Category : Articles

Articles

Apa Yang Membuat Thomas Fuller Istimewa?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Apa Yang Membuat Thomas Fuller Istimewa?

Thomas Fuller, yang dikenal juga sebagai “Negro Tom” atau “Virginia Calculator,” adalah seorang Afrika yang diperbudak dan lahir di Benin pada tahun 1710.

Fuller, yang dibawa ke Amerika sebagai budak pada tahun 1724, dikenal karena kemampuan kalkulasi mentalnya yang luar biasa dan kemampuannya yang luar biasa dalam matematika.

Dalam kehidupan akhirnya, ia ditemukan oleh aktivis anti-perbudakan yang menjadikannya contoh untuk menunjukkan bahwa orang kulit hitam sama sekali tidak kalah cerdas dibandingkan orang kulit putih, terutama dalam kemampuan akademik.

Kemampuan Fuller menjadi terkenal ketika dua pria, Hartshorne dan Coates, mengujinya dengan beberapa pertanyaan matematika yang rumit.

Pertanyaan pertama adalah menghitung jumlah detik dalam satu setengah tahun.

Fuller memberikan jawaban yang akurat, yaitu 47.304.000 detik, hanya dalam waktu sekitar dua menit.

Pertanyaan kedua adalah menghitung jumlah detik dalam kehidupan seseorang yang berumur 70 tahun, 17 hari, dan 12 jam.

Fuller menjawab 2.210.500.800 detik hanya dalam satu setengah menit.

Ketika salah seorang pria tersebut menuduhnya keliru, Fuller dengan cepat mengoreksi mereka dengan mengingatkan tentang tahun kabisat, yang menunjukkan keakuratan perhitungannya.

Pertanyaan ketiga lebih kompleks: jika seorang petani memiliki enam ekor babi betina, dan setiap babi betina memiliki enam anak babi betina per tahun, serta semuanya terus berkembang biak dengan cara yang sama hingga delapan tahun, berapa jumlah total babi?

Fuller menjawab 34.588.806 dalam waktu sepuluh menit.

Meskipun membutuhkan waktu lebih lama, jawaban tersebut benar, hanya sedikit tertunda karena kesalahpahaman awal tentang pertanyaannya.

Meskipun berusia lanjut, Fuller tetap menunjukkan kecerdasannya meskipun hidup sebagai seorang budak dan bekerja keras di pertanian.

Ia tidak pernah tergoda dengan minuman keras dan selalu berbicara dengan hormat kepada tuannya, yang menolak menjualnya meskipun ditawarkan uang dalam jumlah besar.

Meski hidup dalam perbudakan yang berat, kemampuan Fuller untuk mempertahankan martabat dan mengakui Tuhan sebagai sumber kebijaksanaannya, tercermin dalam sikapnya yang tidak tergoda dengan minuman keras serta selalu berbicara hormat pada tuannya.

Ketika seseorang memahami identitas dirinya yang sejati, betapa dia dikasihi Tuhan tanpa syarat, di mana pun dia berada, tidak menjadi masalah.
Dia tahu nilai sejati dirinya, tidak terpengaruh oleh pandangan dan sikap orang lain. Meski statusnya sebagai budak, Fuller menghargai dirinya sendiri dan bersikap santun.

People learn how to treat us based on how they see us treating ourselves. If I don’t put value on my work or my time, neither will the person I’m helping. Boundaries are a function of self respect and self love. – Brené Brown.

Orang-orang belajar bagaimana memperlakukan kita berdasarkan bagaimana mereka melihat kita memperlakukan diri kita sendiri. Jika saya tidak memberi nilai pada pekerjaan saya atau waktu saya, orang yang saya bantu juga tidak akan. Batas-batas adalah fungsi dari rasa hormat dan mengasihi diri sendiri. – Brené Brown.

Ketika seorang pria berkomentar, Fuller akan jauh lebih hebat jika dididik, Fuller merespons dengan rendah hati, Fuller menjawab,
“Tidak, yang terbaik saya tidak belajar, karena banyak orang yang belajar menjadi orang bodoh yang hebat.”

