Category : Articles

Articles

Ada Musim di Mana Iman Terbesar Adalah Diam

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Ada Musim di Mana Iman Terbesar Adalah Diam

Kita sering berpikir iman itu selalu identik dengan bergerak, berdoa keras, mengambil langkah, membuat keputusan, dan “melakukan sesuatu”. Seolah-olah kalau kita diam, berarti kita kurang iman. Kalau kita berhenti, berarti kita menyerah. Kalau kita tidak mengontrol, berarti kita lalai.

Padahal Alkitab menunjukkan sesuatu yang sangat berbeda.

Di Kejadian 15, ketika Allah mengikat perjanjian dengan Abram, justru ada satu hal mengejutkan yang sering terlewat: Abram dibuat tertidur. Bukan dia yang berjalan di antara potongan korban. Bukan dia yang mengucapkan sumpah. Bukan dia yang menanggung risiko. Allah berjalan sendirian.

Abram tidak gagal. Ia tidak disingkirkan. Ia dibuat pasif dengan sengaja.
Ini bukan kelemahan. Ini pewahyuan.
Ada musim di mana iman terbesar bukan melakukan lebih banyak, tetapi diam dan membiarkan Allah bekerja sendirian.

Kita perlu jujur. Banyak dari kita lelah bukan karena masalah terlalu berat, tetapi karena kita memikul beban yang bukan bagian kita. Kita merasa harus menjaga janji Tuhan tetap aman. Menjaga relasi tetap utuh. Menjaga semua orang tetap baik-baik saja. Menjaga proses supaya tidak berantakan.
Tanpa sadar, kita menempatkan diri di posisi yang Tuhan tidak pernah minta.

Kejadian 15 membongkar pola itu.
Tuhan seakan berkata,
“Janji ini tidak bergantung pada kekuatanmu. Aku tidak butuh bantuanmu untuk menepatinya.”

Abram ditidurkan supaya tidak ada kebingungan tentang siapa yang bertanggung jawab

Supaya jelas: perjanjian ini aman karena Allah setia, bukan karena Abram kuat.

Ini kabar baik bagi orang-orang yang hatinya sungguh ingin menyenangkan Tuhan, tapi sering kelelahan.

Mungkin hari ini kita sedang berada di musim gelap. Ada penundaan. Ada hal-hal yang tidak berubah. Ada relasi yang menyakitkan. Ada doa yang terasa belum dijawab. Dan di tengah semua itu, kita tergoda untuk terus mengatur, menjelaskan, membuktikan, dan mempertahankan diri.

Padahal bisa jadi, justru sekarang Tuhan sedang berkata, “Tidurlah. Bukan karena Aku menyerah, tapi karena Aku sedang bekerja.”

Diam bukan berarti pasif tanpa iman. Diam bisa menjadi bentuk iman yang paling murni. Diam yang percaya. Diam yang berserah. Diam yang tahu bahwa Allah tidak perlu dikawal agar janji-Nya tergenapi.

Allah tidak menutupi kenyataan bahwa perjalanan Abram akan melibatkan penderitaan dan waktu. Tapi Ia juga menegaskan satu hal yang jauh lebih dalam: hasil akhirnya tidak akan gagal.
Kenapa? Karena Allah sendiri yang berjalan di lorong perjanjian itu.

Rhema ini sangat membebaskan. Kita boleh berhenti menyalahkan diri. Berhenti merasa kurang rohani. Berhenti berpikir bahwa semuanya akan runtuh kalau kita tidak terus menahan, melayani, dan mengalah.

Ada hal-hal yang hanya bisa dikerjakan Allah ketika kita berhenti ikut campur.
Ada peperangan yang hanya bisa dimenangkan saat kita berani menyerahkan kendali.
Ada musim di mana iman terbesar bukan berkata apa-apa, tetapi percaya sepenuh hati.

Dan di situlah damai sejahtera datang. Bukan karena masalah langsung selesai, tetapi karena kita tahu: janji Tuhan aman di tangan-Nya.

Kalau hari ini kita sedang lelah, mungkin ini bukan tanda kita lemah. Bisa jadi ini undangan Tuhan untuk berhenti sejenak dan berkata, “Tuhan, Engkau yang berjalan. Aku percaya.”
Dan itu… iman yang sangat besar.

“God creates out of nothing. Therefore, until a man is nothing, God can make nothing out of him.” – Martin Luther.

