Articles

“Hei … Mungkin Anda Sedang Memfitnah Tuhan….”

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

“Hei … Mungkin Anda Sedang Memfitnah Tuhan….”

Dalam Kisah Para Rasul pasal 3, kita membaca kisah Petrus dan Yohanes yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Ketika mereka mendekati Bait Allah, mereka bertemu dengan seorang lumpuh yang sedang meminta-minta. Petrus berkata,

“Apa yang kupunyai, itu yang kuberikan kepadamu: demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” (Kis. 3:6)

Iman Petrus tergerak oleh kebutuhan orang itu. Sebagai wakil Yesus Kristus, *Petrus membawa kesembuhan kepada seseorang yang sama sekali tidak mengharapkan kesembuhan*. Kemudian, ketika Petrus diperiksa oleh para pemimpin agama tentang mujizat itu, ia mengatakan sesuatu yang menarik:
“Kalau kami sekarang harus diperiksa karena suatu perbuatan baik yang dilakukan kepada seorang sakit…” (Kis. 4:9–10)

Petrus menyebut mujizat kesembuhan itu sebagai “perbuatan baik yang dilakukan kepada seorang yang tidak berdaya.”

Dalam kisah ini kita melihat kebaikan Allah, kasih karunia-Nya yang tidak layak kita terima. Petrus tidak menyinggung iman orang lumpuh itu. Ia menyinggung kebaikan Allah.
“Ia menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat. 5:45)

Kebanyakan dari kita, secara sadar atau tidak sadar, memandang Allah sebagai Pribadi yang sewenang-wenang dan menuntut. Kita jarang merasa layak menerima sesuatu yang baik dari-Nya. Kita tahu kelemahan dan kegagalan kita. Kita berusaha memiliki iman, tetapi sering kali kita merasa iman kita tidak cukup.
Tahukah Anda bahwa setiap hal baik yang terjadi di dunia ini, kepada siapa pun itu terjadi, berasal dari Sumber yang sama?
Allah sedang menunjukkan belas kasihan kepada semua orang, baik yang layak maupun yang tidak. Kebaikan-Nya itulah yang dimaksudkan untuk menuntun manusia kepada pertobatan (Rm. 2:4).

Bagaimana jika kita mengizinkan sebuah pengenalan yang baru tentang Allah masuk ke dalam hati kita? Bagaimana jika kita membiarkan kebaikan-Nya menenggelamkan semua keraguan kita?

“Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.” (Mzm. 145:9)

“Sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” (Luk. 6:35)

“Yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuasa, Dia yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.” (Kis. 10:38)

“Sembuhkanlah orang sakit; tahirkanlah orang kusta; bangkitkanlah orang mati; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” (Mat. 10:8)

Jika kita membiarkan pewahyuan tentang kebaikan Allah ini menenggelamkan rasa bersalah dan kelemahan kita, saya percaya kita akan melihat jauh lebih banyak kesembuhan, pemulihan, dan hidup yang diubahkan. Allah ada di pihak Anda, tetapi Anda perlu mempercayainya. Iman Anda tidak akan pernah lebih besar daripada pengertian Anda tentang kebaikan-Nya.

Barry Bennett

—————

Pelajaran dari Barry Bennett ini sungguh membukakan pemahaman, berkata Tuhan itu Allah yang penuh kasih, yang tidak diminta pun Tuhan beri.
Wow….. amazing!

Sementara di sisi lain, ada satu kebiasaan manusia yang sangat rohani di permukaan, tapi sebenarnya tidak jujur di akar.
Kebiasaan itu adalah menyalahkan Tuhan atas akibat dari pilihan sendiri, lalu membungkusnya dengan kata-kata seperti nasib, takdir, atau kehendak Tuhan.

Barry Bennett pernah berkata dengan sangat lugas, dan saya kutip apa adanya:
“Not everything that happens is God’s will. Many things happen because of the choices people make.”

“Tidak semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Banyak hal terjadi karena pilihan yang dibuat orang itu sendiri.”

Kalimat ini sederhana, tapi menghancurkan banyak mitos rohani yang selama ini nyaman kita pelihara.
Masalahnya, banyak orang tidak siap mendengar ini.
Karena kalau ini benar, maka satu hal ikut benar:
kita yang bertanggung jawab atas hidup kita sendiri.

