Monthly Archives: Jun 2025

Articles

Ralat dan Penjelasan tentang Pengurapan

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

Ralat dan Penjelasan tentang Pengurapan

Dalam tulisan saya sebelumnya, saya mengutip pengajaran Kenneth E. Hagin yang menyatakan bahwa pengurapan datang dan pergi, tergantung waktu, kondisi, dan panggilan pelayanan tertentu. Pengajaran itu tentu berdasar, terutama jika dilihat dalam konteks Perjanjian Lama, di mana Roh Kudus belum tinggal secara permanen dalam diri manusia. Tidak dapat disangkal, banyak orang diberkati dan diperlengkapi melalui pelayanan beliau, dan saya tetap menghormati beliau sebagai salah satu bapak iman besar yang membuka jalan bagi banyak generasi.

Namun, seiring waktu, Tuhan terus menambahkan terang dan pewahyuan yang makin dalam kepada tubuh Kristus. Kebenaran tidak berubah, tapi pengertian kita bertumbuh. Salah satu hal penting yang kini semakin dipahami secara utuh adalah soal pengurapan.

Dalam Perjanjian Lama, memang benar bahwa pengurapan seringkali datang dan pergi. Contohnya, Roh Tuhan turun ke atas Simson saat ia perlu kekuatan untuk bertempur, atau meninggalkan Raja Saul setelah ia tidak taat. Ini terjadi karena Roh Kudus belum tinggal di dalam manusia secara permanen.

Namun, sejak Yesus bangkit dan Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta, kita yang percaya telah menjadi bait Roh Kudus (1 Korintus 6:19). Artinya, pengurapan itu tidak lagi datang dan pergi, melainkan menetap di dalam roh kita — siap diaktifkan kapan saja oleh iman.

Roh Kudus adalah Pribadi ketiga Allah Tritunggal. Ketika kita memahami bahwa pengurapan adalah hadirat Roh Kudus sendiri yang tinggal di dalam kita, maka kita tidak lagi mengukur kuasa berdasarkan perasaan, melainkan pada kebenaran Firman.

Ini juga ditegaskan oleh Nancy Dufresne, sekalipun beliau sering menyebut Kenneth Hagin sebagai ayah rohaninya. Dalam salah satu pengajarannya, Nancy menceritakan bagaimana saat dia melayani di satu ibadah, dia merasa “kering” secara emosional. Tidak ada perasaan khusus, tidak ada atmosfer istimewa. Tapi saat dia berdiri dan mulai mengajar, kuasa Tuhan mengalir deras. Ia berkata:

“Pengurapan itu tidak datang dan pergi – tetapi kepekaanmu terhadapnya bisa meningkat atau menurun. Pengurapan itu selalu ada. Kamu tidak perlu merasakannya untuk tahu bahwa pengurapan sedang bekerja” – Nancy Dufresne

Dia menekankan, yang sering berubah bukan pengurapannya, tetapi kesadaran kita. Kalau kita tidak menghargai atau meresponsnya dengan benar, kita bisa merasa seperti tidak diurapi — padahal sebenarnya pengurapan itu tetap tinggal di dalam kita.

Pengurapan tidak hilang, tapi alirannya bisa terhambat jika kita tidak menjaga kepekaan dan ketaatan terhadap suara Roh Kudus. Itu sebabnya penting untuk hidup dalam hubungan yang intim dan taat kepada Firman.

Andrew Wommack juga menyampaikan hal yang serupa. Dalam Roh, Jiwa & Tubuh, ia berkata, banyak orang mencari sensasi dan menunggu “urapan turun” seperti di Perjanjian Lama.

“Dalam roh kita yang telah lahir baru, ada kuasa yang sama yang membangkitkan Yesus dari kematian. Kuasa itu sudah ada di dalam kita – kita tidak perlu menunggu kuasa itu datang. Yang perlu kita lakukan hanyalah memperbaharui pikiran kita dan melepaskannya.” – Andrew Wommack.

“Imanlah yang mengaktifkan Pengurapan. BUKAN Perasaan.
Pengurapan tidak membesar atau mengecil, itu hanya perasaan kita saja”, demikian komentar P. Dolfi.

Yang membedakan adalah keterampilan kita dalam melayankannya. Itu perlu jam terbang.

