Tag Archives: #seruputkopifirmanTuhan #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #mengenalTuhan #FirmanTuhan

Articles

“Jangan Kebanyakan Teori, Duduk Saja di Sisi Kanan”…. Nach lho!

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

“Jangan Kebanyakan Teori, Duduk Saja di Sisi Kanan”…. Nach lho!

Robert Liardon, seorang penulis yang dikenal lewat seri God’s Generals, pernah bercerita dengan gaya lugas dan penuh warna tentang pengalamannya bersama Oral Roberts. Ia berkata bahwa Oral Roberts memiliki karunia kesembuhan yang unik—dan hanya bekerja melalui tangan kanannya. Tangan kirinya biasa saja, seperti tangan pada umumnya. Banyak pengkhotbah datang kepadanya, lalu berdebat, mempertanyakan, mencoba mencari-cari rumus bagaimana karunia itu bekerja. Seolah-olah kalau diperas cukup lama, mereka bisa menemukan formula yang bisa direplikasi.

Robert Liardon memilih jalan yang berbeda. “Saya belajar sejak muda,” katanya sambil tertawa, “kalau Anda berada di dekat orang besar, tutup mulut dan ikut saja. Kepala kamu mungkin tidak nangkep, teologi kamu mungkin belum cocok, tapi kalau mereka jalan ke sana, ikut.”

Sadarlah, selalu ada yang mengenal Tuhan lebih baik dari kita. Jangan sok tahu, ikuti saja.. kira-kira demikian.

Dan karena tahu karunia itu mengalir dari tangan kanan Oral Roberts, setiap kali ia berkunjung, Robert akan duduk sedekat mungkin di sisi kanan. Kalau tangan itu mulai bergetar, ia yang kena duluan. “Nenek saya bilang, pukulan pertama itu yang paling dahsyat,” cerita Robert. Praktis, cerdik, dan tidak banyak teori—saya suka sekali gaya seperti itu.

Oral Roberts dan Billy Graham adalah dua figur yang mendefinisikan kekristenan global antara tahun 1950 sampai 2000. Mereka dipakai luar biasa oleh Tuhan tanpa pernah sepenuhnya dimengerti oleh manusia. Dan di sini saya sering tersenyum melihat pola umat Kristen: begitu ada hal supranatural, kita langsung ingin membuat rumusnya. Seolah-olah kalau kita bisa memerasnya sampai kering, kita akan menemukan cara kerja Roh Kudus yang bisa dimasukkan ke dalam “manual book”. Padahal otak kita cuma sebesar cangkir kopi, sementara pikiran Allah seluas samudra Atlantik. Tetap saja kita mencoba memasukkan samudra itu ke dalam cangkir kecil kita.

Guuuuubbrraaaakkk….

Mengapa kuasa kesembuhan Oral Roberts hanya bekerja melalui tangan kanan dan bukan kiri? Jujur saja: saya tidak tahu. Dan kita tidak perlu tahu. Yang jelas, kuasa itu nyata. Orang-orang sembuh. Mujizat terjadi. Dibanding sibuk merumuskan teori yang tak ada habisnya, saya jauh lebih suka sikap Robert Liardon: duduk saja di tempat yang tepat. Kalau Tuhan bergerak, saya mau di posisi yang kena duluan.

Saya sendiri lebih percaya pada buah dan bukti dibanding sekadar janji atau teori.
Saya suka bukti, bukan janji! Itu jargon saya.

Teologi itu penting, tentu saja. Tapi pengalaman pribadi bersama Tuhanlah yang mengubah hidup. Kita bisa hafal banyak ayat, tapi kalau tidak pernah mencicipi hadirat-Nya, semuanya terasa kering. Firman itu untuk dilakukan, bukan cuma diperdebatkan. Kadang kita harus melangkah dulu, mengimani dulu, taat dulu meski belum sepenuhnya paham. Karena terbukti berkali-kali: ketika firman ditaati, apa yang dijanjikan-Nya termanifestasi dalam hidup kita.

Buat apa berputar-putar dalam teori kalau Tuhan menawarkan pengalaman nyata? Roh Kudus hadir untuk menuntun, mengajar, dan menyingkapkan. Bagian kita sederhana: buka hati, lakukan firman, dan melangkah. Nanti Tuhan sendiri yang menunjukkan bahwa Ia setia. Dan bukankah itu yang terpenting?