Gubraaaaakkkkk…. hahahaha….

Kisah Thomas Fuller merupakan bukti kemampuan matematika yang luar biasa dan menjadi pengingat bahwa bakat sejati dapat ditemukan di mana saja, terlepas dari latar belakang atau status sosial.

Sikap ini mencerminkan pemahaman spiritual yang dalam tentang nilai setiap manusia di hadapan Tuhan.
Tuhan itu adil dan tidak memandang muka, mengasihi setiap kita tanpa syarat.

Apa pun situasi yang kita hadapi, jangan biarkan situasi yang menentukan bagaimana kita harus bersikap tetapi senantiasa ingat kita berharga di mata Tuhan.
Kitalah cermin kemuliaan Allah di dunia ini, duta-Nya, karena itu bersikaplah demikian.

Saya pun belajar.
Bagaimana dengan Anda?

“It’s not what happens to you, but how you react to it that matters.” – Epictetus.

“Bukan apa yang terjadi padamu, tetapi bagaimana kamu bereaksi terhadapnya yang penting.”- Epictetus.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN


#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Mengapa Anda Kesulitan Menerima dari Tuhan?

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Mengapa Anda Kesulitan Menerima dari Tuhan?

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Markus 11:24)

Dalam janji ini jelas bahwa Tuhan menjawab permintaan kita saat kita memintanya dalam iman. Jika kita percaya, kita akan menerima apa yang kita minta.
Frasa “akan menerima” dapat merujuk pada waktu yang segera atau proses yang memerlukan waktu. Namun, jawabannya diberikan seketika.

Hambatan Pertama: *Ketidakpercayaan*
Hambatan pertama yang harus kita sadari adalah ketidakpercayaan kita sendiri. Saat Anda berdoa, percayalah bahwa Anda telah menerima. Kebanyakan orang tidak akan percaya sampai mereka “melihat” jawabannya.

Yesus mengutuk pohon ara, dan meskipun pohon itu mati seketika, hasilnya baru terlihat keesokan harinya. Jika kita percaya saat berdoa, jawaban kita langsung diberikan, tetapi hasil yang terlihat mungkin memerlukan waktu. Ada alasan alami dan alasan rohani untuk penundaan ini.

Beberapa doa dapat diibaratkan seperti petani yang menanam benih. Panen dijamin, tetapi ada waktu antara menanam dan menuai. Benih Firman Tuhan sering membutuhkan “musim yang tepat” untuk terwujud. Prinsip Kerajaan Allah diibaratkan seperti petani yang menanam benih (Markus 4:26-29).

Berdoa dengan Iman, Bukan Harapan Saja
Banyak orang berdoa dengan harapan, tetapi tidak dengan iman yang percaya. Mereka sering berjalan dengan melihat, bukan dengan iman. Tidak hanya ketidakpercayaan pribadi yang dapat menghambat doa kita, tetapi juga ketidakpercayaan di sekitar kita yang dapat menghalangi kuasa Tuhan.

Ketidakpercayaan menghentikan Yesus melakukan pekerjaan besar di kampung halamannya sendiri (Markus 6:1-6).

Bersyukur Melawan Keraguan.
Ucapan syukur melawan keraguan dan ketidakpercayaan. Sikap pujian dan ucapan syukur akan mengusir ketidakpercayaan pribadi.
Jika kita percaya bahwa kita telah menerima, kita harus langsung bersyukur!

“Janganlah kamu khawatir tentang apa pun, tetapi dalam segala hal nyatakanlah keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Maka damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:6-7)

Damai sejahtera menyertai iman.
Kekhawatiran, ketakutan, dan frustrasi adalah tanda ketidakpercayaan.