Seperti listrik di rumah kita, kuasa Tuhan sudah tersedia. Tapi saklarnya adalah iman. Tanpa iman, kuasa itu tetap ada, tapi tidak bekerja maksimal. Pengurapan tidak menunggu kita merasa siap, melainkan menunggu kita percaya.

Andrew bahkan menceritakan kisah pribadinya saat suatu ketika ia merasa benar-benar kering secara emosional, bahkan merasa tidak layak memberitakan Injil. Tapi ketika ia tetap berdiri, mengajar, dan percaya bahwa pengurapan Tuhan tetap ada, justru saat itulah banyak orang disembuhkan dan menerima terobosan.

“Kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus… dan pengurapan itu tinggal di dalam kamu.” – 1 Yohanes 2:20, 27

Fungsi Pengurapan bukan hanya untuk memperkuat diri kita, tetapi terutama untuk melayani dan membangun orang lain. Semakin kita melayani, semakin kuat pula aliran kuasa itu dinyatakan

Jadi, pengurapan yang datang dan pergi memang benar adanya dalam Perjanjian Lama, tetapi di Perjanjian Baru, urapan tinggal menetap dalam roh kita. Yang perlu kita lakukan adalah menyadari, menghormati, dan merespons pengurapan itu dengan iman dan ketaatan.

Saya menuliskan klarifikasi ini bukan untuk mengkritik, melainkan sebagai bagian dari pertumbuhan rohani kita bersama. Tuhan itu setia menuntun kita dari kebenaran kepada kebenaran yang lebih dalam lagi. Pewahyuan bukan untuk diperdebatkan, tetapi untuk dialami dan dibagikan demi membangun tubuh Kristus.

You don’t need a new anointing. You need to become skillful with the one you have.” – Nancy Dufrene.*l

“Kamu tidak perlu pengurapan yang baru. Kamu perlu menjadi terampil menggunakan pengurapan yang sudah kamu miliki” – Nancy Dufrene.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Mengapa Penyembuh Ilahi Gagal Menyembuhkan Diri?”

Gospel Truth’s Cakes
Yenny Indra

“Mengapa Penyembuh Ilahi Gagal Menyembuhkan Diri?”

Ini pertanyaan yang sejak dulu bikin saya heran dan jujur, bingung juga…
Mengapa ada hamba Tuhan yang begitu diurapi, mendoakan orang lain sembuh dari berbagai penyakit—bahkan yang mustahil secara medis—tapi saat dia sendiri sakit, justru tidak sembuh? Malah beberapa meninggal dalam kondisi yang sangat menyedihkan.

Bukankah kalau dia dipakai Tuhan menyembuhkan orang lain, apalagi dengan tanda-tanda ajaib, mestinya lebih mudah baginya mengalami kesembuhan pribadi?

Saya menemukan jawabannya saat membaca buku Kenneth E. Hagin, Understanding the Anointing.

Menurut Kenneth Hagin, banyak penginjil kesembuhan besar di masa Kebangunan Penyembuhan (Healing Revival) tahun 1947–1958 di Amerika, melayani dalam pengurapan yang sangat kuat—kuasa Tuhan nyata, mujizat terjadi—tetapi mereka tidak tahu apa-apa soal iman. Mereka hanya mengandalkan pengurapan saat melayani orang lain, tapi tidak membangun iman pribadi berdasarkan Firman.

Hagin menulis, “Beberapa di antaranya bahkan tidak mengerti Alkitab. Pernyataan mereka soal Firman Tuhan, kadang-kadang sangat ngawur sampai membuat saya nyaris jatuh dari kursi!”

Ia menambahkan, “Tuhan memberi karunia kerasulan, penginjilan, atau pelayanan lainnya, bukan untuk menyembuhkan si pelayan itu sendiri, tapi untuk melayani tubuh Kristus. Kalau hamba Tuhan itu sakit, dia harus menerima kesembuhan dengan cara yang sama seperti orang percaya lainnya—dengan iman.”

Wah, ini membuka mata saya…

Pengurapan adalah kuasa Allah yang dicurahkan untuk melayani orang lain. Tapi untuk kehidupan pribadi, kita tidak bisa bergantung pada pengurapan. Kita harus hidup dengan iman.

Itulah yang Hagin lakukan. Ia tidak hanya melayani dengan pengurapan, tapi juga membangun hidupnya dengan iman, sehingga pelayanannya tetap berlanjut hingga usia lanjut, saat rekan-rekannya yang lain sudah gugur satu per satu.

