Author Archives: Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Articles

Ketika Tahu Banyak Firman, Tapi Kehilangan Yesus.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ketika Tahu Banyak Firman, Tapi Kehilangan Yesus.

Beberapa waktu terakhir ini saya merenung.

Saya punya teman yang sangat tahu firman. Ayat hafal. Tafsiran kuat. Argumen tajam. Tapi entah kenapa, makin lama justru makin kaku, mudah marah, dan sulit diajak berdialog. Seolah-olah kebenaran harus selalu dimenangkan, meski kasih hilang di tengah jalan.

Di sisi lain, ada juga teman yang lain. Ia justru bingung karena terlalu banyak doktrin. Satu ajaran berkata begini, yang lain berkata begitu. Akhirnya ia berkata pelan, “Aku capek. Aku jadi tidak tahu lagi mana yang benar. Bahkan aku jadi ragu pada Yesus.”

Dua ekstrem yang berbeda, tapi akarnya sama:
*Yesus tidak lagi menjadi pusat.*

Di titik itulah saya mendengarkan pengajaran A. R. Bernard. Dan jujur, saya seperti mendapatkan kacamata baru.

Bukan pewahyuan yang rumit. Justru sangat sederhana. Tapi sederhana yang menampar dengan lembut.

Orang Kristen Itu Pengikut Pribadi, Bukan Sistem – Pribadi Yesus.

Satu kalimat dari pengajaran itu tertancap kuat di hati saya:

Kita bisa mengikuti Alkitab, tapi tidak sungguh-sungguh mengikuti Yesus.

Ini terdengar aneh, tapi nyata.
Alkitab itu Firman Allah, ya. Sangat berharga.
Tapi Alkitab bukan tujuan akhir. Yesus adalah tujuan akhirnya.

Ketika firman dipisahkan dari Pribadi Yesus, firman bisa berubah menjadi:

– alat pembenaran diri
– senjata untuk menghakimi
– beban yang memberatkan
– bahkan sumber ketakutan

Dan di situlah lahir orang Kristen yang “gila doktrin”.
Bukan karena terlalu cinta firman, tapi karena kehilangan wajah Yesus di dalam firman itu sendiri.

Injil dan Surat-Surat: Sekarang Saya Mengerti Bedanya

Di sini saya benar-benar tercerahkan.
Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes) menunjukkan:

– siapa Yesus
– bagaimana Dia berbicara
– bagaimana Dia bersikap
– bagaimana Dia mengasihi
– bagaimana Dia merespons dosa, penderitaan, dan kekuasaan

Di Injil, kita melihat Yesus hidup.

Yohanes 14:9 (TB) Kata Yesus kepadanya: “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa;

Sedangkan surat-surat (epistles), seperti tulisan Paulus:

– menjelaskan makna karya Yesus
– membangun kerangka iman
– menolong gereja bertumbuh secara sehat

Masalah muncul ketika:
– kita membaca surat-surat tanpa Injil
– kita membangun teologi tanpa melihat karakter Yesus
– kita sibuk menjelaskan iman, tapi lupa meneladani Pribadi-Nya

Akhirnya iman jadi konsep, bukan relasi.

Yesus Adalah Lensa

Ini kunci terbesarnya.

Semua hal harus dilihat melalui Yesus:

– ayat Alkitab
– ajaran
– doktrin
– sikap hidup
– bahkan pendapat rohani

Bukan:
“Ayat ini berkata begini, jadi sah.”

Tetapi:

“Apakah ini selaras dengan hati, karakter, dan cara Yesus?”

Jika sebuah ajaran:
– membuat kita lebih keras
– lebih sombong
– lebih mudah menghakimi
– lebih jauh dari kasih

Maka patut berhenti sejenak dan bertanya:
apakah ini benar-benar Yesus?

Orang Kristen Sejati Itu Sehat

Pengikut Kristus yang sehat bukan orang yang tahu segalanya, tapi orang yang:

– hatinya lembut
– pikirannya berakar
– tidak mudah diombang-ambingkan
– tidak panik dengan perbedaan
– tidak kehilangan kasih saat berbeda pendapat

Ia tidak anti doktrin, tapi juga tidak diperbudak doktrin.