“Tuhan menciptakan dari ketiadaan. Karena itu, selama seseorang belum menjadi ‘bukan siapa-si
apa’, Tuhan tidak bisa membentuk apa pun dari dirinya.” – – Martin Luther.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Roh dan Jiwa: Kunci Hidup Iman yang Stabil, Bukan Drama.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Roh dan Jiwa: Kunci Hidup Iman yang Stabil, Bukan Drama.

Banyak orang Kristen sungguh mengasihi Tuhan. Mereka berdoa, membaca Alkitab, melayani. Tapi jujur saja, hidupnya masih naik turun. Hari ini penuh iman, besok tenggelam dalam kekhawatiran. Hari ini yakin Tuhan baik, besok merasa Tuhan jauh.

Masalahnya sering bukan pada iman.
Masalahnya bukan karena Tuhan tidak setia.
Masalahnya, kita tidak membedakan roh dan jiwa.

Alkitab sangat jelas bahwa roh dan jiwa bukan hal yang sama.

Ibrani 4:12 berkata bahwa Firman Tuhan sanggup memisahkan roh dan jiwa. Kalau bisa dipisahkan, berarti memang berbeda.

Dan 1 Tesalonika 5:23 menegaskan bahwa manusia terdiri dari roh, jiwa, dan tubuh.

Roh: Siapa Kita di Dalam Kristus
Roh adalah bagian terdalam dari diri kita. Di sinilah hubungan kita dengan Allah terjadi. Saat kita lahir baru, roh kita diciptakan ulang. Roh bukan sedang diperbaiki, tapi sudah baru.
Di sinilah anugerah bekerja paling utuh.

Roh orang percaya:
– Sudah benar di hadapan Allah
– Sudah kudus
– Sudah sempurna di dalam Kristus

Andrew Wommack sering menekankan bahwa identitas kita yang sejati ada di roh, bukan di perasaan atau pikiran. Artinya, iman sejati tidak lahir dari emosi, tetapi dari siapa kita di dalam Kristus.

Grace atau anugerah bekerja di dalam roh.
Faith atau iman mengalir dari roh.
Karena itu, iman sejati selalu tenang. Tidak panik. Tidak reaktif. Tidak bergantung suasana.

Jiwa: Tempat Pertarungan Terjadi
Jiwa adalah *pikiran, kehendak, dan emosi.*
Jiwa tidak jahat, tapi jiwa perlu diperbarui.

Jiwa inilah wilayah yang paling sering bermasalah.
Trauma masa lalu, luka batin, pola pikir lama, semua itu tersimpan di jiwa.

Itulah sebabnya seseorang bisa:
Roh sudah lahir baru
Tapi pikirannya masih penuh ketakutan
Emosinya mudah tersulut
Keputusannya sering keliru

Watchman Nee pernah berkata bahwa jiwa adalah alat. Ia bisa tunduk pada roh, atau justru mengambil alih kendali.

Dan di sinilah banyak orang Kristen tersandung. Mereka hidup dipimpin oleh jiwa, lalu menyebutnya iman.
Padahal yang bekerja bukan faith, tapi feeling.

Grace atau anugerah Bukan Alasan Hidup Sembrono
Grace bukan berarti kita mengabaikan pembaruan jiwa. Justru sebaliknya. Karena roh kita sudah benar oleh anugerah, maka jiwa kita dipanggil untuk belajar selaras dengan kebenaran itu.

Roma 12:2 mengatakan bahwa kita diubahkan oleh pembaruan budi. Bukan dengan usaha rohani berlebihan, tapi dengan menyelaraskan pikiran pada kebenaran yang sudah ada di roh.

Hidup yang Dipimpin Roh
Ketika roh memimpin dan jiwa mengikuti:
– Damai menjadi stabil
– Keputusan lebih jernih
– Reaksi lebih dewasa
Iman tidak terguncang keadaan.

Kita tidak lagi bertanya, “Apa yang aku rasakan?”
Tapi bertanya, “Apa yang Tuhan katakan?”

Kita berpikir sesuai firman,
Merasa sesuai firman,
Berkata-kata sesuai firman,
Bertindak sesuai firman…
Kita menjadi gloves, – sarung tangan -, dan tangan yang berada di dalam serta menggerakkan gloves adalah Allah sendiri.

Di situlah hidup iman menjadi ringan. Bukan tanpa tantangan, tapi penuh kepastian.

