Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Bom Bisa Menghancurkan Kota, Kasih Tuhan Mengubah Hati

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Bom Bisa Menghancurkan Kota, Kasih Tuhan Mengubah Hati

Hidup memang aneh. Kadang Tuhan memakai jalan yang paling kelam untuk menyalakan terang yang paling indah. Begitulah kisah Jacob DeShazer, seorang serdadu Amerika yang hatinya dipenuhi kebencian, tetapi akhirnya menjadi pembawa kasih Kristus di negeri musuhnya sendiri — Jepang.

Jacob lahir tahun 1912 di Oregon, dari keluarga Kristen sederhana yang hidup dengan iman yang nyata, bukan sekadar rutinitas hari Minggu. Namun ketika dewasa, dunia mulai menggoyahkan keyakinannya. Ia mengejar logika, menolak Alkitab, dan menyebut dirinya ateis. Iman yang dulu diajarkan orang tuanya terasa usang. Hingga suatu hari, dunia berubah.

Ketika Jepang menyerang Pearl Harbor tahun 1941, ribuan tentara Amerika tewas, dan kemarahan membakar hati Jacob. Ia bergabung dalam misi balas dendam terkenal bernama The Doolittle Raid — serangan udara rahasia ke Jepang. Saat pesawatnya mengebom kota Nagoya, Jacob merasa puas. Ia mengira dendamnya terbalas. Tapi hidup punya cara aneh untuk membalikkan cerita. Pesawatnya kehabisan bahan bakar dan jatuh di wilayah Jepang. Jacob ditangkap, disiksa, dan dipenjara selama tiga tahun.

Dalam gelap dan dinginnya sel, rasa bencinya justru semakin membara. Ia menulis, “Kebencianku kepada orang Jepang hampir membuatku gila.” Tiap hari ia hidup di antara rasa lapar, ketakutan, dan amarah. Tapi Tuhan punya rencana lain. Suatu hari, ia teringat kembali potongan ayat yang dulu dibacakan ibunya sebelum tidur. Hanya itu yang tersisa dari masa lalunya — sepotong firman yang tertanam di hati, menolak mati.

Lalu terjadilah sesuatu yang mengubah hidupnya. Seorang penjaga Jepang, entah mengapa, memberinya sebuah Alkitab. Jacob membacanya dengan rakus. Ia membaca seluruhnya — dari Kejadian sampai Wahyu — dan menemukan sesuatu yang selama ini ia cari: pengampunan. Firman Tuhan mulai menembus kebenciannya seperti sinar kecil di ruang gelap. Ia membaca 1 Korintus 13, tentang kasih yang sabar, yang tidak menyimpan dendam, dan ayat itu tiba-tiba hidup dalam dirinya. “Aku menemukan kebencianku berubah menjadi kasih,” tulisnya kemudian.

Ia mulai mendoakan para penjaganya, bahkan yang paling kejam. Ia mengampuni mereka satu per satu. Bagi orang lain, itu mungkin gila — mengampuni musuh di tengah penjara perang. Tapi bagi Jacob, itulah kebebasan sejati. Seperti tertulis dalam 2 Korintus 3:17, “Di mana Roh Tuhan berada, di situ ada kemerdekaan.”

Setelah perang usai, ia dibebaskan. Namun yang menakjubkan, Jacob tidak melupakan Jepang. Ia kembali ke Amerika, belajar teologi di seminari, dan beberapa tahun kemudian… ia kembali ke Jepang — bukan dengan bom, tapi dengan kasih Kristus. Ia menjadi misionaris, berdiri di tanah yang dulu ia benci, kini untuk membawa pengharapan.

Ribuan orang datang mendengarnya berkhotbah. Mereka tertegun melihat seorang mantan pilot Amerika yang dulu mengebom kota mereka, kini berbicara tentang pengampunan dan kasih Tuhan. Dalam satu tahun pertama saja, ribuan jiwa berbalik kepada Kristus. Jacob membangun 24 gereja di seluruh Jepang, termasuk satu di kota Nagoya — kota yang dulu ia hancurkan. Tuhan mengubah medan perang menjadi ladang tuaian.

