Monthly Archives: May 2025

Articles

Yohanes Pembaptis: Sukses Menurut Sorga!”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Yohanes Pembaptis: Sukses Menurut Sorga!”

Dalam ukuran dunia, Yohanes Pembaptis tampaknya “gagal”. Hidupnya pendek, penuh tantangan, diakhiri dengan tragis: dipenggal oleh perintah raja, hanya karena tarian seorang wanita. Ironis, bukan? Padahal dia adalah nabi besar yang mempersiapkan jalan bagi Mesias!

Tapi ukuran Tuhan jauh berbeda. Yesus sendiri berkata, “Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada yang lebih besar dari Yohanes Pembaptis” (Lukas 7:28).
Wow! Itu pujian langsung dari Tuhan sendiri. Jadi… siapa yang sebenarnya sukses?

Yohanes tahu siapa dirinya.
Suatu hari dia melihat Yesus lewat dari jauh, dia menunjuk dan berkata, “Lihat Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.”
Sejak hari itu, murid-muridnya mulai meninggalkannya dan mengikuti Yesus.

Ketika murid-muridnya yang masih mengikutinya, gelisah karena Yesus mulai “menarik perhatian” dan pengikut Yohanes berkurang, dia tetap tenang.

Mereka berkata, “Rabbi, orang yang bersama Engkau di seberang Yordan… lihat, Dia membaptis dan semua orang datang kepada-Nya.” Seolah berkata, “Yohanes, kamu kehilangan pengaruh!”

Tapi Yohanes menjawab bijak: “Seseorang tidak dapat menerima apa pun kecuali diberikan kepadanya dari sorga.” (Yohanes 3:27).
Dan yang lebih dahsyat lagi, dia berkata:
“Ia harus makin besar, dan aku harus makin kecil.”

Apa artinya?
Yohanes paham bahwa tugasnya hanya membuka jalan. Dia bukan Mesias. Bukan pusat perhatian. Dia adalah sahabat mempelai pria, bukan mempelai itu sendiri. Dan itu membuatnya sangat bersukacita!

Yohanes tahu posisinya.
Dia tidak terjebak dengan ukuran dunia: seberapa besar panggungmu, berapa banyak pengikutmu, atau seberapa lama kamu melayani.

Yohanes tidak menemukan identitasnya dalam panggilan, tapi dalam Tuhannya.

Karena kalau kita mengikat identitas pada posisi—entah itu sebagai gembala, pelayan, pengusaha, atau apapun—kita akan goyah saat posisi itu berubah.

Yohanes tetap setia sampai akhir. Bahkan ketika ia harus kehilangan nyawa karena kebenaran yang disampaikannya, dia tidak goyah.

Banyak orang mencibir, “Masa seorang nabi besar mati begitu muda?”

Firman Tuhan pernah berkata tentang Yohanes Pembaptis: Ia adalah pelopor.
Bukan hanya pelopor di dunia, tapi juga pelopor sampai ke dalam kematian.

Yohanes diutus untuk membuka jalan, bukan hanya bagi pelayanan-Nya di bumi, tapi juga agar ia bisa mendahului dan mengumumkan di sorga,
“Dia datang! Dia datang!”

Itulah sebabnya Yohanes harus mendahului-Nya—baik dalam hidup, maupun dalam kematian.
Wow…..luar biasa!

Yohanes memahami perannya. Ia tidak gentar.
Ia berkata dengan penuh keyakinan dan sukacita:
“Aku sedang bertransisi, dan aku sangat bersukacita… karena sekarang aku bisa pergi.”

Sungguh luar biasa. Seorang pelopor sejati yang menyelesaikan bagiannya dengan sempurna—dan membuka jalan, bahkan sampai ke seberang kehidupan.

Ukuran kesuksesan seseorang tidak diukur oleh seberapa lama seseorang hidup di dunia ini, melainkan seberapa baiknya dia menggenapi rancangan Tuhan dalam hidupnya.

