Category : Articles

Articles

“Obituari: Dolores “Dodie” Osteen (1933–2025) Kesaksian Hidup Mukjizat Kesembuhan Seorang Ibu yang Menginspirasi Dunia.

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Obituari: Dolores “Dodie” Osteen (1933–2025)
Kesaksian Hidup Mukjizat Kesembuhan Seorang Ibu yang Menginspirasi Dunia.

Dunia kehilangan salah satu wanita beriman yang paling dikasihi dan dihormati, ketika Dolores “Dodie” Osteen meninggal dunia pada bulan Juli 2025 di usia 91 tahun. Istri dari pendeta dan pendiri Lakewood Church, John Osteen, serta ibu dari pengkhotbah terkenal Joel Osteen, Dodie meninggalkan warisan iman yang teguh, kasih yang tak bersyarat, dan kesaksian kesembuhan ilahi yang telah menguatkan jutaan manusia di seluruh dunia.

Perjalanan luar biasa Dodie dimulai pada tahun 1981 ketika ia didiagnosis menderita kanker hati metastasis, dengan prognosis medis yang suram: hanya beberapa minggu untuk hidup. Tumor besar ditemukan di hatinya, dan para dokter menyatakan, tidak ada pengobatan medis yang dapat menyelamatkannya. Saat keluarga Osteen dilanda keterkejutan dan duka mendalam, mereka mengambil keputusan penting — berpaling kepada Tuhan, bukan ketakutan.

Alih-alih menyerah pada vonis itu, Dodie MEMILIH untuk berdiri di atas janji-janji Tuhan. Ia meninggalkan rumah sakit dan memutuskan untuk berperang dalam iman, bersenjatakan Firman Tuhan dan keyakinan bahwa kesembuhan adalah hak anak-anak-Nya.

Setiap hari, Dodie membaca keras-keras ayat-ayat Alkitab tentang kesembuhan, berdoa, dan menyatakan firman itu atas tubuhnya. Ia menuliskan ayat-ayat itu dan menempelkannya di rumahnya, menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari. Meski tubuhnya lemah dan gejala tetap ada, Dodie tidak membiarkan rasa takut dan keputusasaan menguasainya. Ia terus menjalani rutinitas harian — membersihkan rumah, memasak, bergerak — sebagai tindakan iman, kesembuhan sedang berlangsung.

Beberapa nilai penting yang menjadi kunci kesembuhannya adalah
– Iman yang tak tergoyahkan kepada Firman Tuhan

– Ketaatannya yang konsisten, walau tidak melihat hasil instan

– Hati yang bersih dari kepahitan, dengan meminta maaf kepada siapa pun yang pernah ia sakiti.

– Deklarasi Firman secara aktif, bukan pasif.

Simbol-simbol iman yang kuat, seperti menaruh foto dirinya saat sehat sebagai pengingat bahwa Tuhan sanggup memulihkan.

Dalam salah satu momen paling simbolik dari perjuangannya, Dodie berdiri secara harfiah di atas Alkitab, menyatakan bahwa ia secara fisik dan spiritual berdiri di atas janji-janji Tuhan. Tidak ada mukjizat dramatis dalam satu malam — kesembuhannya terjadi secara bertahap dan diam-diam, namun nyata dan utuh.

Beberapa minggu menjadi beberapa bulan, dan kemudian menjadi tahun-tahun panjang yang dipenuhi pelayanan dan kesaksian. Saat ia kembali ke dokter, hasil pemeriksaan menunjukkan sel kanker telah lenyap tanpa penjelasan medis.
Para dokter tidak mampu memahami, tapi bagi Dodie dan keluarganya, itu adalah tangan Tuhan yang menyentuh tubuhnya.

Sejak saat itu, Dodie mendedikasikan hidupnya untuk membagikan kesaksian kesembuhan ini kepada dunia. Ia menulis buku kecil berjudul Healed of Cancer (Disembuhkan dari Kanker), yang telah dicetak jutaan eksemplar dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Ia tidak hanya berbicara soal kesembuhan fisik, tetapi juga kesembuhan jiwa dan pemulihan hidup, mendorong orang lain untuk mempercayai kuasa Firman Tuhan dalam setiap aspek kehidupan mereka.