Menurut saya, iman sejati tidak membutuhkan semua jawaban. Iman berjalan sambil percaya. Seperti Robert Liardon duduk di sisi kanan, siap menerima apa pun yang Tuhan lakukan. Praktis, sederhana, dan efektif. Kadang, justru itu cara paling bijak untuk mengalami Tuhan.

We know the truth, not only by reason, but by the heart.” – Blaise Pascal

“Kita mengenal kebenaran bukan hanya lewat logika, tetapi melalui hati.” – Blaise Pascal

YennyIndra

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGAl
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Memberi dan Menerima: Rahasia Mengalirkan Berkat Tuhan.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Memberi dan Menerima: Rahasia Mengalirkan Berkat Tuhan.

Pernahkah kita merasa sulit memberi karena takut kekurangan? Pikiran logis manusia selalu berkata: kalau memberi, berarti berkurang. Tetapi Firman Tuhan mengajarkan hal yang berbeda. Memberi bukan membuat kita kekurangan, tetapi justru membuka jalan bagi Tuhan untuk mengalirkan berkat-Nya.

Paulus menulis, “Barangsiapa menabur sedikit, akan menuai sedikit juga. Barangsiapa menabur banyak, akan menuai banyak juga.” (2 Korintus 9:6). Ini bukan peribahasa rohani. Ini hukum Tuhan—setegas hukum menabur dan menuai dalam pertanian.

Seorang petani tidak pernah berharap panen tanpa menabur. Ia rela menanam sebagian hasilnya ke tanah, karena tahu benih itu tidak hilang. Benih itu hanya “ditanam”—untuk kembali dalam bentuk panen yang berlipat. Begitu pula dengan memberi. Uang yang kita taburkan di tangan Tuhan bukan lenyap; itu sedang ditanam dalam ladang rohani, menghasilkan panen—baik di dunia ini maupun dalam kekekalan.

Masalahnya, banyak orang ingin menuai besar tetapi tidak pernah menabur. Mereka ingin diberkati tanpa mau memberi. Itu seperti petani yang berharap panen padi tanpa menanam satu butir pun. Prinsip Tuhan selalu dimulai dari tindakan iman: kita memberi dulu, baru menerima. Tuhan tidak bisa memberkati sesuatu yang tidak kita lepaskan.

Namun sangat penting mengerti: Tuhan tidak melihat nominal, tetapi hati.

Andrew Wommack menegaskan, seorang miliuner bisa memberi satu juta dolar dan tetap pelit, sementara orang sederhana yang memberi seribu rupiah bisa dianggap murah hati. Karena Tuhan menilai motivasi, bukan angka.

Ada orang memberi hanya karena ingin diberkati. Mereka menabur bukan karena kasih, tetapi karena ingin menuai. Memberi dengan tujuan mengharapkan imbalan seratus kali lipat bukanlah iman yang murni, melainkan bentuk rohani dari keserakahan. Inilah akar teologi kemakmuran—mengutamakan berkat, bukan Pemberi Berkat.

Kita tidak memberi untuk memanipulasi Tuhan. Kita memberi sebagai respons kasih dan ucapan syukur. Tuhan tidak bisa ditipu dengan “strategi rohani.” Ia melihat kedalaman hati kita.

Seperti anak yang berkata “Aku cinta Mama,” padahal niatnya minta hadiah. Kata-katanya benar, tetapi motivasinya salah. Tuhan ingin kita memberi karena cinta kepada-Nya, bukan karena kalkulasi.

Karena itu Paulus mengingatkan, “Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan. Sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Korintus 9:7).
Kata “sukacita” berasal dari hilaros—akar kata hilarious. Tuhan menyukai pemberian yang lahir dari kegembiraan yang tulus.

Nancy Dufresne pernah berkata, “Memberi bukan tindakan emosi, melainkan keputusan iman yang dipimpin Roh Kudus.”

Berkat Tuhan selalu terdiri dari dua bagian: benih dan roti.
Benih untuk ditabur, roti untuk dimakan.
Artinya, tidak semua yang kita terima harus diberikan. Ada bagian untuk kebutuhan, ada bagian untuk kembali ditaburkan. Hikmat terletak pada membedakan mana benih, mana roti.