Banyak orang mengira imannya lemah.
Padahal yang belum dilatih adalah jiwanya.
Roh sudah benar.
Tinggal jiwa belajar tunduk.
Ketika roh memimpin, anugerah bekerja bebas.
Kasih karunia mengalir memampukan.
Ketika pikiran diperbarui sesuai firman, iman pun mengalir alami.
Dan hidup tidak lagi dikendalikan drama,
melainkan kebenaran yang memerdekakan.

Siap praktik? Yuk….

“The greatest enemy of spiritual life is not sin, but the soul trying to take the place of the spirit.” – Watchman Nee.

Musuh terbesar kehidupan rohani bukanlah dosa, melainkan jiwa yang mencoba menggantikan posisi roh.” – Watchman Nee.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Kristen yang Terlihat, Bukan Terdengar.

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

Kristen yang Terlihat, Bukan Terdengar.

Banyak orang Kristen sungguh ingin mengabarkan Kabar Baik. Niatnya tulus. Hatinya benar. Tapi sering kali caranya justru membuat Injil terasa rumit.
Segudang ayat disajikan. Istilah rohani berlapis-lapis. Penjelasan panjang dan melelahkan.

Padahal Yesus tidak pernah membuat Injil menjadi berat.

Yang menarik, gereja mula-mula memenangkan jiwa bukan terutama lewat ceramah, melainkan lewat kehidupan yang terlihat. Orang melihat murid-murid hidup seperti Yesus. Ada kasih. Ada kuasa. Ada integritas.

Bayangan Petrus menyembuhkan orang sakit.
Sapu tangan Paulus membawa kesembuhan.

Itu bukan teknik. Itu buah kehidupan karena keintiman hubungan mereka dengan Kristus dan kesadaran bahwa mereka itu In Christ. Di dalam Kristus.

Karena kekristenan sejak awal bukan agama baru, melainkan kehidupan baru. Seperti kata Watchman Nee, kekristenan bukan ajaran untuk dipelajari, tetapi kehidupan untuk dijalani.

Itulah sebabnya mereka disebut Kristen, artinya Kristus kecil.
Hidup mereka begitu mirip Kristus, bukan karena pencitraan, tetapi karena relasi.

Kita juga perlu jujur.
Begitu banyak orang hari ini antipati terhadap kekristenan, bukan karena Kristusnya, tetapi karena pengalaman buruk dengan oknum.
Tidak sedikit hal-hal rohani dipakai untuk:
Kepentingan pribadi
Ambisi tersembunyi
Keuntungan sepihak
Padahal itu perbuatan oknum, bukan Injil.

Masalahnya, dunia tidak selalu bisa membedakan.
Akibatnya, Injil yang murni ikut tercoreng.

Justru di sinilah panggilan kita menjadi terang dan garam diuji.
Bukan dengan membela diri.
Bukan dengan argumen panjang.
Tetapi dengan membuktikan bahwa kita melayani karena mengasihi Tuhan, tanpa motif apa pun.

Dan itu sendiri sudah menjadi kesaksian.
Dunia Butuh Firman yang Dihidupi
Dunia tidak kekurangan kotbah.
Dunia kekurangan firman yang dijalani.

Dunia sering berkata, “Tidak ada yang gratis di dunia ini.”
Dan dalam banyak hal, itu benar.
Keselamatan dari Tuhan itu gratis, karena Yesus sudah membayarnya lunas. Gratis bagi kita, mahal bagi-Nya.

Saat orang melihat orang Kristen melayani tanpa agenda, tanpa hitung untung-rugi, tanpa manipulasi, di situlah Injil kembali mendapatkan wajahnya.
Melayani dari Kelimpahan, Bukan Kekurangan

Saya bersyukur, saya melihat itu nyata.
Begitu banyak murid, alumni Charis, dan teman-teman TLW yang:
Mengajar tanpa dibayar
Melayani tanpa honor
Bahkan membayar biaya transportasi dan kebutuhan pelayanan dari kantong sendiri
Bukan karena mereka “tidak tahu nilai diri”.
Bukan karena mereka ingin terlihat rohani.
Tetapi karena mereka melayani dari kelimpahan, bukan dari kekurangan.

Kelimpahan kasih.
Kelimpahan anugerah.
Kelimpahan syukur.
Semua dilakukan untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk membangun nama, pengaruh, atau posisi.