Faktor Lain: Musuh

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah musuh. Meskipun Iblis tentu bukan mahakuasa atau maha hadir, ia musuh kehendak Tuhan dalam hidup kita.
*Beberapa jawaban atas doa yang penuh iman dapat terhambat atau dihentikan karena musuh menghalangi hati orang-orang yang telah Tuhan sentuh untuk menjadi bagian dari jawaban Anda.*

“Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari kamu.” (Yakobus 4:7)

*Doa yang efektif harus mencakup perlawanan kita yang penuh iman terhadap pekerjaan musuh dalam permintaan kita.*

Memiliki otoritas adalah satu hal, tetapi menggunakan otoritas kita untuk melawan musuh agar dapat merealisasikan hidup yang berkelimpahan adalah hal yang lain.

*************

Roma 4:21 – “Dengan penuh keyakinan bahwa apa yang telah dijanjikan Allah, Ia juga sanggup melakukannya.”

Menjadi fully persuaded (keyakinan penuh) berarti memiliki iman yang teguh tanpa keraguan. Jika seseorang dapat memiliki keyakinan penuh, maka mungkin juga ada yang memiliki keyakinan sebagian.
Iman didefinisikan sebagai “dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak terlihat” (Ibrani 11:1).

Keyakinan Sebagian:
Orang yang memiliki keyakinan sebagian mengakui kebenaran tetapi tidak sepenuhnya berkomitmen untuk hidup menurutnya.
Mereka hidup di antara dunia iman dan dunia ketakutan serta usaha diri sendiri. Mereka melihat iman seperti “jalur darurat” yang mungkin berhasil, tetapi tetap mengandalkan diri mereka sendiri.

Contoh Abraham:
Abraham pada awalnya tidak memiliki keyakinan penuh. Dia mencoba memenuhi janji Tuhan dengan caranya sendiri, tetapi gagal. Setelah proses belajar, ia menjadi kuat dalam iman dan sepenuhnya percaya pada janji Tuhan.

Menjadi Sepenuhnya Yakin:
Paulus berkata, “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Galatia 2:20). Hidup dalam keyakinan penuh berarti mengandalkan Tuhan sepenuhnya dan percaya pada firman-Nya di atas segalanya.

Yakobus 1:6-7:
“Orang yang bimbang seperti gelombang laut yang diombang-ambingkan angin. Janganlah orang itu mengira bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.”

Keputusan untuk Yakin:
Menjadi yakin sepenuhnya adalah keputusan untuk mempercayai Firman Tuhan di atas segala sesuatu. Ini berarti hidup berdasarkan setiap firman yang keluar dari mulut Tuhan (Matius 4:4) dan bukan dari dunia. Dengan keyakinan penuh, seseorang dapat tetap teguh di dunia yang penuh tantangan.

Siap praktik? Yuk…..

“Faith does not operate in the realm of possibility. It begins where human power ends.” – George Müller.

Iman tidak beroperasi di alam kemungkinan. Iman dimulai di mana kekuatan manusia berakhir.” – George Müller.

Sumber: Barry Bennett.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Jangan Percaya Semua yang Anda Pikirkan…..

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Percaya Semua yang Anda Pikirkan…..

Saya baru membaca ringkasan buku “Don’t Believe Everything You Think: Why Your Thinking is the Beginning & End of Suffering by Joseph Nguyen” – “Jangan Percaya Semua yang Anda Pikirkan: Mengapa Pemikiran Anda adalah Awal & Akhir Penderitaan”, dan saya tertarik untuk membahasnya.

Salah satu poinnya, pikiran bukanlah realitas atau fakta.
Pikiran kita sering mendistorsi realitas, alias mengubah atau memutar sesuatu dari keadaan aslinya.
Akibatnya, kita salah mengerti, salah memahami lalu menciptakan penderitaan yang tidak perlu. Belajar untuk melihat pikiran sebagai interpretasi daripada fakta dapat menyebabkan kejernihan mental dan kedamaian.

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, apa yang hilang?
Kemampuan berkomunikasi langsung dengan Allah.
Nach …iblis sekarang dengan mudah menipu kita.
Caranya?
Dengan memberi persepsi yang salah.
Ketika informasi dan pemahaman kita keliru, tentu saja keputusan kita pun keliru.
Dan terjadilah kacau balau…
Iblis bertepuk tangan….