Bukankah ini sangat kontras dengan dunia kita sekarang? Banyak orang mengejar panggung, pujian manusia, dan pengikut media sosial. Tapi di mata Tuhan, kesuksesan tidak diukur dari berapa banyak orang yang mengikuti kita, tetapi apakah kita telah menggenapi rancangan Allah dalam hidup kita!

Sebelum kita lahir, bahkan sebelum Tuhan menenun kita dalam kandungan ibu, Ia sudah memiliki rancangan khusus, unik, dan tak tergantikan bagi setiap kita (Mazmur 139:13-16).
Kita lahir bukan kebetulan!
Kita dikirim ke dunia dengan misi surgawi yang hanya bisa digenapi oleh kita. Orang lain mungkin bisa lebih pintar, lebih tampan atau lebih populer, tapi tidak ada yang bisa menggantikan posisi kita dalam rencana Tuhan!

Kunci hidup yang penuh dan utuh adalah: menggenapi rancangan Tuhan. Hanya itu yang membuat kita benar-benar puas. Bukan harta, bukan popularitas, bukan prestasi duniawi. Tapi ketaatan kepada kehendak-Nya.

Yohanes Pembaptis tahu siapa dirinya dan apa misi hidupnya. Ia tidak bingung dengan identitasnya. Ia tidak terikat pada panggilannya sebagai nabi, karena ia tahu siapa dirinya di dalam Kristus. Dan karena itu, ketika tugasnya selesai, ia bisa keluar dari dunia ini bukan dengan kesedihan, tetapi dengan sukacita besar! Ia tahu: “Aku sudah menyelesaikan tugasku.”

Bagaimana dengan kita? Apakah kita hidup mengejar pengakuan manusia, ataukah dengan setia menggenapi bagian kita dalam rencana Tuhan?

Mari hidup seperti Yohanes. Fokus pada tujuan surgawi. Jangan terjebak oleh angka, popularitas atau perbandingan. Surga bersorak bukan karena jumlah pengikut, tapi karena ketaatan kita!

Dan ketika hari kita tiba, kita pun bisa berkata seperti Yohanes, “Sukacitaku penuh… karena aku telah menggenapi bagian yang Tuhan percayakan padaku!”

Itulah sukses sejati menurut Tuhan.
Siap? Yuk….

“The purpose of your life is far greater than your own personal fulfillment, your peace of mind, or even your happiness.” – Rick Warren.*l

“Tujuan hidupmu jauh lebih besar daripada sekadar kepuasan pribadi, ketenangan pikiran, atau bahkan kebahagiaanmu.” – Rick Warren.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Benarkah Firman Tuhan Mengubah Takdir? Hmmm.. Simak Ini!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Benarkah Firman Tuhan Mengubah Takdir? Hmmm.. Simak Ini!

Siapa yang tak ingin mujizat? Kita semua pasti rindu melihat terobosan, kesembuhan, pertolongan Tuhan yang nyata.
Saat masalah besar menimpa, bak badai menggelora…. kita rindu solusi instan.

Dan ternyata, Tuhan mau juga lho memberi solusi instan …
Yeaaaayyyyy…..

Alkisah Yoram, anak Raja Ahab, menjadi raja di Samaria. Setelah ayahnya meninggal, raja Moab memberontak. Ia enggan membayar upeti seratus ribu anak domba dan bulu dari seratus ribu domba jantan.

Lalu Raja Yoram mengajak Yoram, raja Yehuda dan raja Edom bersekutu, memerangi raja Moab.
Mereka sudah siap berperang, tetapi tersesat di padang gurun selama tujuh hari, tanpa air. Lapar, haus, letih—bahaya besar mengintai.

Raja Yoram, anak Ahab, panik dan mulai menyalahkan Tuhan, “Apakah Tuhan membawa kita ke sini untuk membunuh kita?”

Tapi Yosafat, raja yang mengenal Allah, berkata,
“Dengar, aku tahu apa yang kamu katakan. Aku tidak menyangkal situasinya. Aku tahu kita kehabisan air. Aku tahu kita tidak punya persediaan. Tapi… apakah ada nabi Tuhan di sini?”
Ia tahu:satu Firman dari Tuhan dapat mengubah segalanya.

