Category : Articles

Articles

Mau Hidup Berkemenangan? Ini Rahasianya!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Mau Hidup Berkemenangan? Ini Rahasianya!

“Mengapa hidup naik-turun terus, kadang semangat, kadang hancur lebur?”
Seringkali kita bertanya seperti itu, tanpa menyadari bahwa jawabannya ada pada siapa yang memimpin hidup kita—roh kita yang sudah lahir baru, atau pikiran dan perasaan kita yang belum dilatih.

Perasaan itu ciptaan Tuhan. Indah! Menjadikan hidup berwarna, menarik, penuh dinamika. Tetapi BUKAN untuk menjadi pemimpin. Kalau perasaan dijadikan kompas hidup, hasilnya adalah kebingungan, ketidakstabilan, dan kekalahan.

Firman Tuhan mengajarkan, kunci utama untuk hidup berkemenangan adalah pikiran yang diperbaharui.
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu…”.

Pikiran yang diperbarui = cara berpikir yang benar = senjata melawan tipu daya iblis.

Iblis sudah kalah. Dilucuti kuasanya. Tapi dia masih punya satu senjata: kata-kata.
Dia melemparkan sugesti, ancaman, tuduhan, dan ketakutan ke dalam pikiran kita. Ia adalah pendakwa, kalau kita tidak terlatih mengelola pikiran, hidup kita bisa disabotase oleh suara-suara itu. Bukan karena iblis kuat, tapi karena kita mengijinkan.

Iblis suka mengetuk “pintu pikiran” kita dengan keras—dengan tuduhan seperti,
“Kamu gagal,”
“Kamu nggak layak,”
“Kamu akan kehilangan semuanya.”
Tetapi pertanyaannya: apakah kita membuka pintunya?
Ketukan yang keras tidak sama dengan masuknya ancaman. *Kita yang memutuskan pikiran mana yang boleh masuk dan tinggal.*

Bahkan ketika muncul godaan untuk tersinggung, marah, merasa dicurangi, atau diperlakukan tidak adil, kita tetap punya pilihan. Tersinggung itu pilihan!
Kita bisa memilih untuk menyimpan sakit hati dan membiarkan amarah mengambil alih, atau kita memilih berkata, “Aku percaya kebenaran Tuhan akan membelaku.”

Saat kita memilih untuk menolak tersinggung, kita sedang berkata: “Aku menolak dipimpin oleh perasaanku. Aku memilih dipimpin oleh rohku dan kebenaran Firman Tuhan.”

Hidup ini sepenuhnya di tangan kita. Bukan soal apa yang terjadi di luar, tapi bagaimana kita memilih menghidupinya.

Kita harus dilatih menguasai diri. Disiplin.
Pernah melihat anak yang tidak terlatih? Begitu susah mengaturnya….
Bayangkan kalau pikiran kita tidak pernah dilatih?
Takut, cemas, dan depresi merupakan hasil dari pikiran yang liar dan tidak diperbaharui.

Kita sering diajari untuk mendeklarasikan Firman, dan itu benar.
Tapi itu belum cukup.
Jika pikiran melanglang buana, apa yang dideklarasikan tidak akan termanifestasi. Tidak ada iman di sana!
Kita juga harus mendisiplinkan pikiran kita.
Belajar berkata: “Hei, kamu pikiranku, dan kamu pelayan dari rohku! Bukan aku yang ikut kamu, tapi kamu yang harus tunduk kepada kepada rohku. Tunduk dan selaras dengan Firman Tuhan.”

Tuhan sudah memberi kita roh yang baru—roh yang kuat, kudus, dan pemenang.
Tetapi pikiran dan tubuh?
Itu bagian kita.
Kita yang harus mendidik pikiran agar tunduk pada roh. Kita yang harus membuat tubuh menjadi hamba, bukan tuan. Kalau tubuh atau pikiran yang memimpin hidup kita, mereka akan menyeret kita menuju kehancuran.

Hidup yang dipimpin oleh roh adalah hidup yang berkemenangan.
Roh kita—yang bersatu dengan Roh Tuhan—selalu tahu apa yang benar. Tapi suara roh itu lembut. Ia tidak teriak. Maka perlu latihan untuk mendengarnya, dan keberanian untuk mentaatinya.

