Category : Articles

Articles

Kombinasi Doa & Intermittent Fasting (IF)

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kombinasi Doa & Intermittent Fasting (IF)

Yeaaayyy hari ini adalah hari istimewa bagi saya.
Why?
3 bulan saya Intermittent Fasting (IF) dan lulus!

Gitu saja koq istimewa?
Tentu saja.
Saya sudah membaca dan berulangkali melihat video pendek tentang IF tetapi selalu berpikir: mana tahan berpuasa 18 jam?

Apalagi ketemu Imam, prinsipnya: “Kan diet starts tomorrow” 🙂

Sampai saat tur ke Nepal & Bhutan, bertemu dengan Mei Tjien yang menjelaskan tentang IF. Dan terus memotivasi untuk mencoba dan video demi video dikirimkan. Jadilah saya bersemangat menjalaninya.

“IF itu supaya sehat dan langsing itu bonusnya. Tujuannya bukan langsing”, Mei Tjien meyakinkan.

Lapar dong?
Gak segitunya sich karena boleh minum air putih, kopi dan teh TANPA gula.

Ada strateginya juga. Biasa bangun jam 4 pagi, minum air putih 2 gelas plus kopi panas. Lalu pk 7 pagi minum 2 gelas air putih, dan pk. 10 minum 3 gelas air. Kenyang koq sampai sekitar pk. 11, 12 or 1 siang. Pokoknya, boleh makan selama 5-6 jam lalu stop.

Tantangan besar saat akan tur ke Mohe. Sudah dapat bocoran dari teman-teman yang berangkat sebelumnya, makanannya enak-enak. Duh…

Kembali Mei Tjien memotivasi,
“Bisa koq…. skip sarapan saja. Nanti lunch sekitar jam 12 – 1 siang. Lalu dinner jam 6-7 malam. Lalu lauknya banyak sayur juga, jadi gak perlu makan nasi sudah kenyang.”

Mei Tjien menjadi peta jalan sehingga meski breakfastnya menarik, bervariasi, enak kata P. Indra…. namun mampu bertahan.

Koq bisa?
Saat ke Mohe Tour, saya sudah IF selama 1½ bulan. Klo jebol, berarti harus mulai dari awal lagi…. duh, malesnya. Belum tentu bersemangat mulai lagi. Toh tinggal 1½ bulan lagi.

Dari pengalaman, saat gagal bertahan, rasanya menyesaaaal sekali dan yang lebih berat lagi, saya gak bangga dengan diri sendiri. Koq ga mampu mempertahankan janji meski hanya janji pada diri sendiri.

Untunglah B. Rita Tx Travel, IF juga, jadi ada teman yang membuat saya mampu bertahan.

Beberapa kali saya komplain, berat badan koq ga turun-turun? Timbangan tetap sama tetapi memang size baju menurun.
“Tunggu 3 bulan baru mulai kelihatan hasilnya… badan enteng dan mengecil,” Mei Tjien menjelaskan.

Lalu apa hasilnya setelah 3 bulan?
Hasil check lab nyaris semua bagus. Yang lebih menggembirakan, sebelumnya konon saya ‘Fatty Lever’ SGPT, SGOT & Gamma GT berbintang tetapi hasil check terakhir normal. Yeeeaaaayyy….

Dulunya tengah malam kerap terbangun untuk buang air kecil hingga 2-3 kali, setelah IF, tidur nyenyak hingga pagi.
BAB lancar….
Asam lambung dulu kerap naik, tenggorokan radang tetapi sekarang sembuh.
Perut mengecil dan lemak-lemak di tubuh berkurang, Body Fat Mass turun.
Wow…. worth it sekali.

Mengapa bisa begitu?
Saat kita menjalani Intermittent Fasting—puasa berkala tanpa asupan makanan selama 18 jam—tubuh masuk ke fase autofagi. Artinya: tubuh “membersihkan diri” dengan cara mengurai dan mendaur ulang sel-sel rusak, toksin, dan protein yang tidak berfungsi.
Sel-sel lama dihancurkan, diganti dengan sel baru yang lebih sehat.

