Tag Archives: #seruputkopifirmanTuhan #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #mengenalTuhan #FirmanTuhan

Articles

“Hei … Mungkin Anda Sedang Memfitnah Tuhan….”

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

“Hei … Mungkin Anda Sedang Memfitnah Tuhan….”

Dalam Kisah Para Rasul pasal 3, kita membaca kisah Petrus dan Yohanes yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Ketika mereka mendekati Bait Allah, mereka bertemu dengan seorang lumpuh yang sedang meminta-minta. Petrus berkata,

“Apa yang kupunyai, itu yang kuberikan kepadamu: demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” (Kis. 3:6)

Iman Petrus tergerak oleh kebutuhan orang itu. Sebagai wakil Yesus Kristus, *Petrus membawa kesembuhan kepada seseorang yang sama sekali tidak mengharapkan kesembuhan*. Kemudian, ketika Petrus diperiksa oleh para pemimpin agama tentang mujizat itu, ia mengatakan sesuatu yang menarik:
“Kalau kami sekarang harus diperiksa karena suatu perbuatan baik yang dilakukan kepada seorang sakit…” (Kis. 4:9–10)

Petrus menyebut mujizat kesembuhan itu sebagai “perbuatan baik yang dilakukan kepada seorang yang tidak berdaya.”

Dalam kisah ini kita melihat kebaikan Allah, kasih karunia-Nya yang tidak layak kita terima. Petrus tidak menyinggung iman orang lumpuh itu. Ia menyinggung kebaikan Allah.
“Ia menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat. 5:45)

Kebanyakan dari kita, secara sadar atau tidak sadar, memandang Allah sebagai Pribadi yang sewenang-wenang dan menuntut. Kita jarang merasa layak menerima sesuatu yang baik dari-Nya. Kita tahu kelemahan dan kegagalan kita. Kita berusaha memiliki iman, tetapi sering kali kita merasa iman kita tidak cukup.
Tahukah Anda bahwa setiap hal baik yang terjadi di dunia ini, kepada siapa pun itu terjadi, berasal dari Sumber yang sama?
Allah sedang menunjukkan belas kasihan kepada semua orang, baik yang layak maupun yang tidak. Kebaikan-Nya itulah yang dimaksudkan untuk menuntun manusia kepada pertobatan (Rm. 2:4).

Bagaimana jika kita mengizinkan sebuah pengenalan yang baru tentang Allah masuk ke dalam hati kita? Bagaimana jika kita membiarkan kebaikan-Nya menenggelamkan semua keraguan kita?

“Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.” (Mzm. 145:9)

“Sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” (Luk. 6:35)

“Yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuasa, Dia yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.” (Kis. 10:38)

“Sembuhkanlah orang sakit; tahirkanlah orang kusta; bangkitkanlah orang mati; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” (Mat. 10:8)

Jika kita membiarkan pewahyuan tentang kebaikan Allah ini menenggelamkan rasa bersalah dan kelemahan kita, saya percaya kita akan melihat jauh lebih banyak kesembuhan, pemulihan, dan hidup yang diubahkan. Allah ada di pihak Anda, tetapi Anda perlu mempercayainya. Iman Anda tidak akan pernah lebih besar daripada pengertian Anda tentang kebaikan-Nya.

Barry Bennett

—————

Pelajaran dari Barry Bennett ini sungguh membukakan pemahaman, berkata Tuhan itu Allah yang penuh kasih, yang tidak diminta pun Tuhan beri.
Wow….. amazing!

Sementara di sisi lain, ada satu kebiasaan manusia yang sangat rohani di permukaan, tapi sebenarnya tidak jujur di akar.
Kebiasaan itu adalah menyalahkan Tuhan atas akibat dari pilihan sendiri, lalu membungkusnya dengan kata-kata seperti nasib, takdir, atau kehendak Tuhan.

Barry Bennett pernah berkata dengan sangat lugas, dan saya kutip apa adanya:
“Not everything that happens is God’s will. Many things happen because of the choices people make.”

“Tidak semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Banyak hal terjadi karena pilihan yang dibuat orang itu sendiri.”

