemungkinan.

Karena itu saya terus memeriksa hati saya.

Berulang kali.

Bagaimana perasaan saya yang paling dalam?

Apakah ada ketakutan?

Apakah ada keraguan?

Apakah ada kegelisahan?

Dan setiap kali saya memeriksanya, jawabannya sama.

Damai.

Aneh memang.

Karena logika saya bisa membuat daftar panjang tentang apa saja yang mungkin terjadi.

Tetapi hati saya tetap tenang.

Bahkan dua sahabat yang akhirnya mundur sempat berkata kepada saya,

“Kamu mah imannya kuat dan berani.”

Gubraaak!

Saya malah jadi galau.

“Jangan-jangan saya nekat ya?”

Lalu dua hari sebelum keberangkatan, muncul lagi berita bahwa Bandara Kuwait diserang Iran. Hancur. Fotonya mengerikan.

Waduh…

Memang Kuwait jauh dari Dubai.

Tetapi tetap saja membuat hati kembali bertanya-tanya.

Saya berdoa meminta hikmat.

Lalu teringat sepupu saya, Lili. Anak lelakinya, Kevin, adalah pilot Qatar Airways.

Saya minta dicarikan informasi.

Jawaban Kevin sederhana.

“Aman kok. Bahkan pesawat ke Kuwait juga tetap terbang.”

Entah mengapa, saya langsung lega.

Dan sekarang saya menulis artikel ini dari Narvik, Norwegia.

Saya tersenyum ketika mengingat seluruh prosesnya.

Bukan karena saya berhasil sampai di sini.

Tetapi karena saya kembali belajar satu pelajaran penting:

Hidup adalah sekolah seumur hidup.

Kita terus belajar membedakan antara ketakutan dan hikmat.

Antara logika dan damai.

Antara kemungkinan terburuk dan pimpinan Tuhan.

Kadang Tuhan memimpin kita untuk berhenti.

Kadang Tuhan memimpin kita untuk tetap melangkah.

Yang penting bukan keputusan orang lain.

Yang penting adalah apakah kita sungguh belajar berjalan bersama-Nya.

Semakin banyak pengalaman bersama Tuhan, semakin saya mengenal-Nya.

Dan semakin saya mengenal-Nya, semakin saya menyadari bahwa Dia jauh lebih setia daripada yang mampu saya pikirkan.

Bagaimana dengan Anda?

Adakah keputusan yang sedang Anda hadapi hari-hari ini?

Mungkin jawabannya bukan ditemukan dengan memikirkan semua kemungkinan yang bisa terjadi.

Mungkin jawabannya ditemukan ketika kita berhenti sejenak… lalu memeriksa keadaan hati kita.

“Never be afraid to trust an unknown future to a known God.” – Corrie ten Boom.

“Jangan pernah takut mempercayakan masa depan yang tidak kita ketahui kepada Tuhan yang kita kenal.” – Corrie ten Boom.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Semakin lama berjalan bersama Tuhan, semakin saya sadar bahwa damai sejahtera sering kali adalah petunjuk yang lebih dapat dipercaya daripada ketakutan.”

“The longer I walk with God, the more I realize that peace is often a more reliable guide than fear.” – Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Fondasi Dasar Pernikahan
Apakah Anda Seorang Ahli Waris, atau Seorang Hamba?
BIBLE & HEALTH