Mereka mendatangi Elisa. Dan saya suka bagaimana Elisa merespons. Ia berkata, “Seandainya bukan karena hormatku pada Yosafat, aku tidak akan memandangmu.” Tapi karena ada orang benar di sana—ada iman—maka Firman Tuhan turun.

Elisa berkata, “Bawakan aku pemetik kecapi.” Ketika pujian dinaikkan, hadirat Tuhan turun… dan Firman Tuhan datang! Bukan strategi militer, bukan motivasi kosong—tapi perkataan langsung dari Tuhan!

“Lembah kering ini akan dipenuhi air. Kamu tidak akan melihat angin atau hujan, tetapi tiba-tiba… air akan muncul!”

Tidak ada air di mana pun. Ternak akan mati, kuda akan mati, semua orang akan mati… tapi Tuhan berkata: “Lembah yang kering ini, situasi keringmu, akan segera berubah!”
Mungkinkah?

Iman datang dari pendengaran—bukan hanya mendengar Firman tertulis, tapi Rhema, Firman Allah yang spesifik dan hidup! Saat Firman itu datang, musim bisa berubah, keadaan bisa berubah dan yang paling mustahil pun bisa terjadi.

Inilah firman Tuhan: Lembah kering ini akan dipenuhi air. Engkau tidak akan melihat angin atau hujan, tetapi lembah ini akan penuh dengan air.” Engkau dan ternakmu dan semua hewanmu akan punya air dalam kelimpahan. Bukan hanya tetesan. Tuhan selalu memberi dengan berlimpah. Dia adalah Allah yang lebih dari cukup. Dia tidak memberi seadanya.

Wow……. Dahsyat!

Mujizat terjadi. Tetapi mari kita renungkan: semua itu dimulai dari Firman Tuhan. Bukan karena kepintaran manusia. Bukan karena kekuatan. Tapi karena suara Tuhan diikuti dengan ketaatan.

Dan perhatikan: mujizatnya “tiba-tiba” muncul. Tidak ada awan. Tidak ada angin. Tapi esok paginya, air mengalir dari Edom. Bumi yang kering menjadi kolam!

Tapi jangan berhenti di situ.

Tuhan memang sanggup melakukan mujizat. Tapi jangan terpukau oleh mujizat. Kejar Firman-Nya!

Banyak orang hanya mengejar mujizat—seperti penonton yang bersorak karena sulap—tapi hidupnya tetap kacau karena tidak pernah membangun fondasi di atas Firman.
Mujizat bisa memulai perubahan, tapi hanya Firman yang bisa menjaga, memperkuat, dan memperbesar hidup kita.

Saya belajar: Firman Tuhan itu kekuatan Tuhan.
God’s Power!

Dia menciptakan dunia dengan Firman. Tuhan menyembuhkan dengan Firman. Firman itulah dasar iman kita.

Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Tuhan.
Tapi bukan sekadar membaca atau mendengar biasa. Kita butuh *Rhema—Firman hidup yang dinyatakan secara pribadi dalam hati kita.*

Dan satu Firman Rhema dari Tuhan, jika kita tangkap, percaya, dan lakukan, itu bisa mengubah takdir kita.
Tetapi kalau hanya didengar tanpa tindakan?
Tidak akan terjadi apa-apa.

Firman tidak bekerja otomatis. Tuhan butuh iman dan respon kita. Tanpa tindakan, takdir tidak berubah.

“Diberkatilah dia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan akan digenapi.”
Penggenapan hanya terjadi bagi orang yang percaya dan bertindak.

Mujizat bisa menarik perhatian kita. Tapi Firman yang akan menopang kita sampai garis akhir.

Jadi hari ini, jika hati kita sedang gersang, jika hidup seperti lembah kering—jangan hanya berdoa minta keajaiban. Cari Tuhan, kejar Firman-Nya, dengar suara-Nya, lalu bertindak sesuai petunjuk-Nya.

Firman-Nya tidak akan gagal.

Mujizat itu luar biasa, tetapi Firman adalah fondasi. Pegang Firman itu dan lihat bagaimana Tuhan mengubah lembah keringmu jadi kolam berkat yang melimpah. Kita pun hidup dalam berkat.

Siap praktik? Yuk…..

*”Miracles come by hearing the voice of God and obeying it.” – Oral Roberts.*

*”Mujizat datang dengan mendengar suara Tuhan dan menaati-Nya. – Oral Roberts.*

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Hidup yang Berdampak: Warisan yang Abadi.

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Hidup yang Berdampak: Warisan yang Abadi.

Ketika saya mengenang pelajaran Steven Covey dalam buku “ The 7 Habits of Highly Effective People” ,
HABIT 2: BEGIN WITH THE END IN MIND – kebiasaan ke dua: Mulailah dengan tujuan akhir dalam pikiran.

Nah saat ikut seminar P. Prasetya M. Brata, kami diberi tugas menulis naskah pidato untuk seseorang yang akan dibacakan saat pemakaman masing-masing. Saya termenung… Jika saya meninggal, saya ingin dikenang sebagai pribadi seperti apa?

Pertanyaan sederhana, namun menggetarkan jiwa. Karena jawabannya tidak akan datang tiba-tiba pada hari kematian kita. Jawaban itu dibentuk oleh keputusan-keputusan yang kita ambil hari ini.

Tuhan memberi saya jawaban lewat kisah Onesiforus.

Dalam 2 Timotius 1:16 KJV tertulis:
“Tuhan memberikan kasih karunia kepada rumah Onesiforus; karena ia sering menyegarkan aku, dan tidak malu akan rantai-ku.”

Wah… satu ayat, tapi dampaknya sampai 2.000 tahun kemudian! Nama Onesiforus hanya disebut dua kali di Alkitab, tetapi efek hidupnya menggetarkan sejarah kekristenan!

Apa yang ia lakukan? Ia menyegarkan Paulus. Mungkin lewat makanan, pakaian, atau bahkan sekadar mendengarkan dan hadir. Yang jelas: ia tidak malu terhadap Paulus, bahkan saat Paulus ada dalam penjara. Ia tekun mencari Paulus di Roma—kota besar, berbahaya, dan penuh risiko. Tapi Onesiforus tidak mundur. Ia tetap setia. Ia hidup sesuai namanya: pembawa manfaat.

Bandingkan dengan Phygellus dan Hermogenes dalam 2 Timotius 1:15—disebut hanya untuk dikenang sebagai pengecut.
Duh… saya tidak mau dikenang seperti itu!

Tindakan kecil Onesiforus, mungkin terlihat remeh saat itu. Tapi karena ia melakukannya dengan kasih dan iman, Tuhan mencatatnya. Bukan hanya dalam kitab, tapi dalam sejarah kekal!

“Tuhan tidak melupakan pekerjaan kasihmu…” (Ibrani 6:10)

Itu sebabnya saya suka menulis kisah-kisah seperti Seruput Kopi Cantik. Bukan sekadar cerita, tapi kesaksian yang mengangkat prinsip-prinsip Tuhan yang bisa diteladani. Pernah seorang teman berkata, “Tulisan ibu seperti pelita. Menuntun saya di tengah gelapnya keputusan.”
Wow… saya terharu.

Ternyata, saat kita menulis kebaikan Tuhan atau melakukan hal kecil dengan kasih—itu bisa menjadi warisan yang memberkati orang lain bahkan setelah kita tidak ada.

“Tulislah sesuatu yang layak dibaca, atau lakukan sesuatu yang layak untuk ditulis.” – Benjamin Franklin

Dan ini alasan saya terus menulis. Saya ingin meninggalkan jejak yang memberkati, bukan sekadar nama di batu nisan.

Onesiforus adalah contoh nyata bahwa tidak harus menjadi pengkotbah besar atau mengukir prestasi yang spektakuler, untuk meninggalkan warisan abadi. Cukup setia. Cukup mengasihi. Cukup hadir. Bahkan di saat sulit.

Matius 10:42 (TB) Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”

Jadi, jangan pernah meremehkan tindakan kasih yang sederhana. Tuhan menghargainya.

Ketika kita hidup dengan tujuan kekal, keputusan kita menjadi berbeda. Kita tidak lagi dikuasai rasa takut atau ego. Karena kita tahu, yang kita bangun bukan hanya reputasi—tetapi warisan rohani.

“Anda tidak kebetulan ada di dunia ini. Tuhan telah menciptakan Anda untuk sebuah tujuan yang luar biasa. Hidup yang paling memuaskan adalah saat Anda menemukan dan mengikuti panggilan yang telah Tuhan rencanakan bagi Anda.” – Rick Warren

Teman-teman, mari kita renungkan:
Apakah hidup kita hari ini akan dikenang dengan sukacita atau disesali orang?
Apakah kita hidup untuk memberi dampak atau sekadar menjalani hari?

Saya percaya…
Hidup bukan tentang berapa banyak yang kita miliki, tapi berapa banyak hidup yang kita sentuh.

Dan ingatlah,Albert Schweitzer (filsuf & dokter peraih Nobel Perdamaian) berkata,

“Example is not the main thing in influencing others. It is the only thing.”

Keteladanan bukan hal utama dalam memengaruhi orang lain. Itu satu-satunya cara.

Maukah kita menjadi seperti Onesiforus?
Membawa manfaat. Menyegarkan sesama. Menjadi berkat.

Hidup seperti itu, akan terus bersuara… bahkan setelah kita diam.
Sesungguhnya, selama orang masih menyebut nama kita, diri kita belum meninggal, kata orang bijak.

Menarik bukan?

“Do all the good you can, by all the means you can, in all the ways you can, to all the people you can, as long as ever you can – John Wesley

“Lakukan segala kebaikan yang Anda bisa, dengan segala cara yang Anda bisa, di semua tempat yang Anda bisa, kepada semua orang yang Anda bisa, selama Anda bisa.” – John Wesley.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Mengampuni: Kekuatan yang Membebaskan

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Mengampuni: Kekuatan yang Membebaskan

Pernah nggak sih, merasa marah banget sama seseorang sampai kita simpan dendam diam-diam di hati? Saya pernah. Rasanya seperti bawa beban tak kasat mata yang melelahkan—ke mana pun pergi, selalu terbawa.

Sampai satu hari saya membaca kutipan ini dari Albert Einstein yang membuka mata saya:

*“Weak people revenge. Strong people forgive. Intelligent people ignore.”*

Wow! Orang lemah membalas dendam, orang kuat mengampuni, dan orang cerdas… mengabaikan!
Saya merenung: Saya ini termasuk yang mana, ya?

Tuhan berkata:
*”Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”*

Tuhan tidak hanya menyuruh kita mengampuni, tapi mengampuni seperti Dia mengampuni kita. Duh… berat ya? Tapi justru di situ letak kekuatannya.

Saya belajar dari pengalaman: mengampuni itu bukan berarti kita membenarkan kesalahan orang lain, tapi kita memilih untuk tidak lagi mengikat diri kita pada rasa sakit yang mereka timbulkan. Mengampuni bukan hadiah untuk mereka, tapi pembebasan bagi diri kita sendiri.

Salah satu pelajaran dari Einstein yang saya suka adalah ini:
*”Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.” -“Hidup itu seperti naik sepeda. Untuk menjaga keseimbangan, Anda harus terus bergerak.”*

Begitu pula saat disakiti—kalau kita diam dan terus mengulang-ulang rasa sakit itu di pikiran, kita jatuh. Tapi kalau kita belajar melepas, bangkit, dan terus melangkah… keseimbangan hidup kembali terjaga.

Saya pernah dikhianati oleh seseorang yang saya bantu dengan tulus. Rasanya… hancur! Tapi saat saya memilih mengampuni, justru saya merasakan damai yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ternyata, saat kita membiarkan Tuhan yang menyelesaikan, Dia yang bertindak.
Tuhan bilang:
*“Pembalasan itu adalah hak-Ku, Akulah yang akan menuntut pembalasan.”*

Dan Dia sungguh setia. Orang itu memang tidak berubah, tapi saya yang dipulihkan.

Waktu membuktikan, orang yang curang dan mengkhianati, kelihatannya gebyar-gebyar pada awalnya…
Tetapi waktu membuktikan, siapa menabur angin akan menuai badai.

Einstein juga berkata:
*”Never do anything against your conscience, even if the state demands it.” – Jangan melanggar suara hati atau keyakinan moral Anda, meskipun pemerintah, otoritas, atau sistem hukum memaksa Anda untuk melakukannya.*

Kadang kita merasa “berhak” untuk membalas atau membenci. Tapi hati kecil kita tahu, itu bukan jalan Tuhan. Kalau kita terus turuti ego, kita yang tersesat.

Ketika kita memilih mengampuni, bukan hanya kita yang dipulihkan—tetapi hidup kita berubah menjadi demonstrasi kebaikan Tuhan.
Tanpa kita sadari, orang-orang mengamati dan berkata, “Aku ingin hidup seperti dia!”
Dan itulah kekuatan dari hidup yang jadi kesaksian.

“Kita berdoa agar kita terus-menerus mengalami kebesaran kuasa Allah yang tak terukur, yang disediakan bagi kita melalui iman. Sehingga hidup kita akan menjadi iklan hidup dari kuasa yang luar biasa ini saat Tuhan bekerja melalui diri kita!”
Karena pada akhirnya, bukan kata-kata yang mengubah hidup orang lain, tapi teladan nyata.
Seperti yang dikatakan sahabat saya, *Ludy Hadiyanto*:
*“Keteladanan adalah suara yang paling lantang, meskipun tanpa bunyi.”*

Ampuni. Lepaskan. Biarkan kasih Tuhan mengalir bebas lewat hidup kita—dan dunia pun melihat, betapa luar biasanya Tuhan yang kita sembah.
It’s all about God, not us.

*”To forgive is to set a prisoner free and discover that the prisoner was you.” – Lewis B. Smedes*

*”Mengampuni adalah membebaskan seorang tahanan dan kemudian menyadari bahwa tahanan itu adalah dirimu sendiri.” – Lewis B. Smedes*

??YennyIndra??
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
?? *MPOIN PLUS & PIPAKU* ??
?? *THE REPUBLIC OF SVARGA* ??
?? *SWEET O’ TREAT*h ??
?? *AESTICA INDONESIA – AESTICA ID* ??
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Pernah nggak sih, merasa marah banget sama seseorang sampai kita simpan dendam diam-diam di hati? Saya pernah. Rasanya seperti bawa beban tak kasat mata yang melelahkan—ke mana pun pergi, selalu terbawa.

Sampai satu hari saya membaca kutipan ini dari Albert Einstein yang membuka mata saya:

“Weak people revenge. Strong people forgive. Intelligent people ignore.”

Wow! Orang lemah membalas dendam, orang kuat mengampuni, dan orang cerdas… mengabaikan!
Saya merenung: Saya ini termasuk yang mana, ya?

Tuhan berkata:
“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”

Tuhan tidak hanya menyuruh kita mengampuni, tapi mengampuni seperti Dia mengampuni kita. Duh… berat ya? Tapi justru di situ letak kekuatannya.

Saya belajar dari pengalaman: mengampuni itu bukan berarti kita membenarkan kesalahan orang lain, tapi kita memilih untuk tidak lagi mengikat diri kita pada rasa sakit yang mereka timbulkan. Mengampuni bukan hadiah untuk mereka, tapi pembebasan bagi diri kita sendiri.

Salah satu pelajaran dari Einstein yang saya suka adalah ini:
“Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.” -“Hidup itu seperti naik sepeda. Untuk menjaga keseimbangan, Anda harus terus bergerak.”

Begitu pula saat disakiti—kalau kita diam dan terus mengulang-ulang rasa sakit itu di pikiran, kita jatuh. Tapi kalau kita belajar melepas, bangkit, dan terus melangkah… keseimbangan hidup kembali terjaga.

Saya pernah dikhianati oleh seseorang yang saya bantu dengan tulus. Rasanya… hancur! Tapi saat saya memilih mengampuni, justru saya merasakan damai yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ternyata, saat kita membiarkan Tuhan yang menyelesaikan, Dia yang bertindak.
Tuhan bilang:
“Pembalasan itu adalah hak-Ku, Akulah yang akan menuntut pembalasan.”

Dan Dia sungguh setia. Orang itu memang tidak berubah, tapi saya yang dipulihkan.

Waktu membuktikan, orang yang curang dan mengkhianati, kelihatannya gebyar-gebyar pada awalnya…
Tetapi waktu membuktikan, siapa menabur angin akan menuai badai.

Einstein juga berkata:
“Never do anything against your conscience, even if the state demands it.” – Jangan melanggar suara hati atau keyakinan moral Anda, meskipun pemerintah, otoritas, atau sistem hukum memaksa Anda untuk melakukannya.

Kadang kita merasa “berhak” untuk membalas atau membenci. Tapi hati kecil kita tahu, itu bukan jalan Tuhan. Kalau kita terus turuti ego, kita yang tersesat.

Ketika kita memilih mengampuni, bukan hanya kita yang dipulihkan—tetapi hidup kita berubah menjadi demonstrasi kebaikan Tuhan.
Tanpa kita sadari, orang-orang mengamati dan berkata, “Aku ingin hidup seperti dia!”
Dan itulah kekuatan dari hidup yang jadi kesaksian.

“Kita berdoa agar kita terus-menerus mengalami kebesaran kuasa Allah yang tak terukur, yang disediakan bagi kita melalui iman. Sehingga hidup kita akan menjadi iklan hidup dari kuasa yang luar biasa ini saat Tuhan bekerja melalui diri kita!”
Karena pada akhirnya, bukan kata-kata yang mengubah hidup orang lain, tapi teladan nyata.
Seperti yang dikatakan sahabat saya, Ludy Hadiyanto:
Keteladanan adalah suara yang paling lantang, meskipun tanpa bunyi.

Ampuni. Lepaskan. Biarkan kasih Tuhan mengalir bebas lewat hidup kita—dan dunia pun melihat, betapa luar biasanya Tuhan yang kita sembah.
It’s all about God, not us.

“To forgive is to set a prisoner free and discover that the prisoner was you.” – Lewis B. Smedes

“Mengampuni adalah membebaskan seorang tahanan dan kemudian menyadari bahwa tahanan itu adalah dirimu sendiri.” – Lewis B. Smedes

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Gereja Lokal: Tempat Berkatmu Mengalir dan Perlindunganmu Dinyatakan!

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Gereja Lokal: Tempat Berkatmu Mengalir dan Perlindunganmu Dinyatakan!

“Saya bisa jadi orang Kristen tanpa ke gereja.” Kedengarannya keren dan independen, ya? Tapi sayangnya, itu bukan kebenaran Firman Tuhan.

Yesus sendiri, seperti tertulis dalam Lukas 4:16, memiliki kebiasaan untuk datang ke rumah ibadat. “Seperti kebiasaan-Nya”—Yesus, Sang Mesias, secara rutin hadir di rumah Tuhan. Kalau Yesus saja melakukannya, bagaimana mungkin kita merasa bisa hidup sebagai murid Kristus tanpa gereja lokal?

Tiap domba butuh gembala.

Tuhan tidak merancang kita untuk berjalan sendiri. Dia menempatkan kita dalam tubuh Kristus, dan setiap bagian tubuh memiliki tempatnya. Karena itu, Tuhan menetapkan gembala—bukan sekadar untuk berkhotbah, tapi untuk membawa perlindungan, arah, dan otoritas rohani dalam hidup kita.

Saya pribadi sangat bersyukur untuk gembala-gembala yang pernah Tuhan tempatkan dalam hidup saya. Firman yang mereka taburkan bertahun-tahun lalu menjadi jangkar iman ketika badai datang. Jangan anggap remeh kehadiran gembalamu—itu kunjungan Tuhan bagimu.

Gembala bukan hanya pengkhotbah. Mereka adalah saluran anugerah. Saat kita mendengarkan firman dari gembala yang Tuhan tetapkan, kita tidak sekadar menerima informasi. Kita sedang menerima impartasi rohani—ada urapan, perlindungan, bahkan mujizat yang mengalir lewat pelayanan mereka. Bukan karena mereka sempurna, tapi karena Tuhan mengurapi mereka.

