Articles

TUHAN TIDAK PERGI, KITALAH YANG KERAP TIDAK SADAR.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

TUHAN TIDAK PERGI, KITALAH YANG KERAP TIDAK SADAR.

John Bevere mengajukan sebuah pertanyaan menarik:

“If God is everywhere, why don’t we always experience His presence?”
“Jika Tuhan ada di mana-mana, mengapa kita tidak selalu mengalami hadirat-Nya?”

Pertanyaan yang menarik.

Tuhan memang omnipresent—Dia hadir di mana-mana. Daud berkata, ke mana pun ia pergi, Tuhan ada di sana.

Tetapi bagi kita yang sudah lahir baru, ada sesuatu yang bahkan lebih dahsyat.

Roh Kudus bukan sekadar berada di sekitar kita. Dia tinggal di dalam kita.

Yesus berkata bahwa Roh Kudus akan menyertai kita selama-lamanya. Paulus bahkan mengatakan tubuh kita adalah bait Roh Kudus.

Artinya, ketika pagi ini kita berdoa dan merasakan hadirat Tuhan begitu kuat, lalu besok pagi tidak merasakan apa-apa, jangan langsung berpikir,

“Waduh… Tuhan pergi ke mana?”

Ha… ha…

Tuhan tidak pindah rumah.

Perasaan kita berubah. Kesadaran kita bisa berubah. Tetapi kebenaran Firman tidak berubah.

Di sinilah saya belajar membedakan antara presence dan awareness of His presence.

Tuhan hadir. Itu fakta.

Tetapi seberapa sadar kita akan kehadiran-Nya, seberapa peka kita terhadap suara dan tuntunan-Nya, serta seberapa dalam kita menikmati persekutuan dengan-Nya, bisa berbeda.

Yakobus berkata,

“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.”

Bukan berarti Tuhan sedang jauh secara jarak, lalu ketika kita berdoa Dia berjalan mendekati kita. Bagi orang percaya, Roh Kudus sudah tinggal di dalam kita.

Mendekat kepada Tuhan berbicara tentang respons hati dan fellowship. Kita mengarahkan perhatian kepada-Nya, memberi tempat kepada Firman-Nya, dan merespons tuntunan Roh Kudus.

Dia sudah tinggal di dalam kita—itu identity.
Kita mendekat kepada-Nya—itu fellowship.

Masalahnya, sesuatu yang terlalu familiar terkadang mulai kita anggap biasa.

Kita membaca Alkitab sambil memikirkan WhatsApp. Berdoa, tetapi pikiran sudah ke mana-mana. Mendengar ayat yang sudah ratusan kali kita dengar lalu berkata,

“Oh, ayat itu lagi. Sudah tahu.”

Padahal familiar dengan Firman belum tentu berarti kita sedang memberi perhatian kepada Tuhan yang berbicara melalui Firman itu.

John Bevere mengatakan,

“Intimacy with God should never produce casualness toward God.”

Keintiman dengan Tuhan jangan sampai membuat kita memperlakukan-Nya sembarangan.

Saya suka sekali keseimbangan yang Yesus ajarkan ketika berdoa:

“Our Father…”

Bapa kita.

Itu intimacy.

Kita adalah anak-Nya. Kita diterima. Kita boleh datang dengan berani kepada takhta kasih karunia. Tidak perlu mengemis supaya Tuhan bersedia menerima kita.

Tetapi kemudian Yesus berkata,

“Hallowed be Your name.”

Dikuduskanlah nama-Mu.

Itu reverence.

Wow!

Kedekatan tidak menghilangkan penghormatan. Penghormatan pun tidak menghilangkan kedekatan.

Semakin mengenal Tuhan, seharusnya kita bukan semakin takut mendekat kepada-Nya, tetapi juga bukan semakin sembarangan.

Ada satu hal lagi yang penting.

Jangan sampai kita mengejar manifest presence seolah-olah kehadiran Tuhan ditentukan oleh goosebumps, menangis, musik tertentu, atau perasaan yang luar biasa.

Alkitab berkata, kita hidup karena percaya, bukan karena melihat.

Kalau hari ini kita merasakan sesuatu yang luar biasa, bersyukurlah.

Kalau tidak?

Firman tetap benar.

Christ in you.

Kristus di dalam kita.

Sebaliknya, jangan pula berpikir, “Kalau saya cukup menghormati Tuhan, cukup berdoa, cukup sungguh-sungguh, barulah Tuhan mau hadir dan memberkati saya.”

No.

Itu kembali menjadi performance.

Kita tidak menghormati Tuhan supaya diterima.

Kita menghormati-Nya karena sudah diterima di dalam Kristus.

Kita tidak berusaha membuat Tuhan yang jauh menjadi dekat. Kita belajar semakin sadar akan Pribadi yang sudah tinggal di dalam kita, semakin mengenal-Nya melalui Firman, dan semakin peka mengikuti tuntunan-Nya.

Mungkin itu sebabnya semakin bertumbuh, doa kita perlahan berubah.

Bukan terus-menerus,

“Tuhan, Engkau di mana?”

Melainkan,

“Tuhan, Engkau sudah di sini. Ajari saya hidup hari ini dengan kesadaran akan Engkau.”

Presence is a fact. Awareness grows. Fellowship deepens. Faith does not depend on feelings.

Hadirat-Nya adalah fakta. Kesadaran kita bertumbuh. Persekutuan semakin dalam. Dan iman tidak bergantung pada perasaan.

“The practice of the presence of God is to find joy in His divine company.” – Brother Lawrence.

“Melatih kesadaran akan hadirat Tuhan berarti menemukan sukacita dalam kebersamaan dengan-Nya.” – Brother Lawrence.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopiCantik #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur

“Semakin dekat kita dengan Tuhan, jangan sampai semakin biasa kita memperlakukan-Nya. Keintiman sejati melahirkan kasih sekaligus penghormatan.” – Yenny Indra

“The closer we grow to God, the less casually we should treat Him. True intimacy produces both love and reverence.” – Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
“Sumber Segala Dukacita.”
Jangan pedulikan keraguan!
Seperti Apakah Suara Tuhan?