Namun kasih juga perlu hikmat.
Menjadi terang dan garam bukan berarti membiarkan diri diperalat sampai babak belur.
Kasih dan disiplin harus seimbang.
Empati dan batasan harus berjalan bersama.
Saat kita menetapkan boundaries yang sehat:
Kita tidak menjadi keras
Kita tidak kehilangan kasih
Kita justru membimbing orang bertumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab

Yesus penuh kasih, tapi tegas.
Ia memberi, tapi juga berkata tidak.

Yesus bisa tegas karena la penuh empati. la selalu walk in other people’s shoes. Setiap keputusan-Nya lahir dari pemahaman, bukan dari posisi kuasa. la tidak melihat orang sebagai masalah, tetapi sebagai manusia yang sedang bergumul. Karena itu la bisa menegakkan kebenaran tanpa melukai, dan mengasihi tanpa mengorbankan kebenaran.

Di sinilah banyak pemimpin Kristen tersandung. Masalah sering dilihat dari kepentingan pelayanan, organisasi, atau visi pribadi, bukan dari posisi orang yang sedang dijalani. Walk in other people’s shoes bukan berarti mengalah, tetapi memastikan keputusan tidak lahir dari ego, ketakutan, atau ambisi rohani. Pemimpin yang memahami sebelum memutuskan akan memimpin dengan hikmat, bukan sekadar otoritas.

Injil paling kuat bukan yang paling keras dikhotbahkan, tetapi yang paling konsisten dijalani.
Saat dunia melihat orang Kristen yang tulus, bisa dipercaya, dan hidupnya selaras dengan firman,
tanpa banyak kata pun,
mereka akan tahu:
Tuhan yang kita sembah itu nyata. Mereka ingin memiliki Tuhan seperti kita.
Dan di situlah terang dan garam bekerja dengan sendirinya.

“Don’t talk to me about religion, let me see it in your actions.” – Leo Tolstoy.

Jangan banyak bicara denganku tentang agama, tetapi ijinkan diriku melihat agama dari perilakumu.” – Leo Tolstoy.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

“Hei … Mungkin Anda Sedang Memfitnah Tuhan….”

Seruput Kopi Firman Tuhan
Yenny Indra

“Hei … Mungkin Anda Sedang Memfitnah Tuhan….”

Dalam Kisah Para Rasul pasal 3, kita membaca kisah Petrus dan Yohanes yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Ketika mereka mendekati Bait Allah, mereka bertemu dengan seorang lumpuh yang sedang meminta-minta. Petrus berkata,

“Apa yang kupunyai, itu yang kuberikan kepadamu: demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” (Kis. 3:6)

Iman Petrus tergerak oleh kebutuhan orang itu. Sebagai wakil Yesus Kristus, *Petrus membawa kesembuhan kepada seseorang yang sama sekali tidak mengharapkan kesembuhan*. Kemudian, ketika Petrus diperiksa oleh para pemimpin agama tentang mujizat itu, ia mengatakan sesuatu yang menarik:
“Kalau kami sekarang harus diperiksa karena suatu perbuatan baik yang dilakukan kepada seorang sakit…” (Kis. 4:9–10)

Petrus menyebut mujizat kesembuhan itu sebagai “perbuatan baik yang dilakukan kepada seorang yang tidak berdaya.”

Dalam kisah ini kita melihat kebaikan Allah, kasih karunia-Nya yang tidak layak kita terima. Petrus tidak menyinggung iman orang lumpuh itu. Ia menyinggung kebaikan Allah.
“Ia menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat. 5:45)

Kebanyakan dari kita, secara sadar atau tidak sadar, memandang Allah sebagai Pribadi yang sewenang-wenang dan menuntut. Kita jarang merasa layak menerima sesuatu yang baik dari-Nya. Kita tahu kelemahan dan kegagalan kita. Kita berusaha memiliki iman, tetapi sering kali kita merasa iman kita tidak cukup.
Tahukah Anda bahwa setiap hal baik yang terjadi di dunia ini, kepada siapa pun itu terjadi, berasal dari Sumber yang sama?
Allah sedang menunjukkan belas kasihan kepada semua orang, baik yang layak maupun yang tidak. Kebaikan-Nya itulah yang dimaksudkan untuk menuntun manusia kepada pertobatan (Rm. 2:4).