Kalimat ini sederhana, tapi menghancurkan banyak mitos rohani yang selama ini nyaman kita pelihara.
Masalahnya, banyak orang tidak siap mendengar ini.
Karena kalau ini benar, maka satu hal ikut benar:
kita yang bertanggung jawab atas hidup kita sendiri.

Mari kita jujur lewat contoh sederhana.
Toni suka berfoya-foya.
Gaya hidupnya besar pasak daripada tiang.
Penghasilan pas-pasan, tapi selera kelas atas.
Tidak ada disiplin. Tidak ada pengendalian diri. Tidak ada perencanaan.
Secara matematika saja sudah jelas.
Kalau yang masuk lebih kecil dari yang keluar, itu tinggal menunggu waktu sampai habis. Bahkan minus.
Dan benar saja, akhirnya Toni bangkrut.

Lalu apa yang dikatakan Toni? “Ya mau bagaimana lagi, ini kehendak Tuhan.”
Istrinya menambahkan dengan nada rohani, “Ini cobaan dari Tuhan.”
Lho… tunggu dulu.
Sejak kapan ketidakmampuan mengendalikan keinginan berubah menjadi rencana ilahi?
Sejak kapan Tuhan yang disalahkan karena seseorang tidak mau hidup berdasarkan kebutuhan, tapi terus memuaskan keinginan?

Di titik inilah Tuhan sering difitnah secara halus.
Kata nasib, takdir, dan kehendak Tuhan sering dipakai bukan untuk memuliakan Tuhan, tapi untuk lari dari tanggung jawab.
Dengan kata-kata itu, seseorang bisa tampil sebagai korban, terlihat rohani, sekaligus bebas dari keharusan berubah.
Padahal Alkitab tidak pernah mengajarkan iman yang mematikan tanggung jawab pribadi.

Firman Tuhan berkata dengan sangat jelas:
“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.”
(Galatia 6:7)

Ini bukan ayat penghukuman.
Ini ayat kejujuran.

Alkitab juga berkata:
“Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri, demikianlah ia.”
(Amsal 23:7)

Artinya, hidup kita berjalan mengikuti cara berpikir dan pilihan kita.
Lalu bagaimana kalau sudah terlanjur salah?
Jawabannya bukan drama.
Jawabannya pertobatan.
Dan pertobatan dalam Alkitab bukan sekadar minta ampun sambil mengulang pola lama.
Pertobatan berarti berbalik dari jalan yang salah menuju jalan Tuhan.

Berbalik dari:
Pola pikir lama
Cara hidup lama
Kebiasaan lama
Dan kembali kepada apa yang Tuhan ajarkan.

Firman Tuhan berkata:
“Berubahlah oleh pembaruan budimu.”
(Roma 12:2)

Pertobatan sejati selalu melibatkan perubahan cara berpikir, bukan sekadar perasaan menyesal.
Tuhan tidak mencari korban.
Tuhan membesarkan anak-anak yang dewasa.
Anak yang dewasa berani berkata, “Aku salah memilih. Aku mau belajar. Aku mau berubah.”
Dan di situlah kasih karunia bekerja paling indah.
Bukan untuk membenarkan kesalahan, tetapi untuk memberi kekuatan menjalani perubahan.
Berhentilah menyalahkan Tuhan atas apa yang sebenarnya bisa kita pelajari.
Beranilah bertanggung jawab.

Pertumbuhan dimulai bukan ketika kita mencari kambing hitam rohani, tetapi ketika kita berani bertanggung jawab di hadapan Tuhan.
Dan Tuhan tidak pernah menolak orang yang jujur dan mau berubah.

You cannot escape the responsibility of tomorrow by evading it today.” – Abraham Lincoln.

“Kita tidak bisa lari dari tanggung jawab hari esok dengan menghindarinya hari ini.” – Abraham Lincoln.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Cheryl Salem: Dari Kaki yang Patah 32 Bagian ke Panggung Miss America 1980


Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Cheryl Salem: Dari Kaki yang Patah 32 Bagian ke Panggung Miss America 1980

Dunia mengenalnya sebagai Miss America 1980. Anggun, cerdas, bercahaya. Namun jauh sebelum mahkota itu bertengger di kepalanya, Cheryl sudah lebih dulu dimahkotai surga dengan satu gelar yang jauh lebih mahal: mujizat berjalan.