Mulailah hari ini: melatih pikiran kita untuk berpikir sesuai Firman, bukan perasaan.

Saat takut datang, ucapkan, “Aku tidak menerima pikiran ini. rohku percaya kepada Tuhan!” Saat tuduhan datang, ucapkan, “Tidak ada penghukuman bagi yang ada di dalam Tuhan.”
Saat ingin tersinggung, berkata, “Aku serahkan semua kepada Tuhan. Aku tidak akan kehilangan damai hanya karena emosi sesaat.”

Kemenangan kita bukan karena dunia tenang, tapi karena pikiran kita tunduk pada roh.
Dan roh kita—bersama Tuhan—selalu menang!

Yuk, ambil kendali atas pikiran dan perasaan kita.
Karena dari situlah hidup yang berkemenangan dimulai.
Siap?

“Your life is going the direction of your most dominant thoughts.” “Hidupmu sedang menuju ke arah dari pikiranmu yang paling dominan.” – Andrew Wommack.

Hidupmu sedang bergerak ke arah yang ditentukan oleh pikiranmu yang paling dominan.” – Andrew Wommack.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

“Pikiran Kita Menentukan Batasan Hidup Kita”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Pikiran Kita Menentukan Batasan Hidup Kita”

Seringkali kita datang ke hadapan Tuhan dengan harapan besar, tetapi pulang dengan kecewa. Bukan karena Tuhan tak sanggup, melainkan karena kita tidak percaya.

Saya pernah mendengar seseorang berkata, “Firman itu seperti makanan rohani. Kadang kita dengar kotbah, belum sepenuhnya paham, tapi hati kita ‘kenyang’.”
Itu benar.

Tapi hari-hari ini, saya belajar sesuatu yang lebih dalam: Firman Tuhan bukan hanya untuk mengenyangkan, tapi mengubahkan.

Firman yang hidup, bila diterima dengan hati terbuka, akan dipakai Roh Kudus untuk memperbaharui cara berpikir kita. Dan itu kuncinya. Karena pikiran kitalah yang menentukan batasan hidup kita.

Bisa saja kita mendengar ratusan kotbah, hafal banyak ayat, tapi kalau pola pikir kita belum berubah, berkat tidak bisa mengalir.

Saya suka sekali quotes ini:
“Kita dibatasi oleh pikiran kita. Ketika pikiran kita tidak bisa membayangkan, maka kita tidak bisa mempercayainya. Karena sistem kepercayaan kita dibangun atas dasar cara berpikir kita.”

Banyak di antara kita yang berdoa minta mujizat, solusi, terobosan mau pun jalan keluar, namun di dalam pikiran kita sudah menyerah, sudah pesimis. Kita tidak bisa membayangkan bahwa hidup kita bisa berubah.

Kebanyakan dari kita percaya Allah itu besar, tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Yang kerap membuat tidak percaya, apakah Dia mau melakukannya untuk kita?
Apakah kita layak?
Tapi kemudian saya belajar: semua itu bukan soal kelayakan, tetapi soal iman.

Yesus saat menyembuhkan atau menjawab doa, tidak pernah minta persyaratan apa pun selain percaya.

Firman Tuhan berkata,
“Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya.”
Bukan bagi yang sempurna. Bukan bagi yang sudah kudus luar biasa. Tapi bagi yang percaya.

Dan kepercayaan itu dibangun dari cara berpikir yang benar—yang selaras dengan Firman.

Itulah sebabnya pengajaran Firman sangat penting.
Bukan sekadar pengetahuan intelektual.
Tapi pengajaran yang menuntun kita mengenal Allah secara pribadi.

Karena ketika kita mengenal Dia, percaya itu jadi mudah.
Dan saat kita percaya, Roh Kudus bekerja.

Ia mengubahkan hati. Membuka mata rohani kita. Menyesuaikan pemikiran kita dengan kebenaran Firman Tuhan.
Dan di situlah, mujizat dan jawaban doa mulai terjadi.