**********
Anda bukan pikiran Anda
Realisasi penting adalah kesadaran Anda terpisah dari pikiran Anda. Mengamati pikiran Anda tanpa mengidentifikasi dengan mereka menciptakan ruang untuk kebebasan dan pertumbuhan, tulis buku itu.

Setuju sekali.
Tidak semua pikiran yang ada di kepala kita, itu pikiran kita sendiri.
Si musuh kerap menawarkan pikiran-pikiran yang merusak dan sedihnya, sebagian besar orang tidak menyadari hal itu.
Bahkan ada teman yang merasa bersalah, terteror koq dia bisa memiliki pikiran seburuk itu.
Lalu bagaimana cara mengatasinya?
Answer It! Jawab…. dengan suara keras, tegaskan itu bukan pikiran kita dan kita menolak menerimanya.

Gantikan dengan pikiran Allah yang tertulis dalam firman-Nya.
Manusia diberi free will dan free choice, kita bisa memilih apa yang hendak kita pikirkan dan putuskan.
Keputusan ada di tangan kita.

**********
Poin lainnya, Kesadaran diri memberdayakan.
Memahami pola pikiran dan emosi Anda memberi Anda kekuatan untuk mengubahnya. Kesadaran diri adalah langkah pertama menuju transformasi. Cara Anda berpikir tentang peristiwa membentuk bagaimana perasaan Anda tentang peristiwa itu. Dengan mengubah perspektif, Anda dapat mengubah respons emosional Anda terhadap tantangan hidup.

Nach ….kesadaran memahami pola pikiran dan emosi, memang menolong.
Tetapi saya ingin menawarkan, dari pengalaman saya pribadi, perubahan sejati tidak bisa diusahakan dari luar. Yang dari luar hanya berubah sementara.
Saya lebih memilih perubahan dari dalam dengan menyerahkan segala permasalahan kita kepada Tuhan, lalu bergantung kepada-Nya bagaimana cara mengatasinya.

Cara praktisnya, dengan mengubah pikiran kita denhan pikiran Allah yang tertulis dalam firman-Nya.
Ketika pikiran kita berubah, maka respon kita pun otomatis berubah.
Kesabaran, kasih, kelemahlembutan itu Buah Roh, artinya buah yang dihasilkan dari hubungan pribadi kita yang intim dengan Allah. Semakin dekat dengan Tuhan, semakin kita serupa dengan Dia.

As a man thinks in his heart, do is he.
Seperti orang berpikir dalam dirinya, demikianlah dia.

Manusia dibentuk dari hasil dari pikirannya sendiri. Pikiran seperti benih yang ditanam di tanah kehidupan. Pikiran positif menghasilkan kebahagiaan dan kesuksesan, sementara pikiran negatif membawa kesulitan dan penderitaan.

Benih yang kita tanam, menentukan buahnya. Tidak mungkin biji mangga yang ditanam, lalu buahnya durian.
Itu mustahil.

Nach cara termudah untuk memperoleh buah yang diinginkan, ya dengan cara menanam benih yang sesuai dengan buahnya.

Firman Tuhan itu roh dan hidup, sifatnya kekal. Dengan menanamkan nilai-nilai yang terdapat dalam firman-Nya, kita tidak hanya sedang membangun pikiran dan karakter Tuhan, terjamin pula dampaknya kekal dan akan menciptakan masa depan yang penuh harapan.

Pikiran membentuk karakter. Berpikir jujur, berani, penuh kasih, dan pengendalian diri akan mencerminkan kualitas tersebut. Dengan tidak mudah terpancing emosi dan mengikuti pikiran sesuai Firman-Nya, hikmat Tuhan akan memimpin hidup kita.

********
Pikiran dan Pengalaman Hidup
Pikiran membentuk pengalaman hidup. Mengubah cara berpikir dapat mengubah respons emosional terhadap tantangan. Keadaan hidup adalah hasil dari pola pikir yang dipelihara. Pikiran positif menciptakan peluang, sementara pikiran negatif menimbulkan hambatan. Mengendalikan pikiran membutuhkan disiplin diri, karena setiap orang bertanggung jawab atas hidupnya. Penderitaan sering muncul dari persepsi dan makna yang keliru.