Usianya baru 11 tahun ketika hidupnya nyaris berakhir. Sebuah kecelakaan mobil yang brutal melemparkannya menembus kaca depan. Mesin mobil menghantam dan menghancurkan kedua kakinya, lalu mendorong tubuhnya kembali keluar. Punggungnya patah. Kaki kirinya hancur di 32 titik. Tidak ada tulang yang tersisa. Hanya kulit yang masih menyambung bagian atas dan bawah.

Ketika Cheryl berusia 5 tahun, keluarganya memiliki toko kecil di desa. Tukang susu bernama Pak Horton datang setiap hari Selasa. Tukang susu itu memberi tahu saya setiap hari Selasa, “Suatu hari nanti, Nak, kau akan menjadi Miss America.”

Dokter-dokter berdiri di sekeliling ranjangnya dan dengan dingin menyatakan vonis,
“Kamu tidak akan pernah bisa berjalan lagi.”
Oleh karena itu, Cheryl menjawab dokter dan berkata, “Anda salah, karena saya akan berjalan di panggung untuk memuliakan Tuhan sebagai Miss America.”

Dokter itu tidak mengamputasi kaki Cheryl karena dokter percaya bahwa Cheryl percaya dia akan menjadi Miss America.

Usia 11 tahun. Tubuhnya tak bisa digerakkan. Kepalanya ditarik, kakinya ditarik. Satu-satunya yang bisa ia gerakkan hanyalah matanya. Namun justru di situlah rahasianya dimulai.

Cheryl dibesarkan di gereja Methodist kecil.
Ia punya sesuatu yang sering hilang pada orang dewasa: hubungan pribadi yang sederhana, jujur, dan nyata dengan Tuhan.

Di tengah keterbatasan total itu, ia menatap langit-langit kamar rumah sakit ke arah “tempat Tuhan tinggal” menurut imannya yang polos, lalu berkata,

“Tuhan, aku bersyukur. Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi aku mengenal Engkau. Dan aku tahu Engkau akan melakukan mujizat bagiku.”

Tidak ada teriakan. Tidak ada drama.
Hanya iman yang dilepaskan.

Malam-malam setelahnya sangat mengerikan. Rasa sakitnya luar biasa. Jadi mereka bernyanyi. Keluarga Cheryl terbiasa bernyanyi bertiga. Di kamar itu hanya ia dan adiknya. Dua saudara laki-lakinya dirawat di kamar sebelah. Menurut medis, semuanya berada di ambang kematian.

Setiap malam, seorang perawat kecil datang. Namanya Bobby. Ia duduk di sana sepanjang malam dan menyanyikan suara ketiga bersama mereka. Lagu demi lagu pujian dinaikkan. Menyembah Tuhan sampai pagi menjelang. Bobby baru pergi saat matahari terbit. Ini terjadi berulang, malam demi malam.

Tiga bulan berlalu. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara medis mulai terjadi. Di kaki kirinya terbentuk kepompong kalsium yang membungkus serpihan-serpihan tulang dan menciptakan tulang baru. Dokter menyerah pada logika. Di catatan medisnya hanya tertulis satu kata: MIRACLE.

Kaki kirinya diciptakan ulang. Kaki kanannya justru bertumbuh lebih panjang hampir lima sentimeter. Tidak seimbang, ya. Tapi Cheryl tidak peduli. Ia punya dua kaki. Ia bisa berjalan. Dan ia memuliakan Tuhan.

Selama enam tahun ia hidup dengan kondisi itu. Dijuluki cacat oleh teman. Disebut cacat oleh guru. Tapi Cheryl tahu siapa dirinya. Ia tidak menyebut dirinya korban. Ia menyebut dirinya mujizat.

Masalah belum selesai. Di usia 17 tahun, dokter kembali bicara. Punggung tidak sejajar. Pinggul bermasalah. Rahim rusak.
Kesimpulannya satu:
“Kamu tidak akan bisa punya anak.”

Kali ini Cheryl tidak hanya berdoa. Ia mencari Firman. Enam minggu ia menggali Alkitab, bukan untuk penghiburan, tapi untuk menemukan apa yang menjadi haknya di dalam Kristus.