“Alkitab penuh dengan mujizat luar biasa, untuk menunjukkan bahwa segala sesuatu mungkin bagi Allah! Jika Tuhan telah melakukannya bagi para nabi, Dia juga mau melakukannya lahi bagi kita!”

Tapi yang menarik adalah kelanjutannya:

*“Tetapi Dia tidak bisa melakukannya, kalau kita tidak percaya.”*

Gubraaaaaakkkk……

Tuhan Maha Kuasa, tetapi Dia membatasi diri-Nya pada iman kita.

Mari kita membangkitkan selera rohani kita dengan merenungkan firman-Nya. Supaya kita mulai percaya bahwa hidup kita bisa berubah.
Bahwa apa yang nabi-nabi alami, kita pun bisa alami. Bahkan lebih!

Yesus berkata, “Apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yoh. 14:13-14)

Luar biasa!
Tapi semuanya kembali ke satu hal:
Apakah kita percaya?

Kalau ya, mulailah dengan mengubah cara berpikir kita.

Firman adalah kuncinya.
Roh Kudus adalah pelakunya.
Dan iman adalah jalannya.

Mari, jangan puas hanya menjadi pendengar Firman.
Izinkan Firman itu mengubahkan kita.
Pikiran kita diubah.
Hati kita dijamah.
Iman kita bangkit.

Dan kita akan melihat,
Tuhan bekerja dalam hidup kita—dengan cara-cara yang ajaib!
Setuju?

Andrew Wommack

“You will never see what you can’t imagine. Your imagination is your spiritual womb.” – Andrew Wommack.

“Kita tidak akan pernah melihat apa yang tidak bisa kita bayangkan. Imajinasi kita adalah rahim rohani kita” – Andrew Wommack.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“HEALING WORSHIP TOUR”* * – Bagaimana Cara Mendengarkan Suara Tuhan?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“HEALING WORSHIP TOUR”*
* – Bagaimana Cara Mendengarkan Suara Tuhan?

Kita semua rindu mendengar suara Tuhan. Tapi sering kali kita berkata, “Aku tidak mendengar suara Tuhan… tidak ada mimpi, tidak ada penglihatan… tidak ada firman yang ‘melompat keluar’ saat saya membacanya .”

Padahal, Tuhan selalu berbicara. Tapi… apakah kita sedang mendengarkan?

Andrew Wommack, founder Sekolah Charis, pernah bersaksi tentang bagaimana ia memulai program televisinya—bukan karena suara dari langit atau penglihatan spektakuler—tetapi karena dorongan lembut di hatinya.

Ia berkata, “Tuhan berbicara melalui impresi, pikiran, dan dorongan dalam roh kita. Seperti suara yang lembut dan tenang. Masalahnya bukan pada Tuhan yang tidak berbicara, tetapi kita yang belum belajar membedakan suara-Nya.”

Wow… mengena banget, ya?

Andrew Wommack menekankan bahwa mendengar suara Tuhan membutuhkan dua hal: keyakinan bahwa Tuhan memang berbicara, dan kemauan untuk melatih pendengaran rohani kita.

Tuhan berkata, “Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku.” Itu artinya, mendengar suara Tuhan adalah hak kita sebagai anak-anak-Nya. Tapi seperti mendengar siaran radio, kita harus menyesuaikan frekuensinya. Kalau tidak? Ya kita bisa keliru, atau tidak mendengar apa-apa.

Kita mungkin rajin berdoa, membaca firman… tetapi sesudah itu, menghabiskan waktu duduk bersama orang-orang yang bicara negatif. Menceritakan pengalaman buruk, penyakit, atau kegagalan. Lama-lama, kita dikelilingi atmosfer ketidakpercayaan.

Inilah yang harus kita hindari. Kalau kita ingin mendengar suara Tuhan, kita perlu memosisikan diri dalam atmosfer iman—bukan ketakutan.

Kita bangun atmosfer iman dengan mendengar Firman, menyembah Tuhan, dan mengisi hati kita dengan kesaksian-kesaksian yang membangkitkan harapan. Itulah sebabnya mengapa setiap kali kita berkumpul, kita saling membagikan kesaksian.

