Articles

Ketika Hidup Mulai Tenang, Tetapi Jiwa Masih Takut

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Ketika Hidup Mulai Tenang, Tetapi Jiwa Masih Takut

Dr. Caroline Leaf pernah menulis sesuatu yang sangat menarik.

Ia berkata bahwa sering kali seseorang justru merasa cemas ketika hidupnya mulai baik-baik saja.

Mengapa?

Karena terlalu lama hidup dalam “survival mode” membuat damai terasa asing.

Orang yang bertahun-tahun hidup dalam tekanan, konflik, ketakutan, penolakan, atau stres terus-menerus, akhirnya terbiasa hidup waspada. Otaknya terus mencari ancaman. Bahkan ketika ancaman itu sebenarnya sudah tidak ada lagi.

Dan ini kalimat yang sangat dalam dari Caroline Leaf:

“The anxiety you feel in the good moments is your mind catching up to a life it hasn’t learned to trust yet.”

“Kecemasan yang muncul di saat-saat baik sebenarnya adalah pikiran kita yang sedang berusaha mengejar kehidupan yang belum ia pelajari untuk dipercayai.”

Aduh… dalam sekali.

Bukankah banyak dari kita memang seperti itu?

Saat hidup sulit, kita berdoa meminta damai.
Tetapi waktu damai itu datang, kita malah gelisah.

Takut semuanya akan rusak lagi.
Takut kecewa lagi.
Takut ditinggalkan lagi.
Takut sakit lagi.
Takut kehilangan lagi.

Akhirnya kita tidak pernah benar-benar menikmati sukacita.

Tubuh duduk di tempat yang aman, tetapi pikiran masih hidup di masa lalu.

Padahal Firman Tuhan berkata bahwa kita dipanggil untuk hidup dalam damai sejahtera. Bukan damai palsu dari keadaan luar, tetapi damai yang menjaga hati dan pikiran.

Masalahnya, banyak orang lebih terbiasa hidup dalam tekanan daripada hidup dalam ketenangan.

Kalau suasana tenang, malah curiga.
Kalau semuanya baik-baik saja, malah berpikir:
“Pasti nanti ada sesuatu yang buruk terjadi.”

Mengapa?

Karena pikiran yang terus-menerus hidup dalam ancaman akhirnya membentuk pola berpikir tertentu.

Dan itu sebabnya pembaruan pikiran sangat penting.

Firman Tuhan tidak hanya menyelamatkan roh kita. Firman juga memulihkan cara berpikir kita.

Ada orang yang sudah keluar dari situasi toxic, tetapi pikirannya belum keluar.
Sudah tidak hidup dalam penolakan, tetapi masih merasa tidak aman.
Sudah diberkati Tuhan, tetapi tetap hidup dengan mentalitas takut kehilangan.

Itulah sebabnya Tuhan sering membawa kita masuk dalam proses “rest”.

Belajar percaya.
Belajar tenang.
Belajar berhenti mengantisipasi kehancuran setiap saat.

Kadang yang paling sulit bukan melewati badai.

Tetapi mempercayai bahwa badai sudah berlalu.

Bangsa Israel juga seperti itu. Walaupun sudah keluar dari Mesir, mental budak mereka belum hilang. Mereka masih berpikir seperti orang tertindas.

Dan banyak orang percaya hidup seperti itu hari ini.

Sudah ditebus.
Sudah diampuni.
Sudah diberkati.
Tetapi pikiran masih hidup dalam mode bertahan.

Karena itu Caroline Leaf memberi latihan sederhana:
tuliskan tiga hal yang benar-benar baik dalam hidup kita saat ini.

Mengapa?

Karena pikiran perlu belajar melihat bukti bahwa Tuhan sedang bekerja.

Ini sangat sejalan dengan prinsip Firman Tuhan tentang mengarahkan pikiran kepada perkara yang benar, mulia, baik, dan patut disyukuri.

Semakin kita melatih pikiran melihat kebaikan Tuhan, semakin jiwa belajar tenang.

Dan ketenangan itu bukan berarti masalah tidak ada.

Tetapi hati kita tidak lagi diperbudak ketakutan.

Ada orang yang hidupnya sederhana tetapi damai.
Ada juga yang hidupnya berkelimpahan tetapi selalu gelisah.

Karena damai bukan hasil keadaan luar.
Damai lahir dari pikiran yang mulai percaya bahwa Tuhan sungguh memegang hidup kita.

Mungkin hari ini ada di antara kita yang sedang mengalami itu.

Hidup mulai membaik.
Doa mulai dijawab.
Keadaan mulai tenang.

Tetapi anehnya, hati malah gelisah.

Kalau itu terjadi, jangan langsung merasa ada yang salah dengan diri kita.

Mungkin jiwa kita hanya sedang belajar sesuatu yang baru:
belajar hidup tanpa ketakutan.

Dan itu perlu proses.

Tetapi kabar baiknya, Tuhan sanggup memulihkan bukan hanya keadaan hidup kita, tetapi juga pola pikir kita.

Sedikit demi sedikit, hati belajar percaya lagi.

Bahwa tidak semua musim baik harus berakhir buruk.

Bahwa damai bukan jebakan.

Dan bahwa kita boleh menikmati kebaikan Tuhan tanpa terus hidup menunggu kehancuran datang.

«“Kadang luka masa lalu membuat kita lebih akrab dengan ketakutan daripada damai. Tetapi kasih Tuhan sanggup melatih jiwa kita untuk tenang kembali.” — Yenny Indra»

Sometimes the bravest thing you can do is to let yourself feel safe again.”- Morgan Harper Nichols

“Kadang tindakan paling berani adalah mengizinkan diri kita merasa aman kembali.- Morgan Harper

YennyIndra
?www.yennyindra.com
?TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
?MPOIN PLUS & PIPAKU
?SVRG
SWEET O’ TREAT
?AESTICA ID
?PRODUK TERBAIK
?PEDULI KESEHATAN

?#seruputkopiCantik
?#yennyindra
?#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
?#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
“Agar Kita Tahu…..”
Apa Rahasia Kesuksesan Yesus?
Bagaimana Kesembuhan Tercipta?