Hingga usia senjanya, Dodie tetap aktif berdoa bagi yang sakit, memberi pengharapan bagi yang putus asa, dan menyatakan, Yesus Kristus masih menyembuhkan sampai hari ini. Dengan kelembutan dan kekuatan yang bersatu, ia menjadi teladan bagi generasi wanita Kristen tentang *bagaimana hidup dalam kemenangan, tidak dengan kekuatan sendiri, tetapi *dengan iman yang bersandar pada Tuhan yang hidup.

Kepergiannya adalah kehilangan besar, namun warisannya akan terus hidup — dalam keluarga, gereja, dan jutaan hati yang telah disentuh oleh kesaksian kesembuhan dan iman Dodie Osteen. Hidupnya membuktikan, apa yang tak dapat disembuhkan oleh manusia, bisa sepenuhnya dipulihkan oleh Tuhan. Dan yang terpenting, bahwa tidak ada diagnosis yang final ketika Tuhan masih bekerja.

Selamat jalan, Dodie Osteen…
Hidupmu menjadi saksi hidup, betapa janji Tuhan tidak pernah sia-sia.

“Never underestimate the power of prayer. It can move mountains and open closed doors – Mother Teresa.

Jangan pernah meremehkan kekuatan doa. la mampu menggerakkan gunung dan membuka pintu yang tertutup.”
– Mother Teresa.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN


#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Bukan Sekadar Berdoa, Inilah Hidup di Level Tuhan.

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Bukan Sekadar Berdoa, Inilah Hidup di Level Tuhan.

Diciptakan Sejenis dengan-Nya

Kita sering mendengar bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
Sadarkah kita bahwa ini berarti kita diciptakan sejenis dengan-Nya?

Pernahkah kita duduk sejenak dan memikirkan: Mengapa? Why
Jawabannya sederhana tapi dalam: supaya kita bisa bersekutu dengan Dia di level-Nya sendiri. Roh dengan Roh.

Roh kita diciptakan sejenis dengan-Nya. Ini bukan sekadar teori. Ini realitas yang mengubah cara kita memandang hidup. Tuhan tidak mau ada jarak. Ia ingin kita bisa berbicara dengan-Nya, mengenal-Nya, dan menikmati hadirat-Nya, bukan sebagai makhluk rendah yang hanya mengemis dari jauh, tetapi sebagai anak-anak yang duduk di dekat hati-Nya.

Bayangkan taman Eden. Alkitab mencatat, pada waktu hari sejuk Tuhan datang dan bercakap-cakap dengan Adam dan Hawa. Indah sekali. Tetapi ada sesuatu yang lebih dahsyat terjadi setelah Yesus datang. Kita hidup di era yang lebih mulia. Kita tidak perlu menunggu Tuhan turun untuk berjalan bersama kita. Melalui karya Kristus, kita diangkat, dibangkitkan, dan didudukkan bersama Dia. Kita dibawa naik ke level-Nya.

Inilah inti dari hidup kekal: mengenal Dia, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Dia utus

Dari pengenalan itulah mengalir segala sesuatu yang kita butuhkan. Bukankah itu luar biasa? Betapa sering kita sibuk mengejar berkat, padahal sumber berkat itu ada dalam persekutuan dengan-Nya.

Segala jawaban hidup ada di satu tempat: mengenal Dia.
Ketika kita mengenal Dia, damai sejahtera menggantikan kegelisahan. Arahan menggantikan kebingungan. Sukacita menggantikan kepahitan. Penyediaan menggantikan kekurangan. Seringkali kita berpikir hidup ini rumit, padahal rahasianya sederhana: dekat dengan Tuhan.

Tidak heran Paulus berkata, “Yang kukehendaki hanyalah mengenal Dia.” Itu tujuan tertinggi.
Berjalan dan hidup dalam persekutuan yang berkesinambungan, tak terputus, dengan-Nya. Seperti menghirup udara, kita hidup dalam hadirat-Nya setiap detik.

Hubungan ini bukan sekadar doa lima menit di pagi hari. Ini gaya hidup.
Bicara dengan Tuhan di dapur, di jalan, di ruang kerja. Berjalan bersama-Nya di dalam pikiran kita. Sadar akan-Nya setiap saat. Mengalir dengan Roh Kudus di tengah kesibukan sehari-hari.

Kita diciptakan sejenis dengan-Nya, supaya persekutuan ini mungkin terjadi. Tidak ada hewan yang bisa bersekutu dengan Tuhan. Malaikat pun tidak mendapat hak istimewa seperti ini. Tapi kita? Kita dibawa masuk ke dalam hidup Allah sendiri. Kita diundang masuk ke dalam hubungan yang penuh kasih, penuh keakraban.

Apakah kita sadar betapa agungnya hak istimewa ini?
Tidak ada yang lebih berharga di bumi ini selain mengenal Tuhan.
Dari pengenalan itu, semua kebutuhan hidup akan dicukupkan. Dari pengenalan itu mengalir hikmat, kesabaran, kekuatan, bahkan mukjizat.

Jangan biarkan hidup kita sekadar berputar mengejar dunia dan lupa inti hidup. Kita diciptakan bukan sekadar untuk bertahan hidup, bekerja, lalu mati.
Kita diciptakan untuk mengenal-Nya, untuk menikmati Dia, dan melalui itu memancarkan hidup-Nya ke segala area hidup kita. Menjadi Terang Dunia dan Alkitab yang terbuka.

Jadi marilah kita belajar menjadikan satu hal ini sebagai pusat hidup kita: mengenal Dia.
Setiap pagi, katakan: “Tuhan, aku mau berjalan dengan-Mu hari ini. Aku ingin berbicara dengan-Mu sepanjang hari. Ajari aku untuk peka akan hadirat-Mu.”

Saat kita hidup dalam persekutuan yang hidup dengan Tuhan, mata air surgawi akan mengaliri setiap bidang hidup kita. Dan kita akan menemukan, ternyata semua yang kita butuhkan sudah ada di dalam Dia.

“There is not in the world a kind of life more sweet and delightful than that a continual of conversation with God.” – Brother Lawrence.

“Tidak ada kehidupan yang lebih manis dan menyenangkan di dunia ini selain hidup dalam percakapan terus-menerus dengan Tuhan” – Brother Lawrence.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN


#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Mengapa Jam Kota Tidak Lagi Akurat? Pelajaran Hikmat Yang Membawa Hidup Yang Terbaik!

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Mengapa Jam Kota Tidak Lagi Akurat? Pelajaran Hikmat Yang Membawa Hidup Yang Terbaik!

Wow! Apa jadinya jika jam pusat kota, yang selama ini menjadi patokan waktu semua orang, tiba-tiba tidak lagi bisa dipercaya?

Ada sebuah cerita menarik yang begitu sederhana—tapi menyimpan hikmat dalam. Di tengah kota, berdiri sebuah menara tinggi dengan jam besar yang terpasang di puncaknya. Orang-orang yang berlalu-lalang setiap hari, akan melirik ke atas, memeriksa jam di menara, lalu menyesuaikan jam tangan mereka. Karena mereka percaya, jam itu adalah patokan yang pasti. Standar kebenaran waktu.

Tapi lalu… terjadilah sesuatu yang tidak biasa.

Beberapa orang mulai mengeluh.
“Kenapa jam itu dipasang begitu tinggi? Sulit dilihat!”
“Kenapa tidak diturunkan saja ke bawah, supaya lebih gampang diakses semua orang?”

Seperti biasa, kita seringkali ingin menyesuaikan hal yang seharusnya menjadi standar dengan kenyamanan pribadi kita, bukan?

Akhirnya, dalam rapat warga kota, diputuskan: Jam kota akan diturunkan ke level mata. Di mana semua orang bisa melihat—bahkan menyentuhnya.

Awalnya, semua senang. Wah! Sekarang mudah melihat jam. Tapi tidak lama kemudian, muncul kebiasaan baru:
Kalau jam itu berbeda dengan jam tangan seseorang, bukan jam tangannya yang disesuaikan, tapi jam kota itu yang diubah.

“Saya yakin jam saya yang benar,” kata satu orang.
Lalu datang orang berikutnya—melakukan hal yang sama.
Dan selanjutnya. Dan selanjutnya.

Lama-lama? Jam kota yang dulunya menjadi acuan kebenaran waktu, kini menjadi kacau. Diubah begitu banyak tangan dengan versi waktu masing-masing, hingga akhirnya rusak total.

Dan… dibuang.