Saat seseorang bersaksi, jangan hanya berkata, “Bagus.” Tapi katakan, “Tuhan, kalau Engkau bisa lakukan itu untuk dia, Engkau bisa lakukan itu untukku juga.”

Kesaksian itu nubuatan bahwa Tuhan mau melakukannya lagi untuk kita.

Iman datang dari mendengar, dan mendengar Firman Tuhan.

Seorang pemuda lumpuh sejak lahir di Listra duduk mendengarkan Paulus sedang mengajarkan Firman, dan pemuda itu mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Paulus menatap dia dan melihat bahwa ia beriman untuk disembuhkan.

Lalu kata Paulus dengan suara nyaring: “Berdirilah tegak di atas kakimu!” Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari.

Tidak ada yang menumpangkan tangan. Tidak ada yang berdoa panjang. Tapi saat iman timbul karena mendengar Firman, mujizat langsung terjadi. Ia melompat dan berjalan!

Bayangkan, hanya dengan mendengar Firman dan dia dikelilingi suasana penuh iman, pemuda itu bisa sampai pada titik siap menerima kesembuhan yang mengubah hidupnya selamanya.

Itulah iman. Itulah ‘suara Tuhan’ yang disampaikan melalui Paulus.

Saat kita membaca buku yang ditulis oleh seseorang yang sudah mengalami Tuhan, maka yang ditulisnya adalah Firman dan kehendak Tuhan.
Ketika membacanya, bisa jadi kita mendapatkan pewahyuan saat membacanya.
Itulah ‘Suara Tuhan’ bagi kita.

Senantiasa ada orang-orang yang mengenal Tuhan lebih baik daripada kita. Belajar dari mereka, menghemat waktu dan membawa percepatan pengenalan kita akan Tuhan.

Tidak selalu juga harus persis dengan firman yang tertulis.
Kadang ada orang yang menyampaikan hikmat atau nasehat yang selaras dengan firman Tuhan, itu pun bisa merupakan ‘Suara Tuhan’, yang menjadi jawaban doa kita.

Nah … cara yang paling simple dan efektif, dengan sekolah. Contohnya, Sekolah Charis
Why?
Melalui sekolah, topik pelajarannya sudah tersusun rapi, mudah dimengerti.

Ketika saya bersekolah, mengalami percepatan yang melampaui apa yang bisa saya pikirkan.

Selain belajar topik pelajaran yang diajarkan, saya pun belajar dari pengalaman pribadi para guru. Pergumulan, kesalahan, kegagalan mau pun kesuksesan mereka. Semua itu menjadi ‘Peta Jalan’ bagi saya dalam menapaki masa depan.

Dan tidak hanya itu, teman-teman yang memilih sekolah, mereka pembelajar.
Kesaksian demi kesaksian dari pengalaman teman-teman yang menghidupi firman Tuhan juga sangat luar biasa.

Yang tanpa disadari, saya dikelilingi oleh teman-teman yang mengejar Tuhan dan firman-Nya. Suasana iman senantiasa mengelilingi, memudahkan saya mendapatkan berbagai jawaban doa serta hidup dalam berkat.

Apa yang terjadi?
Perubahan karakter dan kualitas hidup tercipta. Prioritas menjadi jelas. Nilai-nilai kebenaran terbentuk menjadi panduan kehidupan. Damai sejahtera yang melampaui segala akal menyelimuti hati.
Bebas stress, bebas ketakutan, tidak lagi responsif. Hidup jadi jauuuh lebih menyenangkan…

Saya merasa begitu diperlengkapi secara menyeluruh untuk menjalani kehidupan di masa depan.

Ada kabar menarik nich!
Salah seorang guru Charis, Daniel Amstutz, akan berkunjung ke Indonesia
Beliau akan berkunjung ke 4 kota sekaligus.

Spesialisasi pelayanan Daniel Amstutz adalah Pujian Penyembahan & Kesembuhan Ilahi.