Yang lebih indah lagi, pesan Injil yang dibawanya sampai kepada Mitsuo Fuchida, komandan Jepang yang memimpin serangan ke Pearl Harbor. Orang yang dulu jadi musuhnya kini menjadi saudara seiman. Mereka berdua berdiri berdampingan, mengabarkan kasih Kristus — dua mantan musuh, kini dipersatukan oleh darah Anak Domba.

Jacob hidup hingga usia 95 tahun. Ia menutup mata dengan damai, meninggalkan warisan yang lebih kuat daripada perang: kasih yang mengalahkan kebencian.

Kisahnya mengingatkan kita bahwa tidak ada hati yang terlalu keras untuk dilembutkan oleh kasih Tuhan. Tidak ada luka yang terlalu dalam untuk disembuhkan oleh firman-Nya. Dan tidak ada musuh yang terlalu jauh untuk dijangkau oleh pengampunan.

Tuhan tidak selalu menghentikan badai, tapi Ia bisa mengubah orang yang dulu melempar bom menjadi pembawa damai.

“The love of God can turn the darkest hatred into a light that never fades.”

“Kasih Allah dapat mengubah kebencian paling gelap menjadi terang yang tak pernah padam.”

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirman
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan

Read More
Articles

Berjalan di Atas Air: Soal Fokus, Bukan Soal Ombak.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Berjalan di Atas Air: Soal Fokus, Bukan Soal Ombak.

Kisah Petrus berjalan di atas air selalu menarik untuk direnungkan. Bukan karena mujizatnya semata, tetapi karena kisah ini sangat jujur menggambarkan kehidupan iman kita sehari-hari.
Alkitab mencatat, ketika para murid berada di perahu dan angin bertiup kencang, Yesus datang berjalan di atas air. Petrus, dengan keberanian yang tidak biasa, berkata, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Dan Yesus menjawab singkat, jelas, tanpa drama: “Mari datanglah.”

Coba perhatikan satu hal penting. Sebelum Petrus melangkah keluar dari perahu, angin sudah ada. Ombak sudah ada. Situasi berbahaya itu bukan muncul setelah Petrus berjalan. Sejak awal semuanya sudah ada.

Dan ketika Petrus benar-benar berjalan di atas air, angin yang sama tetap bertiup. Ombak yang sama tetap bergulung. Tidak ada yang berubah di luar dirinya.
Lalu apa yang membedakan antara Petrus yang berjalan di atas air dan Petrus yang hampir tenggelam?

Fokus!

Selama Petrus fokus memandang Yesus, ia melakukan hal yang mustahil. Air yang biasanya membuat manusia tenggelam, kali ini menjadi pijakan. Tetapi saat fokusnya teralihkan, saat ia mulai memperhatikan angin dan ombak, imannya goyah. Ketakutan masuk. Dan ia mulai tenggelam.
Bukankah ini sangat menggambarkan kita?

Kita berdoa minta terobosan keuangan. Kita minta proyek besar. Kita rindu peningkatan, ekspansi, pertumbuhan. Dan Tuhan menjawab, “Mari datanglah.” Anugerah sudah tersedia. Peluang sudah ada. Jalan sudah disiapkan.
Tinggal satu hal: kita melangkah.
Namun sering kali, setelah melangkah, fokus kita berubah. Kita mulai “menonton ombak”. Kita mendengar berita: krisis global, dollar naik, ekonomi tidak pasti, bisnis terancam, pasar lesu. Perlahan-lahan keberanian yang tadi penuh iman, berubah menjadi kekhawatiran.

Padahal, mari jujur saja. Sejak dulu media selalu memberitakan krisis. Dollar naik salah, turun juga salah. Pengamat ekonomi hampir selalu meramalkan hal-hal buruk. Itu bukan hal baru. Dan justru karena itulah berita-berita tersebut laku.

Masalahnya bukan pada berita. Masalahnya pada fokus kita.
Firman Tuhan mengingatkan, sumber berkat kita bukan dari sistem dunia, melainkan dari Tuhan. Kita hidup di bawah hukum Kerajaan Allah, bukan semata-mata hukum ekonomi dunia. Dan di Kerajaan Allah, tidak pernah ada krisis.

