Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Tur Harbin: Changchun – Dunhua, Kaisar Boneka dan Harga Sebuah Kebebasan.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tur Harbin: Changchun – Dunhua, Kaisar Boneka dan Harga Sebuah Kebebasan.

Pernah menonton film The Last Emperor?
Nach, hari ini kami mengunjungi Puppet Emperor Palace, istananya Kaisar Puyi. Terdiri dari istana lama yang dibangun tahun 1928 dan istana baru yang dibangun untuk istri ke 4 Puyi tahun 1937.

Sesungguhnya, Puyi bukan penerus utama takhta Dinasti Qing. la dipilih justru karena masih sangat kecil dan tidak memiliki kekuatan politik. Setelah Kaisar Guangxu wafat tanpa keturunan, kekuasaan berada di tangan Permaisuri Cixi yang membutuhkan kaisar yang mudah dikendalikan. Puyi, yang baru berusia sekitar dua tahun, menjadi pilihan ideal. Sejak awal, mahkota itu bukan diberikan untuk memerintah, melainkan untuk diatur

Puyi dinobatkan menjadi kaisar pada tahun 1908, saat usianya masih balita. Secara resmi ia memerintah hingga 1912, ketika Dinasti Qing runtuh akibat Revolusi Nasionalis. Jadi secara kalender, ia adalah kaisar selama sekitar empat tahun. Namun pada kenyataannya, masa kekuasaan itu lebih bersifat simbolis daripada nyata.

Setelah turun takhta, Puyi masih diizinkan tinggal di Forbidden City hingga tahun 1924. la tinggal di Forbidden City selama 12 tahun, dijaga ketat dan hidup tanpa kuasa, seolah menjadi penjaga simbolis dari istana yang pernah menjadi miliknya.

Puyi mencari bantuan ke berbagai negara agar kekaisarannya bisa kembali.
Puyi mencoba mencari dukungan dari berbagai pihak, bahkan rela melepas banyak harta kekaisaran, berharap tahtanya bisa kembali.
Puyi percaya. Ternyata, banyak negara hanya mengincar hartanya.

Lalu datang Jepang dengan tawaran “pertolongan”. Puyi dibawa ke Jepang, disetting pulang Tiongkok dengan sambutan massa yang berteriak “Wansui…Wansui…Wansui….!”.

Wansui artinya “hidup seribu tahun” atau “panjang umur selamanya.”
Ia tersenyum. Ia pikir, inilah yang ia tunggu. Dia tidak sadar, semua itu propaganda Jepang, bukan kejadian spontan.

Sekembalinya ke Tiongkok, ia ditempatkan di Changchun, dibuatkan istana yang meniru Beijing. Bahkan dibangun tiruan Tiananmen Square. Megah, rapi, dan palsu.

Suatu hari, Puyi ingin berjalan keluar sendirian. Seorang prajurit melarangnya. Di situlah ia sadar: ia bukan kaisar. Ia ‘tahanan’. Raja boneka. Puppet emperor.

Tiga kali jadi raja, tiga kali pula jadi rakyat biasa. Ia kaisar pertama yang bisa bahasa Inggris, pernah naik sepeda, hidup modern—namun tak pernah merdeka.

Kisah paling menyayat adalah tentang istri ketiganya, Tan Yuling, yang paling ia cintai. Wafat di usia 22 tahun. Sakit batuk parah. Obat herbal terlalu lambat. Puyi ingin Yuling segera sembuh maka meminta dokter Barat. Seorang perwira Jepang berbicara 1 jam dengan sang dokter sebelum memberi suntikan pada Yuling. Subuhnya Tan Yuling meninggal.

Mengapa Yuling harus ‘dihilangkan’?
Ia dikenal jujur dan berani mengingatkan Puyi tentang kelicikan Jepang. Terlalu berbahaya untuk dibiarkan hidup.

Pemakamannya dibuat megah, dengan mawar hitam yang harganya setara mobil pada zamannya.
Jepang lalu ingin menjodohkan Puyi dengan perempuan Jepang. Ia menolak. Perempuan itu akhirnya dinikahkan dengan adiknya. Puyi kemudian menikah dengan gadis 15 tahun, istri keempat, yang menemaninya sampai akhir hidup.

Di kompleks istana ada monumen jam yang konon disetel sesuai waktu ketika Puyi mencoba melarikan diri. Ini menjadi simbol momen runtuhnya ilusi terakhirnya sebagai kaisar.

Saat perang dunia ke 2, Jepang kalah. Sementara Uni Soviet juga mengincar China utara yang subur dan kaya berbagai tambang mineral yang langka di dunia. Puyi berusaha melarikan diri.Tetapi naas, Puyi ditangkap Soviet di Mukden (Shenyang) airport, 1945. Maka dia menjadi tahanan Uni Soviet.

Akhirnya China bersedia membebaskan Puyi dari tangan Soviet, asalkan dia bersedia bersaksi tentang strategi dan kejahatan Jepang.

Disebut Puppet Emperor karena sepanjang hidupnya, Puyi hanya memegang mahkota—tanpa pernah memegang kendali. Sebuah istana indah, kisah besar, dan pelajaran sunyi tentang kuasa tanpa kebebasan.
Sungguh tragis!

Selanjutnya, kami Nanhu Park, berfoto ria dan ini dia yang keren….
Teng… Teng…Teng ….. mengunjungi Jingyue lake yang konon kembarannya dari Sun Moon Lake di Taiwan.

Karena suhu minus 20 derajad Celcius, danaunya membeku jadi es dan banyak permainan di sana.
Seru sekali mengendarai Jeep di atas es. P. Indra senang sekali bersama teman-teman beraksi memutar jeep semaksimal mungkin hingga lebih dari 180 derajad…
Ngepot… kata orang jawa.

Tidak puas hanya sekali, awalnya pakai jeep hijau, ternyata lebih kecil dibandingkan jeep merah. Maka ronde ke dua P. Indra pakai jeep merah yang besar.

Wow….. gaya banget… lomba ngebut sambil merasakan terpaan angin dingin di wajah.
Tidak mau kalah gaya bak pembalap profesional….

Kami juga naik 6 bebek plastik beroda yang ditarik jeep dan di putar-putar jadilah deretan bebek berlarian ke kanan kiri….. sambil sedikit tegang. Pokoknya ngeri- ngeri sedap….
Hahahaha…..

Ada juga dog-sledding, kereta yang ditarik anjing Husky Siberia yang besar dan ganteng. Naik kuda. Dll
Begitu banyak aktifitas.
Tinggal pilih mau yang mana?
Inilah yang bikin liburan bersama teman-teman tak terlupakan.
Once in a lifetime perlu dicoba…

Life is good.
Thank you Lord!

“He who controls others may be powerful, but he who has mastered himself is mightier still.” – Lao Tzu

“Orang yang menguasai orang lain mungkin berkuasa, tetapi orang yang menguasai dirinya sendiri jauh lebih kuat. – Lao Tzu

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Tur Harbin: Shenyang ke Changchun:Kisah Kekuasaan, Disiplin, dan Harga Kebebasan…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Tur Harbin: Shenyang ke Changchun:Kisah Kekuasaan, Disiplin, dan Harga Kebebasan…

Sejak semalam, hujan salju turun cukup deras. Tidak heran saat bangun pagi, salju di sekitar hotel sudah tebal. Putih bersih, senyap, dan entah kenapa selalu bikin hati terasa lebih adem.

Di mana ada salju tebal, sekitarnya otomatis kelihatan cantik. Pohon, jalan, atap bangunan, semua seperti diselimuti keheningan. Suhu turun ke minus 14°C, tapi rasanya jujur saja seperti minus 20°C. Angin tajam, dingin menggigit. Nah lho… baju “perang” pun resmi dimulai. Berlapis-lapis tanpa kompromi. Wkwkwk.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Imperial Palace Shenyang.