Hagin bahkan pernah menegur seorang hamba Tuhan sakit yang berkata, “Pengurapan ini bekerja untuk orang lain, tapi tidak bisa buat saya.”

Hagin menjawab tegas, “Karena kamu tidak tahu tentang iman. Harusnya kamu mendengarkan saat kami mengajarkannya!”

Ada juga kisah tentang seorang penginjil yang luar biasa—dalam satu kebaktian, lima orang tuli-bisu disembuhkan seketika, seorang buta melihat, bahkan pasien yang sudah divonis mati sembuh total. Tapi setelah itu, ia pun jatuh sakit.
Why?
Karena dia hanya tahu melayani di bawah pengurapan, tanpa dasar iman yang kuat.

Pengurapan itu datang dan pergi. Kalau datang, kuasa Tuhan luar biasa bekerja, tapi tidak bisa menetap selamanya dalam manifestasi yang kuat. Tubuh manusia tidak akan tahan.

Hagin sendiri pernah sampai bergetar hebat, bola matanya bergerak, bahkan tidak bisa melihat jemaat karena masuk ke dalam dimensi roh. Tapi ia berkata, “Saya tidak bisa lama-lama di sana. Tubuh saya masih fana.”

Bahkan ada kalanya ia berseru, “Tuhan, hentikan! Saya tidak sanggup lagi!”

Jadi pelajaran pentingnya, bukan hanya pengurapan yang perlu kita kejar, tapi iman pribadi yang bertumbuh melalui Firman Tuhan. Karena pada akhirnya, saat kita membutuhkan kesembuhan, pertolongan, atau mujizat, bukan pengurapan di atas mimbar yang akan menyelamatkan, tapi iman pribadi yang memegang janji Tuhan.

Kiranya kita menjadi pelayan yang tidak hanya penuh kuasa, tapi juga berakar dalam Firman, hidup oleh iman, dan terus bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan.

Seruput kopi cantik kita, sambil merenungkan:
Apakah kita hanya mengandalkan pengalaman rohani sesaat, atau sungguh-sungguh membangun kehidupan iman yang sejati?

(Sumber: Kenneth E. Hagin, Understanding the Anointing)

The secret of Christianity is not in doing, but in being. It is in being a possessor of the nature of Jesus Christ. – John G Lake.

Rahasia kehidupan Kristen bukan terletak pada apa yang kita lakukan, tetapi pada kita menjadi siapa. Yaitu menjadi pribadi yang memiliki sifat dan natur ilahi seperti Kristus.
– John G. Lake.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#gospeltruth’s truth
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Dewasa: Siapa yang Kamu Salahkan Hari Ini?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Dewasa: Siapa yang Kamu Salahkan Hari Ini?

Ita kecewa. Suaminya, Budi tidak seperti yang diharapkannya. Menjengkelkan. Kurang perhatian dst dst.
Lalu ia menyalahkan orangtua yang awalnya memperkenalkannya pada Budi.

Jika dipikir ulang, bukankah Ita memang mau menikahi Budi? Meski orangtuanya yang memperkenalkan….
Dan tidak ada seorang pun yang tahu, bagaimana karakter dan perubahan seseorang di kemudian hari. Orangtuanya hanya bisa melihat karakter Budi sekian puluh tahun lalu. Tetapi manusia itu bertumbuh dan berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Dan Ita pun ikut berperan membentuk perubahan Budi.

Saya selalu berprinsip, jika nasi sudah menjadi bubur, toh tidak akan mungkin dikembalikan lagi menjadi nasi. Ya sudah, lakukan semaksimal mungkin agar bubur itu bisa menjadi bubur paling enak yang bisa kita nikmati. Tambahkan abon, teri, ayam, kuah yang sedap….
Dengan demikian, bisa jadi bubur itu justru lebih mahal dan enak daripada nasi.
Tidak ada hidup yang sempurna di dunia ini.
Lakukan saja yang terbaik yang kita bisa, dan doakan, Tuhan bisa mengubahnya menjadi kebaikan bagi masa depan kita.

******

Banyak orang bertambah usia setiap ulang tahun, tapi sayangnya… tidak semua bertambah dewasa. Ada yang rambutnya sudah beruban, tapi masih saja suka menyalahkan orang lain saat hidup tak berjalan sesuai rencana. Padahal, kedewasaan sejati itu tidak otomatis hadir bersama angka usia—ia muncul saat kita memutuskan untuk bertanggung jawab atas hidup kita sendiri.