Itulah sebabnya, di tengah dunia yang kacau, kita tetap bisa maju. Kita tetap bisa bertumbuh. Kita tetap bisa sukses.
Bahkan, sering kali di dalam krisis justru tersembunyi potensi keuntungan besar bagi mereka yang peka dan taat pada arahan Tuhan. Saat pandemi Covid, banyak aset strategis dijual murah. Mereka yang mendengar dengan peka, melangkah dengan iman dan hikmat, sekarang menuai hasil yang besar.
Prinsip yang sama berlaku dalam kesembuhan. Yang menyembuhkan bukan dokter. Bukan rumah sakit. Bukan alat medis. Semua itu hanyalah sarana.
Yang memberi kesembuhan adalah Tuhan.

Semahal apa pun obatnya, secanggih apa pun teknologinya, jika tubuh tidak bisa melakukan recovery, kesembuhan tidak akan terjadi. Dan siapa yang memberi kemampuan tubuh untuk pulih? Tuhan sendiri.

Karena itu, selama fokus kita tetap pada Tuhan dan jalan-jalan-Nya, tidak ada kondisi yang terlalu mustahil. Baik itu keuangan, bisnis, kesehatan, maupun masa depan.

Kuncinya satu: iman yang bertindak dan fokus yang terjaga.
Angin mungkin tetap bertiup. Ombak mungkin tetap besar. Tetapi selama mata kita tertuju kepada Yesus, kita tidak akan tenggelam.

Dan kalau pun sempat goyah, ingat satu hal yang menghibur. Saat Petrus mulai tenggelam dan berseru, Yesus langsung mengulurkan tangan-Nya.
Tuhan setia. Tinggal kita mau menjaga fokus atau sibuk menghitung ombak.

Pada akhirnya, hidup iman bukan soal seberapa besar ombak yang kita hadapi, melainkan ke mana mata kita tertuju. Ombak bisa sama, angin bisa tetap kencang, tetapi hasilnya akan berbeda ketika fokus kita tetap pada Tuhan yang memanggil kita untuk melangkah.

“Look at the world, you’ll be distressed. Look within, you’ll be depressed. Look at Christ, you’ll be at rest.” – Corrie ten Boom.

“Jika kita memandang dunia, kita akan gelisah. Jika memandang diri sendiri, kita akan tertekan. Tetapi jika memandang Kristus, kita akan menemukan ketenangan.” – Corrie ten Boom.

Dan seperti Petrus, selama kita memilih untuk tetap memandang Yesus, air yang sama yang menenggelamkan orang lain justru menjadi pijakan bagi langkah iman kita.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Buli-Buli yang Dipecahkan: Saat Hidup Kita Menjadi Kesaksian

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Buli-Buli yang Dipecahkan: Saat Hidup Kita Menjadi Kesaksian

Ada satu detail kecil dalam kisah perempuan dengan buli-buli pualam yang sering kita lewatkan. Ia tidak membuka buli-buli itu. Ia memecahkannya.
Dan justru di situlah inti ceritanya.

Buli-buli pualam dibuat untuk menjaga sesuatu yang mahal. Minyak di dalamnya bukan barang murah. Disimpan rapat. Dijaga. Tidak sembarang dituang. Sekali dipecahkan, tidak bisa dipakai lagi. Tidak ada sisa. Tidak ada cadangan. Tidak ada rencana “nanti”.

Di titik itu, kisah ini berhenti bicara soal minyak wangi. Ia mulai bicara tentang hidup.

Kita sering ingin mengikut Tuhan tanpa memecahkan buli-buli kita. Kita ingin tetap utuh. Tetap aman. Tetap punya kontrol. Kita ingin Tuhan memakai kita, tapi ego jangan disentuh. Kita ingin jadi saksi, tapi harga diri tetap dijaga. Kita ingin hadirat-Nya mengalir, tapi kepentingan pribadi masih disimpan rapi.

Masalahnya sederhana. Minyak tidak akan mengalir selama buli-buli masih utuh.

Sebagai jemaat Tuhan, kita membawa hadirat-Nya. Itu identitas kita.
Bukan karena kita hebat, rohani, atau punya jabatan pelayanan. Tapi karena Roh Kudus diam di dalam kita. Namun hadirat itu tidak otomatis menyebar. Ia bisa terkurung. Tersegel. Terjebak di dalam “wadah” bernama ego, ambisi, luka, rasa ingin dihargai, dan kebutuhan untuk terlihat benar.