Istana ini sudah berusia sekitar 400 tahun, dibangun tahun 1625. Bahkan lebih tua dari Forbidden City di Beijing. Di sinilah fondasi Dinasti Qing dimulai, jauh sebelum mereka menguasai seluruh Tiongkok.

Ada kisah menarik tentang Nurhaci, pendiri Dinasti Jin Akhir dan tokoh kunci lahirnya Qing. Ia bukan bangsawan istana. Ia adalah kepala suku Manchu yang hidup keras, ditempa peperangan, dan kehilangan ayah serta kakeknya karena konflik dengan Dinasti Ming.

Dari luka itulah, Nurhaci menyatukan suku-suku Manchu lewat disiplin militer yang ketat dan sistem Eight Banners yang legendaris.

Eight Banners atau Sistem Delapan Panji adalah sistem organisasi unik yang membagi masyarakat Manchu ke dalam delapan panji berwarna. Ini bukan cuma pasukan perang, tetapi sistem hidup: tentara, keluarga, logistik, dan kepemimpinan menyatu dalam satu struktur. Dengan sistem ini, Nurhaci menyatukan suku-suku yang tercerai-berai menjadi satu kekuatan besar. Dari sinilah Dinasti Qing punya mesin kekuasaan yang rapi, loyal, dan sangat efektif.

Shenyang menjadi pusat kekuasaannya, dan istana ini adalah simbol awal mimpi besar yang kelak mengubah sejarah Tiongkok.

Keunikan istana ini terasa kuat. Arsitekturnya bukan Han murni, bukan Mongol. Ini perpaduan Manchu-Han, dengan tata ruang yang lebih ringkas, praktis, dan sarat nuansa militer. Bahkan ada paviliun yang dirancang khusus untuk diskusi strategi perang, bukan sekadar upacara simbolik.

Kami pun segera berfoya-ria di sana. Foto ini, foto itu, sambil menahan dingin. Salju membuat istana tua ini tampak makin anggun dan berwibawa.

Berjalan di tempat berusia 400 tahun, di tengah salju dan sunyi, saya merasa sejarah tidak sedang berteriak.
Ia sedang berbisik. Dan justru itu yang membuatnya terasa hidup.

Dari Shenyang kami menuju Changchun.

Malam itu kami dinner di resto Korea Utara.
Lho… bukannya kami sedang di Changchun, China?

Yes. Betul sekali.
Dari Changchun ke perbatasan Korea Utara hanya sekitar 2,5 jam. Dan di kota ini, keberadaan restoran Korea Utara memang bukan hal yang aneh. Tapi pengalaman kami malam itu… jujur, jauh dari kata biasa.

Semua pelayannya adalah *gadis-gadis cantik dari Korea Utara.* Bukan sembarang pelayan. Mereka lulusan universitas ternama di Pyongyang. Tinggi badan, penampilan, latar belakang keluarga, bahkan kesetiaan politik *hingga tiga generasi*, semuanya diseleksi ketat. Baru setelah itu mereka diizinkan bekerja di luar negeri, termasuk di China.

Pertanyaannya langsung muncul di kepala:
_Kok bisa lulusan universitas bagus, cantik, terdidik, hanya jadi pelayan restoran?_

Itulah yang terjadi dengan negara yang masih terisolasi.
Mereka hanya bisa menikmati sekitar 50% penghasilannya.

Di luar negeri mereka bisa mendapat gaji yang lebih besar.
Gaji mereka sekitar 4.000 yuan per bulan, tapi mereka hanya perlu 300–500 yuan karena hidupnya hanya dari mess ke resto. Sisanya dikirim ke Korea Utara. Dari jumlah itu, setelah dipotong pajak dll oleh pemerintah, baru sisanya kurang dari 50% diberikan kepada keluarga mereka.

Mereka bekerja tujuh hari penuh, tinggal di mess, dan hanya mendapat libur dua jam per minggu. Setiap hari wajib membuat laporan detail: bertemu siapa, bicara apa, melakukan apa. Tidak boleh pacaran. Tidak boleh menikah dengan orang non-Korea Utara. Nekad melanggar? Keluarga mereka yang jadi jaminan. Penjara… atau lebih dari itu.