Dengan bergantung kepada Tuhan, kita bisa memiliki cara pandang dari perspektif Tuhan.
Manusia hanya bisa memandang sejauh mata memandang, dan dalam banyak hal, pengertian kita dibatasi oleh apa yang bisa ditangkap oleh pancaindra.
Sementara cara pandang dan pikiran Tuhan melampaui semua itu.

Dengan berserah, Rest in God – beristirahat dalam Tuhan, kita bisa menjalani hidup bebas stress, namun hasilnya seukuran Allah.
Hhmmmm …. menarik bukan?

Mari kita praktikkan…

The measure of intelligence is the ability to change.” – Albert Einstein

“Ukuran kecerdasan seseorang adalah kemampuannya untuk berubah.” – Albert Einstein

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Perusahaan Keluarga, Pendidikan & Suksesi…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Perusahaan Keluarga, Pendidikan & Suksesi…

If GOD does not change your situation, He will transform you THROUGH it!

Jika Tuhan tidak mengubah situasi Anda, Dia akan mengubah Anda MELALUI itu!

Dieeenk….

Kerap kita mengeluh, marah kepada Tuhan, mengapa doa tidak kunjung terjawab.
Menganggap Tuhan tidak peduli, tidak setia dan tidak sedikit yang kecewa lalu meninggalkan-Nya.

Ketika semakin dewasa rohani, kita menoleh ke belakang, ternyata karakter dan kualitas kita yang outstanding, luar biasa, tercipta saat melewati saat-saat sulit, bertahan dan jadilah kita pribadi yang ulet, tahan banting dan pantang menyerah.

Sama seperti melatih otot, tidak ada otot kuat yang terbentuk tanpa latihan beban dan tentu saja menimbulkan rasa sakit. Terus konsisten melatihnya… melawan rasa sakit, ternyata makin lama beban yang semula berat, sekarang makin ringan…
Yeeeeaaaayyy…. sudah naik kelas!
Kita bangga dengan hasil yang dicapai.

Dalam setiap bidang prosesnya sama.
Pernah dengar istilah dalam bisnis: generasi pertama membangun, generasi ke dua mengembangkan, dan generasi ke tiga menghancurkan?

Istilah“generasi pertama membangun, generasi kedua mengembangkan, dan generasi ketiga menghancurkan” sering digunakan dalam konteks bisnis keluarga dan warisan keluarga. Ini mencerminkan siklus umum yang dialami banyak perusahaan keluarga di seluruh dunia.

Generasi Pertama: Membangun
Generasi pertama biasanya adalah pendiri perusahaan atau keluarga yang memulai usaha dari nol.
Mereka bekerja keras, penuh semangat, dan rela berkorban untuk membangun bisnis.
Fokus mereka menciptakan pondasi yang kuat untuk masa depan.

Generasi Kedua: Mengembangkan.
Generasi kedua menerima warisan bisnis yang sudah terbentuk. Mereka cenderung memiliki pendidikan yang lebih baik dan akses ke teknologi baru. Fokusnya adalah mengembangkan bisnis, memperluas pasar, dan memperkenalkan inovasi.

Sedangkan Generasi Ketiga: Menghancurkan.
Why?
Generasi ketiga sering kali tumbuh dalam kenyamanan finansial. Kebanyakan dari mereka, kurang memahami kerja keras yang diperlukan untuk membangun bisnis.
Tanpa bimbingan yang baik, mereka berisiko menghabiskan atau merusak apa yang telah dibangun oleh generasi sebelumnya.

Mengapa Siklus Ini Terjadi?
Beberapa alasan umum siklus ini meliputi, kurangnya pendidikan dan pelatihan bisnis untuk generasi penerus.

Konflik keluarga dan kepentingan pribadi yang bertentangan. Dan perubahan nilai-nilai dan kurangnya rasa tanggung jawab.