Dulu saya pun sempat berpikir, kedewasaan itu seperti hadiah ulang tahun: semakin tua, semakin bijak. Tapi ternyata, realitanya tidak sesederhana itu. Kedewasaan bukan datang karena tahun-tahun yang berlalu, tapi dari sikap hati. Terutama, saat kita berani berkata, “Ya, ini salahku. Aku akan memperbaikinya,” tanpa menyalahkan keadaan, orang tua, pasangan, bos, atau bahkan cuaca!

Masih ingat kisah Adam & Hawa setelah makan buah pohon terlarang, pohon pengetahuan baik dan jahat?
Allah memanggil mereka dan bertanya: “Di manakah engkau?”
Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?”
Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kemudian bertanyalah Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”

Adam dan Hawa tidak mau mengakui kesalahan, mengambil tanggungjawab dan bertobat.

Berbeda dengan Raja Daud, yang sudah berzinah dengan Betsyeba bahkan membunuh suaminya. Ketika Nabi Natan menegurnya, bagaimana respon Daud?
Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Dan Natan berkata kepada Daud: “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati.

Yang Tuhan inginkan sederhana sekali: akui kesalahan dan bertobat.
Daud disebut orang yang hatinya berkenan kepada Tuhan, meski dosanya berat.

Sering kali kita pun tergoda untuk lari dari tanggung jawab, apalagi ketika keputusan yang kita buat ternyata membawa hasil yang tidak menyenangkan. Tapi justru di situlah kedewasaan diuji. Bukan soal siapa yang benar atau siapa yang salah, tetapi apakah kita bersedia menanggung konsekuensi dari pilihan kita sendiri—dan belajar darinya.

Saat seseorang mulai mengelola emosinya tanpa drama, menyelesaikan masalah tanpa menyalah-nyalahkan, dan melakukan tugasnya tanpa harus disuruh-suruh… di situlah benih-benih kedewasaan mulai tumbuh.

Saya teringat satu prinsip yang terus saya pegang: Hidup ini bukan tentang menunggu seseorang datang menyelamatkan kita, tetapi tentang berani mengambil peran sebagai pemeran utama dalam cerita hidup kita sendiri. Tuhan sudah memberikan kepada kita hikmat, kekuatan, dan akal budi. Tinggal bagaimana kita menggunakannya.

Daripada terus bertanya, “Siapa yang salah?”, lebih baik kita mulai bertanya, “Apa yang bisa aku perbuat sekarang?” Pertanyaan ini mengubah fokus kita dari menyalahkan… menjadi bertindak. Dari pasif… menjadi proaktif. Dari korban keadaan… menjadi pemenang dalam hidup.

Setiap kali kita memilih untuk bertanggung jawab, tidak lari dari masalah, dan tetap tenang meskipun keadaan tidak ideal—di situlah kedewasaan sedang dibentuk. Mungkin prosesnya tidak instan, tapi percayalah… itu tidak sia-sia.

Dan yang paling indah? Saat kita bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa, hidup kita bukan hanya bertambah tahun, tapi juga bertambah makna.
Hidup kita menjadi teladan bagi anak-anak dan orang-orang di sekitar kita.

Siap praktik? Yuk….

“Blame is just a lazy way of making sense of chaos.” – Douglas Coupland

“Menyalahkan hanyalah cara malas untuk mencari makna di tengah kekacauan-tanpa benar-benar mau berubah.”

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Manzhouli – Tiongkok Rasa Mongolia & Rusia – Hingga Ke Hailar…

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Manzhouli – Tiongkok Rasa Mongolia & Rusia – Hingga Ke Hailar…

Pagi ini kami mengunjungi Danau Hulun Lake, uniknya danau ini besaaar sekali. Luasnya sekitar 2.339 km², lebih besar dari Singapura (luas Singapura +-725 km²). Merupakan danau terbesar ke-5 di Tiongkok.

Kota selanjutnya, Manzhouli, bangunan dan suasananya, serasa di Rusia. Papan nama berbahasa Rusia, Mandarin dan Mongolia yang tulisannya seperti sate.

