Articles

Jangan Hanya Percaya pada Tangan Tuhan, Kenalilah Hati-Nya.

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Jangan Hanya Percaya pada Tangan Tuhan, Kenalilah Hati-Nya.

Beberapa waktu yang lalu saya mendengar sebuah ilustrasi dari Ps. Wendell Parr, guru saya, yang sangat sederhana, tetapi begitu dalam.

Pada hari Senin ia berkata kepada anak-anaknya, “Hari Sabtu nanti kita pergi ke kebun binatang.”

Hanya itu.

Tidak ada penjelasan apakah tiketnya sudah dibeli. Tidak ada cerita apakah uangnya sudah cukup. Tidak ada pembahasan bagaimana semuanya akan terlaksana.

Namun sejak hari Selasa, anak-anaknya sudah bersukacita. Mereka bercerita kepada teman-temannya dengan penuh semangat, “Sabtu nanti aku pergi ke kebun binatang!”

Mereka tidak pernah bertanya, “Papa, uangnya ada tidak?” Mereka juga tidak berdoa, “Dalam nama Yesus, kami patahkan setiap roh yang menghalangi kami pergi ke kebun binatang.”

Mengapa?

Karena bagi mereka hanya ada satu alasan.

Papa sudah berkata. Itu sudah cukup.

Mereka tidak sedang percaya kepada kebun binatang. Mereka percaya kepada ayah yang memberi janji.

Bukankah di situlah letak iman yang sesungguhnya?

Sering kali kita mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi kalau jujur, kita lebih sibuk memikirkan bagaimana Tuhan akan menggenapi janji-Nya daripada siapa Dia yang memberi janji.

Kita percaya Tuhan sanggup menyembuhkan. Kita percaya Tuhan sanggup mencukupi. Kita percaya Tuhan sanggup membuka jalan.

Namun ketika jawaban belum datang, hati mulai gelisah. Kita bertanya-tanya apakah Tuhan masih bekerja.

Tanpa sadar, kita lebih mencari tangan Tuhan daripada mengenal hati-Nya.

Padahal iman yang dewasa bukan hanya berkata, “Aku percaya Tuhan sanggup.” Iman yang dewasa juga berkata, “Aku percaya Tuhan itu baik.”

Abraham memahami rahasia ini.

Ketika Allah memintanya mempersembahkan Ishak, ia tidak mengetahui bagaimana semuanya akan berakhir. Namun ia mengenal Pribadi yang berbicara kepadanya. Karena itu imannya tidak berdiri di atas penjelasan, melainkan di atas karakter Allah.

Sering kali kita berkata, “Tuhan, jelaskan dulu, baru aku percaya.”

Tetapi Tuhan seolah berkata, “Percayalah kepada-Ku. Nanti engkau akan mengerti.”

Semakin saya berjalan bersama Tuhan, semakin saya menyadari bahwa fokus-Nya sering kali berbeda dengan fokus kita.

Kita datang membawa daftar kebutuhan.

“Tuhan, berkati usahaku.”
“Tuhan, pulihkan keuanganku.”
“Tuhan, lipatgandakan investasiku.”

Seolah-olah Tuhan terutama sedang mengurus financial portfolio kita.

Padahal yang terutama sedang dikerjakan-Nya adalah membentuk karakter kita.

Why?

Karena Tuhan tahu bahwa karakter jauh lebih berharga daripada harta. Uang bisa habis. Jabatan bisa hilang. Peluang bisa lewat. Tetapi karakter yang dibentuk oleh Roh Kudus akan menghasilkan buah seumur hidup.

Semakin kita mengenal hati Bapa, semakin kita diubahkan menjadi serupa dengan Kristus.

Dan ketika karakter kita bertumbuh, favor dan hikmat Tuhan mulai mengalir dengan sendirinya.

Kita tidak lagi mengejar berkat, tetapi hidup dalam pribadi yang siap dipercayakan berkat.

Di situlah kita mulai bersinergi dengan Roh Kudus.

Secara alami, kemampuan manusia terbatas. Tetapi ketika Roh Kudus memimpin langkah kita, hasilnya menjadi jauh melampaui kemampuan alami kita.

Yang natural dipenuhi kuasa yang supernatural.

Alkitab berkata, “Lima orang dari antaramu akan mengejar seratus orang, dan seratus orang akan mengejar sepuluh ribu orang.” (Imamat 26:8).

Itulah kehidupan yang dipimpin Roh Kudus. Bukan karena kita hebat, tetapi karena Allah bekerja melalui hidup kita.

Ratapan 3:22-23 mengingatkan,

“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya; selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”

Perhatikan, Firman Tuhan tidak berkata bahwa setiap pagi kita akan mengerti semua jawaban. Yang diingatkan setiap pagi adalah satu hal: besar kesetiaan-Nya.

Paulus pun berkata dalam Filipi 3:10,
“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia…”

Bukan lebih dahulu mengejar mujizat, tetapi mengenal Pribadi yang melakukan mujizat.

Mungkin hari ini Anda masih menunggu jawaban doa.

Ingatlah anak-anak kecil itu.

Mereka tidak tahu bagaimana ayah mereka akan mengatur semuanya.

Mereka hanya tahu satu hal.
Papa sudah berkata.

Bukankah demikian seharusnya iman kita?
Bapa sudah berfirman. Itu sudah cukup.

“God is too good to be unkind and too wise to be mistaken. And when we cannot trace His hand, we must trust His heart.” – Charles H. Spurgeon.

“Allah terlalu baik untuk berlaku tidak baik, dan terlalu bijaksana untuk keliru. Ketika kita tidak dapat melihat tangan-Nya bekerja, kita harus mempercayai hati-Nya.” – Charles H. Spurgeon.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

“Kedewasaan rohani bukan ditandai oleh seberapa banyak doa yang telah dijawab Tuhan, melainkan oleh seberapa dalam kita tetap mempercayai hati-Nya ketika belum semua jawaban kita terima.”

“Spiritual maturity is not measured by how many prayers God has answered, but by how deeply we continue to trust His heart even before every answer comes.” — Yenny Indra

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Asuransi VS Iman, Perlukah Punya Asuransi?
Mengalami Tuhan – Apa Kehendak Tuhan Bagi Hidupku? Ini Jawabannya!
Kunci Mujizat: Berdoa Dari Sisi Kemenangan!