Hasilnya?
Peradangan berkurang
Sistem imun membaik
Fungsi otak meningkat
Proses penuaan melambat

Tubuh tidak hanya membakar lemak saat IF, tapi juga memperbaiki dirinya. Inilah desain Tuhan yang luar biasa—di saat kita berhenti makan, tubuh malah bekerja menyembuhkan!

Thanks Mei Tjien sudah memperkenalkan IF plus jadi mentor & inspirator saya.

Pelajarannya, tidak ada orang yang bisa naik ke atas sendirian. Selalu ada orang-orang yang berjasa membawa kita naik dan memampukan kita bertahan di sana.

****
Saya pun menyadari bahwa IF ini sesungguhnya menjadi sarana mempertahankan jawaban doa.

Kerap kita berdoa minta kesembuhan dari Tuhan dan Dia mengabulkannya.
Tuhan itu Allah yang Maha-baik.

Tetapi saat kita tidak mengubah gaya hidup lama yang menyebabkan sakit, tentunya penyakit itu akan kembali lagi bukan?

Masih ingat tentang P. Ashang, teman yang sembuh 99% dari stroke berat selama 5 tahun? Sekarang bisa berjalan normal bahkan mereparasi jam yang butuh ketrampilan tangan.

P. Ashang pribadi yang full firman dan setia pada Tuhan. Dulu saya berpikir cukup didoakan dan dibereskan secara rohani, hubungan seseorang dengan Tuhan untuk memperoleh manifestasi kesembuhan, ekonomi dst.

Kemudian saya sadar, kita masih hidup di dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Artinya, dunia penuh dengan hal-hal yang merusak. Makanan yang tidak sehat, buah & sayur yang penuh rekayasa genetika dsb.
Tentunya mempengaruhi sel-sel tubuh kita.

Selain itu, kebiasaan makan makanan tidak sehat secara berlebihan. P. Ashang bercerita, dulu buka resto. Jika ada masakan yang tidak habis, dia yang menghabiskan. Kadang makan babi kecap sampai sepanci.
Tentu saja penyakit stroke akhirnya datang.

P. Ashang sembuh dan semakin hari semakin sehat, itu karena doa dan firman tentu saja, tetapi ada hal natural yang dilakukannya: IF dan melatih otot.
P. Ashang mengubah pola hidupnya dari kebiasaan yang tidak sehat menjadi kehidupan yang sehat. Membutuhkan tekad dan pengendalian diri yang bijaksana. Pengendalian diri itu buah roh.
Maka kesembuhannya makin sempurna.

Yang rohani dan yang natural berjalan beriringan.
Setuju?

*”Your body is the vehicle of your soul. Take care of it wisely to fulfill your divine purpose.”- Dr. Caroline Leaf*

*”Tubuhmu adalah kendaraan jiwamu. Rawatlah dengan bijak agar bisa menyelesaikan tujuan ilahi.” – Dr. Caroline Leaf*

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Ketika Bejana Itu Rusak… Tapi Tidak Dibuang!

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Ketika Bejana Itu Rusak… Tapi Tidak Dibuang!

Dulu saya pernah bertanya dalam hati:
Kenapa ya Tuhan menghancurkan bejana yang sedang dibentuk-Nya?
Kalau Dia memang Mahakuasa, kenapa tidak dari awal saja membuatnya bagus?

Lalu saya menemukan jawabannya di Yeremia 18 dan Roma 9.
Ternyata… bukan Tuhan yang membuat bejana itu rusak, melainkan tanah liatnya sendiri yang memilih berjalan di luar kehendak-Nya.

Itu mengejutkan saya. Tapi juga memberi pengharapan.
Karena sekalipun rusak, tukang periuk tidak membuang tanah liat itu.
Ia membentuknya ulang menjadi bejana lain. Mungkin bukan seperti rencana awal, tapi tetap berguna.

“Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya untuk membuat dari gumpalan yang sama, yang satu menjadi bejana untuk dipakai secara terhormat dan yang lain untuk dipakai secara biasa?” – Roma 9:21

Paulus mengutip kisah Yeremia untuk menjelaskan konsep penting:
Tuhan punya hak penuh atas hidup kita, tetapi tidak bertindak semena-mena.
Ia tidak memaksa siapa pun. Justru Ia sabar. Sangat sabar.

Dalam Yeremia 18, ketika tanah liat rusak, sang tukang periuk (gambaran Tuhan) tidak serta merta menghancurkannya. Ia membentuk ulang.
Apa yang rusak, bisa dipulihkan.
Apa yang cacat, tetap bisa berguna di tangan Tuhan.

Kesalahan sering terjadi ketika kita membaca ayat seperti Roma 9:22 dan mengira bahwa Tuhan menciptakan sebagian orang untuk dihancurkan. Tapi perhatikan baik-baik:

Tanah liat rusak bukan karena kesalahan si tukang periuk, tapi karena tanah liatnya sendiri.
Tuhan menahan dengan sangat sabar terhadap bejana-bejana kemurkaan (Roma 9:22).
Dan bahkan kepada bangsa yang sudah ditetapkan akan dihukum, Tuhan masih membuka pintu pemulihan, jika mereka bertobat (Yeremia 18:7-10).

Ini menunjukkan bahwa free will, kehendak bebas manusia, sangat dihargai oleh Tuhan.
Tuhan tidak memaksakan kasih-Nya. Tidak memaksakan pertobatan.
Dia menawarkan, mengetuk, menunggu… dengan kesabaran luar biasa.

Saya teringat kisah Firaun dalam kitab Keluaran.
Banyak yang mengira Tuhan “mengeraskan” hati Firaun sejak awal.
Tapi sebenarnya Firaunlah yang berulang kali menolak Tuhan.
Baru setelah berkali-kali kesempatan ditolak, Tuhan mengokohkan keputusan Firaun sendiri.
Hanya setelah itu, Firaun menjadi “bejana kemurkaan” untuk menyatakan kemuliaan Tuhan lewat kemenangan umat-Nya.

Begitulah cara Tuhan bekerja:
Yang rusak tidak langsung dibuang.
Yang memberontak tetap diberi kesempatan.

Betapa penghiburannya ini bagi kita!
Mungkin kita pernah merasa seperti tanah liat yang rusak—karena keputusan salah, dosa, atau luka masa lalu.
Tapi di tangan Tuhan, tidak ada tanah liat yang terlalu rusak untuk dibentuk ulang.

Dia bisa membentuk kita jadi bejana baru—bukan seperti rencana awal mungkin, tapi tetap berguna, indah, dan mulia.
Asalkan kita mau kembali dan menyerahkan diri kita kepada Sang Tukang Periuk.

Jadi, jangan menyerah pada dirimu sendiri.
Kalau Tuhan belum menyerah, kenapa kita harus menyerah?

Mari menjadi tanah liat yang lembut di tangan-Nya,
yang bersedia dibentuk, diubah, dan dipakai…
Sebab hanya dalam tangan-Nya, hidup kita menemukan tujuan sejatinya.

Seruput Kopi Cantik kita…. sambil direnungkan.
Di tangan Tuhan, tak ada bejana yang sia-sia.
Siap dibentuk dan dipakai oleh-Nya?
Yuk….

“We are products of our past, but we don’t have to be prisoners of it.” – Rick Warren.

“Kita memang terbentuk oleh masa lalu, tetapi kita tidak harus terpenjara olehnya.”- Rick Warren

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Selesaikan Prosesmu, Agar Tak Menjadi Kista!*

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Selesaikan Prosesmu, Agar Tak Menjadi Kista!*

Suatu hari, seorang anak kecil melihat seekor kupu-kupu yang berjuang keras keluar dari kepompongnya. Tubuh kecil itu menggeliat dan meronta. Anak itu merasa kasihan, lalu mengambil gunting dan menyobek kepompong itu. Kupu-kupu memang keluar dengan lebih mudah… tetapi sayang, sayapnya lemah, tubuhnya ringkih, dan ia tak mampu terbang.

