Articles, Christianity

Memiliki Hubungan atau Sekedar Beragama?

Memiliki Hubungan atau Sekedar Beragama?

Bagi kita yang sudah menikah, -kita berada dalam hubungan perjanjian pernikahan-, di mana hubungan kita mengalami pertumbuhan, perubahan, dan tantangan selama bertahun-tahun.

Pada tahun-tahun pernikahan kita, diragukan ada dua hari yang persis sama. Setiap hari kita memiliki jumlah komunikasi yang berbeda, tingkat percakapan yang berbeda, kegiatan yang berbeda dan ekspresi cinta yang berbeda (dengan pasangan kita). Tidak ada ritual dalam pernikahan. Ada hari-hari di mana kita mungkin menghabiskan berjam-jam berbicara, sementara hari lain mungkin hanya sedikit atau bahkan tidak berbicara sama sekali, tergantung pada keadaan. Sedikit komunikasi pada hari tertentu, tidaklah membahayakan perjanjian pernikahan. Ada ketenangan dan kedamaian dalam hubungan perjanjian itu.

Saya telah lahir baru selama 47 tahun. Selama waktu itu saya telah bertumbuh, berubah dan memiliki pemahaman yang lebih besar tentang kasih Allah bagi saya. Tidak pernah ada dua hari yang persis sama. Setiap hari saya memiliki jumlah komunikasi yang berbeda dengan Tuhan, demikian pula waktu yang dihabiskan dalam Firman dan dalam kegiatan yang didasari iman saya. Tidak ada ritual dalam hubungan perjanjian saya dengan Allah. Beberapa hari saya menghabiskan waktu berjam-jam dengan Tuhan dan hari-hari lain mungkin tidak ada komunikasi secara sadar sama sekali. Saya tidak pernah sekali pun berpikir bahwa sehari dengan sedikit komunikasi, bisa membahayakan perjanjian saya dengan Tuhan. Saya beristirahat rileks dalam perjanjian itu.

Dalam perjanjian kita dengan Tuhan (covenants), penting sekali memiliki komunikasi yang tulus. Tetapi suatu hubungan adalah persekutuan yang dinamis dan hidup, yang tidak akan sama setiap harinya. Tidak ada rasa bersalah dalam hubungan yang hidup. Itu adalah komitmen saling mengasihi dan memberkati.

Agama bukanlah sebuah hubungan. Agama adalah struktur perubahan perilaku yang terpaksa, penuh persyaratan, dan kewajiban, jika tidak dilakukan, akan menghasilkan rasa bersalah dan menimbulkan keinginan untuk menjauhkan diri. Beberapa pernikahan juga seperti itu. Kehidupan yang sejati, kedamaian, dan sukacita tidak akan pernah ditemukan dalam ikatan agama. Hanya hubungan yang penuh kasih, yang bisa memenuhi hati dengan kehidupan, kedamaian, dan sukacita.

Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Roma 5:1 (TB)

Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. Filipi 4:7 (TB)

Nikmati hubungan kita dengan Tuhan. Beristirahatlah dalam perjanjian-Nya dengan kita.

[Repost: Relationship or Religion? – Barry Bennett.
Diterjemahkan oleh: YennyIndra, Design: Denny Christian]

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
“Mana yang diutamakan? Tuhan atau Keluarga?”
Apakah Tuhan memuliakan Kita?
“Apakah Kita Memiliki Damai Sejahtera-Nya?”