Chaka Salt Lake: Ketika Bumi Meminjam Langit sebagai Cerminnya…
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Chaka Salt Lake: Ketika Bumi Meminjam Langit sebagai Cerminnya…
Kali ini liburan kami menjelajahi Xining–Xi’an dan sekitarnya.
Perjalanan dari Xining menuju Chaka Salt Lake memakan waktu sekitar 4,5 jam.
Tetapi perjalanan panjang ini tidak membosankan. Qinghai seperti membawa kami melintasi sejarah, budaya, dan bentang alam yang sama sekali berbeda dari kota-kota besar China yang biasa kita lihat.
Xining sejak dahulu mempunyai posisi strategis sebagai pintu menuju Dataran Tinggi Tibet dan bagian penting jaringan perdagangan Jalur Sutra. Berbagai etnis hidup berdampingan di Qinghai, termasuk Han, Tibet, Mongol, dan Hui.
Yang menarik perhatian saya, di sini cukup banyak masyarakat Muslim Tionghoa, terutama etnis Hui.
Urusan halal mereka serius sekali.
Bukan sekadar tidak makan babi. Makanan yang dikonsumsi juga diperhatikan proses dan pengolahannya. Driver kami seorang Muslim. Bahkan snack yang kami bawa dari Indonesia pun tidak mau dicicipinya karena ia tidak mengetahui dengan pasti proses pembuatannya.
Saya justru kagum melihat bagaimana seseorang memegang keyakinannya dengan sungguh-sungguh.
Sementara local guide kami penganut Budha Tibet.
Traveling memang membuat dunia terasa semakin luas.
Kita bertemu manusia dengan budaya, tradisi, dan keyakinan berbeda. Tidak harus menjadi sama untuk bisa saling menghormati.
Dalam perjalanan kami juga mendengar cerita tentang Pegunungan Kunlun, salah satu rangkaian pegunungan besar di Asia yang mempunyai tempat istimewa dalam sejarah dan legenda Tiongkok.
Jika bepergian dengan Qinghai-Tibet Railway menuju Lhasa, kereta akan melintasi kawasan Kunlun. Salah satu bagian jalurnya bahkan berada di sekitar ketinggian 4.600 meter. Semakin tinggi, permukiman manusia semakin jarang. Bentang alamnya didominasi pegunungan dan habitat satwa liar.
Jadi teringat sohib saya, P. Irsan, yang suka sekali cerita silat. Kunlun Pai, perguruan silat yang sering muncul dalam cerita-cerita pendekar Tiongkok… ternyata mengambil namanya dari Pegunungan Kunlun yang benar-benar ada.
Ha… ha….
Selama ini tahunya dari cerita silat, sekarang saya berada di kawasan yang selama ini hanya hidup dalam imajinasi.
Daerah ini memang sudah berada di dataran tinggi. Chaka Salt Lake sendiri terletak sekitar 3.059 meter di atas permukaan laut, sementara perjalanan menuju Tibet bahkan dapat membawa kita ke ketinggian lebih dari 5.000 meter.
Di tempat seperti ini, mau tidak mau kita kembali menyadari betapa kecilnya manusia di tengah kemegahan ciptaan Tuhan.
Lalu tibalah kami di Chaka Salt Lake.
Wow!
Sejauh mata memandang terlihat hamparan putih.
Garam.
Bukan salju.
Chaka terbentuk melalui proses alam yang sangat panjang. Kawasan ini merupakan cekungan tertutup. Air membawa berbagai mineral ke dalamnya, lalu penguapan meninggalkan kandungan garam yang selama ribuan tahun membentuk lapisan garam keras yang kita lihat hari ini.
Kami kemudian menaiki kereta wisata menuju salah satu pemberhentian di area danau.
Sebelum turun ke hamparan garam, kami diberi pelindung karet untuk membungkus sepatu. Detail kecil, tetapi menunjukkan bagaimana kebutuhan dan kenyamanan wisatawan dipikirkan dengan serius.
Tidak heran pengalaman berwisata di banyak tempat di China terasa begitu tertata.
Barulah saya memahami mengapa tempat ini terkenal sebagai “Mirror of the Sky”, Cermin Langit.
