Relationship, Seruput Kopi Cantik

Masa Tua, Yang Jiang & Magdalena Sukartono.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Masa Tua, Yang Jiang & Magdalena Sukartono.

Berbagai tulisan muncul di sosmed, betapa kelamnya kehidupan masa tua. Para lansia yang kecewa telah memberikan segalanya bagi anak-anaknya, tetapi ternyata mereka ‘kurang memperhatikan’ saat mereka tua.
Ada anak-anak yang sukses membanggakan, namun tinggal nun jauh di sana.
Kesepian mendengarkan jam berdetak menanti kematian yang akan menjelang.
Bahkan ada yang merasa menjadi ‘anjing penjaga rumah’ …
Sungguh mengerikan!

Ditengah ramainya artikel semacam ini, seorang teman post tentang novelis bernama Yang Jiang yang menulis hikmat yang indah pada usia 103 tahun. Beliau meninggal di usia 105 tahun pada bulan Mei 2016.
Inilah tulisannya:

Sejak tangisan pertama waktu lahir ke dunia hingga rambut berubah putih, beban perjalanan hidup kita dipenuhi aneka pengalaman duka & suka,  pahit & manis, naik & turun. Selanjutnya, bagaimana kita bisa berbahagia di usia senja bergantung pada kondisi fisik & mental kita

Kebanggaan & kekecewaan hidup sudah ada di belakang kita. Dan sekarang kita melanjutkan hidup keseharian dengan segala rutinitasnya…

Jika kita pernah memimpikan kemewahan hidup dunia, kini kita menyadari bahwa kehidupan terindah & paling berbahagia adalah memiliki pikiran yang tenang & hati yang tentram

Tak perlu bingung menunggu kunjungan anak cucu. Mereka memiliki kehidupan pribadi yg harus diurus. Mereka seperti gasing yang tak berhenti berputar. Terjepit antara orang tua & anak2. Yang tua seperti matahari senja, yang muda bak matahari pagi. Dan tentu saja yg muda lebih mendapatkan banyak perhatian. Itu sudah hukum alam. Itulah siklus perjuangan hidup anak manusia yang tak seorangpun bisa menyangkalnya. Ingatlah bahwa anak2 kita selalu lebih sibuk daripada kita

Dalam hidup entah sebagai suami & istri, atau orangtua & anak. Entah harmonis & intim atau tidak. Masing2 unik & memiliki hidupnya sendiri. Karena itu kita harus belajar mengatasi kesepian dengan menemukan cara menghibur & menyemangati diri sendiri ketika merasa sendirian

Dalam mencapai usia senja, kita memiliki harga diri & kemurahan seperti siklus 4 musim. Masing2 memiliki keindahan & kebaikannya sendiri. Tersenyum & nikmatilah tiap fase kehidupan.

Usia senja adalah awal fase hidup yg baik. Tenang, damai, tidak terburu-buru & sukacita. Kita harus mempertahankan damai sejahtera, tidak terlalu menuntut, lebih legowo & pemaaf. Jangan terlalu GR jika diperhatikan ataupun diacuhkan. Tetap tinggal atau berangkat pergi tidak masalah. Tetaplah tersenyum ketika menyambut hari yg baru & berlakulah baik pada diri sendiri

Jujur & tulus membuat persahabatan langgeng. Jangan mengharapkan balas budi atas apa yg diberikan pada orang lain. Membahagiakan orang adalah prestasi hidup yg besar bukan ?
(Wikipedia: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Yang_Jiang)

Apakah mungkin menjalani hidup seperti itu?
Teladan hidup yang saya saksikan adalah ibu Magdalena Sukartono.
Beliau tetap produktif di usianya yang ke 81 tahun saat ini. Menjadi motivator dan konsultan SDM dari beberapa perusahaan.
Hidup sendiri dengan anjingnya, Ling Ling dan sopir yang datang pagi pulang sore.

Anak-anaknya sukses tinggal di luar kota. Sempat jatuh terpeleset di rumahnya, tetapi Bu Lena tidak mengasihani dirinya sendiri. Bahkan ketika hendak pulang dari Jakarta sendirian, anak-anaknya khawatir, tetapi Bu Lena meyakinkan dia bisa pulang sendiri.

Apa yang terjadi?
Bu Lena selamat tiba di Jogja dengan kesaksian Tuhan mengirimkan banyak ‘malaikat’ penolong dari teman sebangku hingga porter. Hidup orang yang hatinya melekat kepada Tuhan, itu berbeda.
Pertolongan & kasih tersedia di mana-mana.
Seperti biasa beliau post foto dan kisahnya di sosmed.

Tidak hanya itu, kadang beliau mengirimkan artikel hingga video, untuk saya.
“Supaya tulisan Yenny lebih cetar…”, Katanya.

Saya merenung.
Sesungguhnya Bahagia atau Kesepian itu tergantung cara kita memandang kehidupan, mengisinya dan memberikan arti, seperti ajaran P. Prasetya M Brata, guru saya.

Bu Magdalena Sukartono tidak pernah mengalami kesepian dan berbagai macam kisah pilu, karena sikapnya yang positif dan senantiasa memperhatikan orang lain serta berbagi. Beliau terlalu sibuk hingga tidak pernah punya waktu untuk mengasihani diri sendiri. Hidupnya positif, penuh, utuh dan memuaskan.

Saya belum sampai pada tahap itu, tetapi setidaknya saya sudah punya teladan hidup, Bu Magdalena Sukartono.
Hidup masa tua yang saya inginkan.
Jauh lebih mudah meniru jejak seseorang yang sudah berhasil daripada menciptakannya sendiri.
Bagaimana pendapat Anda?

Give to other people and God will give to you. He will give to you more than you gave. He will fill your pocket until no more will go in. It will be so full that it will come out over the top. How you give to other people, God will give to you.

Berilah kepada orang lain, supaya Allah juga memberikan kepadamu; kalian akan menerima pemberian berlimpah-limpah yang sudah ditakar padat-padat untukmu. Sebab takaran yang kalian pakai untuk orang lain akan dipakai Allah untukmu.

YennyIndra
TANGKI AIR & PIPA PVC
MPOIN PLUS
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
www.mpoin.com

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Hal-Hal Sepele Yang Bikin Dunia Gonjang Ganjing.
Kerentanan:Ditunjukkan  atau Disembunyikan?
Hubungan dengan Tuhan & Manusia.