Articles, Christianity

EPAFRODITUS

Tidak banyak orang yang mengenalnya, meskipun nama Epafroditus tertulis di dalam Alkitab. Tokoh yang hampir tidak pernah dikotbahkan, namun tanpa ada Epafroditus belum tentu Rasul Paulus bisa eksis. Dalam Filipi 2: 25-30 Paulus menulis bahwa Epafroditus adalah saudara, teman sekerja dan teman seperjuangan yang telah melayani segala keperluan Paulus. Tidak banyak yang kita ketahui, siapa sesungguhnya Epafroditus ini. Berbeda dengan Timotius yang ditulis secara khusus nama ibu dan neneknya, tidak ada keterangan apapun tentang asal usulnya-berarti Epafroditus memang orang yang biasa-biasa saja namun dengan kualitas kepribadian serta pelayanan yang luar biasa. Kita bisa membaca betapa Paulus sangat  menghargai Epafroditus yang sempat sakit bahkan hampir mati karena Epafroditus mempertaruhkan nyawanya untuk memenuhi apa yang kurang dalam pelayanan Paulus. Akhirnya Tuhan menyelamatkan Epafroditus dan Paulus mengirim Epafroditus ke Filipi.  Luar biasa bukan? Seorang pahlawan yang tidak terkenal. Perlu ketulusan, kasih dan visi yang kuat serta kebesaran jiwa untuk menjadi orang seperti Epafroditus.

Epafroditus adalah contoh dari pelayan Tuhan yang langka pada saat ini. Sebagian besar orang yang melayani Tuhan pada jaman ini, memilih pelayanan yang dilihat dan dihargai banyak orang seperti menjadi song leader, singer terutama berkotbah. Setelah makin top, tidak sedikit yang kemudian ingin mendirikan gereja sendiri. Setelah menjadi pendeta atau penginjil yang makin terkenal, tidak sedikit pula yang memilih-milih mana pelayanan yang persembahan kasihnya besar. Seorang pendeta yang saat masih belum terkenal sangat rendah hati, ketika sudah diundang ke Australia, Singapura-kelas luar negeri- tidak mau lagi jika diundang berkotbah ke kota kecil jika jemaat di gereja itu tidak banyak. Setiap kali bertemu, sekarang yang diceritakan gereja besar mana yang mengundangnya, siapa saja orang-orang top negeri ini yang sudah mengenalnya dan di hotel mana dia menginap. Ini sudah menjadi trend yang umum. Ada standar khusus berapa persembahan kasih dan apa saja fasilitas yang harus disediakan untuk Hamba Tuhan level atas, menengah maupun bawah.

Pada suatu ketika, Christian putra saya, bercerita dia diundang oleh teman-teman lamanya waktu sekolah di Brisbane untuk reuni. Ternyata dalam pertemuan itu ada temannya yang setelah lulus, pulang ke Indonesia kemudian memutuskan menjadi pendeta. Ada juga beberapa teman lain yang mendirikan band untuk lagu-lagu rohani, mereka sudah rekaman. Lalu mereka semua bekerja sama akan mendirikan gereja baru di Indonesia sebagai cabang gereja mereka semasa di Brisbane, Australia. Christian berkomentar, “Kenapa ya … anak-anak yang aktif di gereja koq banyak sekali yang pulang ke Indonesia lalu ingin mendirikan gereja disini? Padahal aku merasa ada beberapa orang yang sebetulnya tidak punya talenta berkotbah sama sekali.” Tentu itu tidak salah. Apalagi jika itu memang panggilan Tuhan. Hanya saja saya sempat berpikir, bukankah sudah terlalu banyak merk gereja di Indonesia? Semua gereja berlomba-lomba membangun kerajaannya masing-masing. Namun berapa banyak yang sungguh-sungguh mempunyai beban untuk menggarami dunia dan menghidupi Amanat Agung Tuhan Yesus? Apakah tidak lebih baik tokoh-tokoh muda seperti itu bergabung dengan gereja yang sudah ada-yang sesuai dengan visi dan misi yang dibebankan Tuhan dalam hidupnya-lalu bekerja sama mengerjakan visi dan misi itu? Bukankah hasilnya akan lebih maksimal?

Jika semua orang ingin menjadi Paulus, lalu siapa yang mau menjadi Epafroditus? Sedangkan tanpa Epafroditus mungkin saja Paulus tidak akan sesukses sekarang. Pelayanan Paulus tidak akan dapat menjangkau daerah yang luas, pengajaran-pengajarannya tidak akan sedemikian hebatnya hingga bisa membukakan pemikiran-pemikiran baru seperti yang kita kenal sekarang. Tidak hanya Epafroditus yang mendukung pelayanan Paulus, namun juga Timotius, Markus dan lain-lainnya. Dalam surat-suratnya, Paulus banyak menyebutkan nama-nama orang dimana dia berterima kasih karena dukungan mereka. Yang lain memang tidak sehebat dan seterkenal Paulus. Mereka bersatu-padu, saling mendukung, tidak memikirkan kepentingan diri sendiri dan tujuan mereka hanya satu yaitu agar Amanat Agung Tuhan Yesus dapat berjalan dengan sukses.

Mungkin saja ide ini bukan sesuatu yang menarik namun perlu kita renungkan. Apa motivasi kita dalam melayani Tuhan? Benarkah Tuhan menginginkan kita untuk full-time di gereja? Menjadi pengusaha atau professional yang sukses namun dengan sepenuh hati menjadikan pekerjaannya sebagai sarana untuk penginjilan-melayani di market-place juga sesuatu yang baik. Tidak perlu semua orang menjadi pendeta dan memiliki gereja sendiri. Jika kita memang sungguh-sungguh dengan tulus ingin melayani Tuhan, tentunya tidak penting siapa yang dapat nama besar. Bukankah promosi datang dari Tuhan? Selain itu upah pelayanan kita yang sesungguhnya bukanlah apa yang kita terima di dunia ini namun bagaimana penilaian Tuhan saat kita bertemu denganNya di Surga kelak. Bagaimana menurut anda?

Sungguh menakjubkan apa yang dapat dicapai

Ketika setiap orang tidak mempedulikan,

siapa yang mendapat nama besar

karena pencapaian itu

Anonim

Teamwork is the ability to cooperate
people in a group
to achieve a common vision.
The ability to accomplish organizational objectives.
It is the fuel for ordinary people
to achieve extraordinary results.
Andrew Carnegie

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
“Apakah Anda Terbebas?”
Mengarahkan Mata Kepada Tuhan. Bagaimana Penerapan Praktisnya?
“Ciptaan Baru.”

Leave Your Comment