Gubraaaaakkkk…… Ini bukan cuma soal jam.

Ini adalah gambaran tentang Firman Tuhan di tengah dunia kita saat ini.
Dulu, Firman Tuhan menjadi patokan. Sumber kebenaran mutlak. Orang menyesuaikan hidupnya dengan Firman. Tapi kini?

Banyak orang berkata:
“Ah, firman itu kelihatannya terlalu keras, kita ubah sedikit ya.”
“Zaman sudah berubah, masa Tuhan masih melarang hal itu?”
“Saya percaya Tuhan pasti mengerti maksud hati saya.”

Wow! Sejak kapan manusia berhak mengubah Firman Tuhan?

The Real Question: Who is the Standard?
Apakah Tuhan harus menyesuaikan diri dengan manusia?
Atau justru kita yang harus menyesuaikan hidup dengan Tuhan?p

Firman Tuhan itu kekal. Tidak berubah. Tidak bergantung pada opini publik atau tren sosial. Sama seperti jam kota yang dulu berada di tempat tinggi—bukan untuk disesuaikan, tapi untuk menjadi patokan.

Ketika kita mulai menurunkan standar Firman supaya cocok dengan kehendak pribadi, maka kita bukan lagi hidup di dalam kebenaran—kita hanya hidup dalam versi “kebenaran” kita sendiri.

Dan hasilnya?
Kacau.
Tidak ada lagi kesatuan nilai. Setiap orang berjalan menurut pandangannya sendiri.
Raja Salomo berkata, “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.”

Prinsipnya, Tuhan tidak memanggil kita untuk mengubah Firman-Nya, tapi untuk mengubah diri kita sesuai Firman.
Kebenaran bukan berdasarkan mayoritas, tapi pada siapa Tuhan itu.
Hikmat itu menyadari bahwa Tuhan tahu lebih baik dari kita—dan karenanya, kita memilih untuk tunduk, bukan menuntut.

Saat kita mengizinkan Firman Tuhan kembali berada “di tempat tinggi”, sebagai otoritas tertinggi dalam hidup kita, maka hidup kita akan kembali menemukan ketepatan arah, kejelasan tujuan, dan damai yang sejati.
Bukan karena kita hebat, tapi karena kita berpegang pada standar yang benar.

Hikmat itu bukan menurunkan standar supaya kita nyaman, tapi meninggikan Tuhan supaya hidup kita selaras dengan-Nya.

Yuk, kembalikan “jam kota” kita ke tempat semula.
Tuhanlah pusat waktu dan kebenaran kita—bukan yang lain.
Siap?

“If you board the wrong train, it is no use running along the corridor in the opposite direction.” – Dietrich Bonhoeffer.

“Jika kamu naik kereta yang salah, percuma berlari ke arah sebaliknya di dalam kereta. – Dietrich Bonhoeffer.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN


#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

“Yesus Dalam Luka Umat-Nya”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Yesus Dalam Luka Umat-Nya”

Dikhianati, ditusuk dari belakang, dilukai orang yang kita percaya… Menyakitkan bukan?
Dan yang membuat luka itu semakin dalam adalah karena yang melakukannya justru orang-orang dekat — teman seperjalanan, rekan pelayanan, bahkan anggota keluarga.

Saya pernah ada di sana.
Dan jujur saja, tidak ada yang mudah dari pengalaman itu.

Awalnya saya bergumul. Mengapa, Tuhan? Kenapa Engkau izinkan ini terjadi?
Bukankah aku mengasihi mereka? Bukankah aku hanya ingin menjadi saluran berkat?

Tapi kemudian saya belajar.
Ternyata, saat kita disakiti, Tuhan mengambilnya secara personal.

Dalam Kisah Para Rasul 9:4, ketika Yesus menampakkan diri kepada Saulus di jalan menuju Damsyik, Ia berkata, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?”
Padahal secara fisik, Saulus tidak menyentuh Yesus. Ia “hanya” menganiaya para pengikut-Nya. Namun Yesus menyamakan penderitaan umat-Nya dengan penderitaan-Nya sendiri.

Luar biasa bukan?
Tuhan begitu mengasihi kita hingga apa yang menyentuh kita — menyentuh-Nya juga.

Hmmm…..Jangan Ambil Alih Tugas Tuhan!