“HEALING WORSHIP TOUR”
– “TUR IBADAH PENYEMBUHAN”

Yang akan diselenggarakan di:
? Jakarta 12 Juli 2025
? Semarang 14 Juli 2025
? Surabaya 16 Juli 2025
? Bali 18 Juli 2025.

Save The Dates!
Jangan lupa, catat tanggalnya teman-teman dan bersiaplah untuk hadir. Bawa teman dan saudara yang sakit.
Acara ini FREE….lho!

Hadir sama-sama yuk…..

“The first and most basic thing we can and must do is to keep God before our minds.” – Dallas Willard

“Hal pertama dan paling mendasar yang bisa dan harus kita lakukan adalah menjaga Tuhan tetap ada di dalam pikiran kita.” – Dallas Willard.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT*
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Kuncinya, Menempatkan Diri Agar Bisa Mendengar Tuhan…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Kuncinya, Menempatkan Diri Agar Bisa Mendengar Tuhan…

Dalam hidup ini, setiap kita pasti percaya pada sesuatu. Bisa Firman Tuhan, bisa pendapat dokter, pengalaman pribadi, atau berita yang kita dengar. Tapi jika yang kita percayai bertentangan dengan Firman Tuhan… itulah yang disebut ketidakpercayaan.

Di tengah pergumulan, saat fakta-fakta seolah berteriak—rasa sakit, kekurangan, tekanan, atau situasi yang tampak mustahil—apa yang seharusnya kita lakukan?

Duduk. Diam. Dan mendengar.

Sederhana, tapi bukan perkara mudah. Namun, di situlah kuncinya. Kita perlu mendisiplinkan diri untuk duduk dan menempatkan diri di bawah atmosfer iman—di mana kita bisa terus mendengar dan mendengar Firman Tuhan.

Bukan mendengar keluhan orang, bukan cerita sedih, apalagi berita-berita yang menyulut ketakutan. Tapi mendengar Firman yang hidup. Firman yang penuh kuasa, yang mampu membangkitkan iman dan mengubah keadaan apa pun!

“Iman datang dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Tuhan.” Maka ketika iman kita lemah, solusinya bukan sibuk cari pertolongan ke sana kemari, tapi justru kita perlu mendengar. Bukan satu kali, tapi terus-menerus. Sampai Firman itu mengakar dan menghasilkan keyakinan yang tak tergoyahkan di dalam hati kita.

Rahab si pelacur bisa percaya dan bertindak karena dia mendengar. Dia mendengar bagaimana Tuhan membelah Laut Merah, menaklukkan dua raja besar, dan menyertai bangsa Israel. Semua orang di kota Yerikho mendengar hal yang sama, tapi hanya Rahab yang merespon dengan iman.

Dia berkata, “Aku tahu!”
Bukan karena dia melihat…
Bukan karena kejadiannya sudah terjadi…
Tapi karena dia percaya Firman itu pasti digenapi.

Sungguh luar biasa!
Kalau Rahab bisa… kita pun bisa!

Tantangan zaman ini: kita hidup dalam dunia yang dipenuhi ‘laporan jahat’. Berita-berita yang secara fakta memang benar—penyakit, bencana, krisis ekonomi—namun sering kali justru membunuh iman. Maka, kalau kita lebih percaya pada fakta daripada Kebenaran Firman Tuhan, kita sedang membiarkan ketidakpercayaan bertumbuh diam-diam.

Pengalaman tidak bisa dijadikan standar kebenaran. Firmanlah yang menjadi tolok ukur segala sesuatu.

Karena itu, mari kita periksa: Apa yang sedang kita dengar setiap hari? Apakah yang kita dengar sedang membangun iman… atau malah menumbuhkan ketakutan?

Salah satu rahasia orang-orang yang hidup dalam dimensi mujizat: Mereka menjaga pintu hati mereka.

Apa yang masuk lewat telinga dan mata akan menentukan arah hidup kita. Jangan remehkan obrolan, tontonan, atau bacaan—semuanya punya kuasa membentuk pola pikir dan akhirnya… menentukan hasil hidup.

