Articles

Apakah Allah Berdaulat? (Bagian 1).”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Apakah Allah Berdaulat? (Bagian 1).”

Subjek kedaulatan Allah dapat membingungkan bagi sebagian orang. Masalahnya dimulai dengan definisi kata ‘berdaulat.’ Definisi kamus mencakup kata-kata ; tertinggi, superlatif dalam kualitas, kekuasaan tak terbantahkan, tak terbatas, menikmati otonomi, kebebasan dari kontrol eksternal.
Dengan definisi ini tidak ada implikasi dari makna kedaulatan ‘kontrol aktif atas semua peristiwa.’

Kedaulatan Tuhan berarti Tuhan, bukan manusia, yang bertanggung jawab untuk menciptakan dan memelihara segala sesuatu, dan Tuhan memiliki hak istimewa menetapkan hukum serta batas-batas ciptaan-Nya. Namun, begitu diciptakan dan ditetapkan, Tuhan sendiri terikat pada apa yang telah ditetapkan oleh firman-Nya. Di sinilah banyak yang bingung.

Beberapa orang melihat Tuhan sebagai Pribadi yang berubah-ubah dan tanpa aturan perilaku baku. Mereka melihat Dia bertindak sesuai keinginan, campur tangan ketika hal itu menyenangkan Dia dan mengabaikan situasi di mana Dia tidak tertarik. Garis pemikiran ini secara tidak adil menuduh Tuhan dan menyerang sifat kasih-Nya.

Untuk memahami bagaimana kedaulatan Allah mempengaruhi ciptaan-Nya, kita harus kembali ke awal. Dalam Kitab Kejadian kita melihat Allah menciptakan segala sesuatu dengan Firman-Nya. Dia menetapkan ketertiban serta batas-batas yang jelas. Semua makhluk hidup diberi kemampuan untuk bereproduksi, tetapi hanya sesuai ‘jenisnya’. Pohon pinus akan selalu menghasilkan pohon pinus dan anjing hanya akan menghasilkan anjing. Meski pun Tuhan berdaulat, Dia tidak akan mengubah tatanan yang telah Dia tetapkan. Melakukan hal itu akan mendiskualifikasi Dia sebagai Tuhan, karena Firman-Nya tidak akan berubah.

Ketika Tuhan menciptakan manusia, Dia menciptakannya menurut gambar-Nya sendiri. Manusia diperlengkapi untuk mencapai tujuan Allah dalam penciptaan. Manusia diberi kekuasaan dan otoritas atas bumi dan bertanggung jawab untuk mengatur bumi menurut kodrat Sang Pencipta.

Manusia diciptakan dengan identitas (citra) Tuhan, diberkati dengan otoritas (kekuasaan)-Nya, diberkati dengan kemampuan (berkat)-Nya dan diberikan tugas melakukan pekerjaan (tujuan)-Nya untuk menaklukkan bumi, berbuah dan berkembang biak. (Kejadian 1:26-28)

Mazmur 115:16, menyatakan bahwa Allah memberikan bumi kepada anak-anak manusia. Rencana-Nya, agar manusia memperoleh hidupnya dari Tuhan dan untuk mencapai tujuannya selaras dengan kehendak Tuhan. Namun, manusia berdosa.
Dosa itu secara efektif ‘melepaskan’ manusia dari Tuhan. Manusia kehilangan identitasnya, otoritasnya, berkatnya dan tujuannya. Tuhan sekarang menemukan diri-Nya berada di luar, melihat ke dalam, saat hendak berbicara kepada manusia.
Dia telah memberikan bumi kepada manusia, dan manusia karena dosa telah memberikannya kepada iblis (lihat Lukas 4:5-6). Tuhan masih Tuhan dan pemilik ciptaan-Nya, tetapi ‘penyewa’-Nya telah melanggar perjanjian sewa’.

Agar Tuhan bisa ikut campur tangan dalam peristiwa dunia, sekarang Dia harus membuat perjanjian atau ikat-janji alias covenant dengan manusia.
Tanpa membahas secara rinci di sini, kita dapat menemukan perjanjian-perjanjian di seluruh Alkitab yang memampukan Allah untuk berurusan dengan manusia dan ada kalanya menghakimi dosa. Darah harus ditumpahkan agar tercipta perjanjian, dan sistem pengorbanan pun digunakan. Pengorbanan seperti itu pertama kali ditemukan di Taman Eden ketika Tuhan mendandani Adam dan Hawa dengan kulit binatang. Hewan harus mati dan darah mereka ditumpahkan untuk menutupi aurat Adam dan Hawa.