Rasanya ingin membela diri, ingin menjelaskan, ingin membalas. Itu manusiawi.
Tapi saya belajar dan diingatkan akan firman dalam Roma 12:19,
“Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.”

Saat kita membela diri, sebenarnya kita sedang mengatakan, “Tuhan, aku tidak percaya Engkau akan membelaku.”
Itu bentuk ketidakpercayaan, dan Tuhan tidak bekerja dalam ketidakpercayaan.

Banyak orang ingin melihat pembelaan Tuhan, tapi terus berusaha menyelesaikan semuanya dengan caranya sendiri. Mereka tak sadar, tangan Tuhan hanya bekerja ketika kita berhenti menggunakan tangan kita sendiri.

Berhenti membela diri bukan berarti kita lemah.
Justru sebaliknya, itu bukti bahwa kita percaya penuh kepada Tuhan yang berdaulat, adil, dan tidak pernah gagal menepati janji-Nya.

Tuhan itu tidak pernah tidur. ‘Gusti Allah mboten sare…’
Apa yang penting untuk kita, itu penting juga bagi Tuhan.

Saat kita memilih diam, menyerahkan luka dan pengkhianatan kepada Tuhan, kita sedang memberikan ruang bagi pengadilan surga bekerja.
Saya pernah menyaksikan bagaimana Tuhan membela saya — secara terbuka, gamblang, dan di luar perkiraan saya.

Orang-orang yang dulu salah paham, mencemarkan nama baik, akhirnya datang meminta maaf.
Yang lain melihat kebenaran yang selama ini saya pegang teguh.
Dan saya? Hanya bisa tersenyum dengan kagum, “Tuhan, Engkau adil. Engkau tahu segala sesuatu.”

Bahkan Tuhan berjanji, apa yang dicuri si musuh melalui orang-orang yang mau dipakainya, si iblis harus mengembalikan 7 kali lipat.
Wow….. dahsyat bukan?

Saya belajar bahwa dalam kerajaan Allah, tidak ada luka yang sia-sia.
Setiap pengkhianatan yang kita alami — jika kita menyerahkannya kepada-Nya — akan diubah menjadi mahkota kemuliaan.

Sakit hati bukan untuk disimpan.
Luka bukan untuk dikubur.
Tapi untuk diproses, diampuni, dan diserahkan.

Mengampuni bukan berarti membenarkan tindakan mereka.
Tapi itu berarti kita membebaskan diri kita dari jerat kepahitan yang menggerogoti damai sejahtera kita.

Dan percayalah, saat kita memilih jalan salib — jalan yang sempit dan tidak populer — kita akan melihat tangan Tuhan menyatakan pembelaan-Nya secara nyata.

Hari ini… mungkin kita sedang terluka.
Dikhianati, disalahpahami, difitnah.
Jangan takut. Jangan balas. Jangan patah.

Tuhan melihat. Tuhan tahu. Dan Tuhan akan bertindak.

Biarkan Dia yang membela.
Sementara kita terus melangkah… dengan damai, penuh kasih, dan percaya bahwa akhir dari orang benar itu selalu penuh kemuliaan.

Saya pun belajar. Bagaimana dengan Anda?

“Darkness cannot drive out darkness; only light can do that. Hate cannot drive out hate; only love can do that. – Martin Luther King Jr.

“Kegelapan tidak bisa mengusir kegelapan; hanya cahaya yang bisa melakukan itu. Kebencian tidak bisa mengusir kebencian; hanya kasih yang bisa melakukan itu.- Martin Luther King Jr.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Kebaikan Itu Tidak Pernah Kadaluarsa”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

“Kebaikan Itu Tidak Pernah Kadaluarsa”

“Getting that account gave him the chance to start Reich Insurance Brokers and grow it into a successful company.”

Mendapatkan akun itu memberinya kesempatan untuk memulai Reich Insurance Brokers dan mengembangkannya menjadi perusahaan yang sukses.

Wow…… luar biasa!

Kalimat itu bukan sekadar akhir sebuah cerita bisnis, tetapi bukti nyata bahwa kebaikan yang ditabur tidak pernah sia-sia, bahkan lintas generasi.

