Tag Archives: #seruputkopifirmanTuhan #yennyindra #InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan #mengenalTuhan #FirmanTuhan

Articles

Cheryl Salem: Dari Kaki yang Patah 32 Bagian ke Panggung Miss America 1980

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Cheryl Salem: Dari Kaki yang Patah 32 Bagian ke Panggung Miss America 1980

Dunia mengenalnya sebagai Miss America 1980. Anggun, cerdas, bercahaya. Namun jauh sebelum mahkota itu bertengger di kepalanya, Cheryl sudah lebih dulu dimahkotai surga dengan satu gelar yang jauh lebih mahal: mujizat berjalan.

Usianya baru 11 tahun ketika hidupnya nyaris berakhir. Sebuah kecelakaan mobil yang brutal melemparkannya menembus kaca depan. Mesin mobil menghantam dan menghancurkan kedua kakinya, lalu mendorong tubuhnya kembali keluar. Punggungnya patah. Kaki kirinya hancur di 32 titik. Tidak ada tulang yang tersisa. Hanya kulit yang masih menyambung bagian atas dan bawah.

Dokter-dokter berdiri di sekeliling ranjangnya dan dengan dingin menyatakan vonis,
“Kamu tidak akan pernah bisa berjalan lagi.”

Usia 11 tahun. Tubuhnya tak bisa digerakkan. Kepalanya ditarik, kakinya ditarik. Satu-satunya yang bisa ia gerakkan hanyalah matanya. Namun justru di situlah rahasianya dimulai.

Cheryl dibesarkan di gereja Methodist kecil.
Ia punya sesuatu yang sering hilang pada orang dewasa: hubungan pribadi yang sederhana, jujur, dan nyata dengan Tuhan.

Di tengah keterbatasan total itu, ia menatap langit-langit kamar rumah sakit ke arah “tempat Tuhan tinggal” menurut imannya yang polos, lalu berkata,

“Tuhan, aku bersyukur. Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi aku mengenal Engkau. Dan aku tahu Engkau akan melakukan mujizat bagiku.”

Tidak ada teriakan. Tidak ada drama.
Hanya iman yang dilepaskan.

Malam-malam setelahnya sangat mengerikan. Rasa sakitnya luar biasa. Jadi mereka bernyanyi. Keluarga Cheryl terbiasa bernyanyi bertiga. Di kamar itu hanya ia dan adiknya. Dua saudara laki-lakinya dirawat di kamar sebelah. Menurut medis, semuanya berada di ambang kematian.

Setiap malam, seorang perawat kecil datang. Namanya Bobby. Ia duduk di sana sepanjang malam dan menyanyikan suara ketiga bersama mereka. Lagu demi lagu pujian dinaikkan. Menyembah Tuhan sampai pagi menjelang. Bobby baru pergi saat matahari terbit. Ini terjadi berulang, malam demi malam.

Tiga bulan berlalu. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan secara medis mulai terjadi. Di kaki kirinya terbentuk kepompong kalsium yang membungkus serpihan-serpihan tulang dan menciptakan tulang baru. Dokter menyerah pada logika. Di catatan medisnya hanya tertulis satu kata: MIRACLE.

Kaki kirinya diciptakan ulang. Kaki kanannya justru bertumbuh lebih panjang hampir lima sentimeter. Tidak seimbang, ya. Tapi Cheryl tidak peduli. Ia punya dua kaki. Ia bisa berjalan. Dan ia memuliakan Tuhan.

Selama enam tahun ia hidup dengan kondisi itu. Dijuluki cacat oleh teman. Disebut cacat oleh guru. Tapi Cheryl tahu siapa dirinya. Ia tidak menyebut dirinya korban. Ia menyebut dirinya mujizat.

Masalah belum selesai. Di usia 17 tahun, dokter kembali bicara. Punggung tidak sejajar. Pinggul bermasalah. Rahim rusak.
Kesimpulannya satu:
“Kamu tidak akan bisa punya anak.”

