Articles

“Ketika “Maaf” Belum Memperbaiki Jendela yang Pecah…”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Ketika “Maaf” Belum Memperbaiki Jendela yang Pecah…”

Saya membaca sebuah cerita sederhana tentang sebuah jendela yang pecah.

Seorang laki-laki memecahkan jendela rumah seorang perempuan. Ia meminta maaf, dan perempuan itu mengampuninya.
Selesai?

Ternyata tidak.

Setiap malam udara dingin masuk melalui celah jendela. Ketika hujan turun, air masuk ke rumah. Perempuan itu masih merasakan dampak dari sesuatu yang sudah diampuninya.

Akhirnya ia berkata, “Kita perlu memperbaiki jendelanya.”

Laki-laki itu bingung.

“Bukankah aku sudah minta maaf?”

Kalimat sederhana ini sebenarnya menggambarkan banyak hubungan.

Pengampunan dan pemulihan adalah dua hal yang berbeda.

Mengampuni berarti kita memilih untuk tidak menyimpan kesalahan seseorang sebagai utang di dalam hati. Kita menyerahkan penghakiman kepada Tuhan dan tidak membiarkan kepahitan menguasai hidup kita.

Tetapi mengampuni tidak berarti kita harus berpura-pura bahwa jendelanya tidak pecah.

Kalau kepercayaan rusak, mungkin diperlukan waktu untuk membangunnya kembali. Kalau seseorang berulang kali melukai melalui perkataan atau tindakannya, permintaan maaf saja tidak cukup. Dibutuhkan perubahan.

Kata-kata meminta maaf. Karakter membuktikan perubahan.

Karena itu, kita perlu belajar membedakan antara forgiveness, trust, dan reconciliation.

Kita bisa mengampuni seseorang tanpa langsung mempercayainya kembali. Kita bisa mengasihi seseorang tanpa memberikan akses yang sama seperti sebelumnya. Kita bisa berdamai di dalam hati tanpa memaksakan hubungan kembali seperti dahulu.

Ini bukan berarti kita menjadi keras.

Ini berarti kita belajar menjadi bijaksana.

Tuhan mengajarkan kita untuk melihat buah. Seseorang dapat berkata, “Saya sudah berubah,” tetapi perubahan sejati akhirnya terlihat dari cara ia hidup.

Namun ada satu hal yang tidak boleh kita lakukan: menjadikan luka sebagai identitas.

Ya, pengalaman buruk itu nyata. Ada orang yang mengecewakan kita. Ada hubungan yang melukai. Ada kegagalan yang menyakitkan.

Tetapi kita tidak perlu menyebut yang buruk sebagai sesuatu yang Tuhan kerjakan.

Yang baik berasal dari Tuhan. Yang buruk bukan berasal dari-Nya.

Iblis datang untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan. Tuhan datang supaya kita memiliki hidup dan menikmatinya dalam kelimpahan.

Jadi ketika pengalaman buruk datang, jangan berhenti pada pertanyaan, “Mengapa ini terjadi kepadaku?”

Kita dapat berkata,

“Tuhan, aku tidak menerima ini sebagai kehendak-Mu. Tetapi sekarang aku mau melihat bagaimana aku bisa bertumbuh dan keluar dari pengalaman ini sebagai pribadi yang lebih kuat di dalam Kristus.”

Sebab kita tidak selalu dapat memilih pengalaman yang datang kepada kita.

Tetapi kita dapat memilih apa yang akan kita lakukan terhadap pengalaman itu.

Dan ini bukan hanya berlaku untuk pengalaman buruk.

Setiap pengalaman, baik maupun buruk, memberi kesempatan kepada kita untuk naik level dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Pengalaman yang baik mengajarkan kita bersyukur.

Keberhasilan mengajarkan kita bertanggung jawab.

Kegagalan mengajarkan kita mengevaluasi diri.

Kekecewaan mengajarkan kita menjadi lebih bijaksana.

Orang yang melukai kita dapat mengajarkan kita tentang pengampunan, batas yang sehat, dan discernment.

Bukan berarti kita menyebut kejahatan sebagai sesuatu yang baik. Tidak.

Yang buruk tetap buruk. Tetapi kita tidak harus menyia-nyiakannya.

Kita bisa membiarkan pengalaman buruk membuat kita pahit. Atau kita bisa membawanya kepada Tuhan dan bertumbuh melewatinya.

Dulu mungkin kita terlalu mudah percaya. Sekarang kita belajar membedakan.

Dulu kita takut berkata tidak. Sekarang kita belajar berkata tidak tanpa kebencian.

Dulu kita selalu mencari penerimaan manusia. Sekarang kita belajar hidup dari identitas kita di dalam Kristus.

Itulah pertumbuhan.

Bukan menjadi lebih keras, tetapi menjadi lebih matang.

Bukan kehilangan kasih, tetapi belajar mengasihi dengan hikmat.

Bukan hidup tanpa pengalaman buruk, tetapi tidak membiarkan pengalaman buruk menentukan siapa kita.

Mungkin jendelanya pernah pecah.
Tetapi kita tidak harus selamanya tinggal di rumah yang dingin.

Tuhan sanggup memulihkan hati kita dan memakai setiap proses untuk membuat kita semakin kuat, bijaksana, penuh kasih, dan semakin serupa dengan Kristus.

Jadi jangan hanya bertanya,

“Apa yang terjadi kepadaku?”

Tanyakan juga,

“Siapa saya setelah melewati semua ini?”

Karena hidup bukan hanya tentang apa yang terjadi kepada kita.

Hidup juga tentang siapa kita memilih untuk menjadi setelahnya.

Jangan sia-siakan satu pun pengalaman. Yang baik menjadi alasan untuk bersyukur. Yang buruk menjadi kesempatan untuk bertumbuh. Keduanya dapat membuat kita naik level.

“There are no mistakes, no coincidences. All events are blessings given to us to learn from.” – Elisabeth Kübler-Ross.

“Tidak ada kesalahan dan tidak ada kebetulan. Semua peristiwa adalah kesempatan untuk kita belajar.” – Elisabeth Kübler-Ross.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Karakter #Hikmat #RasaSyukur

“Luka boleh menjadi bagian dari ceritamu, tetapi jangan biarkan luka menjadi penulis ceritamu.”

“Wounds may be part of your story, but never let them become the author of your story.” – Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
“Dying To Be Me” Rahasia Hidup Penuh Damai Sejahtera.
Jawaban Doa Tergantung Kita atau Allah?
Memberi dan Menerima: Rahasia Mengalirkan Berkat Tuhan.