Tempat yang Tidak Kita Sukai, Justru yang Kita Butuhkan?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Tempat yang Tidak Kita Sukai, Justru yang Kita Butuhkan?
“Sometimes the place you least want to be is the very place you need to be.”
“Terkadang, tempat yang paling tidak ingin kita tempati justru merupakan tempat yang paling kita butuhkan.”
A.R. Bernard
Wuih… menarik sekali pernyataan A.R. Bernard ini.
Siapa sih yang mau berada dalam situasi yang tidak menyenangkan? Kita tentu lebih suka segala sesuatu berjalan lancar, rencana terlaksana sesuai jadwal, dan hasilnya segera terlihat.
Tetapi kenyataannya, hidup tidak selalu demikian.
Ada kalanya kita sudah bekerja keras, tetapi hasilnya belum kelihatan. Sudah berusaha memperbaiki hubungan, tetapi orang yang bersangkutan tetap sulit diajak bekerja sama. Atau kita sudah mempersiapkan sesuatu dengan sungguh-sungguh, eh… ternyata rencana berubah total!
Menyebalkan bukan?
Nach, A.R. Bernard mengingatkan, kita sering menilai suatu musim kehidupan berdasarkan kenyamanan, kecepatan perubahan, dan apakah situasinya sesuai harapan kita.
Padahal, persiapan tidak selalu kelihatan seperti kemajuan.
Saya teringat bagaimana pohon bertumbuh.
Ketika menanam sebuah pohon, kita tentu ingin segera melihat batangnya meninggi, daunnya rimbun, lalu menghasilkan buah.
Tetapi sebelum semua itu terjadi, ada pekerjaan penting yang berlangsung di bawah tanah.
Akarnya bertumbuh!
Tidak kelihatan. Tidak menarik untuk difoto. Tidak ada yang bertepuk tangan melihat akar bertambah panjang.
Namun justru akar itulah yang menentukan apakah pohon mampu bertahan ketika angin kencang datang.
Bayangkan jika pohon hanya sibuk bertumbuh tinggi, tetapi akarnya dangkal. Sedikit badai saja, tumbang!
Diiiieeeennnkkkk….
Bukankah kehidupan kita juga demikian?
Kita senang melihat keberhasilan orang lain. Bisnis berkembang, karier meningkat, pelayanan semakin luas, keluarga harmonis.
Tetapi kita jarang melihat proses di belakangnya.
Berapa kali mereka gagal? Berapa banyak keputusan sulit yang harus diambil? Berapa tahun mereka belajar, memperbaiki kesalahan, dan membangun karakter sebelum akhirnya berhasil?
Yang terlihat adalah buahnya. Proses pertumbuhan akarnya sering kali tidak diketahui siapa pun.
Ada satu hal yang menurut saya penting.
Jangan menganggap semua kesulitan otomatis merupakan pelajaran yang sengaja diberikan Tuhan.
Ada masalah akibat keputusan kita sendiri. Ada pula yang timbul karena kesalahan orang lain, bahkan ketidakadilan.
Jika lingkungan kerja merusak kesehatan, hubungan dipenuhi kekerasan, atau kita terus dimanfaatkan, bukan berarti harus bertahan sambil berkata, “Mungkin saya sedang dipersiapkan Tuhan.”
Nanti dulu…
Bisa jadi justru kita perlu belajar menetapkan boundaries, mengambil keputusan yang tegas, atau mencari jalan keluar.
Persiapan bukan berarti pasrah terhadap keadaan.
Yang penting, bagaimana kita meresponsnya?
Apakah pengalaman buruk membuat kita semakin pahit, mudah curiga, dan menyalahkan orang lain? Atau justru kita belajar menjadi lebih bijaksana, mampu membedakan mana yang perlu diperjuangkan dan mana yang sebaiknya dilepaskan?
Saya sendiri masih terus belajar.
Terkadang kita ingin situasi segera berubah, padahal yang perlu diperbaiki terlebih dahulu justru cara kita memandang dan merespons situasi tersebut.
Menariknya, ketika perspektif berubah, masalah yang sama bisa terlihat sangat berbeda.
Dulu terasa seperti jalan buntu. Sekarang kita mulai melihat pilihan-pilihan yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Inilah sebabnya _saya menyukai pengajaran tentang memperbarui pikiran. Bukan sekadar berpikir positif, tetapi belajar melihat kehidupan berdasarkan kebenaran, bukan ketakutan atau perasaan sesaat._
A.R. Bernard juga mengatakan bahwa terkadang tujuan sebuah musim kehidupan baru kita pahami setelah musim itu berlalu.
Betul sekali!
Ada pengalaman yang dulu terasa seperti gangguan, tetapi bertahun-tahun kemudian justru kita syukuri karena membuat kita lebih matang.
Ada pintu yang tertutup, sehingga kita terpaksa mencari jalan lain. Ternyata dari situlah muncul kesempatan yang jauh lebih baik.
Namun tidak semua pengalaman harus memiliki penjelasan yang indah. Ada hal-hal yang memang menyakitkan dan tidak perlu kita romantisasi.
Yang dapat kita lakukan adalah mengambil hikmahnya, tanpa membiarkan masa lalu menguasai masa depan.
Jangan hanya sibuk menghitung seberapa jauh kita sudah melangkah. Perhatikan juga pribadi seperti apa kita sedang bertumbuh.
Sebab keberhasilan tanpa karakter yang kuat, ibarat pohon tinggi dengan akar dangkal.
Kelihatan hebat, tetapi rapuh.
Nach, jika saat ini hasil yang kita harapkan belum terlihat, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa tidak ada kemajuan.
Periksa kembali: apakah kita semakin bijaksana? Lebih sabar? Lebih mampu mengendalikan diri? Semakin terampil mengambil keputusan?
Jika iya, berarti ada pertumbuhan yang sedang berlangsung.
Dan mungkin, suatu hari nanti, kita akan menoleh ke belakang dan berkata, “Oh… ternyata pengalaman itu mengajarkan sesuatu yang sangat berharga!”
Menarik bukan?
*”He who has a why to live can bear almost any how.” – Friedrich Nietzsche.
“Orang yang memiliki alasan kuat untuk hidup sanggup menghadapi hampir segala kesulitan dalam menjalaninya.”- Friedrich Nietzsche.
YennyIndra
www.yennyindra.com
MPOIN & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
#SeruputKopiCantik #YennyIndra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
“Don’t measure your progress only by how far you’ve gone. Sometimes, the greatest growth happens where no one can see.”
“Jangan mengukur kemajuan hanya dari seberapa jauh kita telah melangkah. Terkadang, pertumbuhan terbesar justru terjadi di tempat yang tidak terlihat oleh siapa pun.” – Yenny Indra
Yenny Indra
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Anda Mungkin Suka Juga
Penyesalan
Maret 16, 2019
Serupa…. Itu Tujuannya!
Desember 5, 2019