Mari kita jujur lewat contoh sederhana.
Toni suka berfoya-foya.
Gaya hidupnya besar pasak daripada tiang.
Penghasilan pas-pasan, tapi selera kelas atas.
Tidak ada disiplin. Tidak ada pengendalian diri. Tidak ada perencanaan.
Secara matematika saja sudah jelas.
Kalau yang masuk lebih kecil dari yang keluar, itu tinggal menunggu waktu sampai habis. Bahkan minus.
Dan benar saja, akhirnya Toni bangkrut.

Lalu apa yang dikatakan Toni? “Ya mau bagaimana lagi, ini kehendak Tuhan.”
Istrinya menambahkan dengan nada rohani, “Ini cobaan dari Tuhan.”
Lho… tunggu dulu.
Sejak kapan ketidakmampuan mengendalikan keinginan berubah menjadi rencana ilahi?
Sejak kapan Tuhan yang disalahkan karena seseorang tidak mau hidup berdasarkan kebutuhan, tapi terus memuaskan keinginan?

Di titik inilah Tuhan sering difitnah secara halus.
Kata nasib, takdir, dan kehendak Tuhan sering dipakai bukan untuk memuliakan Tuhan, tapi untuk lari dari tanggung jawab.
Dengan kata-kata itu, seseorang bisa tampil sebagai korban, terlihat rohani, sekaligus bebas dari keharusan berubah.
Padahal Alkitab tidak pernah mengajarkan iman yang mematikan tanggung jawab pribadi.

Firman Tuhan berkata dengan sangat jelas:
“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.”
(Galatia 6:7)

Ini bukan ayat penghukuman.
Ini ayat kejujuran.

Alkitab juga berkata:
“Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri, demikianlah ia.”
(Amsal 23:7)

Artinya, hidup kita berjalan mengikuti cara berpikir dan pilihan kita.
Lalu bagaimana kalau sudah terlanjur salah?
Jawabannya bukan drama.
Jawabannya pertobatan.
Dan pertobatan dalam Alkitab bukan sekadar minta ampun sambil mengulang pola lama.
Pertobatan berarti berbalik dari jalan yang salah menuju jalan Tuhan.

Berbalik dari:
Pola pikir lama
Cara hidup lama
Kebiasaan lama
Dan kembali kepada apa yang Tuhan ajarkan.

Firman Tuhan berkata:
“Berubahlah oleh pembaruan budimu.”
(Roma 12:2)

Pertobatan sejati selalu melibatkan perubahan cara berpikir, bukan sekadar perasaan menyesal.
Tuhan tidak mencari korban.
Tuhan membesarkan anak-anak yang dewasa.
Anak yang dewasa berani berkata, “Aku salah memilih. Aku mau belajar. Aku mau berubah.”
Dan di situlah kasih karunia bekerja paling indah.
Bukan untuk membenarkan kesalahan, tetapi untuk memberi kekuatan menjalani perubahan.
Berhentilah menyalahkan Tuhan atas apa yang sebenarnya bisa kita pelajari.
Beranilah bertanggung jawab.

Pertumbuhan dimulai bukan ketika kita mencari kambing hitam rohani, tetapi ketika kita berani bertanggung jawab di hadapan Tuhan.
Dan Tuhan tidak pernah menolak orang yang jujur dan mau berubah.

You cannot escape the responsibility of tomorrow by evading it today.” – Abraham Lincoln.

“Kita tidak bisa lari dari tanggung jawab hari esok dengan menghindarinya hari ini.” – Abraham Lincoln.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Yenny Indra Visit Website
Traveller, Family Growth Inspirator, Seruput Kopi Cantik YennyIndra, Co Founder of PIPAKU & MPOIN FB: Pipaku Mpoin www.mpoin.com FB: Yenny Indra www.yennyindra.com Email: yennyindra09@gmail.com
Related Posts
Ketika Sistem Melukai, Jangan Menyalahkan Yesus…
SLEEPING with The ENEMY!
“Dipilih Sebelum Penciptaan.”