Karena dosa, bagaimana Tuhan sekarang campur tangan dalam urusan manusia?
Apakah Tuhan secara aktif mengendalikan hidup kita, atau apakah Dia secara aktif mengizinkan peristiwa untuk ‘menyempurnakan’ kita?
Sekali lagi kita akan kembali ke rancangan awal untuk memperoleh beberapa pencerahan.
Manusia, yang diciptakan menurut gambar Allah, memiliki kehendak bebas.
Manusia harus memilih, – karena Tuhan tidak menginginkan manusia ciptaan-Nya menjadi robot -, agar manusia mencintai-Nya atas kemauan mereka sendiri.
Supaya kehendak bebas itu ada, harus ada juga pilihan untuk ketidaktaatan. Pilihan itu berasal dari Pohon Pengetahuan Baik dan Jahat.

Kita melihat, Tuhan tidak ikut campur tangan dan menghentikan Adam dan Hawa dari berbuat dosa, Dia bahkan tidak menghentikan ular untuk membujuk Hawa.
Dia tidak melakukannya karena Dia tidak bisa.
Dia telah memberikan bumi kepada manusia dan menyuruhnya untuk menaklukkan dan menjaganya.
Terserah Adam untuk mengambil alih, dan dia gagal.
Tuhan tidak menghentikan Adam dari kegagalan meski pun Dia tahu konsekuensi mengerikan yang dilepaskan ke dalam ciptaan.

Ketika Kain menjadi cemburu pada saudaranya dan membunuhnya, Tuhan tidak campur tangan.
Ini adalah pembunuhan pertama, tragedi pertama yang tercatat sejak kejatuhan manusia.
Mengapa Tuhan tidak menghentikan pembunuhan ini? Mengapa Dia tidak melindungi Habel yang tidak bersalah dan setia dari kematian yang mengerikan?
Fakta bahwa Tuhan tidak campur tangan mengungkapkan banyak hal. Allah dibatasi oleh Firman-Nya. Dia tidak kalah berdaulat, tetapi kedaulatan-Nya telah menetapkan bahwa bumi adalah milik manusia. Dan karena dosa manusia terputus dari kehidupan Allah. Jadi, Tuhan terikat oleh Firman-Nya untuk tidak campur tangan.

Saat kita mengikuti alasan ini di seluruh Alkitab, kita melihat Allah menetapkan perjanjian dan menasihati manusia untuk memilih hidup dan mematuhi agar diberkati.
Itu adalah kehendak Tuhan, tetapi manusia tidak selalu (jarang) melakukan apa yang Tuhan inginkan. Dan manusia menderita.

Untuk menebus umat manusia dan berhasil dalam tujuan-Nya agar memiliki keluarga yang diciptakan menurut gambar-Nya yang mengasihi Dia atas kehendak bebas mereka sendiri, Tuhan harus menemukan manusia sempurna yang dapat mengalahkan dosa (menjalani kehidupan tanpa dosa), mengalahkan musuh/iblis, dan mengalahkan kematian.
Tidak ada manusia yang mampu. Semua dilahirkan dengan sifat yang terpisah dari Tuhan dan dengan demikian tunduk pada dosa, iblis dan kematian.

Oleh karena itu, Allah menjadi manusia (Yesus) dan dilahirkan tanpa dosa. Dia dicobai dalam segala hal namun tanpa dosa. Dia mengalahkan iblis dalam konfrontasi tatap muka.
Dan Dia mengalahkan maut dengan bangkit kembali.

Kemenangan penebusan ini sekarang membuka jalan bagi semua orang yang percaya untuk sekali lagi membawa gambar-Nya, memiliki otoritas-Nya, menerima berkat-Nya dan mencapai tujuan-Nya.

[Repost : “Is God Sovereign? Part 1”, – Barry Bennett, diterjemahkan oleh Yenny Indra].

YennyIndra
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

Klik:
https://mpoin.com/

gospeltruth’scakes

yennyindra

InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Berubah VS Ciptaan Baru.
Merasa Kesepian? Mengasihani Diri Sendiri? Ini Penangkalnya!
“Tuhan Bukanlah Variabelnya.”