Di atas lapisan garam yang keras terdapat air tipis. Ketika kondisi tepat dan air cukup tenang, permukaannya memantulkan langit, awan, dan manusia yang berdiri di atasnya.
Jepret!
Kita seperti mempunyai kembaran di bawah kaki.
Langit di atas.
Langit di bawah.
Cantik sekali.
Dan sekarang saya mengerti mengapa cuaca begitu penting di Chaka.
Sebelum datang, saya sudah berdoa supaya tidak hujan. Setelah menyampaikan permintaan kepada Tuhan, saya memilih tidak memikirkannya lagi.
Beberapa teman masih berkali-kali berkata,
“Semoga nggak hujan ya…”
“Kalau hujan bagaimana?”
Saya memilih berhenti di sana.
Saya sudah meminta. Sekarang bagian saya adalah percaya.
Bukan karena saya yakin Tuhan harus mengikuti keinginan saya, tetapi karena saya yakin apa pun hasilnya, kasih-Nya kepada saya tidak berubah dan Dia tahu yang terbaik.
Dan ketika akhirnya berdiri di sana menikmati pantulan Chaka yang indah, hati saya penuh syukur.
Di kawasan ini ternyata bukan hanya ada hamparan garam. Ada berbagai karya dan spot foto yang unik: patung-patung ukiran garam, bangunan menyerupai istana bak Disneyland, gitar besar yang mengingatkan saya pada Hard Rock Cafe, ayunan, dan berbagai tempat cantik untuk berfoto.
Pokoknya urusan foto…
Kalau di Harbin hampir semuanya dibuat dari es, di Chaka garam pun naik kelas menjadi karya seni.
China memang mengerti kebutuhan para turis.
Ha… ha….
Ada pula legenda lokal tentang cermin yang membuat Chaka semakin puitis. Salah satu cerita menghubungkan kawasan Qinghai dengan cermin, matahari, dan bulan. Entah bagaimana persisnya legenda itu berkembang selama berabad-abad, berdiri di Chaka membuat saya memahami mengapa manusia zaman dahulu menghubungkan tempat ini dengan sebuah cermin raksasa.
Alamnya memang seperti lukisan.
Dan perjalanan hari itu ditutup dengan kenikmatan yang jauh lebih sederhana:
Lamian halal buatan penduduk Muslim setempat.
Wuih…
Mi-nya lembut dan empuk sekali. Setelah berjalan di udara dataran tinggi dengan oksigen yang lebih tipis, semangkuk lamian hangat rasanya naik kelas menjadi makanan bintang lima.
Kami menginap semalam di Chaka.
Malam itu saya kembali berpikir betapa luar biasanya dunia yang Tuhan ciptakan.
Manusia bisa membangun istana, membuat ukiran, dan menciptakan berbagai spot foto yang indah.
Tetapi hamparan garam, gunung, langit, dan pantulan sempurna di atas sedikit air?
Hanya Sang Pencipta yang mampu mendesainnya.
Dan mungkin Chaka memberikan pelajaran sederhana kepada saya.
Air yang tenang mampu memantulkan langit dengan jelas.
Demikian pula hati kita.
Ketika hati berhenti dipenuhi “what if?”, kekhawatiran, dan kebutuhan untuk mengendalikan segala sesuatu, kita menjadi lebih mampu melihat kebaikan Tuhan yang sebenarnya sudah ada di sekitar kita.
Kadang kita tidak membutuhkan langit yang berbeda. Kita hanya membutuhkan hati yang cukup tenang untuk melihat pantulan kebaikan Tuhan di dalam perjalanan kita.
“If I could wish for anything, I would not wish for wealth or power, but for a passionate sense of possibility-for an eye that, forever young and eager, always sees what could be.” – Søren Kierkegaard.
“Jika aku bisa meminta apa saja, aku tidak ingin kekayaan atau kekuasaan, melainkan kepekaan jiwa terhadap potensi, serta mata yang selalu muda dan bersemangat untuk melihat berbagai kemungkinan.” – Søren Kierkegaard.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik #yennyindra #BruneiDarussalam #TravelJournal #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #RasaSyukur
A quiet heart reflects God’s goodness more clearly, just as still water reflects the sky.”
“Hati yang tenang memantulkan kebaikan Tuhan dengan lebih jelas, seperti air yang tenang memantulkan langit.” – Yenny Indra