Saya sering merujuk pada aspek vertikal dan horizontal dari hubungan kita dengan Tuhan. Kasih Tuhan, kasih karunia-Nya yang tidak bersyarat, kebenaran, kebebasan dari rasa bersalah dan ketakutan, dll., Adalah realitas hubungan ‘vertikal’ kita dengan-Nya.
Aspek horizontal dari iman kita berhubungan dengan hubungan kita dengan dunia. Amanat Agung, karunia Roh, pengampunan terhadap orang lain, memberi, melayani, menabur dan menuai, dll., Berbicara tentang ekspresi kasih dan anugrah Tuhan melalui kita kepada orang lain.
Meskipun tindakan kita di dunia horizontal tidak memengaruhi kasih dan anugrah Tuhan kepada kita, tindakan itu dapat memiliki konsekuensinya sendiri. Misalnya, meskipun dosa kita tidak diperhitungkan dalam pengertian ilahi (kasih karunia Tuhan), itu mungkin masih memiliki konsekuensi dalam pengertian alami. Mengemudi dalam keadaan mabuk menghasilkan potensi bencana yang sama, baik bagi orang percaya maupun orang yang tidak percaya. Menabur dalam daging masih menuai kerusakan di horizontal, meskipun diampuni secara vertikal.
Meskipun Tuhan telah memberkati kita dengan segala berkat (Efesus 1:3) dalam arti vertikal, banyak yang tidak menikmati berkat tersebut karena kurangnya hikmat tentang bagaimana menerimanya di dunia horizontal. Meskipun tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus, ada penghukuman diri bagi mereka yang tidak memahami kasih karunia dan pengampunan.
Dosa tidak diperhitungkan atau dihakimi oleh Tuhan karena Dia telah mencurahkan semua penghakiman atas dosa kepada Yesus, tetapi dosa membawa benih kehancurannya sendiri di alam semesta, yang dapat menghasilkan tuaian kerusakan.
Ketika kita tidak memahami kedua dimensi ini, kita dapat dengan mudah menjadi bingung dan bahkan tertekan karena terputusnya hubungan antara kebenaran mulia penebusan dalam arti ‘vertikal’ versus realitas kehidupan di dunia ‘horizontal’. Yesus menyembuhkan semua orang dengan bilur-bilur-Nya dalam pekerjaan penebusan-Nya, tetapi orang Kristen masih sakit dan mati sebelum waktunya. Mengapa? Realitas vertikal penebusan mungkin tidak diterapkan dengan iman pada keadaan horizontal penyakit. Kurangnya pemahaman bisa berakibat fatal.
Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga, [Matius 6:10 (TB)]. Pola ini dapat ditemukan di seluruh Perjanjian Baru. Sebuah pewahyuan dari berkat penebusan vertikal harus memperlengkapi kita untuk meraih kehidupan yang berkemenangan di dunia horizontal.
“Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini.” Titus 2:11-12 (TB).
[Repost ; “Vertical and Horizontal”, – Barry Bennett, diterjemahkan oleh Yenny Indra].
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
“Instead of going to the phone, you need to go to the throne” – Rick McFarland
“Alih-alih pergi ke telepon, Anda seharusnya menghampiri takhta Allah.” – Rick McFarland
Dienk…..
Ini yang dulu kerap saya lakukan. Begitu dengar ada masalah besar datang, segera otak berputar: siapa yang harus saya telpon? Atau biar kelihatan sedikit rohani, telponnya minta didoakan.
Mengapa kita senang sekali minta didoakan orang lain? Karena kita sadar sekali, tidak punya hubungan yang dekat dengan Tuhan. Setidaknya menurut anggapan kita sendiri. Lalu seperti cara orang dunia, kalau ada jalur pejabat penting atau orang yang punya hubungan dekat dengan orang yang berwenang, maka urusan jadi cepat beres.
Jadilah kita mencari orang yang dianggap punya hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan, melebihi kita, supaya jawaban doa kita dipercepat jawabannya. Ibarat lewat jalan toll!
Yang lebih heboh lagi, karena ‘merasa’ tidak bisa mendengar suara Tuhan, maka berharap mendapatkan arahan Tuhan dari orang yang lebih ‘rohani’ itu. Pas terjawab. Nach lain kali lebih percaya lagi. Kalau tidak didoakan orang itu, pokoknya gak mantap. Tanpa disadari, tidak lagi bergantung pada Tuhan tetapi bergantung kepada orang itu.
Tuhan bilang, kita sudah memberhalakan orang itu….