Lalu makanannya?
Wuih… enak! Bahkan
jauh lebih variatif dibanding saat kami benar-benar ke Korea Utara. Ada 14 macam hidangan, semua tersaji rapi. Malam itu juga ada hiburan. Gadis cantik menyanyi, diiringi akordion, berpindah dari satu ruang VIP ke ruang lainnya. Profesional. Tersenyum. Tapi matanya… tenang sekaligus kosong.

Mencicipi hal baru, ditambah pengalaman yang tidak biasa, selalu membuat saya tersadar:
itulah alasan saya suka travelling. Bukan cuma lihat tempat, tapi *melihat kehidupan.*

Dan hati saya bersyukur.
Lahir di Indonesia.
Menikmati kebebasan. Bukan hanya kebebasan fisik, tapi *kebebasan rohani*. Mengenal Tuhan yang penuh kasih. Tuhan yang memampukan kita hidup di atas situasi apa pun. Bersama-Nya, tidak ada yang mustahil.

Mengenal-Nya secara pribadi membuat hidup bermakna.
Dan kekekalan… sudah terjamin.

Praise The Lord!

He who has a why to live can bear almost any how.” – Viktor Frankl

“Orang yang memiliki alasan untuk hidup, dapat bertahan dalam hampir segala keadaan.” – Viktor Frankl

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Da Lian, Kota Pertama Rangkaian Menuju Harbin.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Da Lian, Kota Pertama Rangkaian Menuju Harbin.

Landing di Dalian sudah malam. Kelihatannya biasa saja. Tapi keesokan paginya… wow. Kami langsung terpukau. Kota di sekitar hotel cantik sekali. Rasanya seperti bukan di China, tapi di Rusia. Bangunan-bangunannya rapi, elegan, dan bikin mata betah.

Di Dalian, Provinsi Liaoning, kami mengunjungi monumen Singa Siberia yang terkenal. Sekilas tampak megah. Tapi makin diperhatikan, makin terasa maknanya. Di kompleks ini bukan satu patung, melainkan lima singa dewasa dan satu singa kecil di belakangnya. Bukan kebetulan.

Lima singa melambangkan kekuatan, perlindungan, keberanian, stabilitas, dan kewaspadaan. Lima sisi hidup yang perlu dijaga seimbang, bukan dipamerkan. Lalu singa kecil itu berbicara pelan tapi kuat tentang kelanjutan, generasi, dan warisan. Kekuatan sejati tidak berhenti di kita. Ia diteruskan lewat hidup yang konsisten. Iman, karakter, dan nilai tidak diwariskan lewat ceramah, tapi lewat teladan sehari-hari.

Selain itu ada satu jembatan yang bukan cuma panjang, tapi penuh cerita: Xinghai Bay Bridge. Jembatan ini membentang belasan kilometer di atas laut. Pemandangannya luas, tenang, dan jujur indah.

Orang lokal menyebutnya jembatan romantis. Bukan karena hiasan berlebihan, tapi karena suasananya. Angin laut, langit terbuka, dan langkah kaki yang panjang bikin orang otomatis melambat. Memang cantik. Di laut, batu-batu tampak mirip Twelve Apostles di Melbourne.

Banyak pasangan berjalan berdua di sini. Ngobrol hal kecil sampai hal besar. 14 kilometer saat sedang dimabuk cinta terasa dekat.

Ada cerita yang sering beredar. Konon, kalau pasangan suami istri bertengkar dan salah satunya “kabur”, mereka akan dicari ke jembatan ini. Bukan dramatis. Tapi karena tempat ini dianggap aman untuk menenangkan diri. Di atas laut, emosi panas biasanya turun sendiri. Kita jadi berpikir lebih jernih. Entah benar atau urban legend, yang jelas jembatan ini seperti ruang jeda. Kadang, yang kita butuhkan bukan jawaban cepat, tapi jarak yang cukup luas untuk mendengar hati sendiri.