Kali ini Cheryl tidak hanya berdoa. Ia mencari Firman. Enam minggu ia menggali Alkitab, bukan untuk penghiburan, tapi untuk menemukan apa yang menjadi haknya di dalam Kristus.

21 Oktober 1974, di sebuah hotel tua di Jackson, Mississippi, seorang pengkhotbah bernama Kenneth Hagin melayani.

Seorang ibu murid pianonya berkata, “Aku rasa kamu harus pergi. Tuhan akan menyembuhkanmu.”
Dan Cheryl percaya.

Malam itu, saat didoakan, kaki kirinya bertumbuh sama panjang dengan kaki kanan. Punggungnya sembuh. Tukak lambungnya lenyap.

Saat ia berkata, “Tuhan, berikan aku apa pun yang Engkau mau aku miliki,” Roh Kudus memenuhi hidupnya. Bahasa surga mengalir dari mulutnya.

Lima puluh satu tahun kemudian, Cheryl berkata sambil tersenyum, “Aku berbicara bahasa surga lebih lancar daripada bahasa bumi.”

Beberapa tahun lalu, Cheryl dan adiknya mencoba mencari Bobby.

Dokter lama keluarga mereka berkata, “Tahun 1968, aku tidak punya perawat Afrika-Amerika. Dan tidak ada perawat yang boleh duduk sepanjang malam bernyanyi.”
Lalu ia berkata pelan, “Bobby pasti seorang malaikat.”

Dan memang demikian. Mereka sedang menjamu malaikat saat menyembah-Nya.

Cheryl menutup kesaksiannya dengan satu kalimat yang menghantam lembut,
“Allah punya mujizat. Dan mujizat itu membawa namamu.”
Bukan kemarin. Bukan nanti.
Sekarang.

Pertanyaannya tinggal satu:
Sudahkah kita beriman seperti Cheryl?


“Faith does not eliminate questions. But faith knows where to take them.” – Elisabeth Elliot.

“Iman tidak menghilangkan pertanyaan, tetapi iman tahu ke mana pertanyaan itu harus dibawa”- Elisabeth Elliot.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Benarkah Kematian Karena Tuhan Memanggil?

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Benarkah Kematian Karena Tuhan Memanggil?

Ketika seseorang meninggal, kita sering mendengar kalimat ini:
“Tuhan lebih sayang, jadi dipanggil pulang.”

Kalimat ini terdengar rohani dan menghibur. Tetapi jika kita jujur membaca Alkitab apa adanya, kita akan menemukan satu hal penting: *Tuhan tidak pernah digambarkan sebagai Pribadi yang gemar “memanggil” manusia lewat kematian.*

Pertanyaannya sederhana.
Apakah kematian memang selalu kehendak Tuhan?
Atau justru banyak kematian terjadi karena *free will manusia di dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa?*

Kisah Hizkia memberi kita kejelasan yang sangat kuat.

Dalam Yesaya 38, Tuhan mengutus Nabi Yesaya kepada Raja Hizkia dengan pesan lugas:
“Aturlah rumahmu, sebab engkau akan mati dan tidak akan sembuh.”

Ini bukan kutukan.
Ini peringatan.
Artinya, jika Hizkia terus hidup dengan cara, kondisi, dan pola yang sama, maka konsekuensinya adalah kematian.

Tuhan tidak berkata, “Aku akan memanggilmu sekarang karena Aku lebih sayang.”
Tuhan memberi informasi agar Hizkia punya kesempatan merespons.

Dan Hizkia merespons.
Ia memalingkan wajah ke tembok, merendahkan diri, menangis, dan bertobat.
Belum Yesaya keluar dari pelataran tengah, Tuhan menyuruhnya berbalik.

Hizkia mendapat tambahan usia 15 tahun.

Ini sangat penting.
Kalau kematian Hizkia sudah final karena “panggilan Tuhan”, maka pertobatan tidak akan mengubah apa pun.
Faktanya, *keputusan Hizkia mengubah arah hidupnya*.