Jika ditelusuri ulang, mengapa generasi pertama bisa sukses?
Karena mereka bekerja keras memulai dari nol. Bahkan sebagian besar konglomerat pun memulai dari kondisi yang sangat miskin.
Tiap hari makannya hanya bubur dan ikan asin, agar hemat.

Justru tekanan inilah yang ‘memaksa’ mereka berjuang agar bertahan hidup dan meraih kemajuan. Jatuh bangun, berulangkali gagal dNan bangkit kembali, yang membuat mereka menjadi pribadi yang kuat dan tahan uji.

Sementara generasi ke tiga, generasi yang lahir dalam kenyamanan. Semua serba tersedia, bahkan memperoleh fasilitas melampaui apa yang dibutuhkan.
Akibatnya, tidak sedikit yang menghambur-hamburkan uang orangtuanya, karena merasa itu uangnya pribadi. Mengira harta orangtua adalah harta miliknya.

Sungguh menarik apa yang diajarkan Nancy Dufresne, dalam mendidik anaknya.
Dengan tegas dijelaskannya, bahwa baju, makanan dan faslitas apa pun yang dinikmati anak, adalah milik orangtuanya. Sehingga anak lebih bertanggungjawab, tahu terimakasih karena sadar dia berhutang budi pada orangtuanya.
Wow….

Terbukti tekanan, masalah, perjuangan merupakan bagian yang diperlukan dalam kehidupan. Tidak ada otot kuat tercipta, tanpa latihan beban yang berat.

Itulah sebabnya, kadang Tuhan tidak menolong kita agar terlepas dari tantangan dan persoalan yang kita hadapi, sebaliknya Dia menguatkan, memberikan pewahyuan, mempertemukan kita dengan ‘pelatih kehidupan’ agar kita mampu melewatinya menjadi pemenang dan menjadi pribadi yang tangguh. Naik level, makin terampil.
Sehingga kelak kita bisa membagikan pengalaman ini kepada generasi mendatang dan menjadi berkat bagi sesama.
Apa pun yang kita alami, itu masa persiapan karena Tuhan sedang mempersiapkan kita mencapai hal-hal yang besar bagi kemuliaan-Nya.

Hidup kita menjadi demonstrasi kebaikan-kebaikan Tuhan dan apa yang bisa dicapai oleh seseorang yang sungguh-sungguh bersedia menyerahkan diri dan diproses, dari batu yang buruk rupa menjadi ‘permata’ yang mahal.

Lalu, bagaimana cara menghindari agar generasi ke tiga bisa tetap melanjutkan bisnis keluarga yang bertahan bahkan makin sukses lagi?

Dalam hal pendidikan, ajarkan keterampilan bisnis kepada generasi berikutnya.
Tanamkan nilai-nilai kerja keras dan tanggung jawab.
Buat rencana suksesi yang jelas untuk mengelola transisi kepemimpinan.

Istilah ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak bisa dianggap remeh dan membutuhkan upaya berkelanjutan dari setiap generasi.

Warren Bennis berujar, “Pemimpin sejati tidak menciptakan pengikut, mereka menciptakan lebih banyak pemimpin.

Sementara Lee lacocca berpesan, “Anda harus memandang suksesi seperti perlombaan estafet. Penting untuk menyerahkan tongkat dengan lancar agar tim bisa terus maju.”

Mari kita mempersiapkan para pemimpin masa depan dan suksesi yang sukses!

“Succession planning is the primary job of every leader. If you don’t have a successor, you haven’t done your job as a leader.” — Jack Welch.

“Suksesi adalah pekerjaan utama setiap pemimpin. Jika Anda tidak mempersiapkan penerus, berarti Anda gagal sebagai pemimpin.” – Jack Welch.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Pelajaran Dari Kehidupan Anthony Robbins & Ayahnya…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Pelajaran Dari Kehidupan Anthony Robbins & Ayahnya…

Putri bungsu saya, Michelle, baru saja join seminar Anthony Robbins di NYC “Unleash The Power Within”. Menarik sekali ceritanya. Dan betul-betul bisa mengubah pola pikir Michelle dengan cara pandang yang baru.