Kami lalu berdiri di Xinghai Square, alun-alun kota terbesar di Asia. Dibangun dari reklamasi, luasnya disebut sekitar 110 hektar, bahkan ada yang menyebut hingga 176 hektar.

Wow…..Cantik, bersih, rapi.

Luasnya bikin orang otomatis diam sebentar. Bukan karena capek jalan, tapi karena tempat ini terasa “bercerita”.
Ada area terkenal bernama 1000 jejak kaki. Instalasi “1000 footprints” ini berisi jejak dari berbagai usia warga Dalian, dari generasi awal hingga seratus tahun kemudian.

Wuih… uniknya. Inilah kayanya travelling. Setiap tempat punya cerita yang tidak bisa disalin.

Rasanya seperti diingatkan: hidup ini memang soal melangkah. Tidak semua jejak sama, tapi semua bergerak. Tidak ada yang berdiri diam.

Yeeeayy, ternyata resto lunch kami persis menghadap “1000 footprints”. Double berkat. Lunch lezat, pemandangan penuh makna. Praise the Lord!

Mata lalu tertarik ke dua patung anak kecil. Bukan pahlawan. Bukan raja. Anak-anak. Pesannya jujur: masa depan tidak ditaruh di tangan kekuasaan, tapi di generasi muda yang hari ini sedang dibentuk.

Ada juga patung buku yang bisa dibaca bolak-balik. Seolah berbisik, “belajarlah dari masa lalu, tapi jangan hidup di sana.” Arah hidup tetap ke depan.

Dan… dua tiang biru menjulang seperti sumpit biru yang hendak menyumpit bulan. Simbol mimpi besar. Terlihat mustahil, tapi tetap diarahkan ke langit. Seolah berkata, bersama Tuhan, tidak ada yang mustahil.

Teringat kutipan Norman Vincent Peale:
“Shoot for the moon. Even if you miss, you’ll land among the stars.”

Tembaklah ke bulan. Sekalipun meleset, kamu akan mendarat di antara bintang-bintang.

Pokoknya, jangan takut bermimpi. Lalu realisasikan.

Xinghai Square tidak pamer ukuran. Ia mengajak kita berpikir: sejauh apa kita melangkah, dan setinggi apa kita berani bermimpi.

Di ujung alun-alun, laut terbentang dengan ribuan burung camar beterbangan. Kami berebut memikat mereka dengan roti di tangan. Di video tentu saja. Rasanya seperti nunggu lotre… hahaha…

Jepret… saat camar mematuk roti di tangan P. Indra yang terjulur ke atas. Yeaaaayyyy…..

Di sisi kanan, ada rumah seperti kado dengan pita merah besar dan teddy bear di depannya. Wuih… menariknya. Serasa jadi anak kecil lagi.

Life is good. Thank You, Lord.

“The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams.”* – Eleanor Roosevelt.

“Masa depan milik mereka yang percaya pada indahnya mimpi.” -Eleanor Roosevelt.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Apakah Tuhan yang Membunuh Ananias dan Safira?

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Apakah Tuhan yang Membunuh Ananias dan Safira?

Melihat Kisah Ini dari Kacamata Yesus
Banyak orang jujur berkata, “Saya takut membaca kisah Ananias dan Safira.”
Takut karena terlihat seolah-olah Tuhan langsung menghukum mati orang yang berbohong. Takut karena muncul kesan: salah sedikit, mati.

Pertanyaannya sederhana tapi penting: benarkah itu wajah Allah yang Yesus perkenalkan?

Kalau kita membaca Alkitab hanya dari satu peristiwa, tanpa melihat Yesus, kita bisa salah mengenal Bapa.

Yesus sendiri berkata dengan sangat jelas,
“Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.”
Artinya, Yesus adalah standar tertinggi untuk mengenal siapa Allah itu.
Bukan Musa. Bukan hukum Taurat. Bukan satu kisah yang berdiri sendiri. Tetapi Yesus.