Karena itu, bijaksana kalau kita mulai melatih diri menyisihkan bagian untuk memberi:

– untuk gereja tempat kita bertumbuh,
– untuk menolong orang yang membutuhkan,
– untuk misi dan pelayanan Injil,
– untuk keluarga dan kebutuhan pribadi.

Memberi bukan reaksi sesaat karena provokasi, tetapi keputusan yang lahir dari doa, persekutuan dengan Tuhan, dan pimpinan Roh Kudus.

Saat memberi lahir dari kasih, selalu ada damai sejahtera. Tidak ada ketakutan akan kekurangan. Sebab kita tahu: tangan yang memberi selalu dijaga Tuhan. Andrew berkata, “Kalau Tuhan bisa mengalirkan uang lewat kita, Ia akan mengirimkannya kepada kita.”

Tuhan mencari saluran, bukan waduk.
Jika setiap kali diberkati kita menyalurkannya kembali untuk pekerjaan Tuhan dan menolong orang lain, Ia akan mempercayakan lebih banyak kepada kita—karena alirannya tetap bersih dan tidak mandek di tangan kita.

Memberi yang cerdas bukan hanya memberi “perbuatan baik,” tetapi memberi sesuatu yang berdampak kekal. Itu sebabnya saya suka membagikan buku-buku rohani yang membangun. Satu buku bisa mengubah kualitas hidup seseorang. Dan perubahan itu masuk kategori “buah kekekalan”—yang tidak bisa hilang.

Hukum memberi dan menerima dalam kerajaan Allah sangat berbeda dari cara dunia. Dunia berkata, kalau memberi berarti kehilangan. Tetapi Tuhan berkata, memberi dengan hati benar justru membuat kita berkelimpahan.

“Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepadamu, supaya kamu senantiasa memiliki segala kecukupan dalam segala hal dan berkelimpahan dalam setiap pekerjaan baik.” (2 Korintus 9:8)

Guru saya, Greg Mohr, selalu berkata: Tuhan ingin kita berkelimpahan—artinya cukup untuk diri sendiri dan ada extra untuk memberkati orang lain. Bukan supaya kita hidup mewah, tetapi supaya kita mampu memberi lebih banyak. Kita diberkati untuk menjadi berkat.

Ketika kebutuhan kita tercukupi dan kita tetap murah hati, banyak orang akan memuji Tuhan. Itulah tujuan berkat: memuliakan Allah. Tuhan tidak menilai berapa banyak yang kita beri, tetapi seberapa banyak kasih yang terkandung di dalamnya.

Dan ketika kasih menjadi alasan kita memberi, berkat akan datang bukan karena kita mengejarnya—tetapi karena Tuhan melihat bahwa kita bisa dipercaya menjadi saluran berkat-Nya.

“As God is exalted to the right place in our lives, a thousand problems are solved all at once- including why and how we give.” – A.W. Tozer.

“Ketika Allah ditinggikan pada tempat yang benar dalam hidup kita, seribu masalah terselesaikan sekaligus-termasuk mengapa dan bagaimana kita memberi.” – A.W. Tozer.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Stop Menunggu Perasaan, Mulai Dari Ketaatan

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Stop Menunggu Perasaan, Mulai Dari Ketaatan

Salah satu jebakan paling halus dalam kehidupan rohani adalah ini: kita terlalu sibuk menunggu perasaan. Merasa siap dulu. Merasa penuh kuasa dulu. Merasa berani dulu. Merasa diurapi dulu. Baru setelah itu mau melangkah.

Padahal iman tidak pernah bekerja dengan sistem tunggu perasaan. Iman bekerja dengan ketaatan.

Banyak orang berkata,
“Aku belum merasa ada kuasanya.”
“Aku belum merasa siap pelayanan.”
“Nanti kalau rohaninya sudah lebih kuat.”

Masalahnya, kalau kita terus menunggu perasaan, kita bisa berhenti di situ sampai tua. Bahkan sampai napas terakhir.

Reinhard Bonnke pernah menulis bahwa baptisan Roh Kudus memberikan kuasa yang permanen, tetapi bukan perasaan berkuasa yang permanen. Ini penting sekali. Jangan salah ukur.

Alkitab sendiri berkata,
“Kami mempunyai harta ini dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” (2 Korintus 4:7)

Kuasa itu ada. Tapi dibungkus dalam tubuh rapuh, perasaan naik turun, kondisi yang tidak selalu ideal.