Sebaliknya, ketika kita menempatkan diri dalam lingkungan yang dipenuhi Firman, kesaksian, dan orang-orang yang percaya… atmosfer iman tercipta. Dan saat itulah, mujizat menjadi nyata.

Tuhan pernah menegur dengan lembut dalam hati,
“Kamu tak perlu tahu bagaimana caranya. Cukup tahu bahwa Aku sanggup.”

Dan benar. Saat kita duduk, diam, dan terus mendengar—iman itu tumbuh. Bukan karena kita memaksakan percaya, tapi karena benih Firman menyatu dengan roh kita… dan buahnya pun muncul dengan sendirinya.

Mungkin hari ini belum terasa perubahan. Tapi jangan berhenti mendengar. Teruskan. Karena Firman itu hidup dan aktif. Pada suatu ketika, pada titik tertentu …….. Ia akan menjadi rhema—pewahyuan pribadi dari Tuhan—yang menggerakkan tangan-Nya bekerja dalam hidup kita.

Jangan menunggu semuanya terlihat baik baru percaya. Tapi mari katakan bersama:
“Aku tahu, tahu dan tahu… Tuhanku sanggup dan setia menolongku!”

Seperti Rahab,kita pun akan melihat tangan Tuhan bekerja—melampaui nalar, melampaui harapan.

“Faith sees the invisible, believes the unbelievable, and receives the impossible.” – Corrie ten Boom.

“Iman melihat yang tak kelihatan, percaya pada yang tak masuk akal, dan menerima yang mustahil – Corrie ten Boom.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN


#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Roh Kudus, Sahabat Terdekatku—Lebih dari Sekadar Pengalaman ….

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Roh Kudus, Sahabat Terdekatku—Lebih dari Sekadar Pengalaman ….

Saya masih ingat betul saat pertama kali saya berbahasa roh. Rasanya… luar biasa! Saya menitikkan air mata terharu, tersungkur, dan hati saya meluap penuh sukacita. Seolah langit terbuka dan saya disentuh langsung oleh hadirat Tuhan.

Tapi lama-lama, sadar… itu baru permulaan. Saya hanya mencicipi awalnya saja, belum benar-benar mengenal Pribadi agung di balik pengalaman itu—Roh Kudus.

Terlalu sering kita menjadikan Roh Kudus seperti alat. Kalau sudah bisa berbahasa roh, kita merasa “sudah sampai.”
Tujuan Sudah Tercapai. No!!!

Itu baru pintu masuk ke dunia rohani. Seperti bayi yang baru lahir, kita perlu bertumbuh, belajar mendengar suara-Nya, dan melibatkan Dia dalam setiap aspek kehidupan kita.

“As a man thinks in his heart, so is he. – Seperti seseorang berpikir dalam hatinya, demikianlah dia”

Cara kita memandang Roh Kudus sangat menentukan cara kita berelasi dengan-Nya. Jika kita hanya mengejar kuasa-Nya, mengharapkan mujizatnya semata maka kita akan kecewa….itu sekedar puncak gunung es yang terlihat di permukaan.

Di bawah laut masih tersimpan gunung besar yang menyimpan berbagai kelimpahan, kuasa dan hal-hal dahsyat yang semestinya bisa kita nikmati. Syaratnya?
Bangun hubungan pribadi yang intim dengan-Nya.
Dialah Roh Penolong yang dikirim Bapa untuk menuntun, membimbing serta mengarahkan kita. Dia tidak pernah membiarkan atau meninggalkan kita.
Namun Dia juga pribadi yang sopan dan lembut. Dia tidak petnah memaksakan kehendak-Nya.
Tergantung apakah kita mengundang-Nya untuk bejerjasama serta mengijinkan-Nya untuk berkarya dalam kehidupan kita.

Jika kita menyadari, Dia adalah Sahabat sejati yang tinggal di dalam kita, hidup kita pun akan diubahkan dari dalam.
Roh Kuduslah satu-satunya Sahabat Sejati yang terus akan menemani kita, hingga kita kembali ke rumah Bapa..