Sekarang mari jujur.
Dalam Injil, apakah kita pernah melihat Yesus membunuh orang karena dosa?
Perempuan yang tertangkap basah berzina? Tidak dibunuh.
Petrus yang menyangkal Dia tiga kali? Tidak dibunuh.
Murid-murid yang sering salah paham, keras kepala, bahkan rebutan posisi? Tidak dibunuh.
Orang Farisi yang munafik dan penuh kebohongan? Ditegur keras, ya. Dibunuh? Tidak.

Yesus tidak pernah memperkenalkan Bapa sebagai Pribadi yang reaktif, mudah tersinggung, lalu menghukum mati orang di tempat.

Lalu apa yang terjadi dengan Ananias dan Safira?
Masalah utama mereka bukan sekadar “tidak memberi seluruh uang”.
Petrus sendiri berkata: tanah itu milikmu, uangnya juga milikmu. Tidak ada kewajiban memberi semuanya.
Masalahnya adalah kemunafikan yang disengaja, kepura-puraan rohani, hidup dalam dusta sambil ingin terlihat kudus.
Dan dusta, sejak awal, selalu berhubungan dengan si pendusta itu sendiri.

Yesus berkata dengan jelas:
“Iblis adalah pembunuh sejak semula… dan bapa segala dusta.”

Perhatikan ini baik-baik.
Yesus tidak pernah mengaitkan kematian dengan Bapa.
Yesus mengaitkannya dengan dosa dan dusta yang memberi ruang bagi kuasa kegelapan.

Dalam Injil, Yesus selalu datang sebagai Pemberi hidup, Pemulih, Penyembuh, Penyelamat.

Bahkan saat menghadapi dosa, Yesus memulihkan manusia, bukan melenyapkannya.

Maka membaca kisah Ananias dan Safira tanpa kacamata Yesus akan membuat kita takut.

Tetapi membaca dengan kacamata Yesus membuat kita sadar:
Allah itu kudus, tetapi Dia bukan algojo.
Allah itu terang, dan siapa yang memilih hidup dalam gelap, sedang bermain di wilayah yang berbahaya.
Kisah ini bukan untuk membuat kita takut pada Tuhan.

Justru untuk mengingatkan: jangan bermain-main dengan kepura-puraan rohani. Jangan hidup ganda. Jangan berdamai dengan dusta.

Bukan karena Tuhan ingin menghukum,
tetapi karena di luar terang, tidak ada perlindungan. Saat berdosa, kita keluar dari perlindungan Tuhan. tidak ada perlindungan.

Dan kabar baiknya?
Yesus sudah membuka jalan agar kita hidup di dalam terang itu.
Tanpa topeng. Tanpa sandiwara. Tanpa ketakutan.

Allah yang kita kenal melalui Yesus adalah Bapa yang memberi hidup.
Dan hidup itu aman, ketika kita berjalan jujur di hadapan-Nya.

“God is not proud. He will have us even though we have shown that we prefer everything else to Him.” – C. S. Lewis.

“Allah tidak sombong. Dia tetap menerima kita, sekalipun kita berkali-kali membuktikan bahwa kita memilih hal lain dibanding Dia.- C. S. Lewis.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Melihat Kisah Ayub dari Kacamata Perjanjian Baru.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Melihat Kisah Ayub dari Kacamata Perjanjian Baru.

Beberapa waktu lalu saya kembali merenungkan Kitab Ayub, kali ini sambil mengingat pengajaran A. R. Bernard tentang satu hal penting: Yesus adalah pusat dan kacamata terakhir untuk membaca seluruh Alkitab.

Kalimat itu sederhana, tapi dampaknya besar. Karena selama ini, jujur saja, Kitab Ayub sering membuat kita bingung, bahkan takut. Orang benar bisa kehilangan segalanya. Allah seolah diam. Iblis seperti diberi ruang. Lalu muncul kesimpulan diam-diam di hati banyak orang Kristen: “Kalau Tuhan izinkan penderitaan ini, ya pasti ada maksud-Nya.”

Pertanyaannya, apakah itu cara Yesus memperkenalkan Allah?