Ia menghormati Alkitab, tapi menempatkan Yesus di atas semuanya.

Hhmm…sekarang saya mengerti.

Mengapa ada orang yang tahu firman tapi kehilangan damai. Mengapa ada yang justru menjauh dari Yesus karena bingung doktrin.

Masalahnya bukan pada firman. Masalahnya bukan pada ajaran. Masalahnya adalah kita bisa sibuk membela kebenaran, tapi lupa mengikuti Sang Kebenaran itu sendiri.

Dan bagi saya, pencerahan ini sederhana tapi membebaskan:

Jika iman membuat kita makin mirip Yesus, kita sedang di jalan yang benar.
Jika iman membuat kita kehilangan kasih, mungkin kita sedang mengikuti ajaran — bukan Pribadi.

Kolose 2:6 (AMPC)
Karena itu, sebagaimana kamu telah menerima Kristus-Yesus sebagai Tuhan-hidup dan aturlah seluruh tingkah lakumu dalam kesatuan dengan Dia dan sesuai dengan Dia.

Yesus tidak pernah mengundang kita untuk menjadi ahli sistem. Dia mengundang kita untuk mengikut Dia.

Dan di sanalah iman menjadi sehat.

“If you believe what you like in the Gospels, and reject what you don’t like, it is not the Gospel you believe, but yourself.”- Augustine of Hippo.

“Jika kita percaya bagian Injil yang kita sukai dan menolak yang tidak kita sukai, yang kita percaya bukan Injil, melainkan diri kita sendiri.” – Augustine of Hippo.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Ketika Doa Dijawab, Bukan Karena Kerasnya Suara, Tapi Karena Selarasnya Hati


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Doa Dijawab, Bukan Karena Kerasnya Suara, Tapi Karena Selarasnya Hati

Ada satu kalimat yang sejak lama sering saya dengar:
“Berjalankah dua orang bersama-sama jika mereka tidak sepakat?”

Dulu saya mengartikannya secara sederhana. Kalau dua orang punya pemikiran berbeda, tentu sulit berjalan bersama. Akan ada benturan, perdebatan, bahkan perpisahan. Itu terasa masuk akal.

Namun pemahaman saya berubah ketika Wendell Parr, salah satu mentor rohani saya, menjelaskan makna kalimat ini dari sudut yang lebih dalam. Ia berkata bahwa berjalan bersama Tuhan bukan soal seberapa sering kita berdoa, tetapi seberapa selaras hati kita dengan apa yang Tuhan percayai.

Dan di situlah saya mulai tersentak.

Sering kali kita berkata percaya, tetapi di dalam pikiran kita justru tersimpan ketakutan. Kita berdoa minta kesembuhan, tetapi setelah berdoa kita membaca artikel medis yang membuat hati makin ciut. Kita meminta berkat, tetapi di dalam hati terus terbayang kegagalan. Kita berkata “Tuhan sanggup”, namun pikiran kita sibuk membayangkan yang terburuk.

Tanpa sadar, kita tidak sedang berjalan bersama Tuhan.
Kita berjalan bersama ketakutan.

Padahal iman tidak bekerja di mulut, melainkan di pikiran dan hati.

Wendell pernah berkata, apa yang paling sering kita lihat dalam pikiran, itulah yang akhirnya kita alami. Jika pikiran kita penuh kecemasan, maka kecemasan itulah yang kita panen. Bukan karena Tuhan tidak mau memberkati, tetapi karena kita sendiri tidak sepakat dengan-Nya.

Di sinilah perkataan Lawson Perdue menjadi sangat bermakna:
“If you want to receive more, you have to believe more.”
Jika ingin menerima lebih banyak, kita harus percaya lebih dalam.

Percaya bukan sekadar berharap. Percaya adalah kondisi batin yang tenang, yakin, dan tidak goyah meski keadaan belum berubah.

