Proses Itu Tidak Pernah Sia-Sia…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra
Proses Itu Tidak Pernah Sia-Sia…
Kita semua senang berbicara tentang mimpi besar, doa yang terjawab, promosi, keberhasilan, dan pintu-pintu yang terbuka. Tetapi sangat sedikit orang yang suka membicarakan proses.
Padahal justru di sanalah kehidupan dibentuk.
Yusuf tidak langsung menjadi penguasa di Mesir. Ia melewati sumur, dijual saudara sendiri, menjadi budak, difitnah, dipenjara, dilupakan orang, lalu perlahan dibawa naik oleh Tuhan. Kalau dipikir secara manusia, jalannya terasa aneh. Terlalu panjang. Bahkan tampak tidak adil.
Tetapi Tuhan tidak pernah membuang waktu.
Sering kali kita berpikir tujuan adalah hal terpenting. Padahal bagi Tuhan, siapa diri kita saat sampai di tujuan jauh lebih penting daripada sekadar posisi yang kita capai.
Karena itu Tuhan membawa kita melalui berbagai stages kehidupan. Ada level ketika tanggung jawab mulai diperbesar. Ada tahap ketika karakter dibentuk lewat tekanan. Ada musim ketika iman diuji saat tidak ada satu pun hal yang terlihat bergerak.
Dan jujur saja, proses itu tidak nyaman.
Kita maunya cepat. Tuhan maunya matang.
Kita sering berdoa minta dipakai lebih besar, tetapi Tuhan justru membawa kita masuk ke musim pembentukan yang membuat ego dikikis, emosi ditertibkan, motivasi dimurnikan, dan hati dilatih tetap benar bahkan ketika tidak dihargai.
Di situlah banyak orang menyerah.
Mereka ingin hasil tanpa proses. Ingin promosi tanpa tanggung jawab. Ingin dipakai Tuhan tanpa mau dibentuk Tuhan.
Padahal sesuatu yang dibangun tanpa kedalaman biasanya tidak bertahan lama.
Yusuf berbeda.
Saat menjadi budak di rumah Potifar, sebenarnya Tuhan sedang melatih banyak hal dalam dirinya. Yusuf belajar tanggung jawab, ketelitian, tata krama, dan cara bersikap di lingkungan Mesir. Ia belajar bagaimana membawa diri dengan hormat dan bijaksana. Semua itu kelihatannya kecil, tetapi ternyata menjadi bagian penting dalam persiapannya.
Kelak, saat berdiri di hadapan Firaun, Yusuf tidak tampil seperti orang pahit yang haus pembelaan diri.
Ia tahu cara berbicara dengan sopan tanpa meninggikan diri. Ia tidak memanfaatkan kesempatan bertemu raja untuk menuntut keadilan atau meminta dibebaskan dari penjara. Padahal secara manusia, itu kesempatan emas.
Tetapi Yusuf tidak bergerak dari luka.
Ia bergerak dari kedewasaan.
Ia justru memberikan solusi. Ia mengarahkan perhatian kepada Allah dan memuliakan Tuhan, bukan mempromosikan dirinya sendiri.
Dan sikap seperti itu terasa.
Ada sesuatu dari orang yang sungguh “rest in the Lord” yang membawa rasa aman bagi orang lain. Tidak memaksa. Tidak haus pengakuan. Tidak sibuk meninggikan diri. Ada ketenangan yang membuat orang nyaman mempercayainya.
Itulah yang dilihat Firaun.
Meski Yusuf orang asing, mantan narapidana, dan bukan bagian dari bangsa Mesir, Firaun merasa aman memberikan kuasa penuh kepadanya. Para petinggi Mesir pun tidak merasa terancam oleh kehadiran Yusuf.
Mengapa?
Karena proses panjang telah menghasilkan kestabilan di dalam dirinya.
Pengendalian diri tidak muncul tiba-tiba. Kerendahan hati juga bukan sesuatu yang instan.
Salah satu stages penting dalam hidup Yusuf adalah belajar mengelola kekecewaan.
Bayangkan saat juru minuman yang pernah ditolongnya justru melupakannya bertahun-tahun. Yusuf punya alasan untuk kecewa, marah, bahkan pahit kepada Tuhan. Tetapi penundaan tidak membuatnya kehilangan hati.
Dan itu sangat penting.
Banyak orang gagal bukan saat menderita, tetapi saat kecewa. Kecewa membuat hati berubah arah. Mulai sinis. Mulai kehilangan kasih. Mulai mempertanyakan Tuhan.
Tetapi Yusuf tetap menjaga hati.
Ternyata yang Tuhan kerjakan di dalam diri Yusuf selama 13 tahun proses jauh lebih besar daripada posisi yang akhirnya ia terima.
Karena apa yang dibentuk Tuhan di dalam diri kita melalui proses, itulah yang nantinya menjadi fondasi bagi tujuan hidup kita.
Kadang kita mengira Tuhan sedang menahan kita. Padahal sebenarnya Tuhan sedang memperbesar kapasitas kita.
Sebab berkat besar membutuhkan hati yang besar. Tanggung jawab besar membutuhkan kedewasaan besar.
Dan kedewasaan tidak lahir dalam semalam.
Jangan remehkan stages kehidupan yang sedang kita jalani hari ini.
Bisa jadi hari-hari yang terasa berat, sepi, membosankan, bahkan menyakitkan itu justru sedang dipakai Tuhan untuk membentuk kestabilan, hikmat, pengendalian diri, dan hati yang siap dipercaya.
Masa persiapan tidak pernah sia-sia.
“Character cannot be developed in ease and quiet. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened.” – Helen Keller.
“Karakter tidak dibentuk dalam kenyamanan dan kehidupan yang tenang. Hanya melalui ujian dan penderitaan jiwa menjadi kuat. – Helen Keller.
YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN
#seruputkopiCantik
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan