Articles

Gozhali Syndrome.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Gozhali Syndrome.

Saya tidak tahu tentang Gozhali sampai anak-anak menyinggungnya di tengah perbincangan kami.
Segera saya google…
Sultan Gustaf Al Gozhali, wajahnya biasa saja, benar – benar wajah yang umum kita temui di mana saja.

Dulu mindset kita, yang bisa kaya dalam waktu secepat kilat, wajah-wajah cantik dan ganteng, yang melejit berprofesi sebagai artis atau entertainer.
Pokoknya yang kerap muncul di Televisi.

Dan Gozhali mengubah pandangan itu. Hanya dengan posting ribuan fotonya, yang notabene biasa pula… Dalam sekejap bisa meraup duit milyaran rupiah atau justru puluhan milyar? Entahlah.

“Ini lho jaman sekarang, caranya anak-anak muda menjadi kaya… Caranya beneran beda dengan jaman papa mama yang mesti kerja keras,” anak saya menjelaskan,
“Dan umurnya baru 22 tahun Ma… Seumuran Michelle… Keren ya? Jaman ini memang luar biasa.”

Saya pun manggut-manggut sambil bengong. Tidak paham dengan fenomena jaman ini.
Betapa kunonya diriku ini…… Sambil tepok jidat.
Gak mudeng, kata orang Jawa.
Posting foto thok, koq bisa kaya raya…

Orang-orang pun berlomba-lomba meniru apa yang dilakukan Gozhali, berharap mendapatkan rejeki nomplok yang serupa.
Who knows?


Fenomena Gozhali termasuk yang dibahas oleh Dr. Andik Wijaya dalam seminarnya. Ternyata Gozhali itu bukannya terjadi secara natural.
Gozhali itu sudah dipilih oleh ‘kekuatan besar’, dengan pertimbangan yang khusus, sehingga membangun mimpi banyak orang, bahwa kekayaan besar bisa diraih dengan mudah, cara-cara yang tak terduga.
Muncul pendapat di bawah sadar, ngapain juga kerja susah-susah, itu kuno. Jaman sekarang duit itu gampang.

Mengapa Gozhali?
Mengapa Indonesia?
Karena penduduknya banyak. Gozhali itu percontohan. Tidak mungkin ada Gozhali yang ke dua. Kekuatan besar itu akan memilihnya dari negara lain seperti India or China, yang penduduknya banyak pula. Sehingga efeknya akan berlipat ganda, mempengaruhi sangat banyak orang dengan teknik tsb.

Gozhali kelihatannya mendapatkan uang yang sangat banyak, tetapi ‘kekuatan besar’ di baliknya, memperoleh keuntungan yang jauh lebih besar lagi. Konon yang diperoleh Gozhali gak ada apa-apanya dibandingkan keuntungan yang diraup ‘kekuatan besar’ itu.
Ini skenario besar yang mereka buat, yang pada akhirnya merembet pada Money Game dan Metaverse.

“Metaverse juga bukan sekedar ‘dunia baru’. Ada orang-orang yang memperoleh keuntungan di baliknya,” demikian dr. Andik menjelaskan,
“Yang ikut-ikutan kan gak tahu bagaimana mereka membangun perusahaan, mengambil keuntungan dan keluar dari bisnis itu. Ada tujuan dan strategi yang sudah diperhitungkan masak-masak. Itu kelasnya perusahaan dunia. Sedangkan kita yang terseret ikutan berinvestasi, hanya ikut-ikutan ingin menjadi generasi kekinian, tidak tahu strategi bagaimana perusahaan besar melakukannya. Akhirnya, perusahaan besar itu untung besar, sementara kita yang ikut-ikutan gak bisa keluar.”


Saya merenung dan mencerna pelajaran ini.
Saya paham sekarang.

Masih ingat cerita saya beli Apartemen di Johor karena diajari cara berinvestasi yang menguntungkan oleh seorang Motivator Top Indonesia?
Saat itu sang motivator bercerita, beliau memiliki lahan besar kongsi dengan tokoh properti Indonesia, dekat lokasi apartemen yang dijual, di kota Johor Bahru.
Berhektar-hektar. Konon beliau akan membangun proyek besar di sana.

“Apartemen ini murah sekali, ke depan pasti untung. Karena saya gak bisa jual harga segitu di tanah di mana saya berinvestasi,” ujar sang motivator.

Percayalah kami semua. Jadilah nyaris semua peserta, puluhan orang berinvestasi, membeli apartemen di Johor Bahru yang ditawarkannya.

Yang tersimpan di pikiran bawah sadar kami, ingin kaya seperti sang motivator. Ini ‘jalan kebenaran’ menuju kesuksesan.
Sudah sesuai rumus dunia: Belajarlah pada tokoh yang sudah sukses. Bahkan ini berinvestasi di bawah arahan tokoh yang sudah terbukti sukses. Konon tanah sang tokoh lebih mahal daripada apartemen ini. Siiip…
Komplit… Plit… Plit.. Plit…

Tokoh ini sudah kaya raya, gak butuh duit. Dia mengajari kami, sebagai cara mengembalikan berkatnya kepada masyarakat, demikian sang motivator pernah bercerita. Luhur sekali niatnya.

Hingga kini apartemen kami masih ada. Kesulitan jual, karena ternyata kami belinya kemahalan puoolll… 40%. . Disewakan, murah sekali… Seharga kamar kost di Jakarta.
Tidak hanya itu, mau bayar maintanance fee, listrik dan air pun sulit. Tranfer ringgit ke johor gak mudah.

Bagaimana dengan lahan sang motivator?
Sudah dijual dan meraup untung tentunya. Mereka memang ahli di bidangnya. Tahu strateginya, invest dalam jumlah besar, tentu luwes nego ke sana ke mari. Punya koneksi. Kenalannya kelas atas.
Sedangkan kami yang cuma ikut-ikutan, berharap bisa mendapatkan untung, justru buntung.
Persis sama dengan yang dimaksud oleh Dr. Andik tentang Metaverse, hanya beda kasus.

“Jangan ikut-ikutan apa yang kita gak tahu,” pesan Christian.


Efek Gozhali telah membuat kita terbuai dan berharap memperoleh keuntungan-keuntungan besar dalam sekejap. Otak kita menganggap keuntungan money game itu wajar, lha wong Gozhali saja gak pakai modal bisa dapat duit segitu.

Saya paham sekarang, logika yang dijelaskan oleh Dr. Andik Wijaya.
Oh…. Pantesan!
Untung ikut seminar jadi paham.
Otak dan pengetahuan saya memang gak sampai ke sana, tetapi karena saya ikut seminar, belajar dari Dr. Andik, sekarang jadi paham. At least ke depan bisa mengambil keputusan yang lebih bijak.
Tuhan menghendaki kita berhikmat, belajar dan jadilah bijak. Keledai pun tidak jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya….

Gak usah repot-repot berusaha jadi Gozhali ke dua…
Terbukti money game seperti robot trading, hanya memberi keuntungan sesaat. Lalu raib tak berbekas.

Kerja cerdas dan simpan firman Tuhan saja sebanyak-banyaknya dalam hati, ikut resep sukses ala Tuhan yang sudah terbukti berhasil melewati berbagai berbagai generasi dan sukses. Setia dalam perkara kecil, maka Tuhan percayakan perkara-perkara besar. Gak keren memang, tapi itu resep sukses sepanjang jaman.
Ikut God’s Way not Our Way…


Sungguh benar nasehat orangtua, uang itu tidak kenal teman atau saudara, check & re-check.
Kerap ketika mengagumi seseorang, setiap perkataannya ditelan mentah-mentah.

Tidak banyak orang yang betul-betul tulus di dunia ini.
*Andrew Wommack mengajarkan, justru karena itu, jadilah yang tidak banyak itu.
Bersikaplah tulus dan jujur sehingga orang-orang di sekeliling bisa melihat Allah melalui kita.*

Yang mengaku beriman, beribadah dan membawa Nama Tuhan sudah banyak, namun *Andrew mendorong agar kita menjadi bukti hidup yang menjaga perkataan dan tindakan kita sedemikian rupa sehingga orang lain tidak bisa menuduh kita.*

Andrew menolak semobil berdua dengan sekretarisnya, meski dalam perjalanan pulang dari suatu acara, yang hanya 10 menit perjalanan. Memang tidak akan terjadi apa-apa tetapi Andrew sebagai duta Allah, memilih menjauhkan diri dari kemungkinan digosipkan oleh orang yang tidak mengerti.
Lebih baik menghindari ribuan pertempuran yang tidak perlu.

Inilah pelajaran yang sedang saya pelajari sekarang. Ide tulisan ini muncul karena saya sedang persiapan ujian.

Belajar sama-sama yuk…

In our behavior, in the words we write and speak, we can become ambassadors of God’s inspiration. Whenever we strive to lift up others in ways that are good and noble we are serving as radiating centers for God’s inspiration. – Wilferd Peterson.

Melalui perilaku, kata-kata yang ditulis mau pun diucapkan, kita bisa menjadi duta Allah yang menginspirasi. Setiap kali berusaha memotivasi orang lain dengan cara yang baik dan mulia, kita sedang melayani, menjadi pusat pancaran inspirasi dari Tuhan. – Wilferd Peterson.

YennyIndra
TANGKI AIR & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

https://mpoin.com/

SeruputKopiCantik

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
The Best Is Yet To Come.
Forgiveness VS Trust.
Sumber Keraguan.