Bagaimana jika kita mengizinkan sebuah pengenalan yang baru tentang Allah masuk ke dalam hati kita? Bagaimana jika kita membiarkan kebaikan-Nya menenggelamkan semua keraguan kita?

“Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.” (Mzm. 145:9)

“Sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” (Luk. 6:35)

“Yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuasa, Dia yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.” (Kis. 10:38)

“Sembuhkanlah orang sakit; tahirkanlah orang kusta; bangkitkanlah orang mati; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” (Mat. 10:8)

Jika kita membiarkan pewahyuan tentang kebaikan Allah ini menenggelamkan rasa bersalah dan kelemahan kita, saya percaya kita akan melihat jauh lebih banyak kesembuhan, pemulihan, dan hidup yang diubahkan. Allah ada di pihak Anda, tetapi Anda perlu mempercayainya. Iman Anda tidak akan pernah lebih besar daripada pengertian Anda tentang kebaikan-Nya.

Barry Bennett

—————

Pelajaran dari Barry Bennett ini sungguh membukakan pemahaman, berkata Tuhan itu Allah yang penuh kasih, yang tidak diminta pun Tuhan beri.
Wow….. amazing!

Sementara di sisi lain, ada satu kebiasaan manusia yang sangat rohani di permukaan, tapi sebenarnya tidak jujur di akar.
Kebiasaan itu adalah menyalahkan Tuhan atas akibat dari pilihan sendiri, lalu membungkusnya dengan kata-kata seperti nasib, takdir, atau kehendak Tuhan.

Barry Bennett pernah berkata dengan sangat lugas, dan saya kutip apa adanya:
“Not everything that happens is God’s will. Many things happen because of the choices people make.”

“Tidak semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Banyak hal terjadi karena pilihan yang dibuat orang itu sendiri.”

Kalimat ini sederhana, tapi menghancurkan banyak mitos rohani yang selama ini nyaman kita pelihara.
Masalahnya, banyak orang tidak siap mendengar ini.
Karena kalau ini benar, maka satu hal ikut benar:
kita yang bertanggung jawab atas hidup kita sendiri.

Mari kita jujur lewat contoh sederhana.
Toni suka berfoya-foya.
Gaya hidupnya besar pasak daripada tiang.
Penghasilan pas-pasan, tapi selera kelas atas.
Tidak ada disiplin. Tidak ada pengendalian diri. Tidak ada perencanaan.
Secara matematika saja sudah jelas.
Kalau yang masuk lebih kecil dari yang keluar, itu tinggal menunggu waktu sampai habis. Bahkan minus.
Dan benar saja, akhirnya Toni bangkrut.

Lalu apa yang dikatakan Toni? “Ya mau bagaimana lagi, ini kehendak Tuhan.”
Istrinya menambahkan dengan nada rohani, “Ini cobaan dari Tuhan.”
Lho… tunggu dulu.
Sejak kapan ketidakmampuan mengendalikan keinginan berubah menjadi rencana ilahi?
Sejak kapan Tuhan yang disalahkan karena seseorang tidak mau hidup berdasarkan kebutuhan, tapi terus memuaskan keinginan?

Di titik inilah Tuhan sering difitnah secara halus.
Kata nasib, takdir, dan kehendak Tuhan sering dipakai bukan untuk memuliakan Tuhan, tapi untuk lari dari tanggung jawab.
Dengan kata-kata itu, seseorang bisa tampil sebagai korban, terlihat rohani, sekaligus bebas dari keharusan berubah.
Padahal Alkitab tidak pernah mengajarkan iman yang mematikan tanggung jawab pribadi.

Firman Tuhan berkata dengan sangat jelas:
“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.”
(Galatia 6:7)

Ini bukan ayat penghukuman.
Ini ayat kejujuran.

Alkitab juga berkata:
“Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri, demikianlah ia.”
(Amsal 23:7)

Artinya, hidup kita berjalan mengikuti cara berpikir dan pilihan kita.
Lalu bagaimana kalau sudah terlanjur salah?
Jawabannya bukan drama.
Jawabannya pertobatan.
Dan pertobatan dalam Alkitab bukan sekadar minta ampun sambil mengulang pola lama.
Pertobatan berarti berbalik dari jalan yang salah menuju jalan Tuhan.

Berbalik dari:
Pola pikir lama
Cara hidup lama
Kebiasaan lama
Dan kembali kepada apa yang Tuhan ajarkan.

Firman Tuhan berkata:
“Berubahlah oleh pembaruan budimu.”
(Roma 12:2)

Pertobatan sejati selalu melibatkan perubahan cara berpikir, bukan sekadar perasaan menyesal.
Tuhan tidak mencari korban.
Tuhan membesarkan anak-anak yang dewasa.
Anak yang dewasa berani berkata, “Aku salah memilih. Aku mau belajar. Aku mau berubah.”
Dan di situlah kasih karunia bekerja paling indah.
Bukan untuk membenarkan kesalahan, tetapi untuk memberi kekuatan menjalani perubahan.
Berhentilah menyalahkan Tuhan atas apa yang sebenarnya bisa kita pelajari.
Beranilah bertanggung jawab.

Pertumbuhan dimulai bukan ketika kita mencari kambing hitam rohani, tetapi ketika kita berani bertanggung jawab di hadapan Tuhan.
Dan Tuhan tidak pernah menolak orang yang jujur dan mau berubah.

You cannot escape the responsibility of tomorrow by evading it today.” – Abraham Lincoln.

“Kita tidak bisa lari dari tanggung jawab hari esok dengan menghindarinya hari ini.” – Abraham Lincoln.

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR *ANTI VIRUS* & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
SVRG
SWEET O’ TREAT
AESTICA ID
PRODUK TERBAIK
PEDULI KESEHATAN

#seruputkopifirmanTuhan
#yennyindra
#InspirasiTuhan #MotivasiKebaikan
#mengenalTuhan #FirmanTuhan

Read More
Articles

Chuck Feeney: Ketika Tuhan Bertanya, “Apa yang Masih Kau Pegang?”

Seruput Kopi Cantik
Yenny Indra

Chuck Feeney: Ketika Tuhan Bertanya, “Apa yang Masih Kau Pegang?”

Ada satu pertanyaan yang jarang kita doakan, tapi sering Tuhan bisikkan pelan-pelan di dalam hati:
apa yang masih kau pegang terlalu erat?
Bukan dosa besar.
Bukan kejahatan.
Sering kali justru sesuatu yang sah, baik, bahkan diberkati.
Dan justru di situlah ujiannya.

Chuck Feeney hidup di dunia yang memuja akumulasi. Dunia yang mengajarkan: simpan, lindungi, wariskan, amankan. Ia melakukan semua itu dengan sangat sukses. Ia adalah miliarder. Bisnis global. Akses tak terbatas.

Namun di satu titik, hidupnya seperti disergap oleh satu kesadaran yang tajam dan tidak bisa dihindari:
hidup tidak diukur dari seberapa banyak yang berhasil dikumpulkan, tetapi dari seberapa taat kita melepaskan ketika diminta.
Feeney tidak banyak berbicara. Ia bertindak.

Ia memilih hidup sederhana bukan karena anti-kekayaan, tetapi karena ia menolak dikendalikan olehnya. Apartemen sewaan. Jam murah. Terbang ekonomi. Semua itu bukan simbol asketisme rohani, melainkan pernyataan batin yang jelas:
aku pemilik uang, bukan hamba uang.

Lalu ia melangkah lebih jauh.
Ia memberi selagi hidup.
Bukan menunggu nanti.
Bukan menunggu aman.
Bukan menunggu nama dikenang.
Prinsip hidupnya sederhana namun radikal: Giving While Living.
Wow…..
Baginya, menunda memberi ketika kebaikan bisa dilakukan sekarang adalah bentuk ketidaktaatan yang halus.

Yang jarang diketahui orang, selama hampir lima belas tahun, dunia bahkan tidak tahu bahwa Feeney adalah donor di balik aliran dana miliaran dolar itu. Ia memberi secara anonim melalui The Atlantic Philanthropies.
Tanpa plakat. Tanpa gedung bernama dirinya. Tanpa panggung.
Lebih dari 8 miliar dolar dialirkan ke pendidikan, kesehatan, perdamaian, dan pemulihan martabat manusia di berbagai belahan dunia.

Dan ia melakukannya dalam kesunyian.
Seolah ia memahami satu prinsip Kerajaan yang sering kita dengar tapi jarang kita hidupi:
ketika kita memberi demi sorotan, upahnya berhenti di sorotan itu juga.

Yang membuat kisah ini luar biasa bukan jumlah uangnya, tetapi ketaatannya yang konsisten. Ia tidak memberi sekali lalu berhenti. Ia mengosongkan hidupnya sedikit demi sedikit. Dengan sadar. Dengan damai. Tanpa drama.