Prinsip yang sama terlihat dalam perumpamaan anak bungsu.

Anak itu menghamburkan warisannya dan hidup sembrono.
Jika ia terus mengeraskan hati, kehancuran tinggal menunggu waktu.
Bukan karena ayahnya ingin ia hancur, tetapi karena *konsekuensi dari pilihannya sendiri.*

Namun ada titik balik yang sederhana namun menentukan:
“Lalu ia menyadari…”

Ia memilih bertobat dan pulang. Bahkan ia siap hanya menjadi pegawai.
Dan respons sang ayah bukan hukuman, melainkan pemulihan penuh.

Pesannya jelas.
Bukan ayah yang merencanakan kehancuran anak itu.
Pilihan sang anak yang membawanya jatuh, dan pertobatannya yang membawanya pulang.

Lalu bagaimana dengan kematian di dunia nyata?
Alkitab konsisten mengatakan bahwa kematian masuk karena dosa. Dunia ini sudah jatuh.
Di dunia yang jatuh, ada hukum alam yang rusak, penyakit, kecelakaan, bencana, dan konsekuensi dari tindakan manusia.
Ada juga kematian yang terjadi karena seseorang *tidak peka terhadap peringatan Tuhan,* baik melalui firman, suara hati, maupun situasi.

Nama Franky D. Tanamal sudah tercatat resmi dalam manifest penerbangan ATR 42-500 rute Yogyakarta-Makassar. Secara logika, ia seharusnya ikut terbang.

Namun sore itu, Franky memilih berhenti sejenak dan taat pada dorongan batin yang lembut. Ia mengajukan izin untuk tidak ikut terbang karena harus melayani ibadah di gereja. Tidak ada tanda bahaya, tidak ada firasat menakutkan. Hanya kepekaan untuk tidak melangkah.

Pesawat tersebut kemudian mengalami kecelakaan tragis. Keputusan sederhana itu menjadi pembeda antara hidup dan maut.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa sering kali Tuhan menuntun bukan dengan suara keras, tetapi dengan dorongan lembut yang meminta kita berhenti, mendengar, dan taat.

Ada satu hal lagi, yang jarang dibicarakan secara jujur.

Tidak sedikit orang yang “pulang” karena memang sudah ingin pulang.
Mereka lelah hidup di dunia ini.
Tubuhnya sudah rusak oleh penyakit menahun, usia lanjut, atau penderitaan panjang.
Harapan perlahan padam, dan tanpa disadari, mereka melepaskan keinginan untuk hidup.

Ini bukan berarti Tuhan memanggil.
Ini juga bukan berarti Tuhan tidak mengasihi.
Ini menunjukkan bahwa *free will manusia nyata*, bahkan sampai ke sikap batin terdalam.

Alkitab berkata bahwa hidup dan mati berkaitan erat dengan sikap hati, perkataan, dan pengharapan.
Ketika seseorang menyerah sepenuhnya dan berhenti berharap, tubuh sering kali mengikuti keputusan batin itu.

Tuhan adalah Allah kehidupan.
Yesus berkata Ia datang supaya kita mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam kelimpahan.

Menyederhanakan kematian dengan kalimat “Tuhan memanggil” sering kali justru menutup pelajaran penting:
bahwa pilihan kita hari ini sungguh berdampak pada hidup kita.

Kabar baiknya, seperti Hizkia dan anak bungsu itu, selama masih ada kesempatan untuk merespons Tuhan, arah hidup masih bisa berubah.

Bukan karena Tuhan berubah.
Tetapi karena kita memilih untuk merespons Dia.

“Life is a gift, and it offers us the privilege, opportunity, and responsibility to give something back by becoming more.” – Tony Robbins.

“Hidup adalah anugerah, dan kita bertanggung jawab menjalaninya dengan kesadaran, bukan sekadar pasrah.” – Tony Robbins.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Merasa Kosong & Tidak Puas? Ini Alasannya! Banyak orang menjalani hidup

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Merasa Kosong & Tidak Puas? Ini Alasannya!