Ayub adalah kisah sebelum Yesus

Hal pertama yang perlu kita sadari, Kitab Ayub ditulis jauh sebelum Yesus datang.

– Belum ada salib.
– Belum ada kebangkitan.
– Belum ada pewahyuan tentang Allah sebagai Bapa.

Ayub adalah orang saleh, tulus, dan jujur. Tapi ia hidup di zaman ketika manusia belum mengenal Allah seperti yang Yesus nyatakan. Maka wajar jika banyak perkataan dalam kitab ini adalah ungkapan kebingungan, pergumulan, dan pencarian makna. Itu jujur, tapi bukan standar iman Perjanjian Baru.

Ini penting.

Tidak semua yang tertulis di Alkitab adalah pengajaran yang harus ditiru. Banyak yang dicatat sebagai cerita pergumulan manusia, bukan definisi final tentang karakter Allah.

Yesus tidak pernah mengajar seperti Ayub

Coba kita bandingkan dengan hidup dan pelayanan Yesus Kristus.
Dalam Injil:
Yesus tidak pernah berkata penderitaan berasal dari Bapa.
Yesus tidak pernah menyuruh orang sakit untuk “bertahan supaya imannya diuji”.
Yesus tidak pernah memuliakan penderitaan.

Yang Yesus lakukan justru sebaliknya. Ia menyembuhkan yang sakit. Ia membebaskan yang terikat. Ia memulihkan yang hancur. Ketika murid-murid bertanya tentang penderitaan, Yesus mengarahkan mereka bukan ke teori, tapi ke pekerjaan Allah yang memulihkan.

Yesus berkata, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” Jadi kalau gambaran Allah yang kita tangkap dari Ayub terasa keras, jauh, dan membingungkan, kita perlu berani berkata jujur: itu bukan gambaran final tentang Allah.

Salib mengubah cara kita memahami penderitaan

Ayub bertanya, “Mengapa orang benar menderita?”

Yesus tidak menjawab dengan diskusi panjang. Ia menjawab dengan salib dan kebangkitan.
Di salib, kita melihat Allah yang tidak duduk jauh di surga sambil menguji manusia. Kita melihat Allah yang masuk ke dalam penderitaan manusia dan mengalahkannya.*
Kebangkitan Yesus menyatakan bahwa penderitaan bukan alat Allah, tapi musuh yang telah ditaklukkan.

Dari kacamata Perjanjian Baru, penderitaan bukan sesuatu yang harus dimaknai untuk dimengerti, tetapi sesuatu yang harus ditaklukkan di dalam Kristus.
Ayub berakhir dengan perjumpaan, bukan jawaban

Menariknya, di akhir kitab, Ayub tidak mendapat penjelasan logis. Ia mendapat hadirat Allah. Dan itu mengubah segalanya.

Di Perjanjian Baru, kita mendapat lebih dari hadirat. Kita mendapat Kristus yang diam di dalam kita. Artinya, posisi kita hari ini jauh lebih kuat daripada posisi Ayub saat itu.

Ayub bertahan.
Kita dipanggil untuk berdiri.
Ayub menunggu pemulihan.
Kita bergerak dalam otoritas Kristus.

Membaca Ayub dari kacamata Yesus menolong kita berhenti menyalahkan Allah atas hal-hal yang Yesus datang untuk menghancurkannya. Kita tidak hidup dengan iman pasrah, tapi dengan iman yang mengenal Bapa.

Kita punya otoritas dan kuasa untuk mengalahkan musuh.
As He is so are we in this world.
Sama seperti Yesus, kita ada di dunia ini.
Apa yang Yesus lakukan, kita bisa melakukannya bahkan lebih lagi.

Dan itu membuat Injil benar-benar menjadi kabar baik.

“Faith does not deny the problem. Faith denies the problem the right to dominate.”- Kenneth E. Hagin.

“Iman tidak menyangkal masalah, tetapi menolak masalah itu berkuasa” – Kenneth E. Hagin.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 7 8 9 10 11 404