MASA LALUNYA KELAM, TETAPI BUKAN AKHIR CERITANYA
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
MASA LALUNYA KELAM, TETAPI BUKAN AKHIR CERITANYA
Mungkinkah seorang pembunuh berantai yang telah merenggut enam nyawa sungguh-sungguh berubah?
Pertanyaan ini muncul ketika saya membaca kisah David Berkowitz, pembunuh berantai yang dikenal sebagai Son of Sam.
Pada 1976–1977, ia meneror New York dengan serangkaian penembakan yang menewaskan enam orang dan melukai tujuh lainnya.
Bayangkan penderitaan keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta. Kehidupan mereka berubah selamanya.
Berkowitz ditangkap pada Agustus 1977 dan dijatuhi hukuman penjara yang sangat panjang.
Sepuluh tahun berlalu.
Menurut kesaksiannya, kehidupan di balik jeruji membuatnya semakin putus asa. Rasa bersalah, ketakutan dan bayang-bayang masa lalu terus menghantuinya.
Suatu hari, seorang narapidana bernama Rick mulai mengajaknya berbicara tentang Yesus.
Rick mengatakan bahwa Tuhan masih bersedia mengampuninya.
Bagi Berkowitz, gagasan itu sulit dipercaya.
Bagaimana mungkin seseorang yang telah melakukan kejahatan begitu mengerikan masih bisa menerima pengampunan?
Namun Rick tidak menyerah. Ia terus bersahabat dengannya dan memberikan Alkitab untuk dibaca.
Suatu malam pada 1987, Berkowitz membaca Mazmur 34:6 dalam penomoran Alkitab bahasa Inggris:
“This poor man cried, and the LORD heard him, and saved him out of all his troubles.”
“Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.”
Ayat sederhana itu menyentuh hatinya.
Berkowitz menyadari bahwa ia tidak mungkin mengubah masa lalunya. Tetapi ia masih bisa datang kepada Tuhan.
Malam itu, menurut kesaksiannya, ia berlutut, mengakui dosa-dosanya dan menyerahkan hidupnya kepada Yesus.
Ia menggambarkan pengalamannya seperti rantai berat yang selama ini membelenggunya akhirnya terputus.
Menariknya…
Pintu penjara tidak terbuka!
Hukumannya tetap berlaku.
Keenam korban tidak hidup kembali. Luka keluarga mereka pun tidak otomatis sembuh.
Tetapi Berkowitz mengatakan bahwa sesuatu di dalam dirinya telah berubah.
Sejak itu, ia mulai mempelajari Alkitab, berdoa, mendampingi sesama narapidana dan membagikan kesaksiannya.
Ia bahkan tidak ingin lagi dikenal sebagai Son of Sam, melainkan Son of Hope, anak pengharapan.
Tentu saja kita tidak dapat melihat isi hati seseorang. Hanya Tuhan yang mengenalnya dengan sempurna.
Namun kisah ini mengingatkan saya pada satu kebenaran penting.
Pengampunan bukan berarti menghapus tanggung jawab.
Seseorang yang bertobat tetap harus menghadapi konsekuensi perbuatannya.
Bahkan salah seorang korban yang selamat, Donna DeMasi, pernah menyampaikan bahwa Berkowitz boleh berubah, tetapi harus tetap menjalani hukumannya.
Saya menghargai pandangan itu.
Kasih kepada pelaku tidak boleh membuat kita melupakan penderitaan korban.
Tetapi di sisi lain, apakah seseorang yang telah melakukan kesalahan besar harus selamanya dianggap mustahil berubah?
Saya teringat bagaimana Yesus memperlakukan perempuan yang tertangkap berzina.
Ketika orang banyak siap menghukumnya, Yesus tidak ikut melemparkan batu.
Namun Yesus juga tidak membenarkan dosanya.
Ia berkata agar perempuan itu pergi dan tidak berbuat dosa lagi.
Wow…
Kasih menerima manusianya, tetapi tidak membenarkan kesalahannya.
Inilah yang kerap sulit kita praktikkan.
Kita begitu mudah memberi cap kepada seseorang berdasarkan kegagalannya.
Pembohong. Penipu. Pendosa. Orang yang tidak bisa dipercaya.
Padahal seseorang mungkin sungguh-sungguh sedang berusaha berubah.
Tentu kepercayaan perlu dibangun kembali melalui waktu, tanggung jawab dan perubahan perilaku yang nyata.
Tetapi jangan sampai kita menutup pintu pengharapan bagi orang yang sedang belajar berjalan dalam kehidupan baru.
Saya juga belajar sesuatu yang indah dari Rick.
Ia bukan penginjil terkenal. Bukan pendeta besar.
Hanya seorang narapidana yang mau bersahabat dan memperkenalkan Yesus kepada sesamanya.
Namun melalui persahabatan sederhana itu, Berkowitz mengaku mengalami titik balik kehidupannya.
Kita tidak pernah tahu seberapa besar pengaruh sebuah tindakan kasih yang sederhana.
Mungkin kita tidak bisa mengubah masa lalu seseorang.
Tetapi kita bisa menjadi orang yang menolongnya melihat bahwa masa depannya tidak harus mengulangi kesalahan yang sama.
Karena Tuhan bukan hanya sanggup mengampuni.
Dia juga sanggup mengubah hati manusia.
Dan perubahan sejati bukan sekadar mengatakan, “Saya sudah bertobat.”
Perubahan sejati terlihat ketika seseorang mulai menjalani kehidupan yang berbeda.
“Be kind, for everyone you meet is fighting a hard battle.” — Ian Maclaren
“Bersikaplah baik, sebab setiap orang yang kita temui sedang menghadapi pergumulannya sendiri.” — Ian Maclaren
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #Pengampunan
“Pertobatan tidak mengubah apa yang telah kita lakukan kemarin, tetapi mengubah bagaimana kita memilih hidup hari ini. Pengampunan memberi kesempatan untuk memulai kembali, sedangkan perubahan yang nyata membuktikan bahwa kesempatan itu tidak disia-siakan.” — Yenny Indra
“Repentance does not change what we did yesterday, but it changes how we choose to live today. Forgiveness offers a chance to begin again, while genuine transformation shows that the opportunity has not been wasted.” — Yenny Indra
Yenny Indra
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Anda Mungkin Suka Juga
Bagaimana Mengatasi Masalah Besar?
Maret 18, 2019
Mendoakan Orang Lain melalui Tantangan 999
Juni 18, 2019