Banyak orang menjalani hidup seperti sedang mengikuti arus. Bangun pagi, bekerja, pulang, tidur, lalu mengulanginya lagi esok hari. Kadang kita berpikir hidup ini milik kita, jadi kita bebas menentukan apa pun yang kita mau. Tapi pernahkah kita merasa, meski semuanya tampak baik-baik saja, hati tetap terasa kosong?

Kenyataannya, manusia tidak akan pernah benar-benar puas sebelum ia hidup sesuai rancangan Allah.
Mazmur 139:14–17 berkata bahwa bahkan sebelum kita lahir, Allah sudah menulis hari-hari kita. Dia menenun kita dengan tangan-Nya sendiri, menaruh kepribadian, bakat, dan potensi unik di dalam diri kita. Kita tidak hadir di dunia ini karena kebetulan.

Andrew Wommack menulis, “Anda tidak bisa mengeluarkan apa yang tidak Allah taruh di dalam.”
Betapa dalam kalimat itu! Kadang kita iri dengan kemampuan orang lain, ingin seperti mereka, padahal Tuhan tidak memanggil kita untuk itu.
Kalau Allah menciptakan saya sebagai pelari jarak jauh, maka saya tidak akan bisa berlari cepat seperti sprinter. Saya bisa melatih diri, tapi saya tidak bisa melawan desain Ilahi yang sudah ditetapkan.

Itulah sebabnya banyak orang berjuang keras tapi tetap merasa hampa. Mereka sibuk melakukan banyak hal yang kelihatannya penting, tapi sebenarnya tidak sesuai dengan rancangan Tuhan atas hidupnya.
Kita bisa punya jabatan tinggi, penghasilan besar, tapi kalau itu bukan tempat yang Allah mau, hati kita tidak akan damai.

Andrew berkata, “Allah bermaksud agar kita mengalami kepuasan kehidupan yang dijalani dengan baik.”
Artinya, hidup yang penuh makna bukan ditentukan oleh seberapa banyak kita punya, tapi seberapa selaras kita dengan kehendak Tuhan.
Kepuasan sejati datang saat kita tahu, “Saya berada di tempat yang seharusnya, melakukan apa yang Tuhan mau saya lakukan.”

Kadang Tuhan menuntun kita bukan lewat suara besar dari langit, tapi lewat damai sejahtera di hati. Kalau kita melangkah dalam kehendak-Nya, ada ketenangan batin yang tidak bisa dijelaskan.
Sebaliknya, ketika kita keluar dari jalur itu, hati menjadi gelisah.
Damai sejahtera adalah kompas batin orang percaya.

Buku ini juga menegaskan bahwa Allah tidak memaksa kehendak-Nya terjadi. Ia memberi kita kebebasan untuk memilih. Itu sebabnya banyak orang tidak menggenapi rencana Allah, bukan karena Allah tidak sanggup, tapi karena mereka tidak mau taat.
Tuhan tidak akan menarik kita seperti boneka tali. Ia ingin kita mencari, mengenal, lalu memilih untuk mengikuti-Nya dengan sukarela.

Saya belajar, hidup yang berhasil bukan berarti bebas dari masalah, tapi punya kepastian arah.
Kita tahu kemana sedang berjalan, dan siapa yang menuntun kita.
Ketika kita hidup dalam kehendak-Nya, meski jalannya kadang tidak mudah, hati kita tetap penuh damai dan sukacita.
Itu tanda kita sedang berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat.

Jadi, kalau hari ini hati terasa kosong, mungkin bukan karena ada yang kurang di luar, tapi karena kita belum sepenuhnya berjalan di dalam rancangan Tuhan.
Mulailah dengan doa sederhana, “Tuhan, tunjukkan apa yang Kau taruh dalam diriku, supaya aku bisa hidup sesuai dengan tujuan-Mu.”