Tak lama kemudian, kupu-kupu itu mati.

Mengapa?
Karena proses keluar dari kepompong bukan sekadar perjuangan. Itu latihan penting yang melatih otot-otot sayapnya agar cukup kuat menopang tubuhnya. Tanpa proses itu, ia tak siap menghadapi dunia luar.

Begitu pula dengan hidup kita.
Kita harus melewati proses demi proses—yang kadang menyakitkan—bukan untuk menyiksa, tetapi untuk menguatkan.
Si musuh berusaha menjegal, mencuri firman yg ada di dalam kita. Karena itulah kunci kemenangan kita.
Tetapi Tuhan mengubah rancangan jahat musuh, menjadi kebaikan. Testing musuh justru membuat kita makin kuat.

Kalau kita memotong proses itu, apa yang terjadi?

Akan ada sisa.
Luka yang tak tuntas.
Emosi yang tak dibereskan.
Amarah yang dipendam.
Dendam yang tersembunyi.

Sisa-sisa inilah yang pelan-pelan berubah menjadi kista jiwa.
Mungkin tak kelihatan di luar, tetapi mengendap di dalam. Kista ini mengganggu pertumbuhan. Ia mencuri damai, menghalangi sukacita, dan menyabotase masa depan.

Seorang teman saya pernah berkata, “Kalau kita nggak selesaikan ujian SD, ke mana pun kita pergi, akan ketemu ujian SD lagi. Situasinya berbeda, tetapi intinya sama… sampai kita lulus.”

Pernah mengalami?
Sudah berulang kali ditolak orang, lalu memutuskan menghindar. Tapi nanti, ketemu orang baru, tetap saja mengalami penolakan serupa.
Sampai kita berani duduk, bertanya, “Apa yang sebenarnya yang perlu saya pelajari?” dan membereskan luka itu bersama-Nya—baru kita bisa naik kelas.

Masalahnya, banyak dari kita ingin hasil cepat. Kita doakan mujizat, tapi tidak mau diproses.
Padahal, mujizat yang hanya menyelesaikan masalah sesaat tanpa perubahan karakter… hanya membuat kita kembali pada pola lama.
Yang kita butuhkan bukan hanya jawaban instan, tapi pembentukan. Proses yang membangun kita menjadi dewasa, kuat dan berhikmat.

Kita ini seperti emas mentah.
Perlu dibakar, dilebur, dibersihkan, lalu dicetak.
Tanpa itu, kita cuma logam kusam yang tampak berharga, mudah berkarat pula.

Proses bisa datang dalam bentuk sakit hati, kehilangan, penolakan, tekanan, bahkan pengkhianatan. Semua itu menyakitkan, tetapi… jika kita menyerahkannya kepada Tuhan untuk bekerja dan mendatangkan kebaikan, itu bisa menjadi ladang emas bagi masa depan kita.

Luka yang diserahkan kepada Tuhan akan jadi pelatihan, bukan kutukan.
Rasa sakit yang dihadapi dengan iman akan jadi fondasi, bukan trauma.

Sebaliknya, bila kita menolak proses—menyembunyikan luka, menyangkal realita, menyalahkan orang lain, lalu lari dari situasi—maka sisa luka itu akan tumbuh.
Ia akan jadi “kista” yang makin membesar: kepahitan, kecurigaan, sinisme, dan ketakutan.

Satu kista bisa menghentikan seluruh pertumbuhan.
Satu luka yang tak dibereskan bisa membatasi seluruh potensi.

Hari ini, mari kita duduk tenang di hadapan Tuhan.
Biarkan Dia tunjukkan bagian mana yang belum selesai.
Mungkin kita perlu mengampuni.
Mungkin kita perlu melepaskan.
Atau mungkin kita hanya perlu menyelesaikan musim yang sedang kita jalani—tanpa lari, tanpa shortcut, tanpa mengeluh.

Karena ketika kita lulus, kita akan muncul seperti emas yang murni.

Seperti kupu-kupu yang indah… yang dulu pernah terkurung dalam kepompong.

Bonusnya, Tuhan bisa mengembalikan apa yang hilang, memberi percepatan, menjadi berkat yang berlimpah dan memuaskan.

Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, tentara-Ku yang besar yang Kukirim ke antara kamu.
Maka kamu akan makan banyak-banyak dan menjadi kenyang, dan kamu akan memuji-muji nama TUHAN, Allahmu, yang telah memperlakukan kamu dengan ajaib; dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya.

Yuk, seruput kopi cantik kita… dan selesaikan prosesnya bersama-Nya. Karena masa depan yang cerah, hanya dimiliki oleh mereka yang memilih bertahan, beriman dan taat!
Siap praktik? Yuk….

“The most beautiful people we have known are those who have known defeat, suffering, struggle, and loss, and have found their way out of the depths.” – Elisabeth KĂĽbler-Ross

“Orang-orang paling mengagumkan yang pernah kita kenal adalah mereka yang telah mengenal kekalahan, penderitaan, perjuangan, dan kehilangan- namun berhasil keluar dari lembah itu – Elisabeth KĂĽbler-Ross.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Ragu Itu Godaan, Bukan Dosa

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ragu Itu Godaan, Bukan Dosa

Saya suka mencari arti kata, membandingkan firman dalam beberapa terjemahan. Bukan sekadar definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia, tapi makna aslinya. Dan hasilnya sering mengejutkan.

Satu hari, saya sedang merenungkan tentang keraguan. Kata “doubt” dalam teks asli ternyata berarti berhenti, ragu-ragu, atau mundur.
Saat saya membaca arti itu, saya seperti disadarkan: oh… ternyata ini bukan cuma sekadar pikiran lewat. Ini lebih dalam. Dan kalau kita tidak waspada, bisa jadi jebakan.

Sebelum seseorang jatuh dalam dosa, selalu ada godaan terlebih dahulu. Artinya, kalau ragu itu adalah dosa—dan memang benar, meragukan Tuhan itu dosa—maka sebelum kita benar-benar ragu, pasti ada godaan untuk ragu.

Logikanya begini: kalau seseorang mulai berpikir,
“Bagaimana kalau ini nggak berhasil ya?”
“Bagaimana kalau aku nggak sembuh?”
“Mungkin ini cuma harapan kosong…”

Apakah itu langsung dosa? Belum tentu.
Itu baru godaan untuk ragu.

Masalahnya, banyak orang langsung panik.
“Waduh, aku punya pikiran negatif! Berarti aku sudah ragu! Ah…. doaku tidak terjawab!”

Dan karena mereka merasa sudah berdosa, mereka menyerah.
“Ya udahlah… ini nggak akan berhasil. Aku kurang iman.”

Benarkah?
Padahal belum tentu. Itu baru tahap godaan. Pikiran itu lewat seperti iklan di pinggir jalan. Kita bisa pilih: mau berhenti dan membaca, atau lanjut saja tanpa menghiraukannya.

Iblis itu licik. Dia pintar banget menipu.

Dia tahu orang percaya nggak mau berdosa, jadi dia buat jebakan: menembakkan pikiran negatif, lalu membisikkan, “Tuh, kamu punya pikiran jelek, berarti kamu nggak percaya Tuhan… kamu berdosa!”
Padahal itu belum dosa. Itu baru godaan.

Masalahnya: ketika kita percaya pada bisikan itu, dan mulai mengiyakan pikiran keraguan itu, barulah kita mulai ragu yang sejati—yang membuat kita berhenti, mundur, bahkan menyerah.

Kita perlu tahu: Tuhan bicara kepada kita. Tapi iblis juga mencoba menyusup.

Kita harus memilih: mau percaya siapa?