Bonnke memberi ilustrasi tentang kabel listrik bertegangan tinggi. Dari luar kelihatannya biasa saja, entah sedang dialiri listrik atau tidak. Tapi saat arus mengalir, kuasanya nyata.

Begitu juga kita. Kuasa Tuhan di dalam kita tidak untuk terus dirasakan, tetapi untuk dipakai saat dibutuhkan.

Saya pernah mengalami ini sendiri. Dalam masa kelelahan dan tekanan, waktu itu saya tidak merasa rohani sama sekali. Tidak ada perasaan “diurapi”. Tidak ada semangat meluap-luap. Yang ada hanya rasa lelah. Tapi ada tugas pelayanan yang harus dijalankan. Tidak ada pilihan mundur.

Dan saya bertindak dengan iman.

Waktu mulai melangkah, waktu mulai berbicara, waktu mulai setia melakukan bagian saya, sesuatu terjadi. Bukan karena saya tiba-tiba merasa kuat, tapi karena Tuhan setia pada janji-Nya.

“Yesus berkata: Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku…” (Kisah Para Rasul 1:8)

Perhatikan, bukan berkata: “Kamu akan merasa kuat.”
Tetapi: “Kamu akan menerima kuasa.”

Kuasa itu bukan sensasi. Kuasa itu realitas rohani.

Sering kali masalah kita adalah ingin merasakan dulu baru melangkah. Padahal Tuhan mau kita melangkah dulu baru mengalami.

Dalam 2 Timotius 1:7 tertulis,
*“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”

Roh yang membangkitkan kekuatan. Artinya kekuatan itu ada. Tinggal mau atau tidak kita memakainya.

Tapi ada satu hal yang harus jujur kita akui: Tuhan tidak memaksa.

Dia bertanya, seperti di Yesaya 6:8,
“Siapakah yang akan Kuutus? Dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”

Bukan siapa yang paling siap.
Bukan siapa yang paling merasa berkuasa.
Tapi siapa yang mau.

Karena di Kerajaan Allah, tidak ada wajib militer. Ada ketaatan sukarela.

Banyak orang berdoa supaya Tuhan memberi mereka “dorongan kuat” sampai akhirnya mereka tidak bisa menolak. Mereka ingin dipaksa jadi rajin, dipaksa berani, dipaksa melayani. Tapi itu bukan cara kerja Tuhan.

Tuhan menghormati kehendak kita.

Yakobus 2:17 mengingatkan,
“Iman tanpa perbuatan adalah mati.”

Iman yang cuma menunggu perasaan, tapi tidak melangkah, tidak akan pernah melihat kuasa itu bekerja.

Kuasa Tuhan itu bukan seperti lampu hias yang bikin kita merasa hangat. Kuasa Tuhan itu seperti mesin yang bekerja saat kita menekan pedal.

Kalau kita tidak menekan, tidak akan ada gerakan.

Jangan tunggu merasa berani. Lakukan yang benar.
Jangan tunggu merasa kuat. Ambil langkah iman.
Jangan tunggu merasa diurapi. Ketaatan lebih berharga dari sensasi.

Karena firman Tuhan juga berkata:
“Orang benar akan hidup oleh iman.” (Roma 1:17)

Bukan oleh perasaan.
Bukan oleh mood.
Bukan oleh suasana hati.

Dan pelajaran terbesarnya adalah ini:
Saat kita berdiri dan melangkah, meskipun hati kosong dan tubuh lelah, di situlah kuasa Tuhan sering bekerja paling nyata.

Bukan karena kita kuat.
Tapi karena Dia setia.

Praktik yuuuk….

“Faith doesn’t wait for feelings. It acts on God’s Word.” – Reinhard Bonnke.

“Iman tidak menunggu perasaan. Iman bergerak berdasarkan Firman Tuhan” – Reinhard Bonnke.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Saat Aku Berhenti Membahas Roh Kudus dan Mulai Hidup Bersama-Nya.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Saat Aku Berhenti Membahas Roh Kudus dan Mulai Hidup Bersama-Nya.

Beberapa hari ini hati terasa hangat dan dalam saat membaca kutipan Kathryn Kuhlman: “I never met the Holy Spirit as a doctrine. I met Him as a person, and He changed my life forever.”