Sebab seperti kata Andrew, “Anda tidak bisa mengeluarkan apa yang tidak Allah taruh di dalam.”
Dan saat kita mulai hidup sesuai rancangan-Nya, itulah awal dari hidup yang paling memuaskan.

“The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why.” – Mark Twain

“Dua hari terpenting dalam hidupmu adalah hari kamu dilahirkan, dan hari kamu tahu untuk apa kamu dilahirkan.”
– Mark Twain

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Jangan Kebanyakan Teori, Duduk Saja di Sisi Kanan”…. Nach lho!

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

“Jangan Kebanyakan Teori, Duduk Saja di Sisi Kanan”…. Nach lho!

Robert Liardon, seorang penulis yang dikenal lewat seri God’s Generals, pernah bercerita dengan gaya lugas dan penuh warna tentang pengalamannya bersama Oral Roberts. Ia berkata bahwa Oral Roberts memiliki karunia kesembuhan yang unik—dan hanya bekerja melalui tangan kanannya. Tangan kirinya biasa saja, seperti tangan pada umumnya. Banyak pengkhotbah datang kepadanya, lalu berdebat, mempertanyakan, mencoba mencari-cari rumus bagaimana karunia itu bekerja. Seolah-olah kalau diperas cukup lama, mereka bisa menemukan formula yang bisa direplikasi.

Robert Liardon memilih jalan yang berbeda. “Saya belajar sejak muda,” katanya sambil tertawa, “kalau Anda berada di dekat orang besar, tutup mulut dan ikut saja. Kepala kamu mungkin tidak nangkep, teologi kamu mungkin belum cocok, tapi kalau mereka jalan ke sana, ikut.”

Sadarlah, selalu ada yang mengenal Tuhan lebih baik dari kita. Jangan sok tahu, ikuti saja.. kira-kira demikian.

Dan karena tahu karunia itu mengalir dari tangan kanan Oral Roberts, setiap kali ia berkunjung, Robert akan duduk sedekat mungkin di sisi kanan. Kalau tangan itu mulai bergetar, ia yang kena duluan. “Nenek saya bilang, pukulan pertama itu yang paling dahsyat,” cerita Robert. Praktis, cerdik, dan tidak banyak teori—saya suka sekali gaya seperti itu.

Oral Roberts dan Billy Graham adalah dua figur yang mendefinisikan kekristenan global antara tahun 1950 sampai 2000. Mereka dipakai luar biasa oleh Tuhan tanpa pernah sepenuhnya dimengerti oleh manusia. Dan di sini saya sering tersenyum melihat pola umat Kristen: begitu ada hal supranatural, kita langsung ingin membuat rumusnya. Seolah-olah kalau kita bisa memerasnya sampai kering, kita akan menemukan cara kerja Roh Kudus yang bisa dimasukkan ke dalam “manual book”. Padahal otak kita cuma sebesar cangkir kopi, sementara pikiran Allah seluas samudra Atlantik. Tetap saja kita mencoba memasukkan samudra itu ke dalam cangkir kecil kita.

Guuuuubbrraaaakkk….

Mengapa kuasa kesembuhan Oral Roberts hanya bekerja melalui tangan kanan dan bukan kiri? Jujur saja: saya tidak tahu. Dan kita tidak perlu tahu. Yang jelas, kuasa itu nyata. Orang-orang sembuh. Mujizat terjadi. Dibanding sibuk merumuskan teori yang tak ada habisnya, saya jauh lebih suka sikap Robert Liardon: duduk saja di tempat yang tepat. Kalau Tuhan bergerak, saya mau di posisi yang kena duluan.

Saya sendiri lebih percaya pada buah dan bukti dibanding sekadar janji atau teori.
Saya suka bukti, bukan janji! Itu jargon saya.

Teologi itu penting, tentu saja. Tapi pengalaman pribadi bersama Tuhanlah yang mengubah hidup. Kita bisa hafal banyak ayat, tapi kalau tidak pernah mencicipi hadirat-Nya, semuanya terasa kering. Firman itu untuk dilakukan, bukan cuma diperdebatkan. Kadang kita harus melangkah dulu, mengimani dulu, taat dulu meski belum sepenuhnya paham. Karena terbukti berkali-kali: ketika firman ditaati, apa yang dijanjikan-Nya termanifestasi dalam hidup kita.