21 Oktober 1974, di sebuah hotel tua di Jackson, Mississippi, seorang pengkhotbah bernama Kenneth Hagin melayani.

Seorang ibu murid pianonya berkata, “Aku rasa kamu harus pergi. Tuhan akan menyembuhkanmu.”
Dan Cheryl percaya.

Malam itu, saat didoakan, kaki kirinya bertumbuh sama panjang dengan kaki kanan. Punggungnya sembuh. Tukak lambungnya lenyap.

Saat ia berkata, “Tuhan, berikan aku apa pun yang Engkau mau aku miliki,” Roh Kudus memenuhi hidupnya. Bahasa surga mengalir dari mulutnya.

Lima puluh satu tahun kemudian, Cheryl berkata sambil tersenyum, “Aku berbicara bahasa surga lebih lancar daripada bahasa bumi.”

Beberapa tahun lalu, Cheryl dan adiknya mencoba mencari Bobby.

Dokter lama keluarga mereka berkata, “Tahun 1968, aku tidak punya perawat Afrika-Amerika. Dan tidak ada perawat yang boleh duduk sepanjang malam bernyanyi.”
Lalu ia berkata pelan, “Bobby pasti seorang malaikat.”

Dan memang demikian. Mereka sedang menjamu malaikat saat menyembah-Nya.

Cheryl menutup kesaksiannya dengan satu kalimat yang menghantam lembut,
“Allah punya mujizat. Dan mujizat itu membawa namamu.”
Bukan kemarin. Bukan nanti.
Sekarang.

Pertanyaannya tinggal satu:
Sudahkah kita beriman seperti Cheryl?


“Faith does not eliminate questions. But faith knows where to take them.” – Elisabeth Elliot.

“Iman tidak menghilangkan pertanyaan, tetapi iman tahu ke mana pertanyaan itu harus dibawa”- Elisabeth Elliot.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Benarkah Kematian Karena Tuhan Memanggil?

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Benarkah Kematian Karena Tuhan Memanggil?

Ketika seseorang meninggal, kita sering mendengar kalimat ini:
“Tuhan lebih sayang, jadi dipanggil pulang.”

Kalimat ini terdengar rohani dan menghibur. Tetapi jika kita jujur membaca Alkitab apa adanya, kita akan menemukan satu hal penting: *Tuhan tidak pernah digambarkan sebagai Pribadi yang gemar “memanggil” manusia lewat kematian.*

Pertanyaannya sederhana.
Apakah kematian memang selalu kehendak Tuhan?
Atau justru banyak kematian terjadi karena *free will manusia di dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa?*

Kisah Hizkia memberi kita kejelasan yang sangat kuat.

Dalam Yesaya 38, Tuhan mengutus Nabi Yesaya kepada Raja Hizkia dengan pesan lugas:
“Aturlah rumahmu, sebab engkau akan mati dan tidak akan sembuh.”

Ini bukan kutukan.
Ini peringatan.
Artinya, jika Hizkia terus hidup dengan cara, kondisi, dan pola yang sama, maka konsekuensinya adalah kematian.

Tuhan tidak berkata, “Aku akan memanggilmu sekarang karena Aku lebih sayang.”
Tuhan memberi informasi agar Hizkia punya kesempatan merespons.

Dan Hizkia merespons.
Ia memalingkan wajah ke tembok, merendahkan diri, menangis, dan bertobat.
Belum Yesaya keluar dari pelataran tengah, Tuhan menyuruhnya berbalik.

Hizkia mendapat tambahan usia 15 tahun.

Ini sangat penting.
Kalau kematian Hizkia sudah final karena “panggilan Tuhan”, maka pertobatan tidak akan mengubah apa pun.
Faktanya, *keputusan Hizkia mengubah arah hidupnya*.

Prinsip yang sama terlihat dalam perumpamaan anak bungsu.

Anak itu menghamburkan warisannya dan hidup sembrono.
Jika ia terus mengeraskan hati, kehancuran tinggal menunggu waktu.
Bukan karena ayahnya ingin ia hancur, tetapi karena *konsekuensi dari pilihannya sendiri.*

Namun ada titik balik yang sederhana namun menentukan:
“Lalu ia menyadari…”

Ia memilih bertobat dan pulang. Bahkan ia siap hanya menjadi pegawai.
Dan respons sang ayah bukan hukuman, melainkan pemulihan penuh.