Saya tidak pernah menemui Roh Kudus sebagai doktrin. Saya bertemu Dia sebagai pribadi, dan Dia mengubah hidup saya selamanya.” – Kathryn Kuhlman

Bukan sekadar indah, tapi seperti menegur dengan lembut. Dia tidak bicara soal konsep, tidak bicara soal teori. Dia bicara soal perjumpaan. Dan *dari perjumpaan itulah hidupnya berubah selamanya.*

Saya jadi berpikir, berapa banyak dari kita yang mengenal Roh Kudus hanya sebagai “pelajaran”, bukan sebagai Pribadi?
Kita tahu istilahnya. Kita hafal ayatnya. Tapi belum tentu kita memberi Dia ruang sebagai Sahabat dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal Roh Kudus itu bukan energi. Bukan suasana. Bukan efek rohani. Dia Pribadi yang hidup, yang menyertai kita ke mana pun kita pergi. Tidak terpisahkan dari orang yang sudah lahir baru. Dia bukan datang ketika kita di gereja, lalu pergi saat kita pulang. Tidak. Dia tinggal di dalam kita, di dalam hati. Setiap detik. Di mobil, di dapur, di kamar, di tengah kesibukan, bahkan dalam kelelahan.

Yesus sendiri berkata,
“Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.”Yohanes 16:7

Ini kalimat yang luar biasa. Yesus tahu, selama Dia masih dalam tubuh fisik, kehadiran-Nya dibatasi ruang dan waktu. Dia hanya bisa ada di satu tempat. Tapi Roh Kudus berbeda. Dia bisa tinggal di dalam hati setiap orang percaya, di mana pun kita berada. Bukan cuma dekat. Bukan cuma menemani. Tapi diam di dalam.

Inilah keistimewaan zaman kita, yang hidup dalam Perjanjian Baru. Tapi sering kali kita justru memperlakukan Dia seperti tamu, bukan seperti penghuni rumah. Padahal Dia seharusnya menjadi Pribadi utama dalam kehidupan kita. Yang kita ajak bicara. Yang kita dengar pendapat-Nya. Yang kita libatkan dalam keputusan kecil maupun besar.

Roma 8:26-28 menulis bahwa Roh Kudus menolong kita dalam kelemahan kita. Bahkan ketika kita tidak tahu bagaimana harus berdoa, Dia sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Ini bukan bahasa rohani yang puitis. Ini realitas rohani yang sangat praktis. Ada saat-saat di mana kita bingung, buntu, lelah, bahkan tidak tahu apa yang harus kita katakan kepada Tuhan. Di situlah Roh Kudus bekerja.

Bayangkan ini. Kita terdiam, penuh pertanyaan, tidak tahu arah. Tapi di level roh, Roh Kudus sedang “menghubungkan” kita dengan Bapa. Dia menyampaikan isi hati kita yang paling dalam, yang bahkan tidak bisa kita rangkai dengan kata-kata. Lalu dari hadirat Bapa, jawaban itu “didownload” ke dalam roh kita. Dari roh, masuk ke pikiran. Lalu pelan-pelan kita mulai mengerti apa yang harus dilakukan. Langkah apa yang harus diambil. Sikap apa yang perlu diubah.

Ini bukan mistik. Ini pengalaman iman yang nyata.

Andrew Murray berkata,
“The Holy Spirit is the one who makes Christ real in the hearts of believers. – Roh Kuduslah yang membuat Kristus nyata dalam hati orang percaya.”

Itulah sebabnya penting sekali untuk tidak mengabaikan Dia. Berbicara dengan Dia. Curhat dengan Dia. Diskusi dengan Dia. Perlakukan Dia bukan sekadar sebagai “penghibur kalau kita sedih”, tapi sebagai Penuntun hidup setiap hari. Roh Kudus menghibur, iya. Tapi Dia juga menegur, mengingatkan, mengajar, membela, bahkan kadang membongkar isi hati kita supaya kita bertumbuh.

Yang menyentuh saya dari kisah Kathryn Kuhlman adalah kesaksian orang-orang di sekelilingnya. Mereka bilang, kedekatan Kathryn dengan Roh Kudus membuat orang-orang lebih mudah menerima mujizat. Perhatikan. Bukan karena dia berteriak lebih keras. Bukan karena karismanya. Tapi karena hubungannya.

Itu yang membuat saya terdiam. Ternyata kunci bukan di teknik, tapi di relasi. Bukan di metode, tapi di kedekatan. Dan kabar baiknya, Tuhan tidak memandang muka. Kita pun bisa hidup dalam keintiman seperti itu. Tidak harus jadi pengkhotbah besar. Tidak harus ada di mimbar internasional. Cukup dimulai dari kehidupan sehari-hari. Dari hati yang mau mendengar. Dari keputusan untuk memberi ruang.

Mungkin kita tidak langsung melihat “mujizat besar” seperti Kathryn. Tapi kita akan melihat perubahan dalam diri. Kepekaan yang makin lembut. Pikiran yang makin jernih. Damai yang makin stabil. Dan tanpa kita sadari, orang di sekitar kita pun ikut menikmati hasilnya.

Yuk kita belajar. Bukan sekadar tahu tentang Roh Kudus, tapi benar-benar hidup bersama Dia. Kata Kathryn, dia bertemu Pribadi, bukan doktrin. Dan perjumpaan itulah yang mengubah segalanya.

“We need no more education about the Holy Spirit. We need an encounter with Him.” – A.W. Tozer.

“Kita tidak membutuhkan lebih banyak pendidikan tentang Roh Kudus. Kita membutuhkan perjumpaan dengan Dia” – – A.W. Tozer.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

kepercayaan Diri Yang Sejati, Bagaimana Membangunnya?

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

kepercayaan Diri Yang Sejati, Bagaimana Membangunnya?

Pernahkah kita kehilangan rasa percaya diri karena gagal, ditolak, atau dibandingkan? Rasanya seperti semua yang kita lakukan salah. Tapi kebenarannya, rasa percaya diri bukan sesuatu yang datang begitu saja. Itu dibangun — perlahan, setia, langkah demi langkah — dengan memilih untuk mempercayai apa yang Tuhan katakan tentang kita, bukan apa yang dunia katakan.

Saya belajar bahwa percaya diri bukan perasaan, tapi keputusan. Saat kita berhenti mengulang naskah yang ditulis oleh si musuh — kata-kata seperti “Aku gak mampu,” “Aku gak layak,” “Aku selalu gagal” — dan mulai mengucapkan Firman Tuhan, sesuatu di dalam kita mulai berubah. Pikiran diperbarui, hati dikuatkan, dan roh kita selaras dengan kebenaran.

Alkitab mengajarkan bahwa iman bekerja lewat pengakuan (Filemon 1:6). Kita menjadi seperti apa yang kita katakan. Ketika kita berkata, “Aku adalah ciptaan baru” (2 Korintus 5:17), “Aku dikasihi Tuhan” (Roma 8:38-39), “Aku mampu melakukan segala sesuatu dalam Kristus” (Filipi 4:13), itulah cara kita membangun kembali rasa percaya diri yang sejati. Bukan dengan usaha keras menutupi kelemahan, tapi dengan membangun fondasi yang kokoh dalam identitas kita di dalam Kristus.

Saya pun pernah merasa hancur dan kehilangan arah. Tapi saya menemukan, setiap kali saya memilih untuk mempercayai Firman Tuhan dan mengucapkannya — walau masih gemetar — kepercayaan diri saya mulai tumbuh kembali. Satu deklarasi, satu kebiasaan kecil, satu tindakan iman. Tuhan tidak menuntut kita sempurna, Dia hanya ingin kita percaya dan bertindak sesuai iman itu.

Rasa layak bukan sesuatu yang datang ketika semuanya sudah beres. Itu dibangun — momen demi momen, keputusan demi keputusan. Kita menunjukkan pada diri sendiri bahwa kita bisa tetap berdiri bahkan ketika keadaan sulit. Kita bisa gagal tanpa hancur. Kita bisa menepati janji pada diri sendiri bahkan ketika tak ada yang melihat. Itulah latihan batin yang membentuk rasa percaya diri sejati: disiplin, ketekunan, dan rasa hormat pada diri sendiri — karena kita tahu siapa yang tinggal di dalam kita (1 Yohanes 4:4).

Selama bertahun-tahun, banyak orang — termasuk saya dulu — mengira bahwa nilai diri datang dari pencapaian: prestasi, kontrol, atau penampilan sempurna. Tapi ternyata, “kinerja tanpa kedamaian” hanyalah ketakutan yang disamarkan sebagai kedisiplinan. Kita tampak kuat, tapi sebenarnya sedang melarikan diri dari rasa tidak cukup yang belum disembuhkan.