Ketika Tuhan berkata,
“Engkau Sudah sembuh, karena oleh bilur-bilur-Ku engkau telah sembuh!”

Iblis langsung menyerang,
“Lalu kenapa sampai sekarang belum sembuh juga? Lihat tubuhmu, belum berubah…”

Nah, apa yang kita lakukan saat itu? Itu momen penting.

Kalau kita menolak pikiran iblis, dan tetap berkata,
“Tuhan sudah bilang, aku SUDAH sembuh dan aku pilih percaya!”
Maka kita menang.

Tapi kalau kita mulai merenung dan menyetujui pikiran negatif itu, kita mulai tergelincir ke dalam ragu.

Keraguan itu bukan karena pikiran itu lewat. Tapi karena kita mengizinkan pikiran itu tinggal.

Sama seperti burung yang terbang di atas kepala kita—nggak bisa kita cegah. Tapi kita bisa mencegah dia bikin sarang di kepala kita, kan?

Nah, pikiran-pikiran ragu itu seperti burung. Dia bisa lewat, bisa numpang lewat di pikiran kita. Tapi kitalah yang memutuskan: mau dipelihara, atau diusir?

Satu hal yang paling saya suka: penekanan pada hal-hal mendasar yang sering kita anggap sepele. Simple tetapi mendasar dan mengubah persepsi.

Seperti ini tadi—keraguan.

Jangan tertipu. Jangan menyerah hanya karena muncul pikiran ragu.

Ragu itu bukan dosa. Tapi kalau kita iyakan, baru jadi dosa.

Tetaplah percaya. Tuhan sudah bicara. Pilih untuk tetap berdiri di atas Firman-Nya, walau perasaan dan keadaan belum sejalan.

Jangan berhenti. Jangan mundur. Jangan menyerah.

Karena iman itu bukan tidak punya pikiran ragu—tapi tetap melangkah walau pikiran ragu lewat.
Jangan tertipu!

Yuk praktik….

You don’t drown by falling in the water; you drown by staying there.” – Edwin Louis Cole

“Kita tidak tenggelam karena jatuh ke dalam air; kita tenggelam karena tetap tinggal di sana.”- Edwin Louis Cole

??YennyIndra??
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
?? *MPOIN PLUS & PIPAKU* ??
?? *THE REPUBLIC OF SVARGA* ??
?? *SWEET O’ TREAT*h ??
?? *AESTICA INDONESIA – AESTICA ID* ??
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN


#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Iman, Kesembuhan, dan Kesalahpahaman Tentang Tuhan

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Iman, Kesembuhan, dan Kesalahpahaman Tentang Tuhan

“Kalau aku percaya Yesus akan menyembuhkanku, itu iman, kan?”

Tunggu dulu… benarkah begitu?

Seringkali kita mengira sedang berdiri dalam iman, padahal tanpa sadar justru menempatkan diri dalam keraguan. Kita bilang, “Tuhan akan menyembuhkan saya,” padahal Alkitab tidak pernah berkata begitu.
Alkitab berkata, “Oleh bilur-bilur-Nya kamu TELAH sembuh.” Sudah selesai. Sudah lunas. Sudah jadi milik kita.

Ini bukan soal menunggu manifestasi, tapi percaya bahwa kita sudah memiliki apa yang Yesus telah sediakan—sekalipun mata dan tubuh kita belum melihatnya.
Iman bukan menunggu bukti, iman percaya Firman.

Kita juga sering terjebak dalam kebingungan karena tidak paham siapa Roh Kudus itu. Banyak yang berpikir sudah menerimanya, padahal belum.
Simpelnya begini:
Kalau kita punya Roh Kudus, seharusnya kita bisa melakukan hal-hal yang dijanjikan-Nya. Kalau tidak, berarti ada yang belum beres. Bisa jadi kamu belum menerima Roh Kudus alias belum lahir baru, atau imanmu masih terhalang sesuatu.

