Category : Articles

Articles

Fasilitas VS Karakter, Mana Yang Membawa Kesuksesan?

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Fasilitas VS Karakter, Mana Yang Membawa Kesuksesan?

Sebelum dunia mengenal istilah anak sultan yang sibuk pamer kemewahan di media sosial, ada seorang anak miliarder yang justru belajar membersihkan talang air di rumahnya sendiri. Namanya Howard Buffett, anak tengah dari Warren Buffett, salah satu orang terkaya di dunia.

Warren tidak membesarkan anak-anaknya di rumah mewah penuh fasilitas. Mereka tinggal di rumah yang sama sejak 1958, sederhana, tanpa penjaga atau pelayan. Ia tidak ingin anak-anaknya hidup nyaman tapi kehilangan makna.

“Kalau kami pergi menonton film, kami tak pernah tahu apakah ayah akan membayari tiketnya atau tidak,” kata Howard sambil tertawa dalam wawancara dengan Fortune. “Bagi ayah, setiap orang harus menanggung bebannya sendiri.”

Itu bukan ucapan kosong. Howard kecil menghabiskan akhir pekan dengan memotong rumput, menyapu halaman, dan membersihkan talang air yang mampet. Warren Buffett percaya bahwa tanggung jawab tidak tergantung pada jumlah rekening bank. Ia ingin anak-anaknya belajar bahwa kerja keras membentuk jiwa, dan rasa syukur tumbuh dari proses, bukan dari kemudahan.

Howard pun menanamkan prinsip yang sama kepada anaknya. Suatu hari, ketika Howie — anaknya — tahu bahwa Michael Jordan datang ke Omaha, ia meminta duduk di sebelah sang legenda NBA. Ia pikir, karena nama belakangnya “Buffett”, tentu ia bisa mendapatkan tempat istimewa. Howard menatap lembut dan berkata, “Privilege tidak sama dengan hak.”
Kata-kata itu menggambarkan seluruh filosofi hidup keluarga Buffett: nama besar bukan tiket menuju hak istimewa, melainkan tanggung jawab untuk tetap rendah hati.

Howard kemudian memilih jalan hidup yang sederhana. Ia menjadi petani jagung dan kedelai di pinggiran Omaha, sekaligus menjabat komisaris daerah — pekerjaan yang nyaris tak terbayangkan untuk anak seorang miliarder.

Bayangan orang pada umumnya, anak miliarder ya menjabat CEO Perusahaan, Menteri, Direktur Bank, aktivitas nasional sering masuk TV dsb.
Sedangkan Komisaris Daerah, skala kerjanya lokal, terbatas satu wilayah. Gajinya relatif kecil dibanding jabatan nasional atau korporasi besar. Sorotan media minim.Tidak memberi status sosial “tinggi” di mata orang yang mengejar popularitas atau kekuasaan.

Tapi Howard bahagia. Ia tahu, arti hidup bukan diukur dari posisi, tapi dari kontribusi.

Warren Buffett sendiri menegaskan bahwa ia tidak akan memberikan seluruh kekayaannya kepada anak-anaknya. Ia berkata, ia hanya ingin memberi cukup agar mereka bisa melakukan apa yang mereka inginkan, tetapi tidak cukup untuk membuat mereka tidak perlu melakukan apa pun. Sebuah prinsip yang bijak — karena uang tanpa tanggung jawab hanya menghasilkan kemalasan, bukan makna.

Di tengah dunia yang mengagungkan kemewahan dan kesuksesan instan, kisah keluarga Buffett adalah teguran lembut: kekayaan bisa diwariskan, tetapi karakter harus dibangun.
Banyak orang ingin anaknya “lebih mudah” dari dirinya, padahal kemudahan yang berlebihan justru melemahkan mental. Hidup tanpa tantangan tidak akan melahirkan ketangguhan.

Kita semua tahu bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari kemewahan, melainkan dari rasa berharga karena berjuang. Itulah yang Warren Buffett ajarkan: nilai hidup tidak diukur dari apa yang kita punya, tapi siapa kita saat harus berjuang tanpa fasilitas. Ia mengajarkan disiplin, kerja keras, dan integritas — nilai-nilai yang sejatinya juga menjadi fondasi iman.

Tuhan pun mendidik kita dengan cara serupa. Ia tidak memanjakan, tapi membentuk. Ia tidak memberi segalanya sekaligus, karena Ia tahu, pertumbuhan karakter lahir dari tanggung jawab. Kematangan muncul ketika kita belajar menghargai hasil kerja tangan sendiri.

Kisah keluarga Buffett mengingatkan bahwa keberhasilan sejati tidak diukur dari saldo, tapi dari hati yang kuat, tekun, dan jujur. Dunia mungkin menilai kesuksesan dari mobil dan rumah, tapi Tuhan menilai dari kesetiaan dan integritas.

Howard Buffett pernah berkata, “Ayah saya tidak meninggalkan warisan uang, tapi ia meninggalkan nilai hidup yang jauh lebih mahal.”
Dan itulah warisan terbaik yang bisa kita berikan pada anak-anak kita — bukan harta, tetapi karakter dan nilai-nilai yang memuliakan Tuhan.

“It is not what you do for your children, but what you have taught them to do for themselves that will make them successful human beings.”

“Bukan apa yang kita lakukan untuk anak-anak kita yang menjadikan mereka berhasil, tapi apa yang kita ajarkan agar mereka mampu melakukannya sendiri.” — Ann Landers

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Stop Menunggu Perasaan, Mulai Dari Ketaatan

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Stop Menunggu Perasaan, Mulai Dari Ketaatan

Salah satu jebakan paling halus dalam kehidupan rohani adalah ini: kita terlalu sibuk menunggu perasaan. Merasa siap dulu. Merasa penuh kuasa dulu. Merasa berani dulu. Merasa diurapi dulu. Baru setelah itu mau melangkah.

Padahal iman tidak pernah bekerja dengan sistem tunggu perasaan. Iman bekerja dengan ketaatan.

Banyak orang berkata,
“Aku belum merasa ada kuasanya.”
“Aku belum merasa siap pelayanan.”
“Nanti kalau rohaninya sudah lebih kuat.”

Masalahnya, kalau kita terus menunggu perasaan, kita bisa berhenti di situ sampai tua. Bahkan sampai napas terakhir.

Reinhard Bonnke pernah menulis bahwa baptisan Roh Kudus memberikan kuasa yang permanen, tetapi bukan perasaan berkuasa yang permanen. Ini penting sekali. Jangan salah ukur.

Alkitab sendiri berkata,
“Kami mempunyai harta ini dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” (2 Korintus 4:7)

Kuasa itu ada. Tapi dibungkus dalam tubuh rapuh, perasaan naik turun, kondisi yang tidak selalu ideal.

Bonnke memberi ilustrasi tentang kabel listrik bertegangan tinggi. Dari luar kelihatannya biasa saja, entah sedang dialiri listrik atau tidak. Tapi saat arus mengalir, kuasanya nyata.

Begitu juga kita. Kuasa Tuhan di dalam kita tidak untuk terus dirasakan, tetapi untuk dipakai saat dibutuhkan.

Saya pernah mengalami ini sendiri. Dalam masa kelelahan dan tekanan, waktu itu saya tidak merasa rohani sama sekali. Tidak ada perasaan “diurapi”. Tidak ada semangat meluap-luap. Yang ada hanya rasa lelah. Tapi ada tugas pelayanan yang harus dijalankan. Tidak ada pilihan mundur.

Dan saya bertindak dengan iman.

Waktu mulai melangkah, waktu mulai berbicara, waktu mulai setia melakukan bagian saya, sesuatu terjadi. Bukan karena saya tiba-tiba merasa kuat, tapi karena Tuhan setia pada janji-Nya.

“Yesus berkata: Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku…” (Kisah Para Rasul 1:8)

Perhatikan, bukan berkata: “Kamu akan merasa kuat.”
Tetapi: “Kamu akan menerima kuasa.”

Kuasa itu bukan sensasi. Kuasa itu realitas rohani.

Sering kali masalah kita adalah ingin merasakan dulu baru melangkah. Padahal Tuhan mau kita melangkah dulu baru mengalami.

Dalam 2 Timotius 1:7 tertulis,
*“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”

Roh yang membangkitkan kekuatan. Artinya kekuatan itu ada. Tinggal mau atau tidak kita memakainya.

Tapi ada satu hal yang harus jujur kita akui: Tuhan tidak memaksa.

Dia bertanya, seperti di Yesaya 6:8,
“Siapakah yang akan Kuutus? Dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”

Bukan siapa yang paling siap.
Bukan siapa yang paling merasa berkuasa.
Tapi siapa yang mau.

Karena di Kerajaan Allah, tidak ada wajib militer. Ada ketaatan sukarela.

Banyak orang berdoa supaya Tuhan memberi mereka “dorongan kuat” sampai akhirnya mereka tidak bisa menolak. Mereka ingin dipaksa jadi rajin, dipaksa berani, dipaksa melayani. Tapi itu bukan cara kerja Tuhan.

Tuhan menghormati kehendak kita.

Yakobus 2:17 mengingatkan,
“Iman tanpa perbuatan adalah mati.”

Iman yang cuma menunggu perasaan, tapi tidak melangkah, tidak akan pernah melihat kuasa itu bekerja.

Kuasa Tuhan itu bukan seperti lampu hias yang bikin kita merasa hangat. Kuasa Tuhan itu seperti mesin yang bekerja saat kita menekan pedal.

Kalau kita tidak menekan, tidak akan ada gerakan.

Jangan tunggu merasa berani. Lakukan yang benar.
Jangan tunggu merasa kuat. Ambil langkah iman.
Jangan tunggu merasa diurapi. Ketaatan lebih berharga dari sensasi.

Karena firman Tuhan juga berkata:
“Orang benar akan hidup oleh iman.” (Roma 1:17)

Bukan oleh perasaan.
Bukan oleh mood.
Bukan oleh suasana hati.

Dan pelajaran terbesarnya adalah ini:
Saat kita berdiri dan melangkah, meskipun hati kosong dan tubuh lelah, di situlah kuasa Tuhan sering bekerja paling nyata.

Bukan karena kita kuat.
Tapi karena Dia setia.

Praktik yuuuk….

“Faith doesn’t wait for feelings. It acts on God’s Word.” – Reinhard Bonnke.

“Iman tidak menunggu perasaan. Iman bergerak berdasarkan Firman Tuhan” – Reinhard Bonnke.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Berani Mati, Baru Bisa Terbang.


Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Berani Mati, Baru Bisa Terbang.

Saya membaca sebuah artikel menarik di Facebook. Isinya sederhana tapi menohok:
kita selalu diajar bahwa ulat berubah menjadi kupu-kupu. Padahal, kenyataannya — ulat tidak berubah. Ia mati dulu, baru kemudian lahir kembali sebagai kupu-kupu.

Kalimat itu langsung menancap di hati saya. Begitu dalam, begitu rohani. Karena bukankah itu juga yang Tuhan ajarkan kepada kita?
Sebelum bisa menjadi ciptaan baru, kita harus bersedia “mati” terhadap diri dan kebiasaan lama.

Proses menjadi kupu-kupu bukan sekadar perubahan yang indah. Dari luar, memang tampak sederhana — seekor ulat membuat kepompong, lalu suatu hari keluar sebagai kupu-kupu cantik. Tapi yang terjadi di dalam kepompong itu justru sesuatu yang luar biasa dan, jujur saja, agak mengerikan. Saat ulat menutup diri dalam kepompong, tubuhnya benar-benar hancur. Sel-sel lamanya terurai, mencair, dan menjadi semacam “sup kehidupan.” Hampir seluruh organ yang lama dihancurkan: otot, usus, bahkan sebagian otaknya. Dari kehancuran total itu, sel-sel baru mulai terbentuk dan membangun sesuatu yang sama sekali berbeda. Dari cairan yang tidak berbentuk, Tuhan membangun ulang seluruh tubuh yang baru — dengan sayap, antena, dan kemampuan untuk terbang.

Ulat itu tidak pernah menjadi kupu-kupu secara perlahan. Ia benar-benar mati dulu. Kupu-kupu bukan hasil perbaikan dari ulat, tapi hasil kelahiran kembali dari kematian yang total.

Begitulah kehidupan kita bersama Tuhan. Banyak orang ingin mengalami perubahan, tapi tidak mau mati terhadap yang lama. Kita ingin karakter diperbarui, tapi masih mempertahankan kebiasaan lama. Ingin hidup berbuah, tapi tidak mau belajar taat. Ingin Tuhan ubah pasangan, tapi diri sendiri tidak mau diubah. Padahal, perubahan sejati selalu dimulai dari kematian — kematian terhadap ego, kesombongan, kebiasaan buruk, dan cara berpikir lama.

Proses ini memang tidak menyenangkan. Saat Tuhan mulai bekerja, sering kali rasanya seperti semua yang kita andalkan runtuh. Rasa aman, kebanggaan, bahkan orang-orang yang dulu dekat, tiba-tiba menjauh. Kita merasa sendirian dan kehilangan arah. Tapi di situlah Tuhan sedang bekerja paling dalam, sama seperti di dalam kepompong. Ia sedang menghancurkan bagian-bagian dari diri kita yang tidak lagi berguna, supaya sesuatu yang baru bisa lahir.

Kita suka berdoa, “Tuhan, ubahlah aku,” tapi begitu proses itu dimulai, kita mengeluh, “Tuhan, mengapa Engkau biarkan ini terjadi?”
Padahal itulah cara Tuhan membentuk sayap kita. Ia tahu bahwa kita tidak bisa terbang kalau masih mempertahankan cara lama berjalan. Seperti kupu-kupu yang harus menunggu sayapnya menguat sebelum bisa keluar dari kepompong, begitu juga kita — harus melewati masa “gelap” pembentukan sebelum bisa terbang dalam kebebasan yang Tuhan janjikan.

Kematian terhadap diri sendiri bukanlah kehilangan, tapi jalan menuju kehidupan yang sesungguhnya. Saat kita berhenti melawan dan mulai berserah, Tuhan mengubah “sup kehidupan” dalam diri kita menjadi sesuatu yang baru — karakter yang lebih lembut, hati yang lebih sabar, iman yang lebih kuat. Segala yang dulu membuat kita jatuh, kini justru menjadi pelajaran berharga yang meneguhkan kita.

Banyak orang ingin menjadi kupu-kupu, tapi tidak mau menjadi ulat yang berani mati. Mereka ingin hasil tanpa proses, kemuliaan tanpa kehancuran. Padahal, tanpa kematian, tidak ada kebangkitan. Tuhan tidak menambal bagian lama kita, Ia menggantinya seluruhnya dengan yang baru.

Jadi, kalau hari ini hidupmu terasa seperti kepompong — sepi, gelap, menyesakkan — jangan takut. Itu tanda bahwa Tuhan sedang bekerja. Ia sedang mempersiapkanmu untuk terbang. Tidak ada ulat yang tahu kapan ia akan keluar dari kepompong, tapi semuanya percaya pada rancangan Sang Pencipta.

Suatu hari, kamu akan keluar dari proses itu, membawa sayap baru yang indah dan kuat. Kamu akan menoleh ke belakang dan menyadari, semua air mata dan perjuangan itu tidak sia-sia. Karena memang begitulah cara Tuhan bekerja: Ia tidak hanya memperbaiki hidup kita, Ia menciptakan kita kembali — sebagai ciptaan baru yang mampu terbang tinggi bersama-Nya.

Siap jadi kupu-kupu yang cantik? Yuk…..bayar harganya.

“Die before you die. There is no chance after.” – C.S. Lewis.

“Matilah sebelum kamu mati. Karena setelah itu, tidak ada kesempatan lagi.”- C.S. Lewis.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
Articles

Saat Aku Berhenti Membahas Roh Kudus dan Mulai Hidup Bersama-Nya.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Saat Aku Berhenti Membahas Roh Kudus dan Mulai Hidup Bersama-Nya.

Beberapa hari ini hati terasa hangat dan dalam saat membaca kutipan Kathryn Kuhlman: “I never met the Holy Spirit as a doctrine. I met Him as a person, and He changed my life forever.”

Saya tidak pernah menemui Roh Kudus sebagai doktrin. Saya bertemu Dia sebagai pribadi, dan Dia mengubah hidup saya selamanya.” – Kathryn Kuhlman

Bukan sekadar indah, tapi seperti menegur dengan lembut. Dia tidak bicara soal konsep, tidak bicara soal teori. Dia bicara soal perjumpaan. Dan *dari perjumpaan itulah hidupnya berubah selamanya.*

Saya jadi berpikir, berapa banyak dari kita yang mengenal Roh Kudus hanya sebagai “pelajaran”, bukan sebagai Pribadi?
Kita tahu istilahnya. Kita hafal ayatnya. Tapi belum tentu kita memberi Dia ruang sebagai Sahabat dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal Roh Kudus itu bukan energi. Bukan suasana. Bukan efek rohani. Dia Pribadi yang hidup, yang menyertai kita ke mana pun kita pergi. Tidak terpisahkan dari orang yang sudah lahir baru. Dia bukan datang ketika kita di gereja, lalu pergi saat kita pulang. Tidak. Dia tinggal di dalam kita, di dalam hati. Setiap detik. Di mobil, di dapur, di kamar, di tengah kesibukan, bahkan dalam kelelahan.

Yesus sendiri berkata,
“Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.”Yohanes 16:7

Ini kalimat yang luar biasa. Yesus tahu, selama Dia masih dalam tubuh fisik, kehadiran-Nya dibatasi ruang dan waktu. Dia hanya bisa ada di satu tempat. Tapi Roh Kudus berbeda. Dia bisa tinggal di dalam hati setiap orang percaya, di mana pun kita berada. Bukan cuma dekat. Bukan cuma menemani. Tapi diam di dalam.

Inilah keistimewaan zaman kita, yang hidup dalam Perjanjian Baru. Tapi sering kali kita justru memperlakukan Dia seperti tamu, bukan seperti penghuni rumah. Padahal Dia seharusnya menjadi Pribadi utama dalam kehidupan kita. Yang kita ajak bicara. Yang kita dengar pendapat-Nya. Yang kita libatkan dalam keputusan kecil maupun besar.

Roma 8:26-28 menulis bahwa Roh Kudus menolong kita dalam kelemahan kita. Bahkan ketika kita tidak tahu bagaimana harus berdoa, Dia sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Ini bukan bahasa rohani yang puitis. Ini realitas rohani yang sangat praktis. Ada saat-saat di mana kita bingung, buntu, lelah, bahkan tidak tahu apa yang harus kita katakan kepada Tuhan. Di situlah Roh Kudus bekerja.

Bayangkan ini. Kita terdiam, penuh pertanyaan, tidak tahu arah. Tapi di level roh, Roh Kudus sedang “menghubungkan” kita dengan Bapa. Dia menyampaikan isi hati kita yang paling dalam, yang bahkan tidak bisa kita rangkai dengan kata-kata. Lalu dari hadirat Bapa, jawaban itu “didownload” ke dalam roh kita. Dari roh, masuk ke pikiran. Lalu pelan-pelan kita mulai mengerti apa yang harus dilakukan. Langkah apa yang harus diambil. Sikap apa yang perlu diubah.

Ini bukan mistik. Ini pengalaman iman yang nyata.

Andrew Murray berkata,
“The Holy Spirit is the one who makes Christ real in the hearts of believers. – Roh Kuduslah yang membuat Kristus nyata dalam hati orang percaya.”

Itulah sebabnya penting sekali untuk tidak mengabaikan Dia. Berbicara dengan Dia. Curhat dengan Dia. Diskusi dengan Dia. Perlakukan Dia bukan sekadar sebagai “penghibur kalau kita sedih”, tapi sebagai Penuntun hidup setiap hari. Roh Kudus menghibur, iya. Tapi Dia juga menegur, mengingatkan, mengajar, membela, bahkan kadang membongkar isi hati kita supaya kita bertumbuh.

Yang menyentuh saya dari kisah Kathryn Kuhlman adalah kesaksian orang-orang di sekelilingnya. Mereka bilang, kedekatan Kathryn dengan Roh Kudus membuat orang-orang lebih mudah menerima mujizat. Perhatikan. Bukan karena dia berteriak lebih keras. Bukan karena karismanya. Tapi karena hubungannya.

Itu yang membuat saya terdiam. Ternyata kunci bukan di teknik, tapi di relasi. Bukan di metode, tapi di kedekatan. Dan kabar baiknya, Tuhan tidak memandang muka. Kita pun bisa hidup dalam keintiman seperti itu. Tidak harus jadi pengkhotbah besar. Tidak harus ada di mimbar internasional. Cukup dimulai dari kehidupan sehari-hari. Dari hati yang mau mendengar. Dari keputusan untuk memberi ruang.

Mungkin kita tidak langsung melihat “mujizat besar” seperti Kathryn. Tapi kita akan melihat perubahan dalam diri. Kepekaan yang makin lembut. Pikiran yang makin jernih. Damai yang makin stabil. Dan tanpa kita sadari, orang di sekitar kita pun ikut menikmati hasilnya.

Yuk kita belajar. Bukan sekadar tahu tentang Roh Kudus, tapi benar-benar hidup bersama Dia. Kata Kathryn, dia bertemu Pribadi, bukan doktrin. Dan perjumpaan itulah yang mengubah segalanya.

“We need no more education about the Holy Spirit. We need an encounter with Him.” – A.W. Tozer.

“Kita tidak membutuhkan lebih banyak pendidikan tentang Roh Kudus. Kita membutuhkan perjumpaan dengan Dia” – – A.W. Tozer.

YennyIndra
www.yennyindra.com
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Pahlawan yang Terlihat Bodoh, tapi Dipakai Tuhan dengan Cara yang Jenius

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Pahlawan yang Terlihat Bodoh, tapi Dipakai Tuhan dengan Cara yang Jenius

Tidak semua pahlawan berotot dan berseragam gagah. Kadang, pahlawan sejati tampil dengan cara yang membuat orang salah paham — bahkan tampak bodoh.

Itulah kisah Douglas Hegdahl, pelaut muda berusia dua puluh tahun yang tanpa sengaja jatuh ke laut saat kapal perangnya berlayar di Laut Cina Selatan. Arus membawanya ke pantai Vietnam, dan di sanalah ia ditangkap serta dijadikan tawanan perang.

Ketika para penjaga menginterogasinya, Doug terlihat kebingungan. Ia tidak tahu harus menjawab apa, dan tak punya kisah heroik untuk diceritakan. Mereka pun menertawakannya dan menjulukinya “The Incredibly Stupid One.”
Lucunya, Doug tidak membantah. Ia malah membiarkan mereka percaya bahwa dirinya memang bodoh.

Bagi manusia, itu mungkin tampak seperti menyerah. Tapi bagi Tuhan, bisa jadi itu strategi.
Tuhan sering bekerja melalui kelemahan — agar kuasa-Nya nyata, bukan karena kehebatan manusia, tetapi karena kebijaksanaan yang melampaui akal.

Doug berpura-pura kikuk dan tidak berbahaya. Para penjaga merasa kasihan sekaligus geli melihatnya. Mereka memberinya tugas-tugas ringan di luar sel, sementara tawanan lain disiksa dan diisolasi.
Tapi di balik wajah polosnya, Doug menyusun rencana besar. Ia menaburkan pasir ke tangki bahan bakar truk, melonggarkan baut mesin, dan melakukan sabotase kecil tanpa menimbulkan kecurigaan.

Namun tugas terpentingnya bukan di luar sel, melainkan di hati yang tetap hidup di balik jeruji.

Doug tahu banyak keluarga di Amerika tidak tahu apakah orang yang mereka kasihi masih hidup. Musuh menyembunyikan nama-nama tawanan, dan tak seorang pun punya daftar resmi. Maka di tengah penjara yang suram itu, Doug membuat keputusan sederhana tapi heroik:
Ia akan mengingat setiap nama tawanan yang ditemuinya.

Satu nama, satu nyawa, satu keluarga yang berhak tahu kebenaran.
Tidak ada pena, tidak ada kertas. Hanya ingatan — dan lagu anak-anak yang ia ubah menjadi alat penyelamat.

Ia memilih lagu “Old MacDonald Had a Farm” — lagu yang polos, sederhana, tapi punya ritme yang mudah diingat.
Setiap nama dan tanggal penangkapan ia nyanyikan dalam hati mengikuti irama lagu itu.
Hari demi hari, ia menambah satu nama baru. Kadang ia mengulanginya saat berjalan, kadang saat menyapu halaman, atau saat pura-pura linglung di depan penjaga.

Sementara musuh menertawakan kebodohannya, Doug sedang menulis sejarah di dalam pikirannya.

Ketika akhirnya dibebaskan tahun 1969, ia membawa keluar 256 nama tawanan — lengkap dengan pangkat, tanggal penangkapan, dan kondisi mereka. Ia mengucapkannya satu per satu dengan tepat, tanpa catatan, tanpa kesalahan.

Ratusan keluarga menangis haru mendengar kabar bahwa orang yang mereka cintai masih hidup.
Dan semua itu terjadi karena satu anak muda memilih untuk tidak membalas ejekan, tapi menggunakan akal sehat dan hati yang tenang.

Kisah Doug mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati tidak selalu tampak berisik.
Kadang Tuhan memakai strategi yang dunia sebut “bodoh” untuk mempermalukan kebijaksanaan manusia.
Doug membiarkan dirinya diremehkan, tapi justru dari posisi terendah itulah Tuhan bisa memakainya untuk menyelamatkan banyak jiwa.

Bukankah Yesus juga menunjukkan hal yang sama?
Ia tidak melawan dengan pedang, tapi dengan kasih.
Ia menang bukan dengan kekuatan dunia, tapi dengan pengorbanan.

Doug Hegdahl menjadi contoh hidup bahwa ketulusan dan kebijaksanaan bisa berjalan beriringan.
Ia cerdik seperti ular, tapi tetap tulus seperti merpati. Ia menggunakan kelemahannya sebagai tameng, dan kasihnya sebagai alasan untuk bertahan.

Kadang hidup menuntut kita melakukan hal yang sama — tidak membuktikan siapa kita dengan suara keras, tapi dengan buah dari tindakan kita.
Karena ketika hati kita murni dan tujuan kita benar, Tuhan bisa memakai bahkan “orang yang dianggap bodoh” untuk membawa terang di tempat paling gelap.

Dan di sanalah letak keajaiban iman:
bahwa ketika dunia menertawakan, Tuhan sedang menyiapkan kemenangan yang tak seorang pun duga.

“When a train goes through a tunnel and it gets dark, you don’t throw away the ticket and jump off. You sit still and trust the engineer.” – Corrie ten Boom.

“Ketika kereta masuk terowongan dan menjadi gelap, kita tidak membuang tiket lalu melompat keluar. Kita diam dan percaya pada masinisnya.” – Corrie ten Boom.

YennyIndra
TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopicantik
#yennyindra
#Inspirasi Kebaikan #MotivasiKebaikan
#PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 7 8 9 10 11 307