Siapa orang terdekat kita?
Suami? Anak? Orangtua? Sohib?
Percayalah…. saat kita meninggal, kita akan berangkat sendirian. Suami, anak, orangtua apalagi sahabat hanya mengantar hingga ke persemayaman yang terakhir.
Siapa yang tetap menemani kita?
Roh Kudus!
Karena siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. 1 Korintus 6:17 (TB)

Bulan 30 Desember 2009, kami sekeluarga terjebak di padang belantara Western Australia saat hendak menuju Pinnacles. Cuti libur di Aussie sejak 29 Desember hingga Senin 3 Januari 2010.
Mobil Camry sewaan kami selip.
Tidak ada signal HP, saat itu masih menggunakan GPS Garmin. Kami tersesat di hamparan tabah kosong yang belum digarap. Tidak ada bangunan, tidak ada manusia dan tidak ada mobil lewat karena kami cukup jauh dari jalan raya. Yang ada hanya kangguru yang berkali-kali lewat.

Secara nalar logika, semua jalan buntu. Di luar kota besar Australia, jalanan sangat sepi. Lebih banyak domba daripada manusianya.
Kami hanya bisa berdoa minta mujizat pertolongan Tuhan.
Apa yang terjadi?
Keesokan paginya ada mobil Jeep besar datang, melewati tempat kami terdampar. Pabrik nereka berlawanan arah tetapi Roh Kudus menuntun mereka agar berputar agar bertemu dengan kami.
Bukankah sungguh luar biasa? Roh Kudus tidak pernah terlambat atau gagal. Tepat ketika kami sudah bersiap-siap menyiapkan koper cabin untuk meninggalkan mobil kami untuk mencari pertolongan dan menyelamatkan diri!

Zakharia 4:6-7 mengajarkan:
“Bukan dengan kekuatan, bukan dengan kuasa, tetapi dengan Roh-Ku, firman TUHAN semesta alam… Gunung besar akan menjadi dataran!”

Masalah besar sekalipun akan tunduk saat kita berjalan bersama Roh Kudus. Tapi sayangnya, banyak orang percaya tidak mengenal Pribadi ini. Kita sibuk mengejar mujizat, tanpa membangun hubungan dengan Sang Pembuat mujizat.

Yesus sendiri tidak memulai pelayanan-Nya tanpa Roh Kudus. Ia dibaptis, Roh turun ke atas-Nya. Ia dipimpin Roh ke padang gurun, dan kembali dalam kuasa Roh. Sebelum naik ke sorga, Ia berkata:
“Tinggallah di Yerusalem sampai kamu diperlengkapi dengan kuasa dari tempat tinggi.” (Lukas 24:49)

Kuasa itu bukan sekadar kemampuan supranatural—itu Pribadi Allah sendiri yang tinggal di dalam kita!

Pernahkah kita menyapa-Nya pagi hari?
“Selamat pagi, Roh Kudus. Terima kasih Engkau menyertai saya saat tidur dan memberkatinya. Apa yang Engkau ingin sampaikan hari ini? Saya mau menyelaraskan hidupku dengan rancanganMu.”

Ketika saya mulai berbicara kepada-Nya seperti seorang Sahabat, hidup saya berubah. Saya mendapatkan arahan dalam keputusan penting, kekuatan saat lemah, dan tuntunan dalam pelayanan.

Dia Allah. Dia Pribadi. Dia Sahabat. Dan saat kita menyambut Dia sebagai Sahabat sejati, bahkan gunung terbesar pun akan menjadi dataran.

“The reason the world is not seeing Jesus is that Christian people are not filled with Jesus. They are satisfied with attending meetings weekly, reading the Bible occasionally and praying sometimes. It is an awful thing to see people who profess to be Christians live lifeless, powerless, and Christless lives.” —Smith Wigglesworth.

“Alasan dunia tidak melihat Yesus adalah karena orang Kristen tidak dipenuhi oleh Yesus. Mereka puas hanya menghadiri pertemuan mingguan, membaca Alkitab sesekali, dan berdoa kadang-kadang. Sungguh tragis melihat orang yang mengaku Kristen hidup tanpa kehidupan, tanpa kuasa, dan tanpa Kristus.” —Smith Wigglesworth.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 37 38 39 40 41 314