Buat apa berputar-putar dalam teori kalau Tuhan menawarkan pengalaman nyata? Roh Kudus hadir untuk menuntun, mengajar, dan menyingkapkan. Bagian kita sederhana: buka hati, lakukan firman, dan melangkah. Nanti Tuhan sendiri yang menunjukkan bahwa Ia setia. Dan bukankah itu yang terpenting?

Menurut saya, iman sejati tidak membutuhkan semua jawaban. Iman berjalan sambil percaya. Seperti Robert Liardon duduk di sisi kanan, siap menerima apa pun yang Tuhan lakukan. Praktis, sederhana, dan efektif. Kadang, justru itu cara paling bijak untuk mengalami Tuhan.

We know the truth, not only by reason, but by the heart.” – Blaise Pascal

“Kita mengenal kebenaran bukan hanya lewat logika, tetapi melalui hati.” – Blaise Pascal

YennyIndra

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGAl
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Memberi dan Menerima: Rahasia Mengalirkan Berkat Tuhan.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Memberi dan Menerima: Rahasia Mengalirkan Berkat Tuhan.

Pernahkah kita merasa sulit memberi karena takut kekurangan? Pikiran logis manusia selalu berkata: kalau memberi, berarti berkurang. Tetapi Firman Tuhan mengajarkan hal yang berbeda. Memberi bukan membuat kita kekurangan, tetapi justru membuka jalan bagi Tuhan untuk mengalirkan berkat-Nya.

Paulus menulis, “Barangsiapa menabur sedikit, akan menuai sedikit juga. Barangsiapa menabur banyak, akan menuai banyak juga.” (2 Korintus 9:6). Ini bukan peribahasa rohani. Ini hukum Tuhan—setegas hukum menabur dan menuai dalam pertanian.

Seorang petani tidak pernah berharap panen tanpa menabur. Ia rela menanam sebagian hasilnya ke tanah, karena tahu benih itu tidak hilang. Benih itu hanya “ditanam”—untuk kembali dalam bentuk panen yang berlipat. Begitu pula dengan memberi. Uang yang kita taburkan di tangan Tuhan bukan lenyap; itu sedang ditanam dalam ladang rohani, menghasilkan panen—baik di dunia ini maupun dalam kekekalan.

Masalahnya, banyak orang ingin menuai besar tetapi tidak pernah menabur. Mereka ingin diberkati tanpa mau memberi. Itu seperti petani yang berharap panen padi tanpa menanam satu butir pun. Prinsip Tuhan selalu dimulai dari tindakan iman: kita memberi dulu, baru menerima. Tuhan tidak bisa memberkati sesuatu yang tidak kita lepaskan.

Namun sangat penting mengerti: Tuhan tidak melihat nominal, tetapi hati.

Andrew Wommack menegaskan, seorang miliuner bisa memberi satu juta dolar dan tetap pelit, sementara orang sederhana yang memberi seribu rupiah bisa dianggap murah hati. Karena Tuhan menilai motivasi, bukan angka.

Ada orang memberi hanya karena ingin diberkati. Mereka menabur bukan karena kasih, tetapi karena ingin menuai. Memberi dengan tujuan mengharapkan imbalan seratus kali lipat bukanlah iman yang murni, melainkan bentuk rohani dari keserakahan. Inilah akar teologi kemakmuran—mengutamakan berkat, bukan Pemberi Berkat.

Kita tidak memberi untuk memanipulasi Tuhan. Kita memberi sebagai respons kasih dan ucapan syukur. Tuhan tidak bisa ditipu dengan “strategi rohani.” Ia melihat kedalaman hati kita.

Seperti anak yang berkata “Aku cinta Mama,” padahal niatnya minta hadiah. Kata-katanya benar, tetapi motivasinya salah. Tuhan ingin kita memberi karena cinta kepada-Nya, bukan karena kalkulasi.