Ia melihat perang.
Ia melihat kematian.
Ia melihat betapa rapuhnya hidup dan betapa timpangnya dunia.
Pengalaman itu membentuk kepekaan batin yang tajam:
hidup terlalu singkat untuk ditimbun, terlalu berharga untuk dihabiskan demi rasa aman palsu.

Puncaknya sangat mengguncang, bahkan bagi dunia filantropi sendiri.
Ia menutup yayasannya secara resmi.
Bukan karena gagal.
Bukan karena krisis.
Tetapi karena selesai.
Uangnya habis sesuai rencana.
Misinya tuntas.
Tidak ada yang diwariskan demi kemegahan nama.
Ia tidak mati sebagai miliarder.
Ia mati sebagai seseorang yang taat sampai akhir.

Dan di sinilah kisah ini berhenti menjadi cerita tentang orang lain, lalu berubah menjadi cermin bagi kita.
Karena hidup yang profetik, yang menyatakan kehendak Tuhan, hampir selalu mengganggu kenyamanan.

Apa itu profetik?
Profetik adalah ketika Tuhan memberi makna ilahi pada sesuatu untuk membawa kita selaras dengan rencana-Nya.

Hidup Feeney memaksa kita bertanya:
apakah kita sedang mempersiapkan hidup,
atau sedang menunda ketaatan?
Apakah kita menyimpan karena takut,
atau menahan karena belum percaya sepenuhnya?
Apakah kita berkata, “Tuhan pakai hidupku,”
tetapi tetap mengunci bagian-bagian tertentu dengan rapat?

Chuck Feeney seperti suara sunyi yang berdiri di tengah kebisingan zaman ini dan berkata:
hidup yang berdampak tidak lahir dari niat baik saja, tetapi dari keberanian berkata ya ketika Tuhan mengundang kita melangkah lebih jauh.

Tidak semua orang dipanggil memberi miliaran.
Tetapi semua orang dipanggil untuk taat tanpa syarat.
Dan sering kali, kebangunan tidak dimulai dari mujizat besar,
melainkan dari satu keputusan sunyi:
melepaskan apa yang paling kita andalkan
dan mempercayakannya kembali ke tangan Tuhan.

Bagaimana dengan keluarganya?
Ini bagian yang penting, dan sering ditanyakan.

Chuck Feeney menikah dan memiliki anak. Ia tidak meninggalkan warisan kekayaan besar bagi mereka. Keputusan itu bukan tanpa percakapan, bukan tanpa proses, dan bukan tanpa harga emosional.

Ia percaya bahwa meninggalkan nilai hidup, integritas, dan teladan jauh lebih penting daripada meninggalkan harta. Ia tidak ingin anak-anaknya hidup tergantung pada apa yang tidak mereka bangun sendiri.

Ini bukan model yang harus ditiru secara harfiah oleh semua orang. Tetapi ini menunjukkan satu hal yang sangat jelas:
ketaatan sejati sering kali menuntut kesepakatan keluarga dan keberanian menghadapi ketidaknyamanan relasional.
Ketaatan tidak selalu terlihat heroik dari luar.

Bukan soal siapa yang paling “melihat jauh”, melainkan siapa yang paling setia menyampaikan kebenaran dengan jujur dan bertanggung jawab.

Pesan yang berasal dari Tuhan tidak pernah berdiri sendiri.
la selalu selaras dengan Firman, membangun manusia, dan memuliakan Tuhan. Di titik itulah pesan rohani berhenti menjadi sensasi,
dan kembali menjadi sarana Allah untuk menuntun, menegur, dan memulihkan.
Sungguh kisah yang sangat langka di jaman ini!

“The truth will set you free, but first it will make you uncomfortable.” – Gloria Steinem.

“Kebenaran akan memerdekakan, tetapi sering kali terlebih dulu mengguncang – Gloria Steinem.*

YennyIndra
www.yennyindra.com

TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC
MPOIN PLUS & PIPAKU
THE REPUBLIC OF SVARGA
SWEET O’ TREAT
AESTICA INDONESIA – AESTICA ID

#seruputkopicantik #yennyindra #InspirasiKebaikan #MotivasiKebaikan #PribadiBerkualitas #BerbagiDenganSesama

Read More
1 3 4 5 6 7 314