Memancing rasa penasaran saya untuk menggali, mengapa Tonny Robbins bisa sedemikian hebat. Meski sesungguhnya saya sudah membaca buku-bukunya puluhan tahun lalu.

Dan apa yang diceritakan Tonny Robbins tentang masa lalunya, membuat saya terperangah.

Kisah hidup Tony Robbins merupakan bukti nyata transformasi dari kesulitan menuju keberhasilan.
Lahir dalam keluarga miskin, Tony tumbuh dengan empat ayah tiri yang berbeda dan seorang ibu yang bermasalah dengan alkohol serta kekerasan.

Sejak kecil, ia sering menghadapi situasi sulit, seperti kelaparan dan konflik keluarga. Namun, pengalaman ini membentuk tekadnya untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Saat Tony berusia 11 tahun, keluarganya sedang kekurangan makanan pada Hari Thanksgiving, seorang pria asing datang membawa kantong penuh bahan makanan.
Bagi Tony, momen ini memberi harapan bahwa kebaikan masih ada di dunia.
Namun, ayahnya melihat bantuan itu sebagai penghinaan terhadap harga dirinya.
Perbedaan pandangan ini menyoroti dua respons yang sangat kontras terhadap kesulitan: penghargaan versus penolakan.
Pengalaman tidak menyenangkan ini justru mendorong Tony belajar fokus pada rasa syukur dan peluang, bukan rasa malu. Bantuan tak terduga, pertanda Tuhan itu peduli. Harapan bagi masa depan masih ada.

Kejadian itu menjadi pemicu pertengkaran sang ayah dengan sang ibu.
“Kamu laki-laki yang tidak berguna, tidak bisa mencukupi kebutuhan keluargamu…”, demikian kata ibu Tony dalam murkanya.

Di Usia 17 Tahun, Tony, yang saat itu bekerja sebagai tukang bersih-bersih dengan gaji $40 per minggu, memutuskan untuk menghabiskan $35 untuk menghadiri seminar Jim Rohn. *Ia terinspirasi oleh ajaran Rohn tentang tanggung jawab pribadi dan potensi manusia.*
Investasi ini menjadi titik balik dalam hidupnya, memicu minat besar untuk memahami apa yang membuat seseorang berhasil sementara yang lain gagal.

Wow…. sungguh teladan yang sangat baik. Sementara banyak orang merasa sayang membeli buku, belajar dan mengikuti seminar, justru memilih untuk menghabiskan dananya untuk sekedar makan dan bersenang-senang.

Perubahan mindset dan pola pikir ke arah yang baik itu tidak tergantikan. Dan akan membawa kita naik level yang tinggi serta berkualitas. Apalagi saat kita membangun relationship yang dekat dan intim dengan Tuhan, maka tidak ada yang mustahil bagi orang percaya.

Nach … Tony bercerita, menjelang ayahnya meninggal dunia, dia mengungkapkan hidupnya yang penuh penyesalan.
Dia berujar, “I am a bastard, – saya seorang bajingan”. Kata-kata ini mencerminkan rasa gagal dan kekecewaan yang mendalam…. namun sepanjang hidupnya, dia memilih menjadi victim – korban. Makian ibu Tony, membuatnya terluka tetapi dia memilih membiarkan dirinya terpuruk di sana. Tidak berusaha berubah.

Sebaliknya, Tony Robbins memilih jalan yang berlawanan: ia berkomitmen untuk memberi makna pada hidupnya dengan melayani orang lain dan menyebarkan pesan harapan.

Tony Robbins menjadi penulis buku terlaris, pembicara internasional, dan pelatih kehidupan. Ia telah membantu lebih dari 100 juta orang di 195 negara melalui seminar, buku, dan program pelatihannya.

Prinsip utamanya: “Rahasia kehidupan adalah memberi.” Ia percaya bahwa dengan memberi, seseorang menemukan makna sejati dalam hidup.