Masalahnya, banyak orang Kristen hidup dalam kabut ketidaktahuan. (Hosea 4:6)
Mereka tahu Tuhan itu baik, tapi tidak pernah sungguh-sungguh menggali Firman-Nya.
Akibatnya?
Mereka hanya berharap bisa “selamat” dan bertahan hidup. Padahal Tuhan mau kita menang—selalu. Bukan sekali-sekali.

Kita sudah dikaruniai segala berkat rohani di surga (Efesus 1:3). Tapi kalau kita tidak mengalaminya, lalu berkata, “Saya sedang menunggu manifestasi,” artinya kita belum percaya sepenuhnya. Kita mengandalkan apa yang kelihatan, bukan apa yang Tuhan katakan.

Dan inilah sebabnya banyak orang Kristen hidup dalam kondisi yang kalah. Mereka mudah bingung, cepat takut, dan sangat rentan tertuduh. Karena mereka belum menancapkan kaki mereka dalam-dalam di atas Firman Tuhan.

Iman itu bukan perasaan. Iman juga bukan semangat sesaat. Iman adalah keputusan teguh untuk percaya apa yang Tuhan katakan, dan berdiri di situ sampai kita melihat janji-Nya digenapi. Bahkan lebih dari itu—iman tetap bertahan bahkan setelah hasilnya datang.

Seperti kesembuhan. Banyak yang berkata, “Aku sudah disembuhkan,” tapi ketika gejala muncul kembali, mereka mulai ragu. “Apa aku sudah sungguh sembuh?” Tapi kalau iman kita hanya bertahan sampai gejala muncul, berarti kita belum benar-benar percaya.

Kuncinya adalah: Terus ucapkan apa yang Tuhan katakan, bukan apa yang kita rasakan.

“Just say what God says. Just say His Word.”

Firman Tuhan tidak berubah. Dan kalau Yesus adalah Firman yang hidup—yang tetap sama kemarin, hari ini, dan selamanya—maka seharusnya kita juga tidak berubah dalam pengakuan iman kita.

Petrus sempat berjalan di atas air. Dia benar-benar punya iman. Tapi saat dia melihat badai dan mulai ragu, dia tenggelam. Artinya, bukan soal seberapa besar imanmu, tapi seberapa LAMA imanmu bertahan. Iman besar adalah iman yang bertahan sampai hasilnya datang—dan tetap bertahan sesudahnya.

Tuhan tidak menarik berkat-Nya saat kamu berbuat salah. Dia tidak mencabut kesembuhanmu karena kamu marah atau lupa berdoa. Kalau kesembuhan itu didasarkan pada kelayakan kita, berarti kita sedang mendirikan kebenaran sendiri.

Tapi syukur kepada Tuhan, kita hidup oleh kasih karunia, bukan oleh usaha kita.

Jangan biarkan kebingungan atau salah pengertian menahan kita dari semua yang Yesus sudah bayarkan untuk kita miliki. Bangun iman kita. Galilah Firman. Tinggallah dalam hubungan dengan Tuhan. Karena setiap orang percaya bisa hidup dalam kesembuhan, berkat, dan kemenangan—kalau kita sungguh percaya.

Saat kita senantiasa terkoneksi dengan-Nya, Roh Kudus senantiasa menguatkan, mengarahkan dan membawa kita kepada kemenangan. Dia menemui kita di setiap level iman kita masing-masing. Dia memahami kelemahan kita maka dia menopang kita dengan tangan-Nya yang memberi kemenangan.

Jangan hanya berkata, “Aku harap disembuhkan.”
Katakan dengan yakin: “Aku SUDAH disembuhkan!”
Itu bukan sombong—itu iman.
Dan Tuhan senang ketika kita percaya pada-Nya seperti itu.

Seruput kopi cantik kita …. dan yuk praktik!

“God’s Word in your mouth is as powerful as God’s Word in His mouth.” – Reinhard Bonnke

“Firman Tuhan di mulutmu sama kuatnya dengan Firman Tuhan di mulut-Nya.” – Reinhard Bonnke

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 38 39 40 41 42 319