Familiar? Dulu saya juga menganggap hal seperti itu wajar. Itu yang biasa saya lihat di mana-mana. Karena itu antrian konseling selalu ramai.
Berbeda dengan guru saya Rick McFarland, saat ada orang yang minta didoakan atau konseling, beliau akan bertanya di awal, “Apa yang Tuhan katakan kepadamu?”
Dienk…. Banyak yang bengong…. Bingung dan melihat dengan tatapan kosong!
Kebenarannya, Tuhan akan memberitahu kita, tentang solusi masalah yang kita alami. Tuhan tidak akan memberitahukannya kepada orang lain.
Nach saat kita belum yakin, dan butuh peneguhan, maka Tuhan bisa memakai orang lain untuk meneguhkannya. Nach ini rahasia pentingnya!
Pernah dinubuatkan oleh seseorang, sesuatu yang tidak pernah timbul dalam hati kita? Tolak itu!
Koq? Karena Tuhan tidak akan tiba-tiba mengatakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah diberitahukannya kepada kita. Nubuatan itu peneguhan dan tidak akan berlawanan dengan firman Tuhan. Kita harus mengecheck dan mendoakannya.
Kita boleh koq minta jawaban Tuhan jika merasa ragu-ragu. Tuhan itu Allah yang menjawab doa. Tidak usah menunggu lama, kita akan tahu dengan sendirinya, melalui cara Tuhan berkomunikasi dengan kita, benarkah itu dari Tuhan.
Barry Bennett mengatakan, mengapa orang segera lari menelpon saat terlibat masalah? Karena dia tidak bisa mendengar dari Tuhan. Mungkin bukannya tidak bisa, tetapi karena tidak melatihnya, meski Tuhan berbicara, dia tidak yakin.
Menelpon orang yang dianggap lebih rohani tidaklah salah. Perlu itu. Tetapi Rick menyarankan, yang pertama dan menjadi prioritas, seharusnya kita datang kepada Tuhan terlebih dahulu. Berdiam diri dalam doa dan firman. Fokus menanti jawaban-Nya. Tanya Tuhan dulu, baru minta peneguhan, klo dirasa perlu. Hubungan pribadi dengan Tuhan yang paling utama.
Menyadari hal ini, sangatlah penting untuk melatih telinga rohani kita agar dapat mendengarkan suara-Nya. Bahasa yang digunakan Tuhan adalah firman-Nya. Saat kita terbiasa dengan firman-Nya, maka lebih banyak kosakata untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Kita lebih mudah mengerti kehendak-Nya.
Ketika kita fokus pada sesuatu, kita akan menyerupai apa yang kita fokuskan, demikian bunyi hukum fokus.
Muka Musa bercahaya ketika berada di Gunung Sinai 40 hari 40 malam, menerima 10 Perintah Allah.
Dengan cara yang sama, kita akan menyerupai Allah saat berfokus kepada-Nya. Tahu membedakan mana yang baik, berkenan kepada Allah dan yang sempurna, di tengah riuhnya dunia.
Yang lebih hebat lagi, saat kita bergembira dalam Tuhan ( bergembira karena firman-firman-Nya), maka Tuhan akan memberikan segala keinginan hati kita.
Maksudnya, apa pun yang kita inginkan Tuhan berikan? Ya. Karena ketika kita bergembira dalam firman-Nya, keinginan Tuhan di download menjadi keinginan kita. Sepakat. Jadilah kita mendapatkan semua yang kita inginkan.
Amazing, right?
I cried to God in my distress and he answered me. He freed me from all my fears!
Saya menangis kepada Tuhan dalam kesusahan saya dan dia menjawab saya. Dia membebaskan saya dari semua ketakutan!
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Jadi, yang mana? Akankah kita ‘beristirahat’, atau justru melakukan perbuatan baik? Akankah kita membiarkan Tuhan mencintai kita tanpa syarat, atau justru kita mencintai Tuhan dengan segenap hati kita? Apakah kita mutiara yang sangat berharga, atau Dia yang Mutiara sangat berharga? Jawabannya adalah… .. ‘ya!’ Ini dapat didemonstrasikan dalam satu bagian singkat.
“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Efesus 2:8-10 (TB).
Dua dimensi :
Kasih karunia Tuhan yang luar biasa dan tidak terselidiki, ditambah
Tujuan Tuhan bagi mereka yang telah menerima kasih karunia-Nya.
Kita bisa menyebutnya dimensi vertikal dan dimensi horizontal. Dimensi vertikal menggambarkan kasih karunia dan kasih-Nya, dan kita beristirahat dalam pekerjaan-Nya yang telah selesai mewakili kita. Kita diperdamaikan dengan Tuhan! Namun dimensi horizontal juga merupakan realitas kita. Kita merupakan tubuh-Nya di bumi. Kita diciptakan untuk pekerjaan yang baik. Berbicara tentang dimensi horizontal tidak mengurangi pentingnya dimensi vertikal. Horisontal hanya memiliki makna jika kita memiliki pewahyuan dimensi vertikal. Hubungan kita dengan Tuhan akan terwujud dalam hubungan yang didorong oleh tujuan dengan dunia di mana kita tinggal.
Kita menyenangkan Dia secara vertikal, tetapi kita juga harus menyenangkan Dia secara horizontal. Bagaimana kita berhubungan dengan orang lain, bagaimana kita hidup, bagaimana kita memberi, berkorban, melayani, memberkati dan menyatakan kasih-Nya sama pentingnya dengan memahami istirahat ‘vertikal’ kita dalam pekerjaan-Nya yang sudah selesai. Dinamika dua dimensi ini dapat ditemukan di seluruh Perjanjian Baru. Begitu kita menyadari dua realitas ini, ketegangan itu lenyap dan kita bebas untuk ‘istirahat’ dan ‘bekerja’ pada saat yang bersamaan.
“Barangsiapa tinggal di dalam Aku (istirahat), dan Aku di dalam dia, orang yang sama menghasilkan banyak buah (perbuatan baik):(Yohanes 15:5).
[Repost ; “A Gospel of Two Dimensions”, – Barry Bennett, diterjemahkan oleh Yenny Indra].
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
“Bu Yenny, apakah saya harus tetap berhubungan dengan orang yang sudah menghina dan merendahkan saya?,” tanya seorang gadis muda.
“Apakah kamu masih marah dan menyimpan dendam?”
“Tidak Bu, saya sudah mengampuni dan membereskan luka di hati saya. Tetapi saya berrraaaattt sekali kalau harus berhubungan lagi dengan orang itu.”
Yang terpenting, jangan simpan dendam, kemarahan dan kepahitan. Itu yang menyebabkan munculnya berbagai penyakit. Nach sikap setelahnya, bisa beragam pendapat.
Setiap orang bisa punya pandangan yang berbeda. Bijak menurut ukuran setiap orang bisa beragam. Semua tergantung kasus perkasus. Dan saya hanya bisa menceritakan pandangan saya pribadi.
Saat awal berbisnis, ada seorang saudara yang membantu usaha kami. Dengan berjalannya waktu, ketika dia akan menikah, memakai uang perusahaan bahkan menjual barang yang sama. Yang dipakai duit kami untuk menusuk kami dari belakang. Negara dalam negara. Wow… Saya sangat marah dan membencinya.
Saya suka membaca buku, terpesona ingin memperoleh Baptisan Roh Kudus. Saya mencari orang yang bisa memastikan saya bisa memperolehnya Bertemulah saya dengan Bu Maria Kusumo, dan dimuridkan dengan belajar 24 lesons-24 pelajaran dasar. Tiba pada pelajaran tentang mengampuni, saya ditanya, ada gak orang yang perlu diampuni?
Dieeenk…. Di satu sisi saya ingin terima Baptisan Roh Kudus, tetapi di sisi lain, saya gak rela mengampuni orang yang sudah mengkhianati saya. Pergumulan berat.
“Itu yang menghalangi kamu mendapat kepenuhan Roh Kudus,” ujar Bu Maria.
Akhirnya dengan berat hati, saya minta kekuatan Tuhan untuk mengampuni. Saya mengirimkan kue dengan note: “Saya mengasihimu karena Tuhan.”
Orang itu kaget luar biasa. Dia juga dihantui perasaan bersalah. Dia sadar sudah mengkhianati kami. Bahkan papa P. Indra sangat baik dan berjasa dalam hidupnya serta keluarganya, koq bisa-bisanya dia menusuk dari belakang. Dia telpon dan kami berdamai. Beres. Saya terima Baptisan Roh Kudus.
Bagi saya pribadi, berdamai satu hal tetapi tetap bergaul adalah hal yang berbeda. Kami tidak berhubungan lagi.
Joel Osteen berkata, ada orang-orang tertentu, yang lebih baik kita kasihi dari jauh.
Joel bercerita ada teman sekaligus jemaatnya yang sudah dibantu, diperhatikan tetapi tetap saja mengritiknya. Apa pun yang Joel lakukan, tidak pernah cukup dan selalu salah. Itulah sebabnya, Joel memilih untuk “love from a distance.” Hidup Joel lebih bahagia dan damai setelah mengambil keputusan itu.
Saya pun meneladaninya. Ada orang-orang yang sudah terbukti karakternya tidak cocok dan menimbulkan perasaan tidak damai, saya pribadi memilih tidak bergaul dengan dia.
“Say goodbye to a troublemaker and you’ll say goodbye to quarrels, strife, tension, and arguments,” kata Raja Salomo
Ucapkan selamat tinggal kepada pembuat onar dan Anda akan mengucapkan selamat tinggal pada pertengkaran, perselisihan, ketegangan, dan argumen.
Saya tidak ingin membuang waktu, berteman dan bergaul dengan orang yang menimbulkan rasa was-was, dan saya sudah tidak bisa menghargai orang yang pernah menusuk dari belakang. Orang bilang, bekas luka tak terlupakan tetapi sudah tidak sakit lagi. Itu cukup bagi saya untuk mengambilnya sebagai pembelajaran agar di masa depan, saya bisa lebih bijak.
Cerdik seperti ular, tetapi tulus seperti merpati, kata orang bijak.
Sekian puluh tahun kemudian, terbukti orang itu berseteru dengan saudara kandungnya, saat mamanya meninggal dunia. Masalah uang juga. Tidak mudah mengubah karakter seseorang.
Bagaimana dengan masalah gadis muda tadi? Bagi saya pribadi, Respect dalam relationship sangat penting. Bahkan John Trent, psikolog sekaligus penulis buku terkenal, berujar Respect atau Rasa Hormat / Menghargai adalah komponen yang utama dalam membangun sebuah hubungan.
Tidak peduli datang dari strata mana, Anda boleh kaya atau biasa-biasa saja, saya dengan senang hati berteman dengan Anda. Tetapi prinsipnya, saya hanya mau berteman, bergaul, bersahabat dengan orang yang bisa saling menghormati dan saling menghargai. Saya tidak merugikan orang itu, saya tidak pernah memanfaatkan orang lain jadi silakan kalau mau berteman dengan saya, kita saling respect. Jaga perkataan, jaga sikap, jaga privacy masing-masing dan jaga kehormatan masing-masing pula.
Meski orang itu ‘tidak sengaja’ menghina gadis muda tadi dengan istilah yang sangat merendahkan, dengan alasan sedang emosi.
Tidak bisa dengan alasan sedang emosi, istilah itu terlempar keluar tanpa sengaja… Istilah itu bisa terlontar, karena sebelumnya sudah pernah dipikirkan, sudah tersimpan dikepala orang itu. Dan sesungguhnya, itulah ‘kejujurannya yang sejati.’ Pendapat paling jujur orang itu terhadap sang gadis muda tadi.
“Karena apa yang keluar dari mulut, itu meluap dari dalam hati,” ujar sang bijak.
“Nik, kalau saya pribadi, tidak membuang waktu saya yang berharga untuk bergaul dengan orang yang tidak bisa menghargai saya. Hidup ini tidak lama dan sangat berharga. Karena itu, saya memilih hanya bergaul dengan orang-orang yang membawa saya naik, dan bukan turun. Yang membuat saya bahagia, bukan yang membuat resah dengan kebiasaan-kebiasaannya yang merendahkan orang lain. Kebahagiaan dan kesuksesan itu diciptakan, bukan kebetulan. Salah satunya, tergantung dengan siapa kita bergaul. Memilih pergaulan yang benar, akan menghindarkan kita dari ribuan pertempuran yang tidak perlu. Jangan sampai waktu kita yang sangat berharga dihabiskan untuk mengurusi masalah remeh-temeh, akibat salah bergaul, dengan orang-orang yang tidak tahu menghargai kita. Silakan pertimbangkan sendiri dan doakan. Mungkin lebih bijak, minta juga pendapat orang lain. Belum tentu pendapat saya itu yang terbaik.”
We teach people how to treat us: You either teach people to treat you with dignity and respect, or you don’t. This means you are partly responsible for the mistreatment that you get at the hands of someone else. You shape other’s behavior when you teach them what they can get away with and what they cannot. ~Dr. Phil.
Kita mengajari orang cara memperlakukan kita: Anda mengajari orang lain untuk memperlakukan Anda dengan bermartabat dan hormat, atau tidak. Ini berarti Anda ikut bertanggung jawab atas penganiayaan yang Anda alami akibat perlakuan orang lain. Anda membentuk perilaku orang lain saat Anda mengajari dengan cara mengijinkan mereka apa yang bisa mereka bisa dapatkan dan apa yang Anda larang mereka melakukannya. ~ Dr. Phil.
Dari quotes di atas terlihat jelas, sesungguhnya kita sendiri yang mengajar orang lain, bagaimana seharusnya mereka memperlakukan kita. Dengan apa yang kita ijinkan atau justru kita melarang, ketika seseorang melakukan sesuatu.
Klo penghinaan dan pelecehan dibiarkan atas nama ‘sedang emosi’, lalu ditoleransi, berarti ke depan besar kemungkinannya akan terjadi lagi bukan?
Terbukti saudara yang menusuk saya dari belakang, sekian puluh tahun kemudian juga menusuk saudara kandungnya sendiri.
Nach pilihan ada di tangan kita, mau ga diperlakukan lagi seperti itu?
“Berjalankah dua orang bersama-sama, jika tidak sepakat?”, Kata firman Tuhan. Mentaati firman Tuhan, berarti jika tidak sepakat, lebih baik saya tidak jalan bersama-sama.
Kambing dan domba sekilas mirip, tetapi berbeda. Demikian pula dengan ayam dan bebek. Serupa tapi tak sama.
“Yang berbeda tidak usah disama-samakan, yang sama tidak usah dibeda-bedakan,” komentar Gus Dur.
Bagaimana pendapat Anda?
Don’t force yourself to fit in where you don’t belong.
Jangan memaksakan diri untuk mencocokkan diri dengan tempat yang tidak sesuai untuk Anda.
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN
Tahukah kita bahwa kita bisa memprediksi masa depan yang akan kita miliki? Mungkin kita tidak akan mengetahui secara detail kejadiannya, tetapi kita dapat mengetahui CARA dan kualitas hidup yang akan kita alami. Kita dapat melakukan pemeriksaan mandiri sekarang juga dan mendapatkan gambaran yang cukup bagus tentang apa yang akan terjadi dalam beberapa minggu, bulan, dan tahun-tahun mendatang.
Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Roma 8:5-6 (TB)
Kunci mengalami hidup dan damai sejahtera adalah berpikiran rohani. Kunci kematian adalah berpikiran kedagingan (duniawi). Apa yang kita pikirkan dan izinkan untuk memenuhi pikiran kita, menentukan arah hidup kita. Ketika kita memikirkan masalah dunia, maka kita membiarkan keraguan dan ketakutan memenuhi pikiran kita, dan ketika pikiran kita dipenuhi kekhawatiran, maka kita melepaskan kematian ke dalam masa depan kita. Itulah mengapa begitu banyak orang Kristen bergumul dalam hidup. Kematian sedang bekerja. Ketika kitab suci berbicara tentang kematian di bagian di atas tadi, itu berbicara tentang kerusakan, kehilangan, kegagalan dan penyakit yang berusaha untuk mencuri, membunuh dan membinasakan kita.
Inilah sebabnya mengapa Paulus menasihati kita agar diubahkan dengan cara memperbarui pikiran kita! Pikiran kita menentukan jalur yang akan dilalui oleh hidup kita. Pertimbangkan bagian berikut:
Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. Filipi 4:8 (TB)
Apakah ini hanya saran, atau itu kunci memperoleh kehidupan dan kedamaian? Paulus memahami bahwa kehidupan tidak dapat dihasilkan dari pikiran yang diliputi oleh kekhawatiran dan ketakutan. Kehidupan hanya dapat tumbuh dalam lingkungan yang benar, mulia, adil, murni, indah dan hal-hal yang baik. Ini berbicara tentang pikiran yang tertanam pada Firman Tuhan dan janji-janji-Nya, menawan setiap pikiran dan selalu bersukacita. Bahkan terdapat konsekuensi fisik ketika pikiran seseorang penuh dengan Firman Tuhan dan pikiran positif: “Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.” Amsal 4:20-22 (TB)
Seperti apakah masa depan kita? Periksa kehidupan pikiran kita dan kita akan tahu. Apakah kematian dan kerusakan bekerja untuk masa depan Anda, atau sebaliknya, kehidupan dan damai sejahtera?
[“The Key to Life and Peace”, – Barry Bennett, diterjemahkan oleh Yenny Indra].
YennyIndra TANGKI AIR ANTI VIRUS & PIPA PVC MPOIN PLUS & PIPAKU PRODUK TERBAIK PEDULI KESEHATAN