Banyak orang berdoa, tetapi di saat yang sama membayangkan kegagalan. Mereka meminta kesembuhan, tetapi membayangkan sakit bertambah parah. Mereka meminta kelimpahan, tetapi melihat diri mereka selalu kekurangan. Tanpa disadari, mereka sedang berjalan berlawanan arah dengan doa mereka sendiri.

Di sinilah letak persoalannya:
kita tidak sepakat dengan Tuhan.

Padahal iman bekerja ketika hati, pikiran, dan perkataan berada dalam satu arah. Ketika kita bisa melihat dalam pikiran apa yang Tuhan janjikan, sebelum itu terwujud di dunia nyata.

Bill Winston pernah berkata:
“Your feet will never take you where your mind has never been.”

Kaki kita tidak akan membawa kita ke tempat yang belum pernah kita lihat di dalam pikiran.

Itu sebabnya, sebelum kesembuhan nyata terjadi, kita perlu melihat diri kita sembuh.
Sebelum berkat nyata datang, kita perlu melihat diri kita hidup berkecukupan.
Sebelum jawaban doa terwujud, kita perlu sepakat bahwa Tuhan sudah bekerja.

Iman bukan menunggu bukti. Iman justru mendahului bukti.

Dan ketika kita sepakat dengan Tuhan, sesuatu yang indah terjadi.
Yang rohani mulai memengaruhi yang jasmani.
Yang supranatural mulai mengalir ke dalam kehidupan sehari-hari.

Inilah rahasia doa yang dijawab.
Bukan karena panjangnya doa.
Bukan karena indahnya kata-kata.
Tetapi karena keselarasan hati.

Kini saya mengerti, jika saya ingin menerima lebih banyak, saya harus percaya lebih dalam. Saya harus memilih untuk tidak hidup dalam ketakutan, tetapi dalam keyakinan bahwa Tuhan setia pada janji-Nya.

Dan pilihan itu ada di tangan kita setiap hari.

Apakah kita mau berjalan bersama Tuhan…
atau berjalan sendiri dengan rasa khawatir?

“There is nothing impossible with God. All the impossibility is with us when we measure God by the limitations of our unbelief.”- Smith Wigglesworth.

“Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Yang membatasi hanyalah ketidakpercayaan kita sendiri.”- Smith Wigglesworth.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Prinsip Tikkun Olam: Kaya untuk Membuat Dunia Lebih Kudus

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Prinsip Tikkun Olam: Kaya untuk Membuat Dunia Lebih Kudus

“A lot of people become unattractive when you find out how they think.” — Damian Marley

Banyak orang menjadi tidak menarik bukan karena penampilan, tetapi karena cara berpikirnya.
Sebaliknya, kita justru tertarik pada orang-orang yang pola pikirnya membawa kita naik, bertumbuh, dan melihat hidup dengan sudut pandang yang lebih besar.

Billy Epperhart pernah berkata bahwa ketika kita lahir ke dunia, Tuhan sebenarnya sudah menyiapkan “peti harta karun” bagi setiap orang.
Apa isinya?
Bukan emas atau uang semata, melainkan orang-orang yang Tuhan kirimkan untuk menolong kita naik ke level hidup yang lebih tinggi, supaya potensi kita bisa dipakai maksimal untuk menggenapi rencana-Nya.

Masalahnya sering bukan pada ketersediaan kesempatan, tetapi pada kesiapan hati.
Apakah kita mendoakan orang-orang itu?
Apakah kita peka saat mereka hadir?
Dan yang terpenting, apakah kita mau bertumbuh untuk menyambut kesempatan itu?

Karena tidak ada keberhasilan yang jatuh dari langit.
Semuanya menuntut kerja sama dengan Tuhan.

Di Charis Bible College, selain belajar tentang kepemimpinan, kami juga belajar prinsip keuangan dari Charis Business School. Salah satu pelajaran pentingnya adalah Money Mastery — bagaimana menguasai uang, bukan dikuasai uang.

Dari situ saya belajar satu hal penting:
menjadi rohani bukan berarti anti uang.
Justru, cara kita memperlakukan uang menunjukkan kedewasaan rohani kita.