Pesannya jelas.
Bukan ayah yang merencanakan kehancuran anak itu.
Pilihan sang anak yang membawanya jatuh, dan pertobatannya yang membawanya pulang.

Lalu bagaimana dengan kematian di dunia nyata?
Alkitab konsisten mengatakan bahwa kematian masuk karena dosa. Dunia ini sudah jatuh.
Di dunia yang jatuh, ada hukum alam yang rusak, penyakit, kecelakaan, bencana, dan konsekuensi dari tindakan manusia.
Ada juga kematian yang terjadi karena seseorang *tidak peka terhadap peringatan Tuhan,* baik melalui firman, suara hati, maupun situasi.

Nama Franky D. Tanamal sudah tercatat resmi dalam manifest penerbangan ATR 42-500 rute Yogyakarta-Makassar. Secara logika, ia seharusnya ikut terbang.

Namun sore itu, Franky memilih berhenti sejenak dan taat pada dorongan batin yang lembut. Ia mengajukan izin untuk tidak ikut terbang karena harus melayani ibadah di gereja. Tidak ada tanda bahaya, tidak ada firasat menakutkan. Hanya kepekaan untuk tidak melangkah.

Pesawat tersebut kemudian mengalami kecelakaan tragis. Keputusan sederhana itu menjadi pembeda antara hidup dan maut.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa sering kali Tuhan menuntun bukan dengan suara keras, tetapi dengan dorongan lembut yang meminta kita berhenti, mendengar, dan taat.

Ada satu hal lagi, yang jarang dibicarakan secara jujur.

Tidak sedikit orang yang “pulang” karena memang sudah ingin pulang.
Mereka lelah hidup di dunia ini.
Tubuhnya sudah rusak oleh penyakit menahun, usia lanjut, atau penderitaan panjang.
Harapan perlahan padam, dan tanpa disadari, mereka melepaskan keinginan untuk hidup.

Ini bukan berarti Tuhan memanggil.
Ini juga bukan berarti Tuhan tidak mengasihi.
Ini menunjukkan bahwa *free will manusia nyata*, bahkan sampai ke sikap batin terdalam.

Alkitab berkata bahwa hidup dan mati berkaitan erat dengan sikap hati, perkataan, dan pengharapan.
Ketika seseorang menyerah sepenuhnya dan berhenti berharap, tubuh sering kali mengikuti keputusan batin itu.

Tuhan adalah Allah kehidupan.
Yesus berkata Ia datang supaya kita mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam kelimpahan.

Menyederhanakan kematian dengan kalimat “Tuhan memanggil” sering kali justru menutup pelajaran penting:
bahwa pilihan kita hari ini sungguh berdampak pada hidup kita.

Kabar baiknya, seperti Hizkia dan anak bungsu itu, selama masih ada kesempatan untuk merespons Tuhan, arah hidup masih bisa berubah.

Bukan karena Tuhan berubah.
Tetapi karena kita memilih untuk merespons Dia.

“Life is a gift, and it offers us the privilege, opportunity, and responsibility to give something back by becoming more.” – Tony Robbins.

“Hidup adalah anugerah, dan kita bertanggung jawab menjalaninya dengan kesadaran, bukan sekadar pasrah.” – Tony Robbins.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Merasa Kosong & Tidak Puas? Ini Alasannya! Banyak orang menjalani hidup

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Merasa Kosong & Tidak Puas? Ini Alasannya!

Banyak orang menjalani hidup seperti sedang mengikuti arus. Bangun pagi, bekerja, pulang, tidur, lalu mengulanginya lagi esok hari. Kadang kita berpikir hidup ini milik kita, jadi kita bebas menentukan apa pun yang kita mau. Tapi pernahkah kita merasa, meski semuanya tampak baik-baik saja, hati tetap terasa kosong?

Kenyataannya, manusia tidak akan pernah benar-benar puas sebelum ia hidup sesuai rancangan Allah.
Mazmur 139:14–17 berkata bahwa bahkan sebelum kita lahir, Allah sudah menulis hari-hari kita. Dia menenun kita dengan tangan-Nya sendiri, menaruh kepribadian, bakat, dan potensi unik di dalam diri kita. Kita tidak hadir di dunia ini karena kebetulan.