Banyak orang Kristen wangi di dalam, tapi tidak tercium ke luar.
Kenapa?
Karena buli-bulinya belum dipecahkan.

Memecahkan buli-buli berarti membiarkan Tuhan menyentuh area yang paling kita lindungi. Cara berpikir yang merasa paling benar. Motif pelayanan yang diam-diam ingin dipuji. Kerinduan untuk dikenal, dihormati, diakui. Bahkan luka lama yang kita pelihara dan jadikan identitas.
Selama itu belum dipecahkan, minyaknya tertahan.

Perempuan itu tidak menuang setetes demi setetes. Ia tidak menghitung. Ia tidak bernegosiasi. Ia memecahkan segalanya. Minyaknya tuntas. Tidak tersisa. Dan justru karena itu, seluruh ruangan dipenuhi keharuman.

Begitu juga dengan hidup kita.
Kesaksian sejati tidak lahir dari hidup yang rapi dan terkendali, tapi dari hidup yang diserahkan. Dari orang-orang yang berani berkata, “Tuhan, ambil semuanya. Bukan sebagian.” Dari orang-orang yang tidak lagi sibuk menjaga citra, tapi rindu memuliakan Kristus.

Di sinilah banyak orang salah paham. Mereka mengira Tuhan senang dengan pengorbanan besar. Padahal yang Tuhan cari adalah penyerahan total. Bukan apa yang kita berikan, tapi apa yang kita lepaskan.

Ego yang dipecahkan akan menghasilkan kerendahan hati.
Ambisi yang dipecahkan akan menghasilkan ketaatan.
Kepentingan pribadi yang dipecahkan akan menghasilkan kasih.
Dan saat itu terjadi, minyaknya mengalir dengan sendirinya.

Kita tidak perlu berusaha keras menjadi saksi. Hidup kita akan bersaksi. Keharuman Kristus akan tercium, bukan karena kita bicara banyak, tapi karena wadahnya sudah tidak menahan-Nya lagi.

Ini bukan tentang kita. Bukan tentang reputasi. Bukan tentang pelayanan. Bukan tentang seberapa rohani kita terlihat.
It’s all about God, not us.

Salib sendiri adalah bukti tertinggi dari prinsip ini. Yesus dipecahkan sepenuhnya. Tidak ada yang ditahan. Tidak ada yang disisakan. Dan karena itu, hidup, pengampunan, dan kasih karunia mengalir bagi banyak orang.

Pertanyaannya sekarang sederhana, tapi jujur:
Buli-buli apa dalam hidup kita yang masih utuh?
Apa yang masih kita simpan rapat-rapat?
Karena saat kita berani membiarkannya dipecahkan, hadirat-Nya tidak hanya tinggal di dalam kita, tapi menyebar keluar. Tuntas. Tanpa sisa.

Bersediakah kita?

“God can do nothing with an individual until he is comes to the end of his resources.” – Oswald Chambers.

“Tuhan tidak dapat melakukan apa pun melalui seseorang sampai orang tersebut sampai pada titik di mana segala kemampuannya telah berakhir (habis) – Oswald Chambers.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Mengapa Orang Senang Menyebut Semua Hal sebagai “Kehendak Tuhan”?

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

“Mengapa Orang Senang Menyebut Semua Hal sebagai “Kehendak Tuhan”?

Ada satu kalimat yang sering terdengar sangat rohani, tapi diam-diam berbahaya:
“Ya mungkin ini memang kehendak Tuhan.”

Kalimat ini kelihatannya penuh iman. Padahal sering kali justru jadi tempat bersembunyi.

Karena ketika semuanya dilempar ke “kehendak Tuhan”, seseorang tidak perlu lagi bertanggung jawab. Seolah-olah Tuhan yang salah, Tuhan yang merancang penderitaan itu, Tuhan yang memutuskan kegagalan itu. Manusia tinggal berperan sebagai korban tanpa daya.

Ini bukan kerendahan hati. Ini pelarian.
Alkitab tidak pernah mengajarkan iman yang mematikan tanggung jawab pribadi. Justru sebaliknya. Sejak awal, Tuhan memberi manusia kehendak bebas. Pilihan itu nyata. Dan konsekuensinya juga nyata.
Banyak hal yang kita alami hari ini bukan karena kehendak Tuhan, tetapi karena hasil keputusan kita sendiri.

Besar pasak daripada tiang. Keinginan tidak dikendalikan. Gaya hidup ngawur. Uang dipakai tanpa hikmat. Tubuh dipaksa terus tanpa istirahat. Makan sembarangan. Stres dipelihara. Luka batin dibiarkan membusuk.

Lalu ketika tubuh akhirnya “menyerah”, sakit datang, energi hilang, emosi runtuh, kita berkata:
“Mungkin Tuhan mengizinkan ini.”
Padahal tubuh sudah lama berteriak.
Dan Roh Kudus sudah lama berbicara.
Hanya saja kita memilih tidak mendengar.

Dalam Roma 1 dijelaskan bahwa Allah berbicara dengan jelas, tetapi manusia sering menekan kebenaran itu. Bukan karena tidak tahu, tapi karena tidak mau taat. Tubuh kita sering menjadi alat pertama yang dipakai Tuhan untuk memperingatkan. Bukan untuk menghukum, tetapi untuk menyelamatkan. Namun ketika sinyal itu diabaikan terus-menerus, akibatnya tetap datang. Itu hukum tabur tuai, bukan kehendak Tuhan yang misterius.

Banyak orang berdoa minta Tuhan mengubah hidup mereka, sementara mereka sendiri tidak mau mengubah cara berpikirnya. Mereka ingin hasil ilahi dengan pola hidup duniawi. Itu tidak bekerja.

Hal yang sama diajarkan oleh Andrew Wommack, Firman Tuhan sudah menyediakan segala sesuatu yang kita perlukan untuk hidup dan kesalehan. Bukan sebagian. Segala sesuatu. Masalahnya bukan pada kurangnya jawaban dari Tuhan, tetapi kurangnya pembaruan pikiran dari pihak kita.

Ironisnya, banyak orang sangat rajin berdoa, tapi malas belajar Firman.
Mereka suka mengungkapkan isi hati, keluhan, tangisan, bahkan tuntutan. Tetapi enggan duduk diam untuk mendengar. Enggan membangun fondasi kebenaran. Doa akhirnya berubah menjadi monolog emosional, bukan persekutuan yang mentransformasi.

Lebih ironis lagi, ada orang yang sangat aktif melayani, sibuk di gereja, terlibat di banyak aktivitas rohani, tetapi tidak punya kehidupan intim dengan Tuhan. Mereka melayani Tuhan yang jarang mereka dengar suaranya. Mereka bekerja untuk Tuhan, tanpa berjalan bersama Tuhan.

Maria duduk di kaki Yesus. Marta sibuk melayani.
Yesus tidak menegur pelayanan Marta. Yang Dia luruskan adalah prioritasnya. Tanpa duduk di kaki Tuhan, pelayanan mudah menjadi pelarian. Aktivitas rohani dipakai untuk menutupi kekosongan relasi.

Segala yang kita butuhkan untuk menjalani hidup ini sudah ada di dalam Firman Tuhan. Hikmat untuk keuangan. Prinsip untuk tubuh. Kebenaran untuk emosi. Arahan untuk relasi. Kuasa untuk menang atas dosa. Bukan di luar Alkitab. Bukan di ramalan keadaan. Bukan di alasan “kehendak Tuhan” yang kabur.
Iman yang dewasa tidak menyalahkan Tuhan.

Iman yang dewasa berani berkata:
“Aku memilih, dan aku bertanggung jawab.”
Di situlah pertumbuhan dimulai.
Di situlah pemulihan menjadi nyata.
Dan di situlah kehendak Tuhan yang sejati bisa dialami.

Setuju?

“I am not a product of my circumstances. I am a product of my decisions.” – Stephen Covey.

“Saya bukan hasil dari keadaan saya. Saya adalah hasil dari keputusan-keputusan saya.” – Stephen Covey.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ada Musim di Mana Iman Terbesar Adalah Diam

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ada Musim di Mana Iman Terbesar Adalah Diam

Kita sering berpikir iman itu selalu identik dengan bergerak, berdoa keras, mengambil langkah, membuat keputusan, dan “melakukan sesuatu”. Seolah-olah kalau kita diam, berarti kita kurang iman. Kalau kita berhenti, berarti kita menyerah. Kalau kita tidak mengontrol, berarti kita lalai.

Padahal Alkitab menunjukkan sesuatu yang sangat berbeda.

Di Kejadian 15, ketika Allah mengikat perjanjian dengan Abram, justru ada satu hal mengejutkan yang sering terlewat: Abram dibuat tertidur. Bukan dia yang berjalan di antara potongan korban. Bukan dia yang mengucapkan sumpah. Bukan dia yang menanggung risiko. Allah berjalan sendirian.

Abram tidak gagal. Ia tidak disingkirkan. Ia dibuat pasif dengan sengaja.
Ini bukan kelemahan. Ini pewahyuan.
Ada musim di mana iman terbesar bukan melakukan lebih banyak, tetapi diam dan membiarkan Allah bekerja sendirian.

Kita perlu jujur. Banyak dari kita lelah bukan karena masalah terlalu berat, tetapi karena kita memikul beban yang bukan bagian kita. Kita merasa harus menjaga janji Tuhan tetap aman. Menjaga relasi tetap utuh. Menjaga semua orang tetap baik-baik saja. Menjaga proses supaya tidak berantakan.
Tanpa sadar, kita menempatkan diri di posisi yang Tuhan tidak pernah minta.

Kejadian 15 membongkar pola itu.
Tuhan seakan berkata,
“Janji ini tidak bergantung pada kekuatanmu. Aku tidak butuh bantuanmu untuk menepatinya.”

Abram ditidurkan supaya tidak ada kebingungan tentang siapa yang bertanggung jawab

Supaya jelas: perjanjian ini aman karena Allah setia, bukan karena Abram kuat.

Ini kabar baik bagi orang-orang yang hatinya sungguh ingin menyenangkan Tuhan, tapi sering kelelahan.

Mungkin hari ini kita sedang berada di musim gelap. Ada penundaan. Ada hal-hal yang tidak berubah. Ada relasi yang menyakitkan. Ada doa yang terasa belum dijawab. Dan di tengah semua itu, kita tergoda untuk terus mengatur, menjelaskan, membuktikan, dan mempertahankan diri.

Padahal bisa jadi, justru sekarang Tuhan sedang berkata, “Tidurlah. Bukan karena Aku menyerah, tapi karena Aku sedang bekerja.”

Diam bukan berarti pasif tanpa iman. Diam bisa menjadi bentuk iman yang paling murni. Diam yang percaya. Diam yang berserah. Diam yang tahu bahwa Allah tidak perlu dikawal agar janji-Nya tergenapi.

Allah tidak menutupi kenyataan bahwa perjalanan Abram akan melibatkan penderitaan dan waktu. Tapi Ia juga menegaskan satu hal yang jauh lebih dalam: hasil akhirnya tidak akan gagal.
Kenapa? Karena Allah sendiri yang berjalan di lorong perjanjian itu.

Rhema ini sangat membebaskan. Kita boleh berhenti menyalahkan diri. Berhenti merasa kurang rohani. Berhenti berpikir bahwa semuanya akan runtuh kalau kita tidak terus menahan, melayani, dan mengalah.

Ada hal-hal yang hanya bisa dikerjakan Allah ketika kita berhenti ikut campur.
Ada peperangan yang hanya bisa dimenangkan saat kita berani menyerahkan kendali.
Ada musim di mana iman terbesar bukan berkata apa-apa, tetapi percaya sepenuh hati.

Dan di situlah damai sejahtera datang. Bukan karena masalah langsung selesai, tetapi karena kita tahu: janji Tuhan aman di tangan-Nya.

Kalau hari ini kita sedang lelah, mungkin ini bukan tanda kita lemah. Bisa jadi ini undangan Tuhan untuk berhenti sejenak dan berkata, “Tuhan, Engkau yang berjalan. Aku percaya.”
Dan itu… iman yang sangat besar.

“God creates out of nothing. Therefore, until a man is nothing, God can make nothing out of him.” – Martin Luther.

“Tuhan menciptakan dari ketiadaan. Karena itu, selama seseorang belum menjadi ‘bukan siapa-si
apa’, Tuhan tidak bisa membentuk apa pun dari dirinya.” – – Martin Luther.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 14 15 16 17 18 416