Inilah yang disebut sebagai Prinsip Tikkun Olam — memperbaiki dunia.
Kekayaan bukan tujuan, tetapi sarana untuk bermitra dengan Tuhan, membawa kebaikan, meningkatkan kualitas hidup orang lain, dan menghadirkan nilai Kerajaan Allah di bumi.

Menjadi kaya, jika tujuannya benar, bukanlah dosa.
Justru bisa menjadi kebajikan.

Menariknya, kata work (bekerja) dan worship (menyembah) dalam makna aslinya sangat dekat. Artinya, bekerja dengan benar dan bertanggung jawab juga merupakan bentuk penyembahan kepada Tuhan.

Kerohanian sejati bukan menjauh dari dunia, melainkan menghadirkan terang di dalamnya.

Karena itu, kita diajar untuk hidup bijak secara finansial.
Billy Epperhart mengajarkan agar kita hidup dari 70–80% penghasilan, bukan 100%. Sisanya dipakai untuk menabung, berinvestasi, dan memberi.

Ada tiga tahap kehidupan finansial:
1. Kita bekerja untuk uang.
2. Uang bekerja untuk kita.
3. Uang bekerja tanpa kita harus terus bekerja.

Banyak orang terjebak di tahap pertama karena gaya hidup konsumtif.
Minum kopi mahal setiap hari, cicilan kartu kredit, gaya hidup yang tidak perlu.
Padahal, hutang konsumtif perlahan membunuh masa depan.

Billy pernah memberi contoh:
dua orang dengan penghasilan sama, $54.000 per tahun.
Yang satu disiplin melunasi hutang dan berinvestasi.
Yang lain hanya membayar cicilan minimum.

Dua puluh lima tahun kemudian, yang pertama bebas hutang dan memiliki jutaan dolar aset.
Yang kedua masih memiliki cicilan dan nyaris tanpa tabungan.

Perbedaannya bukan gaji.
Tapi cara berpikir.

Konsumtif berarti memusnahkan — bukan hanya uang, tetapi juga kesempatan untuk menjadi berkat.

Karena itu, belajar menjadi bijak adalah bagian dari ketaatan.
Firman Tuhan berkata, umat-Ku binasa karena kurang pengetahuan.

Belajar itu rohani.
Bertumbuh itu ibadah.
Mengelola dengan bijak adalah bentuk tanggung jawab.

Mari belajar rendah hati, terbuka, dan mau diajar.
Seperti kata Greg Mohr: Bersikaplah seperti kucing tua, ambil dagingnya, buang tulangnya.

Dan pada akhirnya, kita akan mengerti:
menjadi kaya bukan soal menumpuk harta,
tetapi tentang memperluas dampak.

Kiranya kita pun hidup dengan cara yang sama.
Bijak. Bertumbuh. Berdampak.

“I spent the first half of my life making money, and the second half giving it away to do the most good and the least harm.” – Andrew Carnegie.

“Saya menghabiskan separuh hidup saya untuk menghasilkan uang, dan separuhnya lagi untuk menggunakannya demi kebaikan sebesar-besarnya. – Andrew Carnegie.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Menemukan Tempat yang Tuhan Tetapkan

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Menemukan Tempat yang Tuhan Tetapkan

Ada satu kisah yang belakangan ini sangat menggetarkan hati saya.
Kisah tentang seorang perempuan luar biasa, atlet dunia, sekaligus seorang ibu bernama Allyson Felix.

Ia bukan atlet biasa.
Allyson adalah peraih 11 medali Olimpiade, melampaui rekor Carl Lewis, dan menjadi atlet atletik Amerika tersukses sepanjang sejarah. Dunia mengenalnya sebagai pelari cepat, disiplin, dan penuh prestasi.

Namun justru di puncak kariernya, hidup membawanya pada ujian yang tidak pernah ia bayangkan.

Saat Allyson hamil, sponsor besarnya, Nike, menyampaikan keputusan yang mengejutkan. Kontraknya akan dipotong hampir 70 persen. Alasannya sederhana namun menyakitkan: ia dianggap tidak lagi produktif sebagai atlet.

