Articles, Christianity

“Kebenarannya Siapa?”

“Kebenarannya Siapa?”

Kata “kebenaran” telah menjadi istilah klise agama, yang telah kehilangan makna bagi banyak orang. Bahkan orang Kristen bingung tentang apa itu kebenaran dan bagaimana menerimanya.
Masyarakat tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang apa yang diperlukan supaya memiliki hubungan dengan Tuhan.

Definisi orang benar menurut Layman’s adalah, “berdiri tegak bersama Allah.”
Kebenaran artinya kondisi di mana berada dalam hubungan yang benar dengan Tuhan. Hal ini hanya dapat terjadi melalui iman dan ketergantungan TOTAL pada Kristus. Tidak ada cara lain, dan tidak ada yang dapat kita tambahkan pada iman kita supaya mendapatkan hubungan yang benar dengan Tuhan, (Roma 11:6).

Salah satu hal yang membutakan manusia terhadap pemahaman yang benar tentang kebenaran itu sendiri, adalah kebingungan bagaimana kita menjadi benar di hadapan Allah. Secara umum dianggap bahwa tindakan kita adalah faktor penentu dalam penghakiman Allah atas kebenaran kita.
Itu tidak benar!
Ada hubungan antara tindakan kita dan posisi kita di hadapan Allah, tetapi hubungan yang benar dengan Allah menghasilkan tindakan, bukan sebaliknya. Dengan kata lain, kita tidak dibenarkan oleh apa yang kita lakukan.

Kebenaranadalah karunia yang datang dari Tuhan kepada mereka yang menerima apa yang telah dilakukan Yesus bagi mereka dengan iman (Roma 5: 17-18).

Karunia keselamatan menghasilkan hati yang berubah, yang pada gilirannya, mengubah tindakan kita. Tindakan tidak bisa mengubah hati kita. Hati manusia itulah yang dilihat Allah (1 Samuel. 16:7), dan kita harus menjadi orang benar di dalam hati, agar dapat benar-benar menyembah Allah (Yohanes 4:24).

Kesalahan berpikir bahwa berbuat benar membuat kita benar adalah kesalahan yang sama dengan yang dilakukan orang Farisi. Agama selalu berkhotbah bahwa jika kita membersihkan tindakan kita, hati kita akan menjadi bersih juga.

Yesus mengajarkan hal yang sebaliknya (Matius 23:25-26).
_Melalui hati yang berubah, tindakan kita berubah._
Hati adalah masalahnya. Tindakan hanyalah indikasi dari apa yang ada di hati kita. Tindakan adalah buah yang dihasilkan hati.

Kekristenan pada jaman modern sering menekankan pada tindakan alih-alih masalah hati. Ini tercermin dari upaya berlebihan orang Kristen untuk membuat hukum-hukum supaya terjadi perubahan dalam tindakan manusia, alih-alih mengubah hati mereka dengan pemberitaan Injil. Injil itulah yang mengandung kuasa Allah, bukan kelompok aksi politik (Roma. 1:16).
Hukum hanya memengaruhi tindakan.

Injil itulah yang mengubah hati. Begitu hati diubah, tindakannya otomatis berubah.

[Repost : “Whose Righteousness?”, – Andrew Wommack, https://www.awmi.net/reading/teaching-articles/whose_righteousness/, diterjemahkan oleh Yenny Indra]

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Theologi Kemakmuran VS Kemakmuran Tuhan Yang Sejati.
“Pilihan Ada Di Tangan Anda!”
“Iman Yang Besar!”