Iblis tahu ini. Karena itu, dia selalu mencoba memisahkan kita dari tempat Tuhan menanam kita. Ketika kita keluar karena kecewa atau bosan, kita keluar dari perlindungan. Jangan pindah ladang hanya karena rumputnya tampak lebih hijau.

Gereja lokal bukan cuma tempat kita diberkati, tapi tempat kita dibentuk. Di sanalah kita belajar mengasihi, mengampuni, dan membangun tubuh Kristus bersama-sama. Yesus berkata, “Semua orang akan tahu kamu murid-Ku jika kamu saling mengasihi.” (Yohanes 13:35)

Kasih sejati diuji dalam keseharian. Maukah kita tetap mengasihi meski kecewa? Maukah kita mengampuni saat disakiti? Maukah kita tetap setia saat gembala kita sedang lemah?

Persekutuan sejati tidak bisa digantikan dengan Zoom, YouTube, atau tayangan online lainnya.

Di Listra ada seorang yang duduk saja, karena lemah kakinya dan lumpuh sejak ia dilahirkan dan belum pernah dapat berjalan.
Ia duduk mendengarkan, ketika Paulus berbicara. Dan Paulus menatap dia dan melihat, bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan.
Lalu kata Paulus dengan suara nyaring: “Berdirilah tegak di atas kakimu!” Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari. [Kisah Para Rasul 14:8-10 (TB) ]

Mengapa disembuhkan?
Ada urapan dan impartasi yang hanya bisa kita terima saat kita hadir secara fisik dalam komunitas yang Tuhan tempatkan.

Karena pemuda lumpuh itu HADIR, Paulus MELIHAT dia memiliki iman. Ketika diperintahkan dan taat maka mujizat terjadi. Itu kuncinya!

Namun, hasil yang kita peroleh sangat tergantung pada sikap hati kita.

Yesus berkata, “Perhatikan cara kamu mendengar!” (Lukas 8:18)

Dua orang bisa duduk di kursi yang sama, mendengar khotbah yang sama, tapi hasilnya berbeda. Yang satu datang lapar dan haus akan kebenaran, yang lain datang sekadar memenuhi kewajiban.

Saya mengenal seorang wanita yang setia di gerejanya selama bertahun-tahun. Tapi sayangnya, gereja itu tidak mengajarkan firman Tuhan secara utuh—tidak tentang otoritas iman, kuasa perkataan, atau kesembuhan ilahi. Saat terkena penyakit serius, ia hanya berkata, “Kalau Tuhan mau sembuhkan, pasti sembuh.” Ia tidak tahu bahwa kesembuhan itu sudah disediakan dan harus diambil dengan iman. Ia meninggal dalam usia muda. Bukan karena Tuhan tidak peduli, tapi karena ia tidak pernah diajarkan kebenaran yang memerdekakan.

Hosea 4:6 berkata, “Umat-Ku binasa karena tidak berpengetahuan.”

Kita harus tahu siapa gembala kita dan di mana Tuhan menanam kita. Jangan tertipu oleh gemerlap program atau gaya modern. Pilih tempat yang menantang dan menumbuhkan kerohanianmu, bukan yang sekadar menyenangkan perasaanmu.

Gereja lokal adalah tempat Tuhan membangkitkan panggilan kita. Bangkitlah. Ambil posisi kita di sana. Jadilah pelaku, bukan sekadar penonton.

Ini musim kemuliaan. Dan semuanya dimulai dari tempat Tuhan menanam kita: di gereja lokal yang Tuhan tetapkan.

Siap? Yuk….

“We are created for community, fashioned for fellowship, and formed for a family, and none of us can fulfill God’s purposes by ourselves.” – Rick Warren.

“Kita diciptakan untuk hidup dalam komunitas, dibentuk untuk persekutuan, dan dirancang untuk menjadi bagian dari keluarga. Tidak seorang pun dapat memenuhi tujuan Tuhan seorang diri.” – Rick Warren.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3 4