Hhhmmm… ternyata pepatah “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” tidaklah selalu benar.
Tony Robbins buktinya. Bahkan dia mampu menjadi pribadi yang sangat sukses dan mempengaruhi dunia, bertolak belakang dengan ayahnya. Semua tergantung pilihan masing-masing.

********
Michelle bertanya apa bedanya belajar pada motivator seperti Tony Robbins dan belajar melalui firman Tuhan?

Kita membutuhkan keduanya dan saling melengkapi.
Sesungguhnya semua ilmu pengetahuan dan buku bagus yang ditulis, hikmatnya dari Tuhan dan firman-Nya.

Guru saya, Dean Radtke, yang merupakan konsultan bisnis di tingkat dunia, menjabarkan bahwa prinsip-prinsip dari buku bisnis serta program pelatihannya yang terkenal, sumbernya Kitab Amsal yang hikmatnya dari Raja Salomo alias Raja Sulaiman, raja terkaya yang pernah hidup di dunia ini.

Guru yang lain, Billy Epperhart pemilik Wealth Builders dan berbagai bisnis lainnya, bersama Paul Milligan pengusaha sukses yang hobbinya jual beli perusahaan, mereka sebegitu suksesnya karena mampu menerjemahkan prinsip-prinsip yang Tuhan ajarkan ke dalam bisnisnya.

Nach buku-buku pengembangan diri, buku bisnis dan berbagai pengetahuan lainnya, menolong dan memudahkan kita menerapkan prinsip-prinsip firman secara praktis. Sudah dikemas sesuai situasi masa kini, lengkap dengan contoh-contoh kasusnya.

Tetapi semua ini dimulai dari luar, lalu diusahakan masuk ke dalam diri kita. Bergantung pada kekuatan dan kemampuan kita menyerapnya dan seberapa banyak bisa mengubah pola pikir dan cara pandang kita.
Dengan cara demikian, kesabaran, pengendalian diri itu diusahakan oleh kita sendiri. Biasanya tidak bertahan lama. Bisa sich sabar sementara…. dengan menekan emosi melalui pertimbangan rasional. Tetapi kemarahan yang ditekan, suatu ketika bisa meledak.

Ketika kita membangun hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan, maka Tuhan melalui firman-Nya yang akan mengubah kita secara natural dari dalam ke luar.
Why?
Karena firman Tuhan itu roh, hidup dan berkuasa mengubah kita semakin hari semakin serupa dengan-Nya.
Effortless Change tercipta. Perubahan tanpa usaha.
Kita menjadi sabar dan mampu mengendalikan diri, bukan dengan kekuatan kita sendiri, melainkan karena Tuhan yang mengerjakannya dari dalam.
Kasih, Sukacita, Damai sejahtera, Kesabaran, Kemurahan, Kebaikan, Kesetiaan, Kelemahlembutan, Penguasaan diri adalah Buah Roh karena kita memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan, semua itu muncul sebagai buahnya.

Yang ideal, kita membangun baik dari dalam mau pun dari luar.
Sehingga karakter Allah terbentuk dari dalam, dan ketrampilan menggunakan strategi yang praktis, aktual dan tepat sasaran untuk mengatasi permasalahan di jaman ini, kita pelajari dari luar ke dalam.

Mari kita menjadi pribadi bijak yang terampil baik dari luar mau pun dari dalam.
Setuju?

“Each life is made up of mistakes and learning, waiting and growing, practicing patience and being persistent. At the end of it, we must ask ourselves: Did we live for God’s glory?” – Billy Graham.

Setiap kehidupan terdiri dari kesalahan dan belajar, menunggu dan bertumbuh, berlatih kesabaran dan menjadi gigih. Pada akhirnya, kita harus bertanya pada diri sendiri: Apakah kita hidup untuk kemuliaan Allah? Billy Graham.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#SeruputKopiCantik
#yennyindra
#MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas
#BerkatBagiSesama

Read More
1 42 43 44 45 46 308