Bukan Apa yang Kita Katakan, Tetapi Bagaimana Hati Kita Mengatakannya…
Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Bukan Apa yang Kita Katakan, Tetapi Bagaimana Hati Kita Mengatakannya…
Pernahkah Anda mendengar dua orang mengucapkan kalimat yang sama, tetapi menghasilkan perasaan yang sama sekali berbeda? Satu membuat kita merasa dihargai, sementara yang lain justru membuat kita terluka. Padahal kata-katanya hampir sama. Bedanya hanya satu, yaitu *tone of voice* – nada suaranya.
Saya semakin menyadari bahwa komunikasi bukan hanya tentang memilih kata yang benar. Komunikasi adalah bagaimana hati kita membungkus kata-kata itu.
Kejujuran memang penting. Tetapi kejujuran tanpa rasa hormat sering kali berubah menjadi senjata. Sebaliknya, kejujuran yang disampaikan dengan kasih justru membangun kepercayaan. Tidak jarang kita berkata, “Saya hanya jujur.” Padahal yang melukai bukanlah kejujurannya, melainkan cara kita menyampaikannya. Kata-kata yang sama dapat menjadi jembatan, tetapi juga dapat menjadi tembok. Semuanya bergantung pada hati yang mengucapkannya.
Itulah sebabnya Raja Salomo berkata, *”Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.”*
Perhatikan, bukan hanya isi perkataannya, tetapi juga cara menyampaikannya. Nada suara dapat membangun hubungan. Nada suara yang sama juga dapat menghancurkannya hanya dalam beberapa detik.
*Sering kali sebuah hubungan bukan rusak karena satu masalah besar, tetapi karena bertahun-tahun dipenuhi nada bicara yang meremehkan, menyindir, atau meninggikan diri*.
Sebaliknya, hubungan yang hangat biasanya dibangun oleh ribuan percakapan sederhana yang diucapkan dengan kelembutan dan rasa hormat.
Lalu bagaimana kita menjaga tone of voice?
Banyak orang berusaha mengubah cara berbicara. Padahal akar masalahnya bukan di mulut, melainkan di hati. “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.” Kalau hati dipenuhi amarah, nada suara akan sulit disembunyikan. Kalau hati dipenuhi kepahitan, wajah pun ikut berbicara. Sebaliknya, ketika hati dipenuhi kasih Allah, kelembutan itu akan terpancar secara alami.
Bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui tatapan mata, ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan nada suara. Orang mungkin lupa apa yang kita katakan. Tetapi mereka sering kali mengingat bagaimana perasaan mereka setelah berbicara dengan kita.
Saya pernah bertemu orang yang bicaranya sangat sederhana. Tidak banyak kata-kata indah. Tetapi setiap kali berbicara, kita merasa tenang.
Why?
Karena hati yang damai selalu memiliki bahasa yang berbeda. Kehadirannya membuat orang merasa diterima. Nada suaranya tidak mengintimidasi. Tatapannya tidak menghakimi. Kita pulang dari percakapan itu dengan hati yang lebih ringan.
Sebaliknya, ada juga orang yang menyampaikan kebenaran. Isinya benar. Logikanya benar. Tetapi nadanya membuat orang menutup hati bahkan sebelum sempat mendengar pesannya. Kebenaran yang kehilangan kasih sering kali kehilangan kekuatannya.
Saya belajar bahwa sebelum menjaga lidah, saya perlu menjaga hati. Sebelum memperbaiki pilihan kata, saya perlu membiarkan Roh Kudus memenuhi hati saya terlebih dahulu. Karena ketika hati dipenuhi kasih, banyak hal berubah dengan sendirinya. Nada suara menjadi lebih lembut. Tatapan menjadi lebih hangat. Respons menjadi lebih sabar. Bahkan saat harus menegur seseorang, orang itu tetap dapat merasakan bahwa ia dikasihi.
Saya percaya, dunia hari ini tidak kekurangan orang yang pandai berbicara. Yang masih langka adalah orang yang mampu menyampaikan kebenaran tanpa kehilangan kasih, dan menunjukkan kasih tanpa mengorbankan kebenaran. Karena komunikasi yang paling mengubah hidup bukanlah yang paling cerdas, melainkan yang keluar dari hati yang dipenuhi kasih, ketulusan, dan kepedulian kepada orang lain.
Mungkin sebelum kita bertanya, “Apa yang harus saya katakan?” ada pertanyaan yang lebih penting, yaitu, “Dengan hati seperti apa saya akan mengatakannya?” Karena sering kali bukan kata-kata kita yang paling menyentuh hidup seseorang, melainkan hati di balik kata-kata itu.
“Jika hati kita dipenuhi kasih Allah, orang bukan hanya akan mendengar kata-kata kita. Mereka akan merasakan kasih-Nya melalui nada suara, tatapan mata, dan setiap sikap kita.”
“Kind words can be short and easy to speak, but their echoes are truly endless.” — Mother Teresa.
“Kata-kata yang penuh kebaikan mungkin singkat dan mudah diucapkan, tetapi gema pengaruhnya tidak pernah berakhir.” — Mother Teresa.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan
Nada suara kita sering kali mengungkapkan isi hati lebih jujur daripada kata-kata yang kita ucapkan.”
“Our tone of voice often reveals the true condition of our heart more honestly than the words we speak.”- Yenny Indra