Karena itu Paulus mengingatkan, “Hendaklah masing-masing memberi menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan. Sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.” (2 Korintus 9:7).
Kata “sukacita” berasal dari hilaros—akar kata hilarious. Tuhan menyukai pemberian yang lahir dari kegembiraan yang tulus.

Nancy Dufresne pernah berkata, “Memberi bukan tindakan emosi, melainkan keputusan iman yang dipimpin Roh Kudus.”

Berkat Tuhan selalu terdiri dari dua bagian: benih dan roti.
Benih untuk ditabur, roti untuk dimakan.
Artinya, tidak semua yang kita terima harus diberikan. Ada bagian untuk kebutuhan, ada bagian untuk kembali ditaburkan. Hikmat terletak pada membedakan mana benih, mana roti.

Karena itu, bijaksana kalau kita mulai melatih diri menyisihkan bagian untuk memberi:

– untuk gereja tempat kita bertumbuh,
– untuk menolong orang yang membutuhkan,
– untuk misi dan pelayanan Injil,
– untuk keluarga dan kebutuhan pribadi.

Memberi bukan reaksi sesaat karena provokasi, tetapi keputusan yang lahir dari doa, persekutuan dengan Tuhan, dan pimpinan Roh Kudus.

Saat memberi lahir dari kasih, selalu ada damai sejahtera. Tidak ada ketakutan akan kekurangan. Sebab kita tahu: tangan yang memberi selalu dijaga Tuhan. Andrew berkata, “Kalau Tuhan bisa mengalirkan uang lewat kita, Ia akan mengirimkannya kepada kita.”

Tuhan mencari saluran, bukan waduk.
Jika setiap kali diberkati kita menyalurkannya kembali untuk pekerjaan Tuhan dan menolong orang lain, Ia akan mempercayakan lebih banyak kepada kita—karena alirannya tetap bersih dan tidak mandek di tangan kita.

Memberi yang cerdas bukan hanya memberi “perbuatan baik,” tetapi memberi sesuatu yang berdampak kekal. Itu sebabnya saya suka membagikan buku-buku rohani yang membangun. Satu buku bisa mengubah kualitas hidup seseorang. Dan perubahan itu masuk kategori “buah kekekalan”—yang tidak bisa hilang.

Hukum memberi dan menerima dalam kerajaan Allah sangat berbeda dari cara dunia. Dunia berkata, kalau memberi berarti kehilangan. Tetapi Tuhan berkata, memberi dengan hati benar justru membuat kita berkelimpahan.

“Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepadamu, supaya kamu senantiasa memiliki segala kecukupan dalam segala hal dan berkelimpahan dalam setiap pekerjaan baik.” (2 Korintus 9:8)

Guru saya, Greg Mohr, selalu berkata: Tuhan ingin kita berkelimpahan—artinya cukup untuk diri sendiri dan ada extra untuk memberkati orang lain. Bukan supaya kita hidup mewah, tetapi supaya kita mampu memberi lebih banyak. Kita diberkati untuk menjadi berkat.

Ketika kebutuhan kita tercukupi dan kita tetap murah hati, banyak orang akan memuji Tuhan. Itulah tujuan berkat: memuliakan Allah. Tuhan tidak menilai berapa banyak yang kita beri, tetapi seberapa banyak kasih yang terkandung di dalamnya.

Dan ketika kasih menjadi alasan kita memberi, berkat akan datang bukan karena kita mengejarnya—tetapi karena Tuhan melihat bahwa kita bisa dipercaya menjadi saluran berkat-Nya.

“As God is exalted to the right place in our lives, a thousand problems are solved all at once- including why and how we give.” – A.W. Tozer.

“Ketika Allah ditinggikan pada tempat yang benar dalam hidup kita, seribu masalah terselesaikan sekaligus-termasuk mengapa dan bagaimana kita memberi.” – A.W. Tozer.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
1 2 3