Ceritanya begini.
Tahun 1943, J.J. Reich hanyalah agen asuransi biasa di Manchester, Inggris. Hidupnya pas-pasan, gaji kecil, dan hampir putus asa. Ia punya teman bernama Hassan Labedini, salah satu pengusaha paling berhasil di kota itu. Hassan menyarankan J.J. agar mendatangi Oliver Johnson di Westminster Bank—orang yang selama ini mengurus polis asuransi perusahaannya.

Dengan penuh harap, J.J. datang, menceritakan kesulitannya, dan meminta Oliver memindahkan polis itu kepadanya. Jawabannya singkat: “Tidak!” Tanpa empati, Oliver bahkan tidak tertarik membantu.

J.J. berdiri dan bersiap keluar. Namun sebelum pergi, ia menyerahkan kartu namanya dan berkata, “Kalau suatu hari Anda berubah pikiran, tolong hubungi saya.”

Baru saja mencapai pintu, Oliver memanggil, “Anak muda, bisa kembali sebentar? Saya lihat nama belakangmu Reich. Apakah kamu keturunan Elozor Reich?”

“Ya, dia kakek buyut saya,” jawab J.J.

Lalu Oliver bercerita: “39 tahun lalu, saat saya baru bekerja di bank ini, saya hampir berhenti karena perlakuan buruk atasan-atasan saya. Tapi setiap pagi, kakek buyutmu datang ke bank ini, membantu imigran baru membuka rekening supaya bisa mengirim uang ke keluarganya. Ia memperlakukan mereka semua dengan penuh hormat. Hanya karena beliau, saya bertahan. Kalau benar dia kakek buyutmu, maka bisnis ini saya serahkan padamu.”

Satu keputusan itu mengubah hidup J.J. Akun besar itu menjadi batu loncatan baginya untuk memulai Reich Insurance Brokers, yang kelak berkembang menjadi perusahaan sukses.

Kita tidak pernah tahu bagaimana sebuah kebaikan kecil hari ini, yang dilakukan dengan tulus, dapat menjadi jawaban doa bagi seseorang bertahun-tahun kemudian. Bahkan cucu cicitnya bisa menikmati hasil dari benih yang kita tabur.

“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena pada waktunya kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”

Sering kali kita lelah karena merasa tidak dihargai. Ada yang bahkan membalas kebaikan dengan ketus. Tapi kisah ini membuktikan satu hal: Tuhan tidak pernah melupakan benih yang kita tabur. – Gusti Allah Mboten Sare.

Elozor Reich tidak mencari pujian. Ia tidak tahu Oliver yang muda itu sedang putus asa. Ia hanya memilih hidup sesuai hati Tuhan: menghormati orang, membantu, memperlakukan sesama dengan kasih. Tidak ada kamera, tidak ada sorak-sorai. Tapi Tuhan melihat.

Hidup ini singkat. Jejak kita akan tetap tinggal, baik atau buruk. Kita bisa memilih untuk meninggalkan jejak kasih. Kita tidak bisa menentukan hasilnya hari ini, tetapi kita bisa menentukan benih yang kita tanam. Dan Tuhanlah yang membuat benih itu bertumbuh.

Saya sering menggunakan ilustrasi, jika kita menanam biji mangga, sudah pasti buahnya mangga. Tidak mungkin durian.
Tidak mungkin tertukar.
Saat menabur benih kebaikan, tidak usah dipikirkan… pasti buahnya baik juga, meski entah kapan berbuahnya. Tinggal tunggu waktu saja.

Siapa tahu, di masa depan, benih yang kita tanam menjadi pintu terbuka yang menyelamatkan keluarga kita, persis seperti Elozor Reich.

Karena itu, teruslah menabur. Bukan untuk mencari balasan dari manusia, melainkan untuk memuliakan Tuhan.
Untuk itulah kita diciptakan Tuhan di dunia ini.
Diberkati untuk menjadi berkat bagi sesama.
Kebaikan yang kita tabur, sekecil apa pun, tidak akan pernah sia-sia.
“Gusti Allah mboten sare” – Tuhan tidak tidur….

Setuju? Yuk praktik…..

“We can’t always do great things. But we can always maintain small things with a big love.” – Mother Teresa.

“Kita tidak selalu bisa melakukan hal-hal besar. Tetapi kita selalu bisa melakukan hal kecil dengan kasih yang besar.” – Mother Teresa.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 33 34 35 36 37 319