Andrew Wommack menulis, “Anda tidak bisa mengeluarkan apa yang tidak Allah taruh di dalam.”
Betapa dalam kalimat itu! Kadang kita iri dengan kemampuan orang lain, ingin seperti mereka, padahal Tuhan tidak memanggil kita untuk itu.
Kalau Allah menciptakan saya sebagai pelari jarak jauh, maka saya tidak akan bisa berlari cepat seperti sprinter. Saya bisa melatih diri, tapi saya tidak bisa melawan desain Ilahi yang sudah ditetapkan.

Itulah sebabnya banyak orang berjuang keras tapi tetap merasa hampa. Mereka sibuk melakukan banyak hal yang kelihatannya penting, tapi sebenarnya tidak sesuai dengan rancangan Tuhan atas hidupnya.
Kita bisa punya jabatan tinggi, penghasilan besar, tapi kalau itu bukan tempat yang Allah mau, hati kita tidak akan damai.

Andrew berkata, “Allah bermaksud agar kita mengalami kepuasan kehidupan yang dijalani dengan baik.”
Artinya, hidup yang penuh makna bukan ditentukan oleh seberapa banyak kita punya, tapi seberapa selaras kita dengan kehendak Tuhan.
Kepuasan sejati datang saat kita tahu, “Saya berada di tempat yang seharusnya, melakukan apa yang Tuhan mau saya lakukan.”

Kadang Tuhan menuntun kita bukan lewat suara besar dari langit, tapi lewat damai sejahtera di hati. Kalau kita melangkah dalam kehendak-Nya, ada ketenangan batin yang tidak bisa dijelaskan.
Sebaliknya, ketika kita keluar dari jalur itu, hati menjadi gelisah.
Damai sejahtera adalah kompas batin orang percaya.

Buku ini juga menegaskan bahwa Allah tidak memaksa kehendak-Nya terjadi. Ia memberi kita kebebasan untuk memilih. Itu sebabnya banyak orang tidak menggenapi rencana Allah, bukan karena Allah tidak sanggup, tapi karena mereka tidak mau taat.
Tuhan tidak akan menarik kita seperti boneka tali. Ia ingin kita mencari, mengenal, lalu memilih untuk mengikuti-Nya dengan sukarela.

Saya belajar, hidup yang berhasil bukan berarti bebas dari masalah, tapi punya kepastian arah.
Kita tahu kemana sedang berjalan, dan siapa yang menuntun kita.
Ketika kita hidup dalam kehendak-Nya, meski jalannya kadang tidak mudah, hati kita tetap penuh damai dan sukacita.
Itu tanda kita sedang berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat.

Jadi, kalau hari ini hati terasa kosong, mungkin bukan karena ada yang kurang di luar, tapi karena kita belum sepenuhnya berjalan di dalam rancangan Tuhan.
Mulailah dengan doa sederhana, “Tuhan, tunjukkan apa yang Kau taruh dalam diriku, supaya aku bisa hidup sesuai dengan tujuan-Mu.”

Sebab seperti kata Andrew, “Anda tidak bisa mengeluarkan apa yang tidak Allah taruh di dalam.”
Dan saat kita mulai hidup sesuai rancangan-Nya, itulah awal dari hidup yang paling memuaskan.

“The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why.” – Mark Twain

“Dua hari terpenting dalam hidupmu adalah hari kamu dilahirkan, dan hari kamu tahu untuk apa kamu dilahirkan.”
– Mark Twain

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Jangan Kebanyakan Teori, Duduk Saja di Sisi Kanan”…. Nach lho!

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

“Jangan Kebanyakan Teori, Duduk Saja di Sisi Kanan”…. Nach lho!

Robert Liardon, seorang penulis yang dikenal lewat seri God’s Generals, pernah bercerita dengan gaya lugas dan penuh warna tentang pengalamannya bersama Oral Roberts. Ia berkata bahwa Oral Roberts memiliki karunia kesembuhan yang unik—dan hanya bekerja melalui tangan kanannya. Tangan kirinya biasa saja, seperti tangan pada umumnya. Banyak pengkhotbah datang kepadanya, lalu berdebat, mempertanyakan, mencoba mencari-cari rumus bagaimana karunia itu bekerja. Seolah-olah kalau diperas cukup lama, mereka bisa menemukan formula yang bisa direplikasi.

Robert Liardon memilih jalan yang berbeda. “Saya belajar sejak muda,” katanya sambil tertawa, “kalau Anda berada di dekat orang besar, tutup mulut dan ikut saja. Kepala kamu mungkin tidak nangkep, teologi kamu mungkin belum cocok, tapi kalau mereka jalan ke sana, ikut.”

Sadarlah, selalu ada yang mengenal Tuhan lebih baik dari kita. Jangan sok tahu, ikuti saja.. kira-kira demikian.

Dan karena tahu karunia itu mengalir dari tangan kanan Oral Roberts, setiap kali ia berkunjung, Robert akan duduk sedekat mungkin di sisi kanan. Kalau tangan itu mulai bergetar, ia yang kena duluan. “Nenek saya bilang, pukulan pertama itu yang paling dahsyat,” cerita Robert. Praktis, cerdik, dan tidak banyak teori—saya suka sekali gaya seperti itu.

Oral Roberts dan Billy Graham adalah dua figur yang mendefinisikan kekristenan global antara tahun 1950 sampai 2000. Mereka dipakai luar biasa oleh Tuhan tanpa pernah sepenuhnya dimengerti oleh manusia. Dan di sini saya sering tersenyum melihat pola umat Kristen: begitu ada hal supranatural, kita langsung ingin membuat rumusnya. Seolah-olah kalau kita bisa memerasnya sampai kering, kita akan menemukan cara kerja Roh Kudus yang bisa dimasukkan ke dalam “manual book”. Padahal otak kita cuma sebesar cangkir kopi, sementara pikiran Allah seluas samudra Atlantik. Tetap saja kita mencoba memasukkan samudra itu ke dalam cangkir kecil kita.

Guuuuubbrraaaakkk….

Mengapa kuasa kesembuhan Oral Roberts hanya bekerja melalui tangan kanan dan bukan kiri? Jujur saja: saya tidak tahu. Dan kita tidak perlu tahu. Yang jelas, kuasa itu nyata. Orang-orang sembuh. Mujizat terjadi. Dibanding sibuk merumuskan teori yang tak ada habisnya, saya jauh lebih suka sikap Robert Liardon: duduk saja di tempat yang tepat. Kalau Tuhan bergerak, saya mau di posisi yang kena duluan.

Saya sendiri lebih percaya pada buah dan bukti dibanding sekadar janji atau teori.
Saya suka bukti, bukan janji! Itu jargon saya.

Teologi itu penting, tentu saja. Tapi pengalaman pribadi bersama Tuhanlah yang mengubah hidup. Kita bisa hafal banyak ayat, tapi kalau tidak pernah mencicipi hadirat-Nya, semuanya terasa kering. Firman itu untuk dilakukan, bukan cuma diperdebatkan. Kadang kita harus melangkah dulu, mengimani dulu, taat dulu meski belum sepenuhnya paham. Karena terbukti berkali-kali: ketika firman ditaati, apa yang dijanjikan-Nya termanifestasi dalam hidup kita.

Buat apa berputar-putar dalam teori kalau Tuhan menawarkan pengalaman nyata? Roh Kudus hadir untuk menuntun, mengajar, dan menyingkapkan. Bagian kita sederhana: buka hati, lakukan firman, dan melangkah. Nanti Tuhan sendiri yang menunjukkan bahwa Ia setia. Dan bukankah itu yang terpenting?

Menurut saya, iman sejati tidak membutuhkan semua jawaban. Iman berjalan sambil percaya. Seperti Robert Liardon duduk di sisi kanan, siap menerima apa pun yang Tuhan lakukan. Praktis, sederhana, dan efektif. Kadang, justru itu cara paling bijak untuk mengalami Tuhan.

We know the truth, not only by reason, but by the heart.” – Blaise Pascal

“Kita mengenal kebenaran bukan hanya lewat logika, tetapi melalui hati.” – Blaise Pascal

YennyIndra

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGAl
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 5 6 7 8 9 10