Pesannya seperti berkata,
“Kamu tahu tempatmu. Diam. Terus berlari.”

Padahal di usia kehamilan tujuh bulan, Allyson mengalami komplikasi serius dan harus menjalani operasi caesar darurat. Bayinya lahir prematur dan harus dirawat di ruang NICU selama lebih dari sebulan.

Di saat ia berjuang sebagai seorang ibu, ia juga harus menghadapi kenyataan bahwa dunia tidak selalu ramah pada perempuan yang memilih keluarga dan kehidupan.

Namun di titik terendah itu, sesuatu berubah.

Alih-alih tenggelam dalam kekecewaan, Allyson memilih berdiri. Ia meninggalkan Nike dan membangun mereknya sendiri, Saysh. Sebuah brand sepatu yang lahir bukan hanya dari visi bisnis, tetapi dari keberanian dan harga diri.

Dua tahun kemudian, dunia kembali menyaksikan langkahnya.
Di Olimpiade Tokyo, Allyson berlari dengan sepatu buatannya sendiri. Putrinya menyaksikan dari tribun. Dan di kakinya tertulis kalimat sederhana namun penuh makna:

“I know exactly where my place is.”

Ia tahu tempatnya.
Bukan ditentukan sponsor.
Bukan oleh industri.
Bukan oleh standar dunia.

Tetapi oleh siapa dirinya di hadapan Tuhan.

Dan hasilnya?
Ia kembali meraih medali.
Mencetak sejarah.
Menjadi atlet wanita Amerika dengan medali terbanyak sepanjang masa.

Namun lebih dari itu, ia meninggalkan pesan yang jauh lebih besar bagi perempuan di seluruh dunia:
bahwa kita tidak perlu mengorbankan martabat demi diterima.

Yang jarang disorot, Allyson adalah seorang wanita beriman. Dalam beberapa wawancara, ia terbuka tentang bagaimana imannya kepada Tuhan menopangnya melewati masa-masa paling gelap. Ia percaya hidupnya memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar podium dan penghargaan.

Di sinilah saya belajar satu hal penting.

Si musuh sering membawa kita masuk ke musim di mana kita merasa dipersempit, disalahpahami, bahkan diremehkan. Tetapi Tuhan mengubahnya menjadi alat, bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk membentuk.

Agar kita tidak lagi menggantungkan identitas pada pencapaian.
Agar kita tidak mencari nilai diri dari pengakuan manusia.
Agar kita tahu siapa kita sebenarnya di hadapan-Nya.

Sering kali kita baru menemukan “tempat” kita yang sejati ketika dunia tidak lagi menyediakan tempat.
Sering kali kita baru menemukan suara kita ketika kita berhenti berusaha menyenangkan semua orang.

Seperti Allyson, kita belajar bahwa keberanian sejati bukan tentang melawan dunia, melainkan berdiri teguh dalam nilai yang Tuhan tanamkan.

Dan pada akhirnya, yang tersisa bukanlah medali, kontrak, atau tepuk tangan.
Yang tersisa adalah keberanian untuk berkata dengan tenang:

“Aku tahu siapa aku. Dan aku tahu di mana tempatku.”

Wow….
Mari kita teladani.

“The greatest discovery of my generation is that a human being can alter his life by altering his attitude.”
– William James*

*Penemuan terbesar generasi ini adalah bahwa manusia bisa mengubah hidupnya dengan mengubah sikap hatinya.- William James

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Ketika Puncak Tidak Lagi Membuat Bahagia…


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Puncak Tidak Lagi Membuat Bahagia…

Ada seorang anak muda, sebut saja namanya Tommy.
Menurut ukuran dunia, hidupnya sudah sangat berhasil. Usianya masih muda, bisnisnya berkembang pesat, asetnya tidak sedikit. Banyak orang memandangnya dengan kagum. Banyak pula yang ingin berada di posisinya.