Manzhouli merupakan border terbesar untuk Tiongkok & Rusia. Free tax pula. Karena itu barang Rusia di Manzhouli bisa lebih murah daripada di Rusia.
Tidak heran menjadi surga untuk berbelanja!
Shopping Time …. yeaaayyy…

Menara Observasi Manzhouli menjadi tujuan utama. Naik lift ke lantai 47, melihat gerbang perbatasan antara Manzhouli, Tiongkok ke Rusia di sebelah depan. Nampak bangunan-bangunan di sisi Rusia. Sementara sisi kiri yang kelihatan seperti jalan kosong dikelilingi padang rumput, itu perbatasan menuju Mongolia. Konon 50 km sesudah perbatasan, baru ada bangunan. (lihat gambar di tengah).

Hotel unik berbentuk “Matryoshka”, boneka khas Rusia, menjadi pusat pemandangan di Manzhouli. Di sampingnya ada “Ferris Wheel”, kincir raksasa untuk menikmati pemandangan.
Boneka ini lucu sekali. Di dalam boneka ada boneka yang lebih kecil sampai beberapa susun.
Nach ini dibikin hotel… unik ya?

Tentu saja … jepret.. jepret…

Dinner menikmati makanan Rusia. Lengkap dengan musik dan tarian dari penyanyi serta penari berwajah campuran Rusia – Tionghoa, yang apik dan menarik…
Beberapa teman pun ikut menari bersama mereka.
Masakannya pun cocok dengan lidah Indonesia.
Meriah dan meninggalkan kesan yang mendalam….

Optional tour, menonton ketrampilan orang-orang Mongolia menunggang kuda. Menarik, menegangkan sekaligus menakjubkan…
Bagaimana mereka berakrobat diatas 2 bahkan 3 kuda yang berlari kencang. Sedemikian trampilnya, hingga di atas kuda yang berlari kencang pun, mereka sanggup memanah dan pas masuk di titik sasaran di tengah!

Wow…. ini mengingatkan buku Andrew Wommack “Harnesing your emotion – Mengekang emosi Anda”, yang covernya bergambar orang yang menunggang kuda.

Kita semua punya emosi, tetapi apakah emosi yang menguasai kita atau justru kita yang menguasainya?
Emosi itu bak kuda. Jika kita mampu menguasainya, seperti pertunjukan tadi, di atas kuda yang berlari kencang pun, bisa memanah sasaran, berakrobat dengan memukau…
Emosi yang terkendali membuat hidup jadi berwarna.

Sebaliknya, jika tidak terkendali, justru sang penunggang yang akan terjatuh, terinjak dan membuat hidup kacau balau.
Sama seperti sang pemain, ketrampilan mengendalikan kuda dan emosi ini perlu dilatih, bukan bawaan lahir.

Kota Hailar menjadi tujuan terakhir. Mengunjungi Museum Hailar yang didirikan di bekas bunker Jepang membuat hati trenyuh… Dengan patung buku dan tulisan 1931 -1945 yang artinya: Jangan Lupakan Sejarah – Agar Tidak Terulang

Setelah menduduki Manchuria (1931), Jepang menguasai Hailar dan membangun benteng pertahanan untuk hadapi Uni Soviet dan pasukan Tiongkok anti-Jepang.

Tahun 1932, Jepang membantai warga dan menekan perlawanan di Hailar.
1939, Hailar menjadi basis logistik dan tempat pembuatan senjata biologis Jepang dalam Perang Soviet-Jepang (Khalkhin Gol).
Agustus 1945, Uni Soviet menyerbu Benteng Hailar dalam “Operasi August Storm”, memaksa Jepang menyerah.

Penjajahan Jepang di Tiongkok sangat kejam. Di Nanjing, dalam waktu 14 hari, Jepang membantai 200.000 orang dan Jepang tidak pernah meminta maaf. Sungguh mengerikan!
That’s why hubungan diplomatik Tiongkok & Jepang tidak mulus hingga kini.

Dinner malam terakhir, hotpot ala mongol…. aneka daging, isi, sup berwarna coklat penuh rempah-rempah dan sausnya berbeda dengan di Indonesia. Tetapi nikmat dan sesuai di lidah juga..
Kata P. Ken, saking nikmatnya, serasa lidah melekat di langit-langit mulut sampai bunyi ‘cetak’ … ha…ha…ha..
Semua ikutan minum supnya hingga kering.

Life is good. Praise God for all his blessings and grace…

“Mastering others is strength. Mastering yourself is true power.” – Lao Tzu

Menguasai orang lain adalah kekuatan. Namun kemaampuan menguasai dirimu sendiri adalah kekuatan yang sejati – Lao Tzu

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 2 3