Proses pemulihan mengajarkan hal yang sederhana tapi mengubah hidup: kita tidak perlu menghasilkan kelayakan. Kita hanya perlu menghidupinya. Dengan integritas, keselarasan, dan konsistensi. Saat kita memilih berkata, “Aku cukup,” bukan karena semuanya sudah sempurna, tapi karena kita hadir dan setia menjalani prosesnya — di situlah keajaiban mulai terjadi.

Saya belajar satu hal indah: kita ini hanyalah pena di tangan Tuhan. Kita memang menulis dengan kesungguhan, menjalani bagian kita dengan iman dan tanggung jawab. Tapi sesungguhnya, Tuhanlah Sang Penulis Agung yang menulis kisah hidup kita (Mazmur 139:16).

Keyakinan sejati muncul ketika kita berhenti mencoba mengontrol segalanya, dan mulai percaya bahwa Dia sedang menulis sesuatu yang indah, bahkan dari kesalahan kita sekalipun. Tugas kita adalah taat dan percaya. Saat kita menulis dengan tangan iman, Tuhan mengisi halaman demi halaman dengan anugerah dan mujizat-Nya (Roma 8:28).

Dan inilah rahasianya: percaya diri sejati selalu berhubungan dengan panggilan hidup yang Tuhan beri. Kita tidak akan pernah benar-benar percaya diri kalau kita hidup di luar tujuan-Nya. Sebab keyakinan terbesar muncul saat kita tahu — “Aku sedang melakukan apa yang Tuhan panggil aku lakukan. Untuk itulah aku ada di dunia ini.”
Seperti yang sering diingatkan:

“God won’t judge us by what we did on earth, but by whether we did what we were called to do.” – John Bevere.

“Tuhan tidak akan menilai kita berdasarkan apa yang kita lakukan di bumi, tetapi berdasarkan apakah kita melakukan apa yang Tuhan panggil untuk kita lakukan.”- John Bevere

Ingat kisah orang kerasukan di Gerasa (Markus 4:35–5:20)? Saat Yesus dan murid-murid-Nya menyeberang danau menuju daerah itu, tiba-tiba badai besar menghadang perahu mereka.
Why?
Karena musuh tahu Yesus akan membebaskan seseorang yang sangat berpotensi. Orang itu dikuasai ribuan roh jahat — namun begitu Yesus menyembuhkannya, hidupnya berubah total. Ia menjadi murid pertama Yesus di Dekapolis, yang terdiri dari sepuluh kota besar, bahkan menjadi penginjil pertama di daerah non-Yahudi. Musuh tahu masa depan orang ini penting, karena itu ia mencoba menggagalkan perjalanan Yesus dengan badai. Tapi gagal!
Begitu juga kita — jika badai datang, bisa jadi karena ada tujuan besar Tuhan yang sedang menanti di seberang.

Percaya diri sejati lahir dari kesadaran itu: aku melakukan bagian kecilku, tapi Tuhanlah yang mengarahkan seluruh kisah. Itu sebabnya kita bisa tenang, bahkan di tengah ketidakpastian. Kita percaya diri bukan karena semua sudah jelas, tapi karena kita mengenal Pribadi yang menulis cerita ini — dan Dia tidak pernah gagal.

Kita tidak perlu “menemukan diri sendiri,” karena sebenarnya diri sejati kita sudah ada di dalam Kristus. Yang kita butuhkan adalah menghormati diri kita sendiri melalui tindakan-tindakan kecil yang benar — kebiasaan yang sejalan dengan Firman, keputusan yang menunjukkan bahwa kita dapat dipercaya oleh Tuhan dan diri kita sendiri.

Percaya diri sejati tidak lahir karena hidup menjadi mudah. Itu tumbuh ketika kita belajar melewati hal sulit dengan kasih karunia. Ketika kita berhenti berusaha lebih keras dan mulai menjadi lebih utuh. Karena kita tahu: kita menulis, tetapi Tuhanlah yang menentukan akhir ceritanya.

“When you speak God’s Word, you remind your soul who you really are.”
— Andrew Wommack

Saat kamu mengucapkan Firman Tuhan, kamu mengingatkan jiwamu siapa dirimu sebenarnya.”— Andrew Wommack

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 4 5 6 7 8