Namun di satu titik, di puncak semua itu, ia justru merasa kosong.
Ia dikelilingi banyak orang, tetapi nyaris tidak memiliki teman sejati. Teleponnya ramai, pertemuannya padat, tapi hatinya sepi. Semakin tinggi ia melangkah, semakin sunyi rasanya. Seperti berdiri di puncak piramida yang megah, indah dari kejauhan, namun dingin dan sepi saat benar-benar berada di atasnya.
Tommy kecewa.

Ia merasa telah mengejar semua yang ia pikir akan membuatnya bahagia. Uang. Pengakuan. Pencapaian. Kebanggaan. Tapi mengapa hatinya justru kosong?
Di titik itulah ia mulai bertanya,
“Kalau semua ini bukan jawabannya, lalu apa?”

Peter Drucker, bapak management modern, pernah berkata bahwa “salah satu kesalahan terbesar manusia adalah “berhasil menaiki tangga kesuksesan, hanya untuk menyadari bahwa tangga itu bersandar pada dinding yang salah.”

Kalimat itu sangat menggambarkan kondisi banyak orang hari ini. Kita berjuang mati-matian, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan relasi, untuk mencapai sesuatu. Tapi ketika sampai di atas, kita baru sadar… yang kita kejar bukanlah yang benar-benar kita butuhkan.

Seiring bertambahnya usia, pandangan tentang kebahagiaan memang berubah.
Hal-hal yang dulu terasa penting perlahan kehilangan daya tariknya. Pujian tidak lagi memuaskan. Kemenangan tidak lagi menggetarkan. Bahkan keberhasilan pun terasa hampa jika tidak bisa dibagikan dengan orang-orang yang tulus.

Di titik ini, hidup mulai mengajarkan pelajaran yang berbeda.
Bahwa kebahagiaan bukan soal seberapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa dalam kita bisa merasakan makna.
Bahwa damai tidak selalu datang dari keberhasilan besar, melainkan dari hati yang tidak lagi haus pengakuan.

Pelan-pelan seseorang mulai menyadari, kebaikan ternyata memberi rasa yang jauh lebih utuh daripada kemenangan.
Berbuat baik tanpa pamrih.
Mendengar tanpa ingin menghakimi.
Menolong tanpa perlu diketahui.

Hal-hal sederhana itu justru menghadirkan kelegaan yang tidak bisa dibeli.
Di sinilah seseorang mulai memahami bahwa kebaikan bukan sekadar kewajiban moral, melainkan kebutuhan batin. Ia seperti napas bagi jiwa. Tanpanya, hati terasa sesak meski hidup terlihat sempurna.

Semakin dewasa, semakin jelas satu hal:
*kebahagiaan tidak selalu datang dari apa yang kita miliki, tetapi dari siapa kita menjadi.*

Kebaikan membuat hidup terasa lebih ringan.
Tidak ada beban membuktikan diri.
Tidak ada lelah mengejar pengakuan.
Tidak ada iri yang menggerogoti hati.

Pada akhirnya, usia mengajarkan satu kebenaran sederhana namun dalam:
bahagia bukan tentang memiliki segalanya, melainkan tentang merasa cukup.
Dan kebaikan adalah bentuk paling jujur dari rasa cukup itu sendiri.

Mungkin itulah mengapa, di puncak kesuksesan, sebagian orang justru mulai mencari hal-hal yang dulu mereka abaikan. Bukan lagi prestasi, bukan lagi tepuk tangan, tetapi ketenangan hati.
Karena pada akhirnya, yang benar-benar membuat hidup terasa berarti bukan seberapa tinggi kita melangkah…
melainkan seberapa tulus kita hidup.

Hidup menggenapi rancangan Tuhan dalam menciptakan kita itulah, yang paling memuaskan. Karena untuk itulah kita ada di dunia ini.

“At the end of life, what truly matters is not what we have achieved, but how much we have loved.” – Mother Teresa

“Di akhir hidup, yang benar-benar berarti bukan apa yang kita capai, tetapi seberapa besar kita mengasihi”.